Saya dulu pernah menulis beberapa cerpen. Karena tidak tahu bagaimana mengembangkan akhirnya hobi tulis menulis ini tidak tersalurkan. Cerpen yang pernah saya tulis-pun tak ketahuan rimbanya. Belakangan saya pengin nulis lagi dan setelah bergelut dengan ide semalaman, cerpen satu ini hasilnya.

PENCURI SANDAL

Jumat itu Bagus mendapat giliran menjadi khatib di masjid, sementara ayahnya, Kiai Karim, seperti biasa, menjadi imam. Bagus mengutarakan bagaimana keutamaan menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Bagaimana Nabi menunjukkan kedekatan antara dirinya dengan orang-orang yang menyantuni anak yatim, kelak ketika di syurga.

Usai shalat, Bagus belum lagi menyelesaikan wiridnya, tiba-tiba terdengar suara gaduh di halaman masjid. Bagus segera beranjak dan setengah berlari menuju halaman. Dan, masyaallah! dia mendapati ada seorang anak kecil, mungkin masih berusia sepuluh tahunan, menjadi bulan-bulanan dipukuli banyak orang.

“Pencuri sandal!”, begitu kata orang-orang.

Tanpa berpikir panjang, Bagus meloncat dan mendekap anak itu, melindungi dari pukulan yang bertubi-tubi. Tak ayal beberapa pukulan justru mengenai Bagus. Dia masih mendekap anak itu dengan kencang. Beberapa orang segera menyadari bahwa yang mendekap anak itu ternyata adalah Bagus, mereka kemudian mundur.

“Sudah, sudah, ini bukan cara orang muslim!” kata Bagus dengan keras.

Anak itu kemudian dituntun dan disuruh mencuci muka. Namun, anak itu diam saja. Bagus kemudian membawa anak itu ke rumahnya yang berada di samping masjid. Diberinya anak itu segelas air putih. Tapi, anak itu tetap diam, dingin, nyaris tanpa emosi. Meski sebagian wajahnya lebam, dia tidak menunjukkan rasa sakit sedikit-pun.

“Siapa namamu, dik?” tanya Bagus.

Anak itu diam seribu bahasa. Kiai Karim yang menyusul kemudian memberi isyarat kepada Bagus untuk tidak menyudutkan anak itu. Kiai Karim kemudian duduk di samping anak kecil itu, merangkulnya dengan lembut seperti yang sering dilakukannya ketika Bagus masih seusia anak itu.

“Sudah, minum dulu ya?” kata Kiai Karim.
Kiai Karim memberi isyarat kepada Bagus. Bagus segera mengambil dan mendekatkan gelas ke anak itu. Dia minum seteguk.

“Parno”, ujarnya lirih.

Kiai Karim dan Bagus mengernyitkan dahi.
“O, namamu Parno?”, tanya Bagus. Anak itu mengangguk.
“Rumahmu di mana?”, Kiai Karim gantian yang bertanya.
“Di desa sebelah”, jawab anak itu.
“Kenapa kamu mencuri? Apa kamu tidak tahu kalau mencuri itu perbuatan buruk?”, tanya Bagus.
Anak itu mengangguk kecil.
“Lalu, kenapa?”, tanya Bagus lagi.
“Ibu saya sakit keras..”, jawab anak itu hampir tidak terdengar. Matanya mendadak berkaca-kaca.
Bagus dan Kiai Karim tertegun.

“Ya sudah, kami tidak akan melaporkanmu ke polisi. Aku akan mengantarmu pulang”, kata Bagus.

Bagus kemudian memboncengkan Parno, si pencuri cilik itu, dengan motor bututnya. Ternyata rumah anak itu benar-benar jauh. Jalannya berbatu dan licin. Bagus ingat pernah mengantarkan bapaknya mengisi pengajian di daerah itu. Tapi ini lebih jauh lagi.

Setelah beberapa waktu, mereka sampai juga di rumah Parno. Bagus tertegun melihat keadaan rumah Parno yang demikian sederhana, bahkan mungkin tidak layak untuk disebut rumah. Dari dalam rumah nampak keluar lelaki separuh baya yang ternyata adalah bapak dari Parno. Melihat kondisi anaknya, dia langsung paham dengan apa yang terjadi. Raut mukanya tidak karuan. Antara malu, marah, kasihan, semua campur aduk. Namun, Bagus menyapanya dengan ramah.

Dari sedikit pembicaraan Bagus mengetahui kalau bapak ini namanya Pak Parto, seorang buruh tani, anaknya tiga, Parno adalah anak sulungnya. Parno pernah sekolah sampai kelas tiga. Namun, karena kondisi ekonomi, ia akhirnya putus sekolah. Ketika Bagus menanyakan keadaan istrinya, bapak itu hanya mendesah dan melirik ke dalam. Ternyata ibu ini sudah enam bulan lebih sakit parah. Tidak ada biaya membuatnya tidak mampu berobat ke dokter. Bagus beranjak dan masuk ke dalam rumah untuk menengok keadaan Bu Parto, yang masih tertidur. Tenggorokan Bagus seperti tercekat, dia melihat tubuh tergolek lunglai, kurus kering.Wajah ibu itu nampak tenang namun menyiratkan penderitaan yang dalam. Ada sedikit penyesalan di hati kecil Bagus, kenapa tadi tidak membawa sekedar buah atau makanan seperti layaknya menjenguk orang sakit.

