Saya beberapa kali terlibat diskusi (offline maupun online) terkait dengan posting saya tentang bukti kebesaran  Allah. Posting ini bukan saya maksudkan untuk mempengaruhi siapapun, hanya merupakan uneg-uneg pribadi. Sebenarnya  dalam posting tersebut saya pun secara substansi tidak ingin mendiskusikan tentang “kebesaran Allah” itu sendiri.  Bagi orang beriman sudah pasti harus mengakui bahwa Allah Maha Besar, baik karena doktrin (utamanya dengan merujuk  Quran Hadits) ataupun dengan membaca dari alam dan kehidupan (qauniyah).

Banyak ilmuwan (yang mungkin pada awalnya tidak percaya Tuhan atau meragukannya) ketika mempelajari alam ini akhirnya  mengambil kesimpulan bahwa tidak mungkin alam ini berjalan dengan sedemikian teratur dan sistematis tanpa ada Sang  Maha Pengatur. Sebagian besar kita mungkin lebih pada mengakui kebesaran Sang Pencipta karena doktrin agama yang  ditanamkan sejak kecil. Kita lalu mencari bukti kebesaran Tuhan dari alam atau kehidupan kita. Yang satu kesimpulan  diambil secara induktif, yang lain deduktif.

Masing-masing tentu memiliki kekurangan dan kelebihan. Mereka yang akhirnya mengetahui kebesaran Tuhan hanya dengan  nalar  bisa jadi akan salah menyimpulkan. Ya, mereka mengakui pasti ada Pencipta di balik semua ini, tapi konsepsi  Pencipta (Tuhan) dalam alam pikiran mereka pasti sangat terbatas. Meski bagaimanapun ini masih lebih baik dari  pengetahuan orang-orang dahulu yang hanya berdasar mitos, takhayul dan sebangsanya (Silahkan baca sejarah dunia, yang mulanya banyak kehidupan mereka berdasar mitologi berkembang menjadi lebih rasional).
Mereka yang menemukan kebesaran Tuhan dengan jalan ini biasanya juga cukup genuine dan jujur, karena belum ada doktrin, asumsi atau pretensi tertentu.

Bagi mereka (kebanyakan kita) yang telah percaya karena keimanan karena didikan sejak kecil, berpegang kepada ajaran yang kita yakini sudah benar (jika rujukannya sudah benar). Tapi kita harus hati-hati ketika mencari ‘bukti’ dari keyakinan kita ini. Jangan sampai kita hanya terkesan ‘mencari-cari’ tapi kehilangan daya kritis kita, menafikan atau meminggirkan prinsip keabsahan sumber informasi, terjebak kepada apologi (saya kenal istilah ini waktu SMP ketika membaca buku Bibel, Quran dan Sains Modern) atau hanya ‘utak atik gathuk’ (kata orang Jawa, artinya mengaitkan sesuatu sehingga ‘nyambung’, meski lebih sering dengan dipaksakan).

Ulama kita, terutama ulama hadis, sejak jaman dulu sudah memahami ini sehingga lahir ilmu yang khas Islam seperti Musthalah Hadis (jauh sebelum orang Barat mengenal metoda ilmiah). Banyak upaya meneliti informasi jutaan hadis untuk membuktikan keautentikannya sehingga kita dapat mendasarkan keimanan pada sumber hukum yang benar. (Semoga Allah merahmati para ulama ini).

Saya memahami beberapa teman yang masuk ke posting saya utamanya setelah searching dengan keyword  “bukti kebesaran Allah” mungkin cukup kecewa dengan ulasan saya. Saya sendiri mohon masukan dan kritiknya. Ada kawan mengatakan biar saja informasinya tidak valid atau tidak benar asalkan tujuannya baik, dapat memantapkan keimanan. Saya sendiri kurang sependapat. Saya yakin apa yang saya imani benar dan bukti yang dapat menguatkan keimanan pun juga benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menuju tujuan yang baik tentu harus dengan cara yang benar kan? 🙂

Allah Maha Besar. Meski tak satupun manusia di dunia ini tidak mengakui kebesaranNya, kebesaran Allah tak akan berkurang secuilpun…