Kita mungkin terbiasa memperingati hari besar atau hari-hari penting dengan seremonial, termasuk hari Kartini. Dulu, yang lekat di ingatan saya, waktu SD, hari Kartini diperingati dengan berpakaian daerah (kebaya dsb). Sekarang, sepertinya acara yang seremonial pun sudah tidak populer lagi, apalagi memaknainya. Di sini saya akan sedikit menulis tentang Kartini dan mengajak memaknai hari Kartini ini.

Saya pribadi, semasa sekolah, mengetahui tentang Kartini dari pelajaran sekolah yang intinya Kartini adalah pahlawan pejuang perempuan. Saya lebih banyak tahu lagi dari membaca bukunya “Habis Gelap Teritlah Terang”. Dulu, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, saya hanya dapat memaknai perjuangan Kartini ini dengan seadanya. Kini setelah baca-baca lagi, saya seperti baru merasakan betapa perjuangan Kartini tidak kalah hebatnya dengan perjuangan fisik/peperangan pahlawan lain.

Kartini adalah sosok yang penuh gelora, penuh pertanyaan, penuh impian besar. Dia mempertanyakan kenapa?? bertanya kepada belenggu tradisi, belenggu indoktrinasi, belenggu penjajahan (fisik dan non-fisik). Di ruang pingit yang sempit, pikiran dan wawasannya mengembara ke pelosok semesta mencari jawaban.

Di awal pengembaraan nya, banyak tradisi Jawa dan juga mempertanyakan Islam yang dipraktekkan masa itu yang diprotesnya. Bagi seorang, apalagi wanita, di jaman itu, keberanian Kartini ini cukup mencengangkan (bisa saja dia dianggap menyebarkan pandangan sesat :-D)

Pada awalnya pula, ketika berkenalan dan berdiskusi dengan teman-teman Belanda-nya, terlihat pula dia begitu terpesona dengan budaya Barat yang dilihatnya lebih maju dan moderen. Banyak surat-suratnya yang menyiratkan hal ini. Namun, seiring waktu dan tentu dengan perenungan hebat pada akhirnya dia seperti menemukan sebuah titik cahaya. Salah satu momen penting hidupnya adalah bertemu Kyai Soleh Darat. Sejak masa pertemuan itu Kartini seperti menemukan titik balik mengenai perjalanan hidupnya. Ia bahkan banyak menulis kata-kata “dari gelap menuju cahaya” (yang sangat mungkin dia kutip dari Al-Quran: minadzdzulumati ilan nuur). Ia seperti menemukan dirinya lagi di belantara kegalauan dan peperangan jiwanya. Menemukan titik pemahaman baru tentang tradisi, juga tentang Islam yang dimaknainya. Lebih dari itu diapun berusaha keras mewujudkan pikiran dan mimpinya itu dengan mendirikan sekolah untuk perempuan.

Lebih lanjut tentang ini silahkan baca posting saya di Dari Gelap Menuju Cahaya

Kartini adalah seorang wanita,seorang manusia yang ingin dimanusiakan..