Melihat berita-berita terbaru dari Timur-tengah, membuat kita semakin prihatin. Eskalasi kekerasan di Palestina semakin besar, tidak saja ketika melawan Israel sebagai musuh nyata, tapi pertikaian antar sesama muslim sendiri-lah yang membuat hati kita makin teriris. Ratusan orang telah tewas (sia-sia?) dalam perang saudara ini.

Lepas dari pertikaian ini apakah memang sengaja ‘didisain’ oleh Israel dan AS atau murni sebuah perebutan kekuasaan, sebagai seorang muslim kita patut  bermawas diri.  Sejarah peradaban umat muslim tidak saja penuh kegemilangan, tapi juga penuh dengan peperangan, intrik, pembunuhan, dan darah. Bukan saja oleh karena berhadapan dengan musuh, tapi juga pertikaian antar sesama muslim. Di tempat kita pun sampai detik ini masih saja pertikaian mengenai hal-hal seperti qunut dan tahlil tidak habis-habis. Kita malah makin sering mendengar orang mengkafirkan golongan lain. Kita makin banyak mendapati orang mengidolakan ekstrimisme dan kekerasan di satu sisi dan ‘pemikiran bebas’ ala barat di sisi lain.

Sebagian orang semakin ‘galak’ dalam ‘membela’ agama, sementara di sisi lain ada pihak-pihak yang semakin ‘berani’ me’nafsirkan’ dan me-liberalisasi agama. Pertempuran wacana ini sewaktu-waktu bukan tidak mungkin menjadi awal pertempuran fisik. (Di beberapa kasus, telah banyak terjadi intimidasi, perusakan, pengusiran bahkan pembunuhan karena perbedaan pendapat ini). Atau apakah ini designed by USA? Apakah kita harus menyalahkan mereka? Atau inikah bagian kultur buruk kita? Sehingga kita perlu mengintrospeksi dengan jujur. Kita terlalu frontal dihadapkan pada kutub-kutub yang ekstrim

“Pada suatu kesempatan saya pernah mendengar bahwa daging anjing tidak haram dan itu dikumandangkan di radio publik, dan sebagian orang didekat tempat saya kemudian dengan demonstratif menyembelih dan berpesta sate anjing rame-rame
Pada kesempatan lain saya mendengar ada teman yang bilang bahwa pada jaman Nabi dulu pernah ada sebagian orang dari sebuah suku dimusnahkan gara-gara sebagian mereka berbuat salah yang fatal dan ini menjadi justifikasi bahwa jika ada korban tak bersalah (bahkan jika mereka orang Islan sekalipun) dari kekerasan (dan teror) atas nama agama adalah wajar.(Saya sendiri belum pernah mendengar ada hadis atau riwayat semacam ini dan kesahihannya, tapi pendapat semacam ini sangat diyakini sebagian orang dari kita).”

Sebuah pertanyaan yang selalu menghantui saya. Tidakkah kita bisa membentuk masyarakat muslim baru yang lebih baik? Adalah fakta tak terbantah bahwa Sejarah Islam selain kejayaan juga banyak diwarnai konflik dan darah. Apakah kita, dengan berkaca dari sejarah dan belajar darinya dengan ‘kedewasaan’, tidak mampu menulis sejarah baru sebagai masyarakat (muslim) yang damai, cerdas, beradab dan mampu memberikan warisan agung bagi dunia sebagaimana tujuan diturunkannya Islam itu sendiri? 

Advertisements