You are currently browsing the tag archive for the 'Pendidikan' tag.
Dari talkshow saya kemarin di Pameran Pelangi Teknologi Pendidikan di UNY, tentang mobile learning khususnya untuk matematika, pagi ini dimuat di Kompas (regional Jogja). Berikut ini klipingnya.
Menghapus Mitos sebagai Mata Pelajaran yang Sulit
Kamis, 18 Desember 2008YOGYAKARTA, KOMPAS – Pusat Pengkajian dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika mengenalkan media belajar Matematika lewat telepon seluler. Media pembelajaran Matematika bernama mathematic mobile learning ini diharapkan bisa menjadi sarana untuk menambah pengetahuan umum matematika secara murah dan praktis. Pengembang mathematic mobile learning (MML) Muhammad Tamimuddin H mengatakan MML telah diluncurkan pada awal tahun 2008.
Masyarakat bisa mengunduhnya secara gratis melalui situs m.p4tkmatematika.com. Proses pengunduhan ini bisa langsung melalui telepon seluler atau komputer kemudian ditransfer ke telepon seluler, katanya dalam Pameran Pendidikan 2008 di Universitas Negeri Yogyakarta, Rabu (17/12). Tamimuddin menyebutkan, selain praktis, aplikasi ini juga murah.
Untuk proses pengunduhan lewat telepon seluler, misalnya, hanya diperlukan biaya pulsa sekitar Rp 100 per materi. Terdapat belasan materi dalam aplikasi ini. Satu materi rata-rata berukuran 100 kilobyte dan dapat diunduh secara terpisah. Menurut Tamimuddin, ide pembuatan aplikasi MML ini berawal dari semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informatika.
Dengan menyediakan sarana belajar di dunia maya, diharapkan masyarakat yang saat ini banyak menggunakan internet pun tertarik untuk memperdalam ilmu. Setidaknya, media ini menjadi alternatif lain di dunia maya, kata staf Media Teknologi Informasi dan Komunikasi Pusat Pengkajian dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika tersebut.
Aplikasi ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan umum matematika kepada orang awam. Sejumlah materi yang tersedia itu, di antaranya adalah Teori Phytagoras, Fraktal, dan Trigonometri. Teks dan gambar Tamimuddin mengatakan tampilan dan feature yang terdapat dalam aplikasi ini sengaja dibuat dalam format yang sederhana, yaitu hanya berupa teks dan gambar tanpa animasi.
Tujuannya agar ukuran data kecil sehingga biaya pengunduhan bisa ditekan dan cakupan pengguna luas. Kalau dibuat dengan animasi dan aplikasi yang besar ukuran datanya, saya khawatir tidak semua telepon seluler bisa membukanya, tutur Tamimuddin. Ke depannya, tambah Tamimuddin, media belajar MML akan dikembangkan tidak hanya pengetahuan Matematika saja.
Namun, juga pada mata pelajaran lainnya. Programmer Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Universitas Negeri Yogyakarta Aam Abraham Siang mengatakan, media baru tersebut bisa meningkatkan minat belajar masyarakat. Hal ini karena media belajar baru itu mampu menghapus mitos bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan.
Apalagi, kalau materi dibawakan secara menghibur, ucapnya. Selain itu, media belajar MML ini sangat potensial untuk memancing rasa ingin tahu dari masyarakat. Dari rasa ingin tahu tersebut, mereka akan berusaha untuk mempelajari lebih banyak lagi. Menurut Aam, sudah waktunya dunia pendidikan di Indonesia menggunakan teknologi informatika dan komunikasi. Hal ini untuk memenuhi zaman yang semakin menuntut manusia semakin cepat dan praktis. (IRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/18/10524849/belajar.matematika.lewat.ponsel
Update: Ternyata ada juga liputannya di Harian Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas
Siang ini sekitar Pukul 14.00 saya insyaallah akan mengisi salah satu acara talkshow di Pameran Pendidikan di Auditorium UNY yang diselenggarakan oleh mahasiswa Tehnologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2005. Pameran ini sendiri tema Pelangi Tehnologi Pendidikan bertempat di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta, akan berlangsung 16 – 18 Desember 2008.
