Ujian Nasional lagi-lagi menuai gejolak. Di beberapa tempat merebak keprihatinan yang berujung ke meja hijau. Kasus-kasus seperti siswa yang tidak dapat mengikuti Unas karena sakit atau alasan lain, sampai kasus-kasus kecurangan-kecurangan di sekitar pelaksanaan Unas. Kasus kecurangan ini makin terungkap ketika komunitas Air Mata Guru menyingkap puluhan kecurangan di Sumatera Utara sampai diikuti intimidasi terhadap anggota komunitas ini (memprihatinkan memang..).

Kasus-kasus ini harusnya menjadi perenungan kita mengenai perlu tidaknya Unas dan kalaupun perlu diadakan, apa yang harus dibenahi. Kalau menurut saya, Unas tetap penting untuk diadakan karena bagaimanapun ia dapat menjadi tolok ukur dan target yang harus dicapai dan ditingkatkan setiap saat. Namun, di sisi lain, target yang berat dan ketidaksiapan guru dan siswa, materi pembelajaran yang tidak standar, dan persoalan-persoalan lain menjadikan Unas akhirnya menjadi pisau bermata dua. Sekolah akhirnya berubah fungsi dari tempat menggembleng karakter anak didik (character buliding), menjadi sekedar tempat bimbingan tes.

Akses pendidikan yang tidak merata agaknya merupakan tantangan yang paling besar di negara kita. Bagaimana tidak, negara kita terdiri dari belasan ribu pulau, dengan kondisi geografis yang saling jauh berbeda satu dengan lain. Bagaimana jika sebuah sekolah kecil di desa terpencil yang tidak memiliki fasilitas memadai, guru honorer yang tidak pernah dilatih/ditatar harus ditandingkan dengan sekolah yang maju, fasilitas lengkap, guru yang ditatar secara rutin, serta akses luas ke buku-buku pelajaran dan internet. Ketika akses pendidikan ini sudah cukup merata, Unas baru betul-betul dapat dilaksanakan secara kompetitif dan fair. Berbicara akses ini, mau tidak mau kita tidak akan lepas dari peran ICT yang dapat menyediakan materi pembelajaran yang praktis, skallabel, mudah didistribusikan, fasilitas kolaborasi dan komunikasi serta akses global.

Inisiatif pemanfaatan ICT untuk pemerataan akses pendidikan ini sudah dimulai dengan diluncurkannya JARDIKNAS (Jejaring Pendidikan Nasional) oleh DEPDIKNAS yang ditargetkan akan mengkoneksikan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan melalui internet. Namun, bagi beberapa pihak, akses internet masih sangat mahal. Ini terutama akibat demand yang belum ada. Sebuah sekolah tentu akan merasa keberatan dan merasa sia-saia untuk berlangganan koneksi internet jika siswa dan guru tidak paham dalam memanfaatkan internet. Mungkin karena itu perlu ada strategi segmentasi dalam pemanfaatan ICT di mana ada beberapa lokasi yang dapat terkoneksi internet dan yang lain yang tidak ada koneksi internet, yang punya komputer dan yang tidak, bahkan mungkin yang ada listrik dan yang tidak, dsb.
Bagi yang tidak terkoneksi internet, kita bisa sediakan resource dalam versi offline. Jadi materi pembelajaran disediakan dalam bentuk CD, misalnya, sehingga tidak harus terkoneksi internet. Tapi konten yang disediakan tentunya harus benar-benar berkualitas (ini juga tantangan sulit) dan selalu di update.

Kendala lain pemanfaatan ICT adalah perangkat yang masih mahal. Bagi siswa, memiliki PC untuk keperluan belajar masih sangat berat. Harga PC yang mahal menjadikan orang tua masih berpikir panjang untuk membelinya. BTW, beberapa perusahaan besar dunia sebenarnya meluncurkan produk murah yaitu laptop $100 untuk keperluan pendidikan di negara berkembang, namun saya kurang tahu apakah Indonesia telah menangkap peluang kerjasama dengan perusahaan-perusahaan ini.

Tapi perlu diingat kembali bahwa tujuan terpenting pendidikan adalah pembentukan karakter dan bukan sekedar nilai ujian karena karakter ini lah yang akan menentukan masa depan bangsa kita di masa depan. ICT atau media apapun hanyalah alat bantu, SDM-nya lah yang menjadi penentu akhir akan keberhasilan pendidikan.