You are currently browsing the tag archive for the ‘sepercik hikmah’ tag.
Saya pulang sudah maghrib dan itu hampir setiap hari. Seringkali terbersit rasa bersalah kepada anak karena waktu berinteraksi menjadi sangat terbatas. Beruntung anak saya biasa tidur agak malam sehingga masih cukup waktu bermain sebentar atau menemani nonton tivi. Ini biasanya lalu diikuti polah tingkah macam-macam ketika mulai bosan. Permintaannya lalu mulai bermacam-macam dan jika tidak dituruti maka mulai berulah dari melempar barang, membanting atau menginjak-injak (ini termasuk barang yang penting seperti laptop). Hampir tiap malam kami harus berjuang menghadapi si kecil ini. ketika semakin malam biasanya dia tidur dengan cepat jika memang sudah maunya. Dan sekejap suasana mendadak senyap, menyisakan rumah berantakan.
Dan kali ini ketika si kecil sudah lelap dan saya pun sudah capek dan mengantuk terdengar mobil di sebelah baru pulang. Disusul terdengar suara Si ibu mengucap salam kepada keluarganya. Saya mendadak terenyuh. Keluarga, utamanya si kecil di rumah tentu sangat menunggu. Suaminya terkena stroke dan cukup parah. Anak-anaknya masih kecil, paling besar SMA. Betapa beban si ibu ini menjadi tulangpunggung keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun sebagai nahkoda pengendali rumah tangga. Semoga Allah memberi kekuatan kepada para ibu-ibu perkasa ini.
Saya lalu menengok sebelah, anak dan istri sudah lelap, terbersit pikiran betapa berharganya karuniaNya, karena meski kami bukan orang berlebih dalam hal harta, keluarga yang semua sehat tak kurang suatu apa jauh lebih berharga dari harta benda. Dan itu menjadikan hati menjadi begitu kaya.
Mana lebih penting, proses atau hasil? Sebagian orang mungkin akan mementingkan hasil karena itulah yang terlihat nyata. Sebagian menganggap penting proses karena itu yang harus diusahakan, masalah hasilnya seperti apa yang penting sudah berusaha. Kenyataannya keduanya sama pentingnya, dan itu berlaku juga dalam ibadah.
Dalam ibadah kita tentu harus memperhatikan proses dengan rinci. Sholat misalnya, kita harus suci dulu, harus tahu dan sesuai syarat dan rukun, proses dan runtutan harus benar. Tapi, apakah itu saja cukup? Tentu tidak. Ibadah tidak berhenti di proses ritual yang kering. Sholat tak hanya membekas di dahi yang hitam tapi membekas di hati dan tercermin di perbuatan. Sholat harus mewujud ke dalam hasil menjadikan kita meningkat ke jenjang lebih mulia. Jadi proses itu penting tapi jangan sampai kita berkutat di sana terus menerus, kita harus terus mengevaluasi proses dan melangkah lebih maju lagi.
Dan hasil ibadah yang sesungguhnya hanya akan kita tahu setelah kita nanti bertemu Sang Pencipta, apakah amal ibadah kita diridhai atau hanya sia-sia..
Semoga Allah selalu meridhai..
Setiap kali melihat seseorang yang kita kenal ataupun tidak, meskipun cuma sekilas, dalam benak seringkali akan muncul impresi, pikiran atau asosiasi atau terbersit sesuatu yang bisa jadi baik atau jelek. Kalau bertemu orang yang bertampang tampan atau cantik kita mungkin akan kagum atau lalu mengasosiasikan dengan bintang film. Yang jadi masalah adalah ketika kita bertemu dengan orang yang fisiknya aneh, jelak atau tidak biasa. Misalnya bentuk wajah, gigi, rambut, penampilan, baju atau yang lain. Dalam hati kita bisa saja menertawakannya karena kita merasa ‘lebih baik’ dari dia. “Meski wajah jauh dari ganteng, ternyata masih ada orang lain yang lebih ‘parah’ dari kita,” bisik kita dalam hati, memuji diri secara terselubung.
Setiap kali kejadian semacam ini saya lalu berfikir, tak seharusnya saya bersikap begitu, meskipun itu jauh di lubuk hati dan bahkan orang yang kita pikirkan itu sama sekali tidak tahu. Tapi ini masalah sikap hati. Jika dibiarkan dapat memicu kejelekan kita yang lain: kurang bisa menghargai orang, kurang peduli, dsb. Dalam kondisi seperti ini saya lalu berfikir, bukankah mereka dengan kondisi fisik seperti itu meski berjuang lebih dari kita ini.
Bayangkan apa yang dirasakan orang yang kebetulan memiliki gigi yang tonggos tak terkendali? Lucukah itu? Apakah bayangan kita itu seperti lawak di TV dengan artis semacam itu yang membuat kita terpingkal-pingkal? Ketika berfikir ulang di kedalaman hati saya menjawab, sama sekali tidak lucu. Bayangkan apa yang dia hadapi setiap hari? Apakah pujian dan kekaguman? tentu tidak. Mungkin hanya ledekan yang tak pernah henti meski hanya gurauan-gurauan sehari-hari. Tegarkah saya menghadapi beban berat itu jikalau menjadi dia? Mungkin tidak.
