Kita tentu pernah mengalami bermacam-macam situasi yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan; kegembiraan, kesedihan, kegetiran, kebahagiaan, kekecewaan, suka, duka, kebencian, jatuh cinta, patah hati, dan setumpuk peristiwa lain yang datang silih berganti.

Namun, semua itu, baik yang kita inginkan untuk menghampiri hidup kita ataupun yang sebenarnya pingin kita hindari, semua adalah batu ujian dan sarana kita belajar memaknai setiap langkah hidup kita. Dengan itu semua kita dapat menjadi lebih dewasa dan mengerti hakikat hidup dan kehidupan, mengerti hakikat manusia dan kemanusiaan.
Semua itu telah dirancang dengan sangat baik oleh sang Disainer yang telah menentukan jalan hidup kita. “Tamu-tamu” itu telah diutus sedemikian rupa dari “seberang”, untuk memandu kehidupan kita.

Seperti dilukiskan oleh puisi Rumi berikut:

Guest House

This being human is a guest house
Every morning a new arrival
A joy, a depression, a meanness, some momentary awareness comes
As an unexpected visitor
Welcome and entertain them all!
Even if they’re a crowd of sorrows,
who violently sweep your house
empty of it’s furniture,
still treat each guest honorably
He may be clearing you out
for some new delight
The dark thought, the shame, the malice
meet them at the door laughing
and invite them in.
be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond.

(Matsnavi – Jalaluddin Rumi)

(Terjemahnannya kurang lebih berikut ini)

Rumah Tamu

Manusia adalah sebuah rumah tamu
Setiap pagi ada kedatangan baru
Kegembiraan, kegundahan, keburukan, kesadaran sesaat datang
Sebagai pengunjung tak diundang
Sambut dan jamulah mereka semua!!!
Meski mereka adalah kerumunan nestapa,
yang dengan kejam merampas seisi rumah
Dia mungkin sedang memberimu kegairahan baru
Pikiran kelam, aib, dendam kesumat
temui mereka di pintu dengan tawa
dan undang mereka masuk
syukurilah untuk siapapun yang datang,
karena setiap dari mereka itu telah dikirim
sebagai sebuah penuntun dari seberang.

(Matsnavi – Jalaluddin Rumi)

Advertisements