Saya akan membawakan materi mobile learning, khususnya tentang pengembangan Mathematics Mobile Learning oleh PPPPTK Matematika.
Aplikasi islami (islamic mobile application) berbasis Java untuk handphone/ponsel yang berisi Ayat Kursi ini dengan bacaan audionya, beserta transliterasi, terjemahan Bahasa Indonesia, Terjemahan Bahasa Inggris.
Versi Java MIDP 2.0
“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.s.,al-Baqarah:255)
Ayat Kursi merupakan sebutan untuk Ayat Al-Baqarah ayat ke 255. Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa ayat ini merupakan ayat teragung dari Kitabullah (HR. Muslim).
Keutamaan Ayat Kursi adalah:
a. Bahwa ayat Kursi merupakan ayat yang paling agung di dalam Kitabullah secara umum karena ia memuat banyak sekali asma-asma Allah dan sifat-sifat-Nya.
b. Kesempurnaan Qayyûm-Nya, Qudrat-Nya, keluasan kekuasaan dan keagungan-Nya sehingga hal ini mengajak kita untuk mentadabburi dan merenungkannya.
c. Bahwa tidak terselubung dan luput satupun yang tersembunyi di muka bumi ataupun di langit oleh Allah Ta’ala “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.” Hal ini mengandung konsekuensi keharusan seorang Muslim untuk menghayatinya di dalam seluruh kehidupannya.
d. Menetapkan adanya syafa’at dan bahwa ia tidak akan dapa diraih kecuali dengan beberapa persyaratan, diantaranya idzin dan ridla-Nya terhadap hal yang disyafa’ati, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (Silsilah Manâhij Dawrât al-‘Ulûm asy-Syar’iyyah – Fi`ah an-Nâsyi`ah)
Menurut Ibnu Athiyah, yang dimaksud dengan kursi, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, adalah makhluk Allah yang agung yang berada di antara Arsy Allah swt, sedangkan Arsy Allah tentunya lebih besar berbanding kursiNya. Perbandingan antara keduanya seperti yang dituturkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Abu Dzar, “Bukanlah kursi Allah yang berada di Arsy Allah itu melainkan hanya seperti sebuah lingkaran besi yang dilemparkan di salah satu penjuru bumi”.
Ayat al-Kursi merupakan satu-satunya ayat yang dalam redaksinya ditemukan tujuh belas kali kata yang menunjuk kepada Allah swt. Enam belas diantaranya terbaca dengan jelas dan satu tersirat. Perhatikanlah terjemahan di bawah ini:
“Allah (1) Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia (2) Yang Maha Hidup (3) Kekal, (Tuhan) Tuhan yang terus menerus mengurus (4) (makhluk-Nya). Dia (5) tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (6) apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah (7) tanpa izin-Nya (8). Allah (9) mengetahui
apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu Allah (10), melainkan apa yang dikehendaki-nya (11). Kursi (pengetahuan/kekuasaan)-Nya (12) meliputi langit dan bumi. Allah (13) tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah (14) Maha Tinggi (15)
lagi Maha Besar (16)
Dianjurkan membaca ayat Kursi seusai setiap shalat fardlu, ketika akan tidur dan dibaca di dalam rumah agar mendapat perlindungan Allah dan terhindar dari syaithan.
Saya telah membuat aplikasi Islami berbasis Java untuk handphone/ponsel yang berisi Ayat Kursi ini dengan bacaan audionya, beserta transliterasi, terjemahan Bahasa Indonesia, Terjemahan Bahasa Inggris.
Dikompilasi dari berbagai sumber:
http://bungakehidupan.wordpress.com/2008/11/15/tafsir-ayat-kursi-al-baqarah-255/
http://ibnutarmidzi.multiply.com/reviews/item/22
http://www.unhas.ac.id/~rhiza/arsip/tarbiyah2/tarb-98/tar-1014.htm
Di era global ini kita dituntut mampu menghadapi globalitas yang tak terelakkan, tak terkecuali dan utamanya bidang pendidikan. Saat ini mulai bermunculan sekolah-sekolah berstandar internasional. Salah satu faktor penting dari pengajaran era global tentunya adalah bahasa.