Saya lalu berusaha di hati kecil saya, setiap kali bertemu seseorang yang berwajah atau berpenampilan “tidak biasa” apalagi mungkin yang cacat, pikiran bahwa orang itu aneh, lucu, atau sebangsanya hanya saya biarkan sekian detik muncul. Saya akan berfikir betapa beratnya hidup kesehariannya dengan kondisi itu. Saya lalu berusaha menebus perasaan bersalah karena telah berfikir kurang baik atau sedikit ‘melecehkan’ tadi dengan membacakan Fatihah baginya atau mendoakannya untuk tegar menghadapi hidup dan supaya Tuhan memberikan kemudahan di setiap langkahnya.

Alhamdulillah setelah volume pertama dan kedua, kali ini saya meluncurkan Aplikasi Mobile Sepercik Hikmah Volume 3. Banyak sekali tanggapan dan masukan baik melalui email maupun SMS yang saya terima berkait aplikasi Sepercik Hikmah volume 1 dan 2. Umumnya memberi tanggapan yang di luar perkiraan saya sendiri.
Dulu saya menulis hanya untuk refleksi pribadi dan rekaman jejak supaya saya tidak lupa terhadap suatu peristiwa atau pemikiran. Namun rupanya bagi sebagian pembaca apa yang saya tulis ternyata cukup memberikan manfaat. Saya berbahagia sekali mendapatkan ratusan SMS yang masuk ke ponsel saya dari penjuru tanah air dan bahkan dari luar negeri. Setiap pesan masuk memberikan saya energi untuk berbuat lebih baik lagi. Mohon maaf sekiranya tidak semua SMS/email dapat saya balas, namun saya pastikan bahwa semua masukan dan doa sangatlah berarti bagi saya. Sebagian SMS yang masuk dan sempat saya transfer dapat dibaca di sepercikhikmah.wordpress.com.
Aplikasi Sepercik Hikmah 3 ini masih berupa kompilasi beberapa tulisan di blog saya ini, umumnya masih refleksi pribadi tentang pemahaman agama saya atau tentang keseharian. Saya mengingatkan bahwa ini bukan kumpulan fatwa yang harus Anda ikuti, Anda bebas berbeda pendapat dengan saya. Namun saya berusaha untuk memberikan pandangan saya secara obyektif dan rasional. Jika ada kritik atau masukan silahkan melayangkan kepada saya agar menjadi koreksi atau masukan bagi saya saya dengan senang hati akan menerima dan menelaahnya.
Aplikasi ini dapat dijalankan pada ponsel berbagai merk dan type yang mendukung Java. Silahkan menyebarluaskan aplikasi ini untuk kepentingan non komersial.
Saya ini termasuk orang yang pelupa. Seringkali saya mengalami lupa yang bagi orang lain sebenarnya sesuatu hal yang tak seharusnya dilupakan. Kadang banyak hal yang sudah direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja terlewat begitu saja dengan tanpa sadar. Banyak hal kecil, misalnya menaruh kunci yang baru saja dipakai.
Ada pula kelupaan yang cukup membuat khawatir juga, misalnya koper yang lupa saya taruh dan lupa membawanya waktu di bandara, padahal bandara luar negeri. Pernah juga kelupaan menaruh paspor waktu sedang di negeri orang, bisa dibayangkan kalau ternyata paspor nggak ketemu.
Kadang saya kesal dengan diri saya sendiri dengan sifat pelupa saya ini. Apalagi kalau imbas kelupaan saya ini cukup merepotkan atau membawa dampak bagi orang lain, padahal bagi orang tersebut apa yang saya lupakan adalah sesuatu yang cukup penting. Keadaan seperti ini jadi menimbulkan perasaan bersalah pada diri saya.
Namun, menyalahkan diri sendiri nampaknya bukan perkara bijak. Semakin kita menyalahkan diri sendiri, semakin membuat kita tertekan dan ini tentu bukan hal yang baik. Akhirnya seiring waktu, saya mulai belajar memahami dan mengatasi sifat pelupa saya. ketika mau pergi jauh misalnya, saya biasanya sudah persiapkan segala sesuatunya sehari sebelum berangkat. Semua sudah harus lengkap. Saya cek berulangkali terutama barang yang wajib dibawa (SPPD misalnya). Namun, untuk hal-hal yang sifatnya mendesak, sifat pelupa saya ternyata masih sulit hilang. lagi-lagi ini membuat saya kadang tertekan dan guilty.
Saya sadari kalau sikap saya seperti ini terus maka hal ini akan menjadi lingkaran setan yang tak berkesudahan. Saya tak menjadi lebih baik tapi malah makin parah. Sampai saya sadar bahwa lupa adalah salah satu sifat manusia. Tidak ada manusia di dunia ini yang tak pernah lupa. Sekarang saya mulai agak kompromis dan pemaaf kepada diri sendiri kalau saya lupa. Tak lagi terlalu menyalahkan diri sendiri. Pagi ini misalnya, saya dan istri sudah berangkat kantor kira-kira sudah 2 atau 3 KM. Saya lupa apakah sudah mengunci pintu belakang rumah atau belum. Kami balik lagi untuk memastikan, padahal sudah siang dan nampaknya jam kantor sudah telat. Nyatanya pintu sudah dikunci. Ya, sudahlah, memang saya pelupa. Dan ketika sudah hampir sampai kantor, ternyatanya ada yang lupa gak kebawa, tas istri saya yang sudah disiapkan ternyata tertinggal di rumah.. ![]()
(Dan nampaknya saya harus segera klik tombol Publish sebelum saya lupa
)
Maha Suci Allah yang tak pernah tidur dan tak pernah lupa…
















Recent Comments