Rodliitu Billahi Rabba
Wa Bil Islami Diina
Wa Bi Muhammadin Nabiya Wa Rasula

Waktu saya SD dulu, kalimat-kalimat ini dulu biasa kami lafalkan setiap memulai pelajaran hingga cukup lekat dalam ingatan. Meski tentu saja hafal dengan artinya, dulu mungkin saya kurang begitu faham makna sebenarnya dari kalimat-kalimat tersebut.
Baru setelah dewasa saya meraaskan bahwa sebenarnya kalimat tersebut menunjukkan sebuah makna penting, komitmen. Ya, ini adalah komitmen ketika kita menyatakan bahwa dengan sukarela telah menerima Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul Allah.
Ridlo dalam kalimat tersebut menurut saya adalah sebuah kesadaran dan kerelaan menerima konsekuensi..
Ketika tanpa paksaan, tanpa indoktrinasi, tanpa iming-iming, dan muncul dari dalam alam sadar, apapun resiko dan konsekuensi dari keputusan, sudah siap untuk ditanggung.

Selain komitmen besar dan transenden seperti di atas, komitmen juga banyak sekali kita dapatkan di kehidupan sehari-hari. Bahkan, menurut saya, komitmen adalah salah satu dari energi dasar kita untuk bisa hidup. (Saya teringat sebuah wawancara BJ Habibie yang menceritakan bahwa ketika ayahnya meninggal, ibunda dari Habibie ini sempat mengatakan sebuah komitmen bahwa dia akan mendidik dan menyekolahkan semua anak-anaknya (yang waktu itu masih kecil-kecil) sampai dapat menjadi orang besar dengan usaha dan biaya sendiri, dan pada akhirnya komitmen itu membuahkan hasil.)

Komitmen sendiri saya kita lebih berat dari sebuah janji. Kalau janji lebih berorientasi ke hasil, komitmen lebih berorientasi kepada proses. Kepada bagaimana kita menyadari bahwa sebagai manusia kita adalah mahluk yang tidak sempurna dan kita harus bisa siap untuk menyadari bahwa kita ini tidak sempurna, sehingga hasil hanya tinggal menjadi nomor dua.

Advertisements