Pagi ini waktu blogwalking dan mampir ke blog nya dewi saya menemukan satu link tentang cara mengucapkan berbagai lambang, simbol, dan persamaan tersebut dari situs Using English for Academic Purposes. Cukup bagus untuk referensi. Semoga bermanfaat.
DEPDIKNAS saat ini telah meluncurkan banyak buku pelajaran gratis yang dapat di-download dari situs BSE (Buku Sekolah Elektronik) di bse.depdiknas.go.id. Buku dapat di-download, digandakan maupun disebarluaskan secara bebas (untuk kepentingan non-komersial).
Saat ini buku/ ebook pelajaran Teknologi Informasi juga sudah dapat di download gratis (kerjasama dengan Depkominfo). Silahkan download ebook TIK dari situs telkomspeedy. Berikut beberapa link download ebook mata pelajaran TIK (untuk SMA)
Masalah data memang menjadi permasalahan serius di negri kita ini. Tidak ada data resmi yang dapat menjadi acuan yang valid, pun untuk data pendidikan. Beberapa kali saya membuat tulisan tentang pendidikan dan selalu terbentur kesulitan ketika mencari data pendidikan di Indonesia.
DAPODIK (data pokok pendidikan) merupakan sebuah upaya merintis pendataan di dunia pendidikan yang dirintis oleh Pak Gatot HP semasa di Dikmenjur/BPKLN Depdiknas. Upaya pendataan yang tidak mudah mengingat luasnya wilayah Indonesia dan terlanjur carut marutnya data pendidikan kita. DAPODIK berisi data sekolah, siswa dan tenaga pendidik yang dikelola secara integratif. Saat ini konon sudah jutaan data terkumpul di server DEPDIKNAS. Ketika membuka situs DAPODIK ini sempat terpikir juga mengenai data-data detil dari siswa maupun guru yang dapat diakses secara bebas. Namun, waktu itu saya mendengar sendiri dari pak Gatot bahwa data detil hanya akan di-online kan dalam waktu sementara saja dan nantinya hanya akan dapat diakses secara terbatas. Namun entah ada keteledoran atau karena masalah birokrasi data-data sensitif ini ‘terselip’ dan masih bisa diakses secara bebas (apalagi ketika Pak Gatot tak lagi di BPKLN sehingga sangat mungkin penerusnya menjadi ‘tidak nyambung’ dengan visi beliau).
Film Laskar Pelangi konon mulai tayang 25 September ini. Saya belum tahu kapan bisa nonton. Yang pasti ini film yang saya tunggu-tunggu. Saya sendiri termasuk anak yang tumbuh dan besar di lingkungan kampung yang relatif sederhana. Dulu sekolah saya juga sekolah Muhammadiyah yang sederhana, awalnya berdinding gedeg, papan, atau seng. Dulu kalau pelajaran sekolah seringakali mengintip keluar kelas karena dinding seng nya berlubang cukup besar, trus kalau ada orang yang kenal dan kebetulan lewat di jalan di luar seng itu suka menyapa
Seringkali kalau saya mengajar anak-anak di kampung selalu menekankan untuk tidak minder karena apapun; ekonomi, sosial, sekolah yang jelek, dll. (minder ini seperti penyakit yang selalu menghinggapi kami, anak-anak kampung). Ya, meski sekarang sekolah-sekolah kami sudah lumayan bagus (setidaknya lebih baik dari jaman saya) tapi dari sisi fasilitas memang masih jauh dari ideal. Guru-gurunya pun sekarang guru honorer semua, dengan semua berlatar belakang pendidikan Sarjana Agama yang harus mengajar semua bidang studi, dari pelajaran agama (Fiqih, Quran-Hadits, Akhlak) sampai pelajaran “berat” seperti Matematika dan IPA. Fasilitas juga minim, kalau ngajar masih menggunakan kapur dengan papan tulis usang yang kalau ditulisi akan berderit-derit. Pemerintah sendiri sepertinya juga masih kurang perhatian dengan sekolah-sekolah swasta seperti sekolah Muhammadiyah di tempat kami ini…
Saya sendiri berharap nantinya dapat melihat anak-anak akan mendapat pendidikan yang cukup layak mengingat banyak potensi yang saya lihat di mereka ini masih banyak yang belum tergali dan dieksplorasi. Namun meski dengan keterbatasan itu semua saya juga selalu berharap nantinya akan lahir laskar-pelangi di setiap generasi, disetiap pelosok negeri ini…
menarilah dan terus tertawa
walau dunia takseindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia…
Bicara plagiarisme dan pembajakan sepertinya tak habis-habisnya. Saya pernah menulis mengenai pembajakan beberapa blog yang dijadikan buku. Juga bagaimana saya tiba-tiba dihubungi orang yang katanya membeli CD saya yang saya sendiri tak pernah merasa menjualnya.
