kids.jpgDalam beberapa tarawih awal-awal ramadhan ini ada hal yang membuat saya agak kurang khusuk, tapi juga sedikit menggelikan. Beberapa kali saya shalat berdekatan dengan beberapa anak kecil, yang salah satunya adalah keponakan saya. Dari pembicaraan anak-anak itu saya tahu kalau mereka itu satu ‘geng’ waktu TK (sekarang ponakan saya sudah naik kelas 1).

Menggelikan mendengar celoteh mereka berbicara banyak hal, dari masalah pahala-dosa, surga-neraka, dll (kadang saya senyum sendiri mendengarnya dan teringat waktu saya seusia mereka). Tidak jarang mereka ini bertengkar dan adu mulut, tapi beberapa saat lagi sudah ketawa-ketawa lepas, dan sesaat kemudian sudah tertidur lelap kecapekan…

Mengajak anak kecil ke masjid kadang dilematis.

Di satu sisi kita perlu mengenalkan ibadah sejak dini, namun, di sisi lain dapat mengganggu kekhusu’an jamaah. Kalau saya lebih setuju pendapat pertama. Pernah suatu kali ada anak-anak yang agak ribut, trus tiba-tiba ada jamaah yang marah dan menempelang anak-anak itu. Pernah juga suatu kali ponakan saya berlari di depan jamaah yg sedang shalat, tiba-tiba ditarik paksa (waktu itu usianya mungkin baru 4 tahun). Suatu ketika, pernah juga ponakan saya main ke tempat Imam (kebetulan yg mengimami adalah kakeknya), kemudian salah seorang kemudian tampil dengan berapi-api berbicara tentang sutrah. Katanya lagi, kalau seseorang melintas di depan seorang jamaah yang sholat, maka sholatnya orang tsb akan rusak, dan kalau ada orang yang melintas di depan imam, maka seluruh jamaah itu sholatnya rusak.. dan kalimat-kalimat lain yang lebih keras lagi.

Saya sebenarnya memahami masalah sutrah ini, apalagi memang ada hadisnya:

“Sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat tahu betapa besar dosanya, ia lebih baik berdiri selama empat puluh (Abu Nadr berkata,”aku tidak tahu apakah beliau mengatakan empat puluh hari, 40 bulan/40 tahun) di depan orang itu daripada melaluinya. (HR. Bukhori dan Muslim, dan riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah).

“Janganlah kamu sholat tanpa memasang sutrah dan janganlah kamu membiarkan seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika diamemaksa terus lewat di depanmu, lawanlah dia karena dia ditemani oleh setan.(HR. Ibnu Khuzaimah)

Tapi, pertanyaannya, apakah ini juga berlaku untuk anak kecil yang memang akalnya belum sampai? dan apakah dengan perlakuan yang kasar kepadanya justru malah lebih dhalim?
Dulu, karena kejadian itu, ponakan saya ini sampai agak trauma pergi ke masjid.

Lalu bagaimana kalau kita lihat sikap panutan kita, Rasulullah saw, terhadap anak kecil:

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan Pernah beliau sedang ruku cucunya masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau Sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau khutbah, si cucu sedang ke tingkat pertama tangga mimbar.
Pernah juga ketika Rasulullah sholat, dengan sabar beliau memperlama sujudnya, agar kedua cucunya bisa puas bermain di atas punggung beliau.

Mengenai perasaan Rasulullah terhadap anak kecil juga sangat lembut.
Disebutkan alam riwayat lain, suatu Ketika beliau sedang menimang seorang bayi, lalu bayi itu buang air kecil di baju Rosulullah. Dengan kasar sang ibu mengambil anak itu dari tangan Rosulullah. Ia marah karena anaknya yang masih bayi mengotori baju Rosulullah dengan najisnya. Saat itu Rosulullah berkata, “Wahai ibu, Najis anakmu ini mudah untuk dibersihkan, tetapi kekeruhan jiwanya akibat kekasaranmu sulit untuk dihilangkan”.

Jadi, menurut saya, anak kecil yang suka bermain atau kadang ribut adalah hal lumrah. Kita tentu wajib mengingatkan dan mendidik mereka, namun juga harus dengan cara yang baik. Kalau perlu, harusnya menjadi tugas kita untuk menciptakan citra bagi anak-anak kalau ke masjid itu adalah momen yang mengesankan.
Kalau masalah kekhusu’an sholat, sebenarnya berpulang kepada kita, mau kondisi sepi atau ramai, atau kondisi seperti apapun. Tinggal seberapa ikhlaskah kita dalam beribadah.