absen.jpg

Sejak dari kuliah dan kembali ngantor, beberapa bulan yang lalu, saya menemukan ada yang berbeda. Sekarang kantor saya menerapkan absen digital menggunakan sidik jari. Di satu sisi saya melihat bahwa sistem absen semacam ini lebih efektif (tidak bisa nitip atau “memborong” absen di akhir bulan). Apalagi ada insentif khusus yang dihitung dari kehadiran di absen tersebut.

Tapi agak lain bagi saya. Setelah mendaftarkan sidik jari, saya merasa agak kesulitan. Tiap kali absen, sidik jari saya sulit dikenali. Saya kadang harus puluhan kali mengulang. Bahkan ketika saya daftarkan ulang sidik jari saya ke kepegawaian, tetap saja sulit dikenali. Terkadang sampai banyak pegawai lain yang antri di belakang saya gara-gara saya bolak-balik men-‘colek’ si mesin absen. Kata temen saya, keamanan memang berbanding terbalik dengan kenyamanan. Tapi ini benar-benar bukan saja tidak nyaman, tapi sudah membuat saya frustasi..

Akhirnya pihak kepegawaian memutuskan, saya bisa absen menggunakan password. Jadi, menggunakan mesin yang sama, saya tidak harus absen dengan sidik jari, tapi cukup memasukkan ID dan password. Lancar deh..
(Yang suka nitip absen dilarang ngiri… hehehe)