Timur Lenk, seorang penguasa yang lalim berbincang dengan Nasrudin soal kekuasaan dan kekayaannya.
“Nasrudin! Kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku ?”
Kali ini Nasrudin menjawab sekenanya, tanpa banyak berpikir.
“Saya taksir, sekitar 100 dinar”

Timur Lenk membentak Nasrudin, “Keterlaluan! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah 100 dinar.”


“Tepat sekali,” kata Nasrudin. “Memang yang bernilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja.”

—-

Seseorang menerima sebuah surat dalam bahasa Persia dan ia tidak dapat membacanya. Orang itu kemudian membawa surat tersebut kepada Nasrudin. Tapi Nasruddin berkata ke orang itu kalau ia tidak bisa membaca tulisan dan bahasa Persia.

Orang itu lalu berkata, “Alangkah memalukannya kamu Nasrudin, kamu memakai turban yang menunjukkan kamu adalah orang berpendidikan, tapi kamu tidak dapat membaca surat ini.”

Mendengar komentar demikian, Nasrudin kemudian melepas turban-nya dan memakaikan turban itu ke orang tadi sambil berkata, “Ini, pakailah turban-ku dan bacalah sendiri suratmu itu.”

Dua kisah berbeda ini memiliki pesan yang hampir sama, simbol maupun penampilan luar tidak selalu menunjukkan hal yang sama di dalamnya.

“Penyembahan” (atau penekanan berlebihan) terhadap simbol hanya akan menghalangi manusia untuk mempertanyakan makna apa yang simbol itu lambangkan.


Dapatkan Aplikasi Kisah-kisah Nasruddin di Handphone Anda. Gratis!!!

Kunjungi islam.inhandlearning.com