(Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan dan saya juga tidak mendapat imbalan apapun dari tulisan ini)

Waktu jaman kuliah dulu, baik di Jogja maupun Bandung, Indomie bisa dikata menjadi salah satu makanan pokok. Kenapa? ya karena praktis, mudah, murah. Waktu di Bandung, kami ‘sekeluarga’ suka memasak Indomie ala ‘Ontong’ (hehehe) yakni Indomie yang sudah direbus ditiriskan lalu dicampur dengan telor dan digoreng. Jadinya 1 dus Indomie ditambah telor menjadi stok wajib.
Dulu, saya pernah bekerja di sebuah pabrik mie. Sebenarnya pabrik ini cukup besar, untuk pasar mie (di luar mie instan) di wilayah Jateng-Jatim, pabrik ini bisa dikata menjadi raja-nya, mengalahkan Indofood. Tapi, untuk pasar mie instan, Indomie memang tak terkalahkan. Padahal, menurut saya, mie buatan pabrik tempat saya ini lebih enak. Ironisnya, saya dan beberapa teman saya lebih sering memasak Indomie di kantor (dulu di kantor saya ini ada dapurnya juga). Teman saya pernah kena marah atasan gara-gara mengkonsumsi produk saingan kami ini. (hahahaha kena loh..)
Begitulah kalau sebuah produk sudah sukses mendarah daging. Orang tahu-nya mie instan ya Indomie.
Dan tahu nggak? ternyata konsumen Indomie bukan saja dimonopoli orang Indonesia saja dan menjadi makanan pokok anak kos. Ternyata Indomie telah menjadi makanan pokok orang Nigeria!! Bahkan kabarnya banyak orang Nigeria merasa bahwa Indomie itu makanan asli dan khas dari sana. Di Nigeria ini, Indomie diproduksi oleh De-United yang merupakan anak perusahaan Indofood. Wah, hebat juga ya prestasi Indofood ini.
Btw, apa nggak nambah makin keriting orang-orang Nigeria ya? Xixixixi…

Oya, jangan banyak-banyak makan Indomie (atau yang instan-instan lain), karena mengandung MSG dan bahan pengawet yang tidak baik untuk kesehatan.

Sumber dari sini