Ini adalah artikel saya yang sempat dimuat di Majalah Mobile Guide (yang masih satu payung dengan Tabloid Pulsa). Saya pernah menuliskan berita singkatnya di sini. Berikut ini saya turunkan artikel lengkapnya. (Thks to Redaksi Mobile Guide, Tabloid Pulsa: Mas Donny dkk)

Pernah suatu kali ada sebuah iklan merek HP tertentu yang kurang lebih menceritakan seseorang yang pulang kemalaman dan ketinggalan bis. Tapi orang tersebut terlihat tidak terlalu risau dan sesaat kemudian mengeluarkan HP, memasang headset, memutar lagu dari HP tersebut dan pulang berjalan kaki sambil bersiul-siul dengan gembira. “I enjoy missing the last bus home…” dendangnya.. (terjemahannya: biarin aja ketinggalan bis, gue masih bisa jalan kaki sambil menikmati musik dari HP gue!).

Bayangkan jika situasinya agak lain. Seorang siswa yang biasanya rajin tiba-tiba, suatu hari, tidak dapat mengikuti sesi belajar karena sakit atau alasan penting lain. Namun, dia tidak terlalu risau. Siswa ini cukup mengambil HP, mengikuti pelajaran kelasnya melalui video streaming atau video-calling, mengunduh aplikasi pembelajaran yang telah disediakan dalam bentuk aplikasi Java, mengunduh rekaman sesi belajar dalam bentuk MP3 atau 3GP, mengikuti ulangan melalui WAP, dan aktifitas-aktifitas belajar lainnya. Mungkin terkesan futuristik, tapi hal ini sebenarnya telah dapat dilakukan karena teknologi yang ada sekarang ini sudah cukup memungkinkan. Saat ini perangkat HP telah banyak yang dilengkapi kemampuan untuk terkoneksi ke internet, kemampuan memainkan dan merekam audio dan vidio serta gambar/foto, dan kemampuan menjalankan software aplikasi seperti Java, Symbian, Flash dan lain-lain. Selain itu, berkembangnya teknologi 3G dan teknologi lanjutannya menjanjikan kemampuan transfer data yang lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik serta tarif yang semakin murah. Jadi, cerita di atas bukan sebuah angan-angan yang muluk-muluk.

Saat ini diperkirakan jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia telah mencapai lebih dari 50 juta orang. Sebagian dari jumlah pengguna ini adalah siswa, pendidik dan kalangan akademisi. Bahkan sebuah survei menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan telepon seluler di antara para siswa ternyata sangat tinggi. Telepon genggam yang dimiliki para siswa ini-pun konon rata-rata memiliki fitur-fitur yang sudah canggih. Dari kenyataan ini, timbul sebuah pertanyaan: Dapatkah kita mengembangkan model pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi seluler ini?

Ketika teknologi informasi, khususnya internet, berkembang dengan pesat, dunia pendidikan mengembangkan model pembelajaran berbasis teknologi informasi yang kemudian dikenal sebagai e-learning (electronic learning). E-learning sendiri menjadi model pembelajaran yang sangat menantang karena seorang siswa akan dapat memanfaatkan mesin pintar komputer yang mampu menjalankan animasi, komputasi dan pemodelan yang canggih, mengakses materi pembelajaran yang sangat besar di internet, berkolaborasi dan berdiskusi dengan banyak orang dari seluruh pelosok dunia, dan cara-cara lain dalam belajar yang belum pernah ada pada paradigma pembelajaran sebelumnya. Namun, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, komputer dan koneksi internet masih menjadi barang mahal dan mewah sehingga e-learning di Indonesia masih terkesan lambat dan cukup sulit diadopsi. Kehadiran teknologi seluler menjanjikan adanya peluang yang cukup potensial bagi dikembangkannya model pembelajaran yang baru mengingat tingginya tingkat kepemilikan perangkat serta harga perangkat serta tarif yang semakin murah dan fitur yang semakin canggih. Namun, sejak booming pada dekade belakangan ini, pemanfaatan teknologi seluler masih sebatas berkomunikasi dan hiburan. Sampai saat ini masih sedikit adanya pengembangan dan penelitian yang difokuskan untuk memanfaatkan teknologi seluler ini sebagai sarana pendidikan.

