“Pagi ini saya mengantarkan anak ke sekolah. Wah, rame sekali di jalan! Seru… Saya melihat mata-mata yang berbinar dari anak-anak, khususnya anak-anak yang baru masuk ke SD. Dengan seragam yang masih putih baru mereka bergegas menuju sekolah. Mereka mungkin sudah bosan di TK dan sudah haus ilmu, pengetahuan, dan pengalaman. Ah … jangan kecewakan mereka. Jangan beri mereka beban yang berlebihan. Ajak mereka belajar dalam permainan. Jaga keceriaan dan kegembiraan mereka sehingga mereka semakin bergairah untuk belajar” dari blognya Pak Budi Raharjo

kalo liat anak-anak kecil yang baru masuk sd dengan  semangat dan “berbinar-binar” ini rasanya seneng. Mereka-lah masa depan kita. Kemarin keponakan saya bilang dengan bangganya kalo dia sudah mau masuk kelas 1 SD.
Tapi, di sisi lain saya juga khawatir, dengan kebanyakan sistem yang dijalankan di kebanyakan sekolah yang ada sekarang, anak2 baru (utamanya kelas 1 SD) itu bisa jadi justru malah jadi frustasi karena ketika di TK mereka banyak bermainnya ketika di SD mereka malah dibebani pelajaran yang berat dan “membosankan”. Guru juga jarang sekali menyadari kalau anak memiliki gaya belajar yang beragam. Kalo di TK mereka diajari menghitung atau abjad melalui lagu dan gambar menarik, tapi ketika kelas 1 mereka harus belajar baca/tulis, matematika, dll yang jauh berbeda dari TK. Saya pernah bilang ke guru-guru di Madrasah di tempat saya, sebaiknya mulai lebih serius menggarap kelas 1. Terutama fokus bagaimana pelajaran bisa menyenagkan, bagaimana membangun karakter dan moral anak sejak dini, di usia-usia yang vital tersebut. Ironisnya, guru kelas 1 agak “keberatan” karena kalo nanti banyak guru yang terlibat di kelas 1 dia harus gantian mengajar di kelas lain yang lebih tinggi(katanya tidak PD.Waduh…). Ironis memang, kebanyakan kita memandang kalo mengajar kelas 1 atau 2 SD itu paling mudah. Padahal kalo menurut saya malah sebaliknya. Guru di kelas dasar ini justru juga harus yang lebih berpengalaman dan tahu betul tentang pendidikan dan perkembangan anak.

Di sisi lain, seperti keponakan saya, ketika di rumah sudah terbiasa belajar dengan komputer(saya juga heran ternyata dia begitu cepat beradaptasi dengan komputer bahkan laptop). Dia sudah terbiasa menulis huruf, belajar angka dll menggunakan aplikasi/game komputer. Saya tidak membayangkan kalo kemudian di kelas dia belajar secara “tradisional” seperti kita kecil dulu, “dipaksa” memegang pena dan harus menuliskan huruf “ABC” atau menghitung “1+2” di buku, menghafal pelajaran dll. Padahal di sekolahnya, Guru-nya pun bahkan tidak kenal apa itu komputer!

saya cuma berharap semangat anak-anak ini jangan sampai terpatahkan oleh sistem dan kebiasaan yang kurang mendukung mereka untuk belajar.
Giat,giat,giat…

(Di sekolah kampung kami akhirnya saya usulkan untuk membuat lab komputer kecil (mungkin 4-5 PC) untuk mengenalkan pembelajaran menggunakan teknologi. Karena biaya minim sekali kami mungkin akan gunakan PC second yang relatif lebih murah, dan tentu saja harus kerja keras cari donatur.(Kami sudah mendapat donasi seperangkat PC “kuno” Pentium I dari seorang pengacara dari jogja) mungkin ada yang bisa bantu cari donatur?)