Sejak kecil saya sepertinya terbiasa ‘berinteraksi’ dengan orang yang lebih dewasa (secara usia dan, terutama, secara intelektual). Sewaktu SD dan SMP, rumah saya sempat dijadikan semacam asrama/pesantren dengan ruang terbuka yang semuanya siswa SMA/Aliyah. Hampir setiap hari mereka menjadi kawan diskusi saya. Sewaktu saya SMA, saya kos ikut dengan kakak saya yang hampir semua anak-anak kuliahan dan aktivis mahasiswa. Praktis ketika saya S1, terutama akhir-akhir kuliah, saya baru lebih banyak pergaulan dengan kawan yang ‘sebaya’.

Pengalaman berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa ini memberi saya kesan yang cukup mendalam. Saya seringkali tertantang untuk dapat meng-upgrade diri untuk dapat berdiskusi dan mengikuti pola pikir mereka. Beruntungnya, saya biasanya mereka anggap sebagai teman, bukannya sebagai ‘junior’.

Namun, di sisi lain, kebiasaan ini memaksa saya untuk dapat membawa diri, artinya saya harus menyesuaikan dengan lingkungan yang saya hadapi.
Saya, tentu saja harus membedakan ketika berbicara dengan teman-teman sebaya. Pola-pikir dan horizon saya harus saya “turunkan” sedemikian rupa untuk dapat beradaptasi. Ini bukannya tanpa masalah.
Untuk masalah sosial sehari-hari mungkin tidak begitu terasa, tapi ketika berdiskusi yang lebih serius, saya kerapkali merasa terbentur dengan kesenjangan berfikir dan tidak jarang berujung kepada kesalahpahaman. Lebih parah lagi kalau yang diperbincangkan adalah persoalan yang sangat fundamental.

Sebagai analogi kira-kira demikian, andaikan dalam diskusi saya bilang, “kalau kita melihat langit dari luar atmosfer bumi, maka yang terlihat langit berwarna hitam..” Pernyataan seperti ini kalau tidak dicerna dengan cermat bisa dipahami kalau saya dikira berpendapat kalau langit itu hitam, padahal menurut lawan bicara saya, langit itu ya biru dan itu tak terbantahkan (dan saya-pun sebenarnya tidak membantah itu)…
Padahal saya cuma mau bilang, warna langit itu tergantung dari “sudut pandang” mana kita melihat, bisa saja biru, bisa saja hitam.. Ini tentu saja tidak akan dapat dipahami kalau sudut pandang lawan bicara saya hanya “melihat langit dari bumi.” Kalau sudah begini, saya seringkali memilih diam atau berganti topik yang lain daripada disalahfahami.
Sekali lagi ini hanya analogi yang mungkin hiperbolis.. hehehe

Celakanya, saya lama-lama merasakan hal ini tidak cuma di lingkungan sebaya (dari sisi usia) tapi juga di banyak lingkungan. Saya terkadang juga suka ‘lupa’ dengan lawan bicara saya (artinya saya kadang berbicara dengan “bahasa” yang kurang tepat).

Saya sekali lagi teringat posting om Topik tentang bagaimana cerdasnya ulama di Iran yang mampu meng-upgrade kemampuan umat sehingga mampu memahami pengetahuan yang lebih tinggi, juga bagaimana cerdasnya (sebagian) ulama Indonesia yang mampu menjelaskan pengetahuan yang rumit menjadi rangkaian informasi sederhana sehingga mampu dipahami orang kebanyakan tanpa mengurangi kualitasnya. Saya sering merasa stuck dan frustated bahkan sedih dan minder karena tidak bisa solutif seperti itu..

Bukannya saya merasa lebih pintar (Semoga dilindungi Allah dari ujub), mungkin saya sendiri yang memiliki EQ rendah, atau saya yang sebenarnya “salah lingkungan”, atau terlalu tergesa-gesa dalam meng-upgrade diri, sebelum waktunya…