terminalTak terasa sudah setahun kejadian gempa yang telah meluluh-lantakkan sebagaian DIY dan Jawa Tengah. Ya, setahun lalu tepatnya 27 Mei 2006, pagi-pagi sekali, saya baru saja datang dari Bandung. Pagi itu saya kebetulan sampai di rumah lebih pagi dari biasanya. Saya sampai di terminal terdekat baru sekitar jam 5.45. Saya sempat mengambil gambar suasana di sekitar terminal tsb.
Saya dijemput mungkin 5 atau 10 menit setelah itu. Dan baru beberapa saat istirahat di rumah, bumi terasa bergoncang hebat. Kami pun lari berhamburan. Subhanallah, subhanallah,… guncangan itu begitu besar dan lama. Saya berpikir apakah ini mau kiamat.. Kami menyaksikan sedikit demi sedikit beberapa rumah ambrol. Dari subhanallah lama-lama dengan refleks terucap Allahu Akbar…
Beberapa jam setelah itu di tengah ketidakpastian apa yang terjadi, listrik padam, komunikasi macet. Jam 10an muncul isu adanya tsunami. Tsunami??pikirku di daerah kami yang begitu jauh dari laut apa ada tsunami sampai ke sini? Saya sempat panik juga. Saya kira siapapun dalam kondisi semacam itu pasti juga akan panik. Alhamdulillah semua tidak bertambah parah. Lingkungan di tempat kami pun tidak begitu panik, yah kalau bener kena tsunami dan tenggelam ya pasrah aja. Syukur juga di tempat kami tidak ada korban jiwa, hanya ada beberapa yang luka-luka.

Setahun setelah gempa ternyata banyak juga masalah lain yang muncul. Apalagi kalau bukan soal bantuan. Banyak pihak yang rumahnya rusak parah malah tidak mendapat bantuan, ada yang memang rumahnya rusak dan mendapat bantuan tapi oleh lingkungan RT-nya dipaksa dipotong untuk dibagi satu RT tersebut. Belum suara-suara tidak sedap yang makin menambah situasi parah. Kami geleng-geleng. Malam setelah gempa itu saya dan bbrp sudah bergerak mencari bantuan dan mengatakan ke aparat desa kalau kita harus bertindak sigap. Namun, lagi-lagi banyak yang tidak paham. Bahkan teman-teman yang telah melakukan pendataan kerusakan dll, nampaknya data itu malah tidak ditanggapi serius oleh pihak yang berwenang. Akhirnya ketidakjelasan data di aparat ini menimbulkan konflik di belakang hari seperti sekarang. Kami sampai bilang ini bak malapetaka kedua setelah gempa itu sendiri. Untungnya beberapa sekolah yang rusak dan sudah kami data telah mendapatkan bantuan.

Di beberapa tempat saya malah mendengar kasus yang lebih memprihatinkan lagi. Aparat (atau tepatnya “oknum”) bekerjasama dengan beberapa penduduk tertentu mengalirkan dana bantuan tsb kepada yang tidak berhak. Jadi beberapa orang yang mau, dibuatkan surat pernyataan bahwa rumahnya roboh atau tidak bisa ditempati. Kemudian oleh oknum dikucurkan dana bantuan dan dana itu dibagi dengan oknum-oknum tsb. Dan walhasil mereka yang rumahnya sama sekali tidak rusak beserta oknum-oknum pun ikut menikmati kue bantuan tersebut. Naudzubillah..

Harusnya dengan adanya musibah ini kita lebih arif dan mawas diri. Siapa yang tahu kalau gempa ini adalah ‘jeweran’ Tuhan karena kasih sayang-Nya, atau teguran yang sudah keras, atau bahkan azab dari-Nya. Wallahu a’lam