Rasulullah saw bersabda:
“Umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Ditanyakan kepada beliau:
“Siapakah mereka, wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” [HR Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darami dan Al-Hakim].

Berdasar hadis ini banyak kelompok yang mengklaim bahwa kelompoknya-lah yang menjadi golongan paling benar (golongan yang 1 di antara 73). Saya beberapa kali menemukan orang yang demikian. Terus terang, secara pribadi, saya sendiri juga tidak tahu apakah yang sebenarnya dimaksud oleh hadis tersebut dan siapa yang masuk dalam golongan yang selamat ini. Tapi saya agak risih kalau ada orang yang menepuk dada sebagai penganut Islam yang paling benar. Dan pertanyaan saya, apakah ada justifikasi bagi manusia untuk mengklaim dirinya benar atau salah?

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
(Ar-Ruum : 31-32)

Dan, dengan menuduh kelompok lain sebagai salah, sesat, dll apakah itu bukan sebuah kezaliman? Bagaimana kita bisa disebut takwa jika kita masih belum mampu berbuat adil dan masih bertindak zalim?

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Al-Maidah: 8 )

Kalau saya sendiri, sebagai seorang muslim akan selalu mencari dasar dalam kemusliman saya ini dengan dasar yang saya anggap paling benar. Kalaupun ada pihak lain yang ternyata berseberangan, ya kita kembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui hakikat kebenaran, tanpa harus menuduh-nuduh dan menyalahkan.

Saya teringat, guru saya pernah bilang, kalau kita menemui keraguan, kuncinya adalah pertama, cari ilmu dan dasarnya dan kedua jaga sholatnya. Beliau juga mengajarkan sebuah doa yang indah:

Allahumma nawwir qalbi bi-nuuri hidayatika
Wa yassir kullal ‘asysyir
Wa tammim bil-khair

(Ya Allah sinarilah qalbu-ku dengan cahaya petunjuk-Mu
Mudahkan setiap kesulitan
Dan sempurnakan dengan kebaikan)

Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang diridhai-Nya…
Amin.