Membaca tulisan pak Arry tentang faktor kegagalan IT plan dan tulisan lain bernada skeptis di seputar rencana Jabar sebagai Provinsi Cyber 2012, saya jadi teringat dengan banyak program yang hampir sama di bidang pendidikan.
Saya akan mulai dengan dua faktor penyebab kegagalan IT Plan ketika dipraktekkan di lapangan. Menurut Pak Arry dua faktor tersebut adalah:

Pertama, Technocentric View; perancangan berorientasi pada teknologi, bukan pada bisnis. Seharusnya bisnis dijadikan acuan, teknologi dirancang mengikuti rencana bisnis ke masa depan.

Kedua, Fokus Bisnis Lemah; rencana bisnis ke depan akan dijadikan acuan perancangan, sehingga fokus bisnis yang lemah otomatis akan membuat IT plan akan lemah juga karena mengacu pada sesuatu yang tidak fokus.

Di dunia pendidikan agaknya terjadi juga ‘sindrom’ serupa. Saya melihat dan merasakan banyak upaya-upaya pemanfaatan IT di dunia pendidikan masih berputar di technocentric view, bukan pada “bisnis” (mohon tidak diterjemahkan istilah bisnis ini sebagai komersialisasi lho), yaitu pendidikan itu sendiri. Bukannya saya tidak mendukung atau beroposisi pemanfaatan ICT di dunia pendidikan, saya sangat yakin dunia pendidikan ke depan mau tidak mau tidak akan bisa lepas dari teknologi. Masalahnya, banyak upaya-upaya “ICT untuk pendidikan dan pembelajaran” akhirnya hanya diterjemahkan dalam artian sangat sempit:proyek pengadaan alat dan infrastruktur dan sebangsanya. Sangat jarang program pemerintah yang benar-benar menyentuh aspek kependidikannya, saya istilahkan di sini sebagai kultur pendidikan dan pembelajarannya (mohon dikoreksi jika kurang tepat).

Membicarakan mana yang perlu didahulukan antara membangun infrastruktur dan kultur ini seperti berbicara tentang ayam dan telor (duluan mana sih ayam dan telor? 🙂 ). Saya pernah diskusi agak panjang mengenai ini dengan seorang kawan. Kawan saya ini berargumen kalau digeber dengan infrastruktur yang besar-besaran maka kultur akan terbangun dengan sendirinya. Mungkin tidak semua dari proyek itu akan berhasil, ibarat mencari emas secara tradisional, dari berton-ton pasir yang diayak, nanti akan ketemu emasnya meski sedikit. Kawan saya lalu mempertanyakan misalnya tidak ada infrastruktur, bisakah saya, katakanlah mengajak guru di desa yang komputer saja tidak pernah pakai lalu diajak ke warnet memperkenalkan internet atau email dsb. Apakah kultur bisa dibangun dengan cara demikian?

bersambung

Advertisements