Hari ini 9 Zulhijjah, jutaan manusia berkumpul di Arafah dalam rangkaian inti Ibadah Haji. Jutaan manusia ini adalah individu-individu yang unik yang dipanggil secara personal oleh Allah (QS 2:196), dan setiap individu ini menjawab secara personal pula dengan mengagungkan Asma-Nya:

“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka walmuka. Lasyarikalak.”
– Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran adalah untuk-Mu semata-mata. Segenap kerajaan untuk-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Haji adalah sebuah ibadah memenuhi panggilan suci. Haji adalah ibadah yang sangat berat. Selain niat dan keikhlasan, haji membutuhkan harta yang tidak sedikit, tenaga fisik yang kuat serta harus meninggalkan keluarga dan harta-benda serta kesiapan mental-spiritual. Haji adalah perjalanan memenuhi panggilan suci, bukan perjalanan wisata untuk melihat bangunan masjid Haram yang megah, penuh lampu warna-warni, berlantai marmer licin. Yang kita kunjungi sesungguhnya adalah bukan rumah-nya tapi si-Empunya rumah. Bukan bertujuan mencium “batu-hitam”, namun mendekati si-Empunya semesta. Ibadah haji adalah kebersamaan dan kedekatan dengan Tuhan.

Haji bukan hanya ritual fisik, wuquf, mabit, thawaf, sai, jumrah. Ritual haji melambangkan banyak simbol dan penuh substansi dan makna.
Wuquf di Arafah yang menjadi inti haji (al-hajju ‘arafah), yang menjadi lambang kebersamaan, miniatur sejati hakikat perjalanan umat manusia. Dengan pakaian sederhana, putih tak berjahit, seluruh jamaah, tidak peduli ras, negara, pangkat, atau apapun kotak-kotak yang diciptakan manusia, di Arafah semua berkumpul mengagungkan Asma Allah.
Melontar tiga jumrah (berhala) yakni ula, wustha, dan uqba, yang menjadi isyarat-menurut istilah Shariati, “trinitas”. Dalam tataran teologis “trinitas” berarti keyakinan dan penghambaan manusia terhadap tiga eksistensi Tuhan (musyrik, politeisme), dan dalam tataran sosiologis berarti penghambaan manusia pada tiga nafsu yang dimiliki: totalisme dalam kekuasaan, kapitalisme dalam kepemilikan dan hedonisme. Trinitas ini harus dilempari, harus dilawan.

Tawaf adalah gerakan yang menunjukkan kepemilikan diri kita kepada pusat perputarannya. Seorang peziarah yang meluruskan niatnya kepada Allah dengan cara memisahkan dirinya dari persoalan arah, Tuhan akan mejadi titik arah bagi dirinya dan ia menjadi titik arah bagi dirinya dan orang lain, seperti Nabi Adam menjadi titik arah bagi semua malaikat. Menurut al-Qushairi, makna Tawaf hanya dapat diraih oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran sejati, yakni para ‘arifin (mereka yang mengenal Tuhan) dan muwahhid (orang yang mengesakan Tuhan dengan benar).
Al-Qushairi menegaskan ”Janganlah menempatkan Ka`bah dalam hatimu, tetapi kosongkanlah hatimu yang paling dalam (sirr) untuk menerima Teman (pemilik Ka’bah) yang telah memilihmu lebih dahulu”.
Dan hakikatnya seluruh semesta ini selalu berthawaf, dari skala mikro-atom sampai dengan kosmos-galaksi di semesta, sampai dengan malaikat yang juga berthawaf di bawah Arasy, semua mengagungkan Allah.

Tentang sa’i antara Safa dan Marwah, Baqli Shirazi memandang bahwa berlari kecil dari bukit Safa bermakna bahwa seorang peziarah haji mendaki untuk meraih kesucian batin dan pertemuan dengan Tuhan melalui cahaya ilmu pengetahuan. Sementara, bukit Marwah merupakan pendakian menuju pensucian ruh melalui jalan pertobatan. Mereka yang berlari mendaki Safa tetapi tidak membersihkan hati dan jiwa mereka tidak memperoleh apa-apa dari ritual haji. Demikian juga, mereka yang mendaki bukit Marwah tanpa dapat melihat kebenaran yang tersembunyi tidak mendapat apa-apa dari ibadah ini. Sa’i, yang secara formal berarti berlari antara bukit Safa dan Marwah, secara alegoris merupakan upaya meraih kesucian (safa) dan pemeliharaan diri (muru’ah).
Dalam sebuah diskusi dengan kawan mengenai hal ini, sa’i ini ibarat berayun di dua bandul, satu sisi adalah rasionalitas, di sisi lain adalah kepasrahan total(dalam hidup, kita selalu berayun di antara 2 titik ini, kadangkala kita harus rasional, kadangkala harus pasrah secara total).
Aktualisasi dari haji, setelah jamaah pulang ke kampung halaman masing-masing, adalah wujud sikap dan tingkah laku sehari-hari merupakan isyarat dari kemabruran haji seseorang (Shihab,1992:215). Jadi kebenaran (mabrur) yang substansial dari ibadah haji adalah ketika yang bersangkutan mampu meningkatkan kualitas amal saleh seperti kedermawanan, kerendah-hatian, keadilan, dan sifat-sifat kemanusiaannya setelah kembali dari menunaikan ibadah haji. (Dihimpun dari berbagai sumber)

Panggilan Haji ini konon seringkali tidak disangka-sangka. Paman dan bibi saya, tahun ini berada di tengah jutaan jamaah itu. Beberapa waktu sebelumnya paman saya ini tidak mengira akan secepat ini berangkat haji, tiba-tiba saja mendapat arisan, itupun karena yang harusnya mendapat arisan berhalangan dan tidak dapat menjalankan haji tahun ini, dan untuk mencukupi biaya untuk bibi, beliau kalo tidak salah sempat menjual sebagian sawah. Dan yang bahagia mungkin adalah nenek saya. Paman saya ini anak terakhir dari nenek saya, seorang janda yang sederhana dengan kehidupan yang sulit namun akhirnya seluruh anak-anaknya, yang juga bukan termasuk orang-orang berada, seluruhnya telah menunaikan ibadah haji, meski dengan berbagai upaya; menabung, menjual ini-itu, atau ikut arisan haji dll.
Saya juga membaca berita, tahun ini pula ada seorang pegawai rendahan yang dapat menunaikan haji dari uang jerih payah membersihkan jamban.. Allahu Akbar..
Kemarin, di sela-sela pengajian melepas keberangkatan haji, seorang teman setengah berkelakar-setengah serius berkata kepada saya: “Kapan yuk kita jadwalkan menunaikan haji bareng-bareng…”
Dalam hati saya mengamini ajakan temen saya ini: “Aku akan memenuhi panggilan suci-Mu Ya Allah”.