my_love_toram.jpg

Saya termasuk orang yang risih deket-deket dengan anjing mungkin ini karena kalo dalam Islam, air liur anjing termasuk najis tingkat paling berat (najis mughaladhah). Saya juga sering kesel kalo ke kos salah seorang temen yang ada anjingnya yang suka menggonggongi dan gayanya mau menggigit kalo ada orang yang datang.

Kemarin saya nonton film Korea di  Metro TV yang aktor utamanya adalah seekor anjing! Sekilas saya lihat film ini biasa saja, tapi setelah menonton agak lama ternyata menarik sekali. Konon ini berdasar kisah nyata. Film ini berkisah tentang seorang ibu dua anak (Sook-Yun?)  yang karena sebuah kecelakaan akhirnya buta. Terbiasa mandiri, ibu ini menjadi tertekan karena ia yang terbiasa sibuk melayani suami dan anak-anaknya kini ganti dilayani. Ibu ini menolaknya, bahkan anjing yang sejak kecil diasuhnya pun akhirnya diserahkan ke pihak berwenang dan menolak ketika ditawari agar anjingnya ini menjadi anjing pemandunya. Ibu ini akhirnya pergi meninggalkan keluarganya untuk hidup sendiri.

Singkatnya, hidup dalam kebutaan dan lingkungan yang asing memang berat. Di saat-saat berat ini pada akhirnya Sook Yun bertemu dengan anjingnya lagi dan kemudian dia setuju untuk menjadikannya sebagai anjing pemandu. Di sinilah mulai kisah bagaimana anjing bernama Toram ini menjadi “mata” bagi tuannya. Saya baru tahu, ternyata anjing bisa menjadi pemandu yang sangat efektif dan di Korea ada lembaga yang khusus melatih anjing pemandu tunanetra ini. Anjing pemandu sangat pintar, ia bisa mengenali lampu merah, halte bis, menghindari halangan, mengenali tangga dll. Untuk menjalankan “tugas” ini si anjing mengenakan alat khusus yang dapat dipakai untuk menuntun tuannya.

Banyak adegan-adegan yang mengharukan seperti misalnya ketika Toram karena berdesakan dengan banyak orang akhirnya terinjak kakinya, pincang dan berdarah. Waktu mengetahui anjingnya luka kemudian dibawa ke dokter kemudian ketika mau pulang Sook Yun kasihan dengan kondisi Toram lalu mengajak pulang anjing ini dengan taksi. Namun, si anjing ini “memaksa” tuannya untuk mengenakan alat yang dipakai nya untuk bertugas dengan menggigit alat itu untuk dikenakan ke tubuhnya sampai beberapa kali (bahkan dalam kondisi luka sekalipun Toram ternyata tidak mau meninggalkan tugas!). Lingkungan pun tidak seramah yang dikira. Di kontrakan, di bis, di universitas banyak orang yang tidak suka dengan anjing sehingga sering dikucilkan, disuruh pindah rumah, disuruh turun dari bis dll.

Dan pada akhirnya anjing pemandu inilah yang mengantarkan tuannya menjadi lulusan terbaik di universitas, mempertemukan keluarganya yang sempat berantakan, dan menjadi spirit hidupnya. Anjing ini bahkan telah dianggap sebagai anak bungsunya. Kisah paling mengharukan ada di akhir film ketika ternyata Toram mengidap penyakit mematikan dan harus dirawat dan tidak boleh ditengok. Kondisinya sekarat dan tidak dapat bangun. Tapi Ketika Sook Yun datang, anjing ini kontan berdiri dan mengambil alat yang biasa dipakainya bertugas menggigitnya dan menyerahkan ke Sook Yun untuk dikenakan ke tubuhnya. pada mulanya wanita ini tidak tega, tapi pelatihnya bilang ini mungkin permintaan terakhir Toram. Dan ketika alat ini dipakai, anjing ini mengajak berjalan dan sampai di universitas di mana Sook Yun kuliah dan kini menjadi dosen. Dan di sinilah akhirnya anjing ini meninggal.

Film ini membuka perspektif saya tentang orang penyandang disability serta membuka perspektif saya juga tentang anjing…

Saya bertanya-tanya kenapa di Indonesia tidak ada anjing pemandu seperti ini ya, saya kira bermanfaat banget bagi para tuna netra…