aming.jpg

Wisuda ITB 3 Maret 2007 mungkin menjadi salah satu hari yang cukup menarik. Ada beberapa hal yang dapat saya catat dari momen ini.

Pertama, meski cuma sebuah simbol/seremoni, sebagai upacara pengukuhan wisudawan ini mungkin cukup ‘layak’ dilakukan mengingat ‘perjuangan’ selama kuliah memang cukup berdarah-darah.

Kedua, meski sebelumnya saya berfikir kalau acara-acara semacam ini lebih banyak ke formalitas dan seremonial belaka, ternyata di ITB cukup lain. Prosesi wisuda di sini terasa nuansa yang sakral dan aura kesakralan ini cukup terasa. Perasaan syukur tak terkira bisa mengenyam pendidikan di kampus besar ini.

Ketiga, wakil wisudawan yang didaulat tampil adalah teman satu kos saya, Imam. Meski di kos dia lebih banyak berperan sebagai tukang masak, ternyata yan cukup mengagetkan di kampus dan pada momen wisuda ini dia menjadi bintang istimewa, lulusan tercepat dan terbaik. Saya lebih kaget lagi ketika ngobrol-ngobrol dengan orang tuanya. Ternyata orang tuanya hanya petani kecil dari desa dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Bapaknya mengaku baca-tulis-pun tidak bisa. Ibunya bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali..(Bravo to you, mam..). Ada pula pasangan bapak ibu( waktu itu disebut oleh pak rektor), dosen dari Sumatera Barat, yang kali itu putra terakhirnya yang lulus dari ITB (semua anaknya kuliah di ITB).

Catatan menarik lain adalah wisuda kali ini juga diikuti oleh Aming (komedian yang ngetop lewat Extravaganza). Kehadiran Aming sempat membuat kegaduhan apalagi ketika giliran dia disalami rektor, seisi gedung SABUGA menjadi riuh…

Saya sendiri sempat foto bareng.. hehehehe….

Terimakasih para guru dan kawan-kawan..

Advertisements