Beberapa waktu lalu ketika ada seleksi pemenang Nobel Perdamaian 2006 kita mungkin berharap akan dimenangkan oleh nominasi dari Indonesia, Presiden SBY. Apalagi selama ini mungkin baru kali ini (setahu saya) ada nominator pemenang Nobel dari Indonesia. Ketika ternyata Nobel dimenangkan oleh seorang biasa asal Bangladesh, mungkin kita agak kecewa.

Tapi ketika beberapa hari lalu sempat melihat tayangan mengenai Mohamad Yunus di Oprah Show saya benar-benar menjadi salut, dia memang layak mendapat penghargaan ini. Dan kalo juri-nya itu saya sekali-pun, saya pasti lebih memilihnya menjadi pemenang. Yunus bukan pejabat atau selebritis, dia orang biasa yang sederhana. bermula ketika ia menjadi pengajar mata kuliah ekonomi di sebuah universitas di Bangladesh. ketika dia mengajarkan teori muluk-muluk tentang ekonomi tapi dia mendapati masyarakat sekitarnya dipenuhi dengan kemiskinan. Ketika itu, sebagai profesor ekonomi di Universitas Chittagong, dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Didapatinya ternyata kemiskinan sudah sedemikian parah sedang dia bermuluk-muluk dengan teori ekonomi. Merasa bertentangan dengan nurani-nya, akhirnya dia terjun langsung dengan membantu satu orang setiap hari. Filosofi yang dia bangun adalah bagaimana membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Dia tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing kepada kaum papa untuk mencari ikan sendiri. yang mencengangkan, ternyata orang-orang miskin ini sebenarnya tidak membutuhkan banyak dana untuk keluar dari kemiskinan (terutama karena belitan utang lintah darat). Dan ketika memulai itu dia merogoh kantong pribadi.

Ia kemudian mendirikan Bank Greemen, yang ditujukan untuk kalangan miskin. Bank ini melayani kredit mikro dan memberi pinjaman yang relatif kecil, sekitar 9 dollar sangat kecil memang, tapi ternyata sangat berarti bagi orang-orang miskin untuk bangkit. Pinjaman ini tanpa agunan, “menyadari bahwa yang meminjam ini adalah manusia itu sudah cukup menjadi agunannya” katanya. Dalam konsep islam orang miskin sering disebut kaum dhuafa (‘kaum yang dilemahkan’), dan ketika mereka diberi kesempatan layak (kesempatan yang sedikit saja), ternyata mereka mampu terentas dari kemiskinan itu. Kini, nasabah bank Gremeen ini separuh lebih telah terbebas dari kemiskinan. Uniknya, kebanyakan dari nasabah bank ini ternyata perempuan, dan memang, ketika yang diberdayakan itu adalah perempuan/ibu, pada dasarnya yang terangkat derajatnya adalah sebuah generasi.

Dan Yunus benar-benar telah mengangkat sebuah generasi baru, dari bapak ibu miskin yang tak kenal baca-tulis, sejak program ini dimulai 1976 itu, anak-anak keluarga miskin itu kini mampu mengenyam pendidikan, bahkan banyak juga sampai tingkat  perguruan tinggi dengan mengambil jalur pendidikan bergengsi seperti kedokteran, teknik, dll.

Salut untuk Yunus.

Advertisements