Di beberapa negara, upaya pemanfaatan teknologi mobile dan seluler atau yang dikenal sebagai mobile learning (m-learning) telah mulai diteliti dan dilakukan. Meski upaya ini masih pada tahap awal yang belum cukup mapan (mature), m-learning menjanjikan beberapa harapan, meski dengan tanpa mengesampingkan aspek-aspek yang menjadi kekurangan dan keterbatasannya. Kelebihan utama dari m-learning adalah proses pembelajaran dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun dengan biaya yang relatif murah. Namun, perangkat seluler memiliki keterbatasan yang dapat menjadi kendala dalam pengembangan model pembelajaran. Layar HP memiliki ukuran yang relatif kecil sehingga kurang nyaman untuk digunakan dalam waktu yang relatif lama. Selain itu kemampuan prosesor yang masih jauh di bawah kemampuan prosesor komputer, keterbatasan kapasitas penyimpan, minimnya media input/output, dan catu daya yang terbatas menjadi kendala-kendala lain yang harus dipertimbangkan. Meski demikian, secara teknis, kendala-kendala di atas akan lambat laun teratasi dengan adanya penemuan-penemuan baru. Kendala keterbatasan layar misalnya, akan teratasi dengan adanya mini-projector atau kemampuan video-output ke TV atau perangkat lain, munculnya keyboard virtual, adanya baterei yang dapat diisi ulang dengan mudah (misalnya dengan baterai cair) dan banyak lagi inovasi-inovasi yang akan menjadi solusi dan jawaban dari kendala-kendala di atas.

Kendala pengembangan m-learning yang sesungguhnya terletak pada sisi pedagogis. Akan menjadi tantangan yang terbesar bagaimana mengembangkan sistem atau model pembelajaran mobile yang efektif serta memenuhi tujuan pembelajaran itu sendiri. Pengembangan ini harus mempertimbangkan lingkungan pembelajar mobile di mana mereka memiliki karakteristik tersendiri yang unik. Materi yang disuguhkan-pun tidak dengan serta merta memindahkan dari materi e-learning atau materi konvensional, tapi harus dirancang dan dibuat secara khusus. Selain itu salah satu hal yang mungkin akan menjadi perdebatan adalah apakah di lingkungan m-learning ini cukup layak untuk dilaksanakan ujian secara mobile.

Bagaimanapun, dengan kelebihan dan kekurangannya, pembelajaran dengan memanfaatkan perangkat mobile ini pasti akan tidak terhindarkan. Sudah seharusnya kita mempersiapkan diri sejak awal untuk mengantisipasi adanya gelombang baru ini sehingga nantinya kita tidak tergagap-gagap mengikuti perubahan yang semakin cepat. Para stakeholder pendidikan juga harus cepat tenggap dengan kecenderungan ini. Jangan sampai nantinya siswa-siswa dengan mudahnya mencontek melalui HP sementara gurunya bahkan tidak tahu jika semua materi pelajaran sudah dapat di akses melalui HP. Kabar baiknya, beberapa pihak  mulai aware dengan perkembangan ini dan mudah-mudahan akan dapat mulai mengambil langkah-langkah positif.

Barangkali, pada waktu yang tidak terlalu lama lagi, siswa-siswa kita akan dapat belajar apapun, kapanpun dan dimanapun dengan mudah dan murah memanfaatkan perangkat dan teknologi seluler. Jangan heran pula ketika nanti ada iklan yang menggambarkan seorang siswa yang ketinggalan mengikuti pelajaran sekolah dan kemudian mengejar ketertinggalan belajarnya itu dengan memanfaatkan HP-nya.
Sambil tersenyum, siswa itu bilang: “I enjoy missing my class session.”

*) Penulis adalah programmer aplikasi mobile, praktisi pendidikan, staff DEPDIKNAS.
Informasi tentang penulis dapat diakses di https://mtamim.wordpress.com