Saya suka mengamati banyak orang. Bukan berarti ingin mencampuri urusan orang (saya adalah orang yang paling tidak suka turut campur urusan orang). Saya suka mengamati bagaimana orang bereaksi terhadap sesuatu, bagaimana dia menghadapi suatu persoalan, bagaimana memandang hidup. Dari sini saya belajar sedikit demi sedikit bagaimana memahami orang lain dan bagaimana ber-empati. Saya berusaha tidak mudah untuk menghakimi seseorang, meskipun dia di-cap orang macam-macam. Saya akan berusaha memandang persoalan dari sudut pandang orang itu, bukan untuk mengikuti pendapatnya tapi lebih sebagai sebuah upaya untuk memahaminya sebagai seorang yang juga manusia.

Barangkali karena itu beberapa teman biasanya menjadi lebih respek. Tidak jarang teman-teman saya ini menjadikan saya sebagai tempat ‘curhat’ dan sangat terbuka. Saya juga tidak tahu kenapa. Saya sudah biasa mendengar cerita temen-teman yang dia bilang tidak pernah diceritakan kepada siapapun. Teman lain bilang ia hanya cerita tentang suatu masalah yang hanya dia ceritakan kepada saya dan ibunya. Yang lain bilang dia hanya cerita masalahnya kepada saya seorang, bahkan orang tuanya pun tidak tahu. (Akhir-akhir ini-pun masih ada saja beberapa email dari orang yang saya tidak kenal dan menanyakan beberapa masalah yang cukup serius.)
Dugaan saya, mereka bisa begitu karena saya biasa mengajak berkomunikasi dari hati ke hati. Saya berusaha melihat, mendengar dan menghadapi mereka sebagai “manusia”. Agak ironis juga karena seperti saya bilang, saya tidak suka campur tangan urusan orang, mereka justru blak-blakan dengan saya. Saya kadang takut juga ketika ada yang ‘konsultasi’ begitu ternyata solusi yang saya sarankan ternyata salah total, masalahnya persoalan yang ditanyakan seringakali adalah masalah yang sangat berat. Apalagi saya juga bukan tipe ‘conqueror’ yang ingin orang lain menjadi ‘pengikut’ saya.Namun, sisi positifnya, saya menjadi bersyukur karena dengan begitu saya jadi sadar bahwa persoalan-persoalan pribadi yang saya hadapi menjadi tidak ada apa-apanya dibanding persoalan teman-teman saya ini. Saya juga menjadi malu, karena kadang merasa sepertinya saya-lah orang yang paling menderita di dunia ini. 😀

Senang juga melihat perkembangan terakhir, yang konon katanya disebut sebagai Web 2.0, di mana bermunculan blog-blog yang bersifat sangat personal. Sampai-sampai para user internet ini ‘dianugerahi’ oleh majalah Time sebagai “Person of the Year 2006”. Munculnya para blog ‘manusia biasa’ ini banyak memberi pelajaran bagi saya. Dari blog ini kita dapat melihat bagaimana orang dengan beragam latar belakang, beragam sudut pandang, beragam pendapat, dengan beragam persoalan hidup bisa survive dengan caranya sendiri-sendiri. Saya suka blog-blog yang ‘menyuarakan’ suara hati. Artinya apa yang ditulis benar-benar sebagai sebuah curahan. Masalah setuju atau tidak dengan tulisannya itu masalah lain. Saya kurang begitu suka kalau blog hanya berisi artikel atau tulisan yang di-copy-pastekan 100% dari tempat lain tanpa sentuhan “manusia” si-empunya blog, karena esensi dari blog itu sendiri menjadi kabur. Dan ternyata banyak sekali tulisan-tulisan luar biasa yang menginspirasi saya, meskipun itu ditulis oleh para manusia biasa.Saya kira itu karena tulisan-tulisan tadi ditulis dengan hati..

Terima kasih para blogger, para penulis hati yang telah membuka sudut kecil ruang bathin kita
Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa kita adalah “manusia” dan bukan robot, bukan setan dan bukan malaikat.
Teruslah menulis dengan hati
Teruslah menulis dengan cinta..

Advertisements