kurma.jpgBeberapa waktu belakangan ini beredar beberapa informasi di internet sekitar “berbuka dengan yang manis”.
Hadis terkait dengan ini adalah sbb:

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci”

Kemudian berkembang informasi bahwa disunnahkan berbuka dengan yang manis. Dalam pemahaman mereka yang mempertanyakan, anjuran berbuka oleh nabi ini adalah berbuka dengan kurma dan bukan dengan ‘yang manis’. Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis (artinya, kurma tidak identik dengan ‘yang manis’). Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah. Kurma yang ada di Indonesia-pun katanya adalah ‘manisan kurma’ yang memiliki kandungan berlipat ganda dari kurma yang asli. Kandungan gula yang berlebihan ini justru tidak baik bagi kesehatan. Dst( Baca postingnya disini).

Informasi ini oleh sebagian orang disinyalir merupakan sebuah hoax (sekelumit tentang hoax bisa baca disini : fosil-spektakuler-di-jebal-barez/)

Muncul pula bantahan mengenai pendapat di atas (dapat dilihat di Bantahan_Berbuka_puasa_dengan_yang_manis-manis)

Membaca pendapat-pendapat ini kayaknya makin nambah lapar, hehehe, maklum lumayan serius mikir…

Selamat berbuka puasa (kalau sudah waktunya lho), dengan maupun tanpa yang manis…. 😀