bsjawa.jpgKemarin waktu pulang kampung, saya diajak ke sekolah SD saya dulu. Kebetulan guru-guru di sana adalah teman-teman saya. Sudah berkali-kali saya diajak untuk ke sana untuk melihat perkembangan, memberi saran atau ikutan mengajar. Kemaren saya ditodong untuk mengajar kelas 6. Mata pelajaran yang ada, Bahasa Jawa, padahal saya ini termasuk kurang baik dalam penguasaan Bahasa Jawa. Lucunya, bahasa pengantar yang saya pakai lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia. Akhirnya saya coba sebisanya.

jawa.jpgSaya mengajar sedikit mengenai cerita asal-mula aksara Jawa (Kisah Ajisaka) serta teknik menghafal aksara Jawa. Seperti diketahui, aksara Jawa secara berurut adalah “Ha Na Ca Ra Ka dst..”. Namun, penghafalan dengan cara ini hanya mudah untuk dilafalkan, jika dihubungkan dengan bentuk aksara-nya maka akan sulit, karena bentuk huruf terkesan acak dan tak berpola. Akhirnya, cara menghafal saya buat sesuai dengan pola huruf. Penghafalan aksara jawa ini akhirnya saya buat seperti berikut:

pa ya ra ga
na ka ha la
da sa wa ta
ba nya tha nga
ca dha ma ja
 

Saya agak surprise juga ternyata anak-anak ini cepat sekali menghafal, padahal mereka belum pernah diajarkan aksara jawa sebelumnya. Saya juga ‘memaksa’ mereka untuk maju ke depan, baik untuk menghafal atau menuliskan di papan tulis. Mulanya kebanyakan tidak mau maju, memilih menghafal dari kursi mereka sendiri, tapi saya pikir, anak-anak ini harus dibiasakan tampil di depan, kalau tiap kali seorang anak sudah selesai saya suruh yang lain untuk tepuk tangan. Ada juga yang awalnya takut-takut, dan ketika menuliskan di papan tulis ternyata tulisan Jawa-nya bagus, dan saya katakan itu di depan kelas.

Saya cerita juga sedikit tentang filosofi huruf Jawa ini. Salah satu interpretasi yang pernah saya baca diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara (kalo nggak salah, saya baca di Wikipedia). Huruf Jawa dengan urutan “Ha Na Ca Ra Ka..” memiliki kepanjangan dan makna sendiri-sendiri.

Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.

Manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”. Akan tetapi manusia memiliki cipta-rasa-karsa; otak yang mengkreasi cipta, hati yang melakukan fungsi kontrol (dalam bentuk rasa) serta  raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana.

Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.

Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga (saka) sehingga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.

PA DHA JA YA NYA = sama kuat

Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan.

Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi

Meski dengan kehebatan cipta-rasa-karsa, entah kita baik atau jahat, akhirnya ruh/nyawa pasti suatu saat akan kembali ke Pencipta-nya. Sehingga manusia harus bisa mempersiapkan diri.