Kemarin seharian mengikuti kegiatan sosialisasi mengenai (lomba / sayembara ) Pembelian Hak Cipta Penulisan Buku Teks Pelajaran 2007 yang dilakukan dengan kerjasama PPPPTK Matematika, BSNP dan Pusat Perbukuan. Dari sosialisasi ini saya mendapatkan informasi bahwa DEPDIKNAS berencana membeli hak cipta untuk 59 judul buku teks pelajaran SD/SLTP/SLTA. Naskah yang akan dibeli ini akan dipublikasi secara luas dan bebas, artinya siapapun dapat menggandakan (fotokopi/cetak/copy elektronik/dll) untuk kepentingan non-komersil (sebenarnya boleh dijual tapi dengan margin harga yang diperbolehkan). Publikasi juga akan dilakukan melalui internet atau CD (Saya akan posting pengumuman selengkapnya). Dengan upaya ini diharapkan masyarakat, terutama anak didik akan mendapatkan akses ke materi pembelajaran yang murah. Ini merupakan terobosan yang lumayan menarik.

Namun demikian banyak hal yang menurut saya akan menjadi beberapa “batu sandungan”.  Pertama, sosialisasi ini mendesak sekali,  dihitung dari  sekarang, maka jangka waktu penulisan hanya sekitar 1.5 bulan. Bisa dibayangkan dalam waktu sedemikian singkat harus menulis buku yang berkualitas? saya pernah menulis buku dengan tebal hanya 100 halaman tapi memakan waktu sampai berbulan-bulan.

Kedua, ternyata hasil penulisan ini harus dalam bentuk yang siap cetak, artinya isi, ilustrasi, layout halaman sampai dengan cover harus dibuat oleh penulis sendiri. Ini tentu saja cukup menyulitkan kebanyakan penulis apalagi yang kurang familier dengan komputer(Pengalaman saya, layout ini bisa memakan waktu lama dan bisa-bisa malah membuat kita kurang fokus ke materi). Tapi ketika ada peserta yang  menanyakan hal ini dijawab untuk tidak terlalu khawatir mengingat poin penilaian grafika ini hanya sekitar 1 poin sedang poin materi bernilai 3 poin. (Kasus ini menurut saya, mirip lomba Desain Web yang pernah saya posting, yang mensyaratkan harus menggunakan nama domain tertentu, yang secara teknis malah dapat menyulitkan peserta-meski belakangan syarat ini kemudian dicabut).

Ketiga, kultur masyarakat pendidikan kita. Buku ini saya yakin hanya akan efektif jika memanfaatkan penyebarluasan secara digital (internet, CD atau lainnya)  dan pada titik akhirnya (siswa) tetap dalam bentuk tercetak. Namun, masyarakat kita belum terbiasa dengan penggunaan internet, atau komputer yang tentu saja jika disebarluaskan dalam bentuk cetak akan menjadi kurang efisien. Kultur lain yang menurut saya agak kurang baik, adalah kebiasaan beberapa oknum yang memanfaatkan pengadaan buku sebagai ‘lahan’ penghasilan sampingan yang melibatkan oknum pendidikan dan penerbit. Keberadaan buku yang bebas digandakan tentu saja akan mengurangi bahkan menghilangkan ‘lahan’ yang selama ini dikuasai dan ini tentu akan menimbulkan resistensi terhadap pengadaan buku murah ini.

Namun, dari semua ini saya punya sedikit harapan bahwa upaya ini akan menjadi terobosan positif bagi pendidikan kita dan tidak cuma menjadi ajang baru untuk mengucurkan anggaran/proyek yang tidak memberikan manfaat banyak.

Saya pengin ikutan nulis buku ini, tapi kayaknya kalo nulis sendirian gak sanggup (cape dech… 😀 ). Cari partner dulu kali, mungkin ada temen yang bisa diajak kongsi..