miulla

Nasruddin adalah sosok unik, konyol dan jenaka dari kawasan Asia Tengah. Humor-humornya sangat menggelitik dan kadang menertawai orang, diri sendiri dan logika berpikir kita. Kisah berikut adalah sebagian kisah Nasruddin berkaitan dengan bagaimana menagapi pendapat orang.

Suatu hari, Nasruddin pergi bersama anaknya keluar kota. Dalam perjalanan itu, sang anak naik keledai sementara Nasruddin berjalan kaki sambil memegang tali keledai yang ditunggangi anaknya.

Tiba-tiba, seseorang menegur dan berkata, “Sungguh zaman memang sudah edan, bagaimana mungkin seorang anak naik keledai dengan nyaman sementara ayahnya dibiarkan berjalan kaki. Sungguh anak biadab dan tak tahu diri.”

Mendengar itu, sang anak berkata pada Nasruddin, “Ayah, bukankah sudah kukatakan padamu, naikilah keledai ini, biarlah aku yang berjalan kaki.” Nasruddin pun menuruti kemauan anaknya dan menuruti ucapan orang yang menegurnya.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang lagi-lagi mencela Nasruddin dan anaknya. “Pantaskah orang tua ini membiarkan anaknya berjalan kaki sementara dia dengan enaknya duduk di atas keledainya. Sungguh orang tua yang tidak punya kasihan pada anaknya.”

Mendengar omongan itu, Nasruddin akhirnya mengajak anaknya naik keledai berdua untuk menyelesaikan. Mereka bertemu lagi dengan kerumunan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Salah satu dari mereka berkata, “Hai teman-teman, coba kalian lihat, betapa kejamnya mereka, menunggangi keledai yang lemah itu berdua.”

Karena tidak tahan mendengar ucapan mereka, Nasruddin dan anaknya turun dari keledai. Keledai itu dituntun sementara mereka berdua berjalan kaki. Tak lama kemudian, mereka berpapasan dengan sesama orang yang sedang bepergian. Mereka berkata, “Kalian berdua ini sudah gila, membiarkan keledai begitu saja tanpa dinaiki, sementara kalian berjalan kaki padahal udara siang ini sangat panas.”

Dengan kesal Nasruddin berkata pada anaknya, “Anakku, manusia memang bisanya hanya mencela. Tidak ada yang selamat dari cercaan orang lain.”

Kisah di atas menyindir kebiasan orang-orang yang akan selalu mengomentari dan menyalahkan apapun yang kita lakukan. Artinya kita tidak tidak mungkin akan dapat menuruti apa keinginan semua orang karena sudut pandang masing-masing akan jauh berbeda. Berikut ini kisah yang hampir sama di mana kita juga harus bisa memahami apa yang menjadi sudut pandang orang lain.

Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasruddin berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Petugas majelis membujuk Nasruddin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasruddin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Petugas mengingatkan Nasruddin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nasruddin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Sekarang kisah-kisah Nasruddin dapat anda nikmati juga di Handphone. Aplikasi Seluler berisi kisah Nasrudin ini dapat anda peroleh di http://mcyclopedia.blogspot.com