kartun.jpgBeberapa waktu lalu saya beli buku Kartun Non Komunikasi Yang ditulis Larry Gonick yang berisi tentang guna dan salah guna informasi, mengupas rancunya makna dan bahasa. Meski disajikan dalam bentuk komik, buku ini menurut saya sangat menarik, justru dengan bentuk komiknya inì. Beberapa ide rumit dapat dijabarkan dengan sederhana, lucu, dan menarik. Dan, meski cuma komik, buku ini didasarkan pada banyak tulisan ilmiah. Saya masih agak telmi dengan konsep dari buku ini yang membuat saya bolak balik membaca ulang. Beberapa hal saya sarikan di sini (mohon koreksi jika ada kekeliruan pemahaman atau kesimpulansaya).

Buku ini dimulai dengan mitos babilonia yang konon berambisi membangun proyek ambisius, menara super tinggi sehingga saking tingginya akan menyentuh surga. Kedengaran seperti sebuah tantangan bagi Tuhan. Namun, rencana ini tidak dikehendaki Tuhan dan dikutuk sehingga para pekerjanya menjadi saling berbahasa asing. Proyek ini gagal total.Dan begitulah,teknologi terus berkembang dan kita tetap diganjar kesulitan berkomunikasi.

Buku dimulai denagn bagaimana bahasa muncul. Konon bahasa muncul pada hewan hewan “awal” sebagai ungkapan awal kebutuhan jasmani. Kemudian bahasa berkembang sebagai ungkapan emosi (dalam buku ini digambarkan sebagai otak dinosaurus). Otak manusia terus berkembang, namun otak “reptil” dinosaurus tetap saja ada (dikenal sebagai sistem limbik).bagi manusia modern komunikasi yang mengungkapkan emosi secara vulgar menjadi kurang sopan sehinaqa perlu diungkap secara terselubung.Pembicaraan sesungguhnya berada di tingkat reptil.

Bagian kedua buku ini membahas memahami pemahaman. Manusia bisa paham melalui pengetahuan kinestesis,ikonis dan simbolis. Pengtahuan kinestesis adalah yang kita pelajari dari berbuat. Pemahaman ikonis adalah tingkatan ketika pengalaman mulai menunjukkan kesamaan,generalisasi, analogi. Pemahaman simbolis lebih kompleks dan abstrak,bisa bermakna hubungan antar ikon. simbol merupakan bagian dari sistem simbol dan memiliki tata bahasa aturan kombinasi.
Ada bagian menarik ketika menjelaskan bagaimana manusia memahami sesuatu. Digambarkan ada 2 orang manusia purba yang sedang memahami apa yang disebut “tongkat”. Orang pertama memegang tongkat dan memukulkannya ke kepala orang kedua.

“Oh, ini tongkat”, begitu dia memahami tongkat (untuk memukul orang lain). Lalu, tongkat diserahkan orang kedua.
Orang kedua ini lalu memukulkan tongkat ke kepalanya sendiri.

“Ini tongkat”, katanya. Ternyata dia memahami tongkat sebagai alat untuk memukul kepalanya sendiri. Ilustrasi ini menunjukkan betapa setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda mengenai sesuatu, tergantung dari tingkat intelektual, pengalaman, sosio-kultural, dll.

Bagian ketiga adalah salah satu bagian menarik, tentang apakah bahasa itu logis, apakah bahasa dapat menjembatani logika dan makna. (sebenarnya logika hitam putih sendiri tidak cukup realistis untuk merepresentasikan relitas yang nyatanya banyak yang abu abu).

Dimulai dengan logika sederhana.
Semua gagak berwarna hitam. Ini setara dengan semua yang bukan hitam adalah gagak.

Kita dapat menguji pernyataan pertama dan kedua dengan pengamatan di dunia nyata yang membuktikan pernyataan itu benar(tidak ada gagak berwarna putih atau loreng).

Pembahasan kemudian diteruskan dengan Silogisme. Contohnya:
“Semua manusia akan mati. Socrates manusia. Jadi, Socrates akan mati”

Dua premis, satu kesimpulan. Seperti itulah cara berpikir manusia. Nampaknya sederhana kan? Tapi ternyata tidak juga. Ternyata kita kesulitan bernalar ketika premis mulai terpisah dari realitas atau ketika dihadapkan pada konsep tak lazim.
Kita ternyata juga dapat dengan mudah tergelincir pada generalisasi, memukul rata.

Perhatikan silogisme berikut:
Pelaku bid’ah akan masuk neraka.
Orang NU adalah pelaku bid’ah.
Orang NU akan masuk neraka..

Kita lihat bahwa dalam premis ini ada hal penting. Premis pertama sudah benar (setidaknya ada dalil yang menjadi sandaran). Tapi di premis kedua, ada hal yang patut dipertanyakan berkait dengan kesahihan informasi, apa benar orang NU adalah pelaku bid’ah? Kalaupun ada yang seperti itu, apa itu bisa dipukul rata sebagai orang NU secara keseluruhan?
Atau kita hanya terjebak pada adhominem, menyerang secara pribadi dengan mengesampingkan argumen/logika.

Soal kesahihan informasi ini pernah sedikit saya ungkap di posting kebesaran Tuhan. Saya pernah dikritik seorang teman, mengapa harus mempublikasi posting semacam itu. “Biar saja jika informasinya tidak sahih, yang penting kan dapat mempertebal keimanan”, katanya. Tapi menurut saya, bagaimanapun kita berpijak harus pada data/premis yang sahih.

Kebingungan dalam bernalar disebabkan kita tidak mampu mengatasi perubahan dengan baik. Bahasa, didasarkan pada pengalaman, dan sepanjang tidak punya pengalaman, akalbudi kita sulit dijaga agar tetap rasional. Bahkan ketika memikirkan gagasan yang lazim-pun kita dapat cenderung tidak menerima logika yang sahih bila berbenturan dengan keyakinan kita, dan cenderung menerima logika tak sahih tapi nyaman!
Ini salah satunya disebabkan karena secara naluri kita selalu memperhatikan Makna. Alih alih memusatkan perhatian pada struktur logika,kita malah mencari apa yang tersembunyi di belakang logika itu lewat contoh sehari-hari yang termaktub di premis-premisnya.

Jadi, bagaimana orang dapat berpikir logis? ternyata ini lebih merupakan masalah pendidikan. Semakin kita terdidik, semakin kita cenderung terbiasa dengan olah logika abstrak menyangkut hal-hal diluar pengalaman kita.
Para psikolog yang meneliti penduduk desa yang tidak mengenyam pendidikan menemukan bahwa mereka ternyata “pralogis”. Penalaran mereka masuk akal tapi mereka menolak hal-hal diluar mereka. Contoh, ketika ditanya begini, semua anggota suku menanam padi, Mr.Smith tidak menanam padi,jadi apakah Mr.Smith anggota suku? Jawabannya:”Kami tidak kenal Mr.Smith.”

Dengan pendidikan dan pengalaman (dalam contoh di atas misalnya, bergaul dengan orang-orang NU), barangkali kita akan mendapatkan perspektif berbeda dari sebelumnya, memahami dan menilai premis dengan tepat dan akhirnya mengambil kesimpulan yang benar.

(Sementara ini dulu, maaf bahasanya kacau balau, mohon dikoreksi kalau ada salah, saya mungkin harus membaca ulang bukunya. Contoh-contoh, seperti mengambil contoh ‘orang NU’ misalnya, tidak bermaksud apa-apa, sekedar contoh).