Parno membangunkan ibunya dengan hati-hati. Setelah membuka mata, Bu Parto langsung melihat Parno dan melihat wajahnya yang lebam.

“Kenapa kamu, No? Apa yang kamu lakukan?”, tanya Bu Parto dengan suara agak berat.

Bagus kemudian mendekat dan mengambil alih pembicaraan. “Tidak apa-apa, Bu” katanya. Ia lalu mendekat dan memegang tangan ibu itu dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Bu. Tadi saya tidak sengaja menyerempet Parno dengan motor saya.

Tapi tidak ada luka serius” kata Bagus.

Ibu itu agak kaget ternyata ada orang lain di rumahnya.

“Sampeyan siapa, Den?” tanya Bu Parto.

“Ini mas Bagus, Bu. Itu lho putranya Kiai Karim, yang punya pesantren di desa sebelah” sela Pak Parto.
Mendengar itu wajah Bu Parto mendadak berseri. Tangannya menggenggam tangan Bagus kuat-kuat.
“Mas, doakan saya ya? Saya hanya orang bodo, nggak ngerti bahasa Arab, nggak ngerti tentang ilmu agama. Tapi saya yakin kalau Gusti Allah pasti memberi hikmah dari ini semua. Doakan saya ya? Tolong sampaikan ke Pak Kiai juga, mohon didoakan. Dari dulu saya pengin sekali belajar agama, tapi saya takut, saya hanya orang bodo. Doakan saya ya Mas?” kata ibu itu dengan wajah memelas. Bagus hanya tersenyum dan mengangguk kecil.

Sesampai di rumah, Bagus menceritakan semuanya kepada bapaknya, Kiai Karim. Kiai Karim hanya geleng-geleng mendengarnya.
“Saya akan membantu ibu itu berobat, Pak,” kata Bagus memecah keheningan.
Kiai Karim menatap mata anaknya lekat-lekat.
“Ya, Pak. Besok saya akan mengambil sebagian tabungan saya. Saya hitung-hitung ada lumayan untuk membantu ibu itu. Bagaimana, Pak?” tanya Bagus.
Kiai Karim menepuk-nepuk bahu anaknya dan berkata: “Ya, Gus. Kita seharusnya lebih banyak lagi berdakwah dengan perbuatan. Bapak dan ibumu kayaknya juga masih punya sedikit uang. Nanti sekalian ditambahkan saja.”

Pagi-pagi Bagus pergi ke bank di dekat kelurahan untuk mengambil sebagian tabungan. Ia biasanya menabung uang dari gaji mengajar sebagai guru honorer di madrasah.Tadi bapaknya juga memberikan amplop berisi sejumlah uang yang ia juga tidak tahu berapa.

Bagus berangkat ke rumah Parno dengan penuh semangat. Ia merasa bahwa Tuhan-lah yang telah mempertemukan mereka dan membantu keluarga miskin ini telah menjadi tugas dan tanggung-jawabnya.

Dari kejauhan rumah Parno sudah kelihatan. Jalan yang menanjak, licin dan berbatu membuat motor bututnya seperti meraung-raung. Namun, nampak ada banyak orang berkumpul di depan rumah Parno. Ia berpikir pasti ada yang tidak beres. Setelah memarkir motornya, Bagus setengah berlari menuju rumah Parno.
Apa yang dikhawatirkannya ternyata benar. Begitu masuk rumah ia menyaksikan tubuh yang tergolek, dingin. Pak Parto, Parno dan kedua adiknya hanya nampak mematung, tanpa tangis sama sekali. Ada perasaan aneh menyergap dada Bagus. Ia limbung dan jatuh terduduk.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Bisiknya lirih.

Usai pemakaman, Bagus mendekati bapaknya, Kiai Karim, yang juga datang untuk memimpin upacara pemakaman.
Kiai Karim tahu, ada penyesalan yang dalam terpancar di mata Bagus.
“Seandainya saya tidak usah menunggu untuk berpikir. Seandainya saya tidak menghitung-hitung dulu uang tabungan,” begitu kata Bagus berkali-kali.

Kiai Karim merangkul dan menepuk-nepuk bahu anaknya itu.
“Sudahlah, Gus. Manusia boleh berupaya, Tuhan-lah yang menentukan. Semua sudah digariskan,” kata Kiai Karim menghibur kegundahan Bagus.

“Pak, bagaimana kalau Parno kita ajak nyantri di tempat kita. Nanti kita sekolahkan di madrasah?” kata Bagus tiba-tiba.
Kiai Karim hanya tersenyum dan kembali menepuk-nepuk bahu anaknya.
“Ya. Bapak setuju. Seperti bapak katakan kemarin, Gus. Kita harus lebih banyak lagi berdakwah dengan amal nyata,” kata Kiai Karim.
Dalam hati ia berbangga, anaknya telah mampu mempelajari ilmu yang tidak lagi hanya dengan melalui doktrin, tapi dengan belajar dari kenyataan hidup. Pelajaran yang jarang diperoleh oleh orang-orang.

Advertisements