anak_jalanan.jpgKemaren siang saya keluar sebentar waktu istirahat kantor untuk makan siang (makan bakso Pak Bawor, enak+murah+kenyang, Bakso+Es teh=Rp.5500. kalo ke Jogja silahkan coba!) sambil ke toko buku sebentar (udah lama gak beli buku, kebanyakan baca blog.. 😉 ) . Waktu pulang dan berhenti di perempatan, banyak anak jalanan dan pengemis yang memang biasa mangkal di situ. Saya teringat punya beberapa receh kembalian dari makan siang tadi.

Tapi saya kemudian teringat ada sebuah diskusi di TV kemaren, katanya jangan memberi duit kepada anak jalanan karena itu berarti kita juga ikut ‘melanggengkan’ kebiasaan mereka. Yang bilang gitu malah para aktifis anak jalanan sendiri. Katanya lebih baik kalo kita kasih makanan yang bergizi (biskuit misalnya) jadi kita bisa ‘sedikit’ andil dengan makanan bergizi tadi otak-nya akan ‘sedikit’ lebih pintar sehingga lama-lama akan mencari kehidupan yang lebih baik. Jadi saya mengurungkan niat memberi uang (atau pelit yang ter-legitimasi? hehehe nggak ding..)

Saya juga pernah ada temen yang cerita sambil marah-marah, katanya dia bela-belain kasih duit ke anak jalanan dan gak jadi ngerokok, ee sama si anak jalanan tadi duitnya malah dibuat ngerokok….

Ketika sore mau pulang kantor, saya lihat di ruangan ada snack sisa konsumsi rapat, saya mau bawa pulang tapi di rumah paling juga nggak ada yang makan (maklum masih single..). Mubazir juga. Saya lalu teringat anak jalanan tadi, daripada ini makanan mubazir dan saya lihat makanannya cukup ‘bergizi’ juga, maka saya bawa makanan itu dan saya bela-belain ke perempatan tempat mangkal anak jalanan dan pengemis dan saya kasih ke mereka.. itung-itung andil untuk ‘mencerdaskan’ otak mereka…

Advertisements