Rame-rame polemik mengenai beberapa hal terkait beberapa budaya Indonesia yang dicuri diklaim oleh Malaysia sebagai budaya mereka memang sungguh membuat prihatin. Satu demi satu budaya Indonesia dicomot, diklaim dan dipublikasikan besar-besaran utamanya dalam kempein perpelancongan Malaysia. Kita tentu masih ingat kasus-kasus seperti tentang batik, wayang, angklung, lagu-lagu, tarian dan entah apa lagi yang akan diambil. Dalam sebuah etika bertetangga ini merupakan hal yang patut disayangkan.

Video “Rasa Sayang Hei: Tourism Campaign”

Dan upaya-upaya diplomasi budaya yang diselenggarakan dua negara serumpun ini seharusnya memberi pemahaman baru bagaimana etika persahabatan yang hakiki. Ini tercermin salah satunya ketika mengenalkan angklung dalam sebuah acara “Malam Budaya Indonesia” di Kualalumpur yang juga dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Jero Watjik dan Menteri Kebudayaan Kesenian dan Warisan Nasional Kerajaan Malaysia, Dato Sri Rais Yatim. Bagaimana kawan-kawan dari Saung Angklung Mang Udjo mengenalkan dan mengajari permainan angklung dengan sukacita meski mereka juga tahu jika angklung ini telah diklaim oleh malaysia sebagai music bamboo malay dan konon sedang diupayakan untuk diakui UNESCO.

Namun kontroversi tak henti-hentinya mengalir. Kita lagi-lagi kembali mendapati di situs heritage.com.my salah satu tarian kita, reog, diklaim sebagai Tari Barongan asli Malaysia. Ada juga tari Kuda Kepang yang”untungnya” masih menyebu-nyebut asal tarian itu dari Jawa. Saya tak habis pikir, apa sudah tidak ada lagi budaya negeri jiran ini yang dapat dijadikan ikon kebudayaan mereka, kenapa harus mengambil ikon-ikon yang begitu kontroversial.

Budaya, sesungguhnya bukan hanya benda, lagu atau tarian. Budaya adalah sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia yang perwujudannya adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat (wikipedia).

Ketika kontroversi mengenai klaim budaya ini terus berlanjut, menurut saya, kita harus mensikapi ini dengan sikap sebagai manusia yang “berbudaya” (salut untuk kawan-kawan Saung Mang Udjo) . Kita juga harus berkaca diri, sebagai orang Indonesia, alih-alih membangun kebudayaan, sudahkah kita ini peduli dengan warisan budaya kita sendiri???

Advertisements