Bukan masalahnya saya atau teman-teman yang merasa korban plagiarisme ini gak ikhlas dengan hal-hal seperti ini, jika budaya kayak gini dibiarkan begitu saja maka akan merusak budaya ilmiah kita. Dan bicara soal budaya ilmiah, lebih menyesakkan lagi ternyata plagiarisme sudah menjangkiti lingkungan ilmiah juga. Haduhh.. Jika posting yang saya saya tulis dulu itu status plagiator nya adalah mahasiswa, ternyata ada juga plagiator yang berstatus dosen, dan yang jadi korban notabene juga sesama dosen, yaitu pak Romi.
Benar-benar memprihatinkan..
Beberapa waktu lalu saya coba mendownload ebook (buku sekolah elektronik) DEPDIKNAS yang ternyata sulit sekali, lambat dan harus melalui prosedur mengisi formulir macam-macam. Setelah beberapa kali berusaha, saya dan teman-teman akhirnya dapat juga mendownload beberapa ebook (khususnya buku sekolah matematika). Rencananya kami akan kumpulkan semua ebook, dan kalau ada rejeki, kami akan berusaha mencetaknya untuk dijual murah (kalau bisa gratis). Mudah-mudahan ada dukungan.
Oya, bagi rekan-rekan yang kesulitan mendownload ebook BSE dari situs resminya, coba saja mendownload dari tempat lain. Khusus untuk matematika silahkan download dari p4tkmatematika.org/downloads atau bse.invir.com
Matematika Jenjang SD
Matematika Jenjang SMP
Matematika Jenjang SMA/SMK Berita terkait: Ibu-ibu protes ebook sekolah
Selama 2 minggu ini saya menjadi panitia (sekaligus salah satu pemateri) DIklat Guru SMP Lanjut Nasional. Hari kamis, 10 Juli kemarin ada yang sedikit lain dari diklat ini yaitu salah satu materi yang cukup menarik yaitu mengenai seputar kebijakan pemerintah mengenai PTK dan yang menajdi perhatian tak lain adalah sertifikasi guru. Yang lebih menarik lagi yang membawakan materi juga cukup istimewa, yaitu langsung oleh Dirjen PMPTK Depdiknas, Dr Baedhowi. Kayaknya jarang deh ada diklat kami yang materinya disampaikan pejabat Eselon I.
Pada bagian awal disampaikan beberapa keprihatinan tentang guru ini, seperti data survey di mana guru yang ternyata tidak banyak menjadi idola siswa (58%), masih kalah dengan orang tua (90%) bahkan teman sebaya (80%). Juga tingkat pendidikan guru di mana belum ada 50% guru berpendidikan S1/DIV (seperti disyaratkan UU Guru dan Dosen). Jumlah guru sekitar 2.783.321 orang, yang berpendidikan S1/D-IV & lebih tinggi 1.124.837 orang (40,4 %), yang belum berpendidikan S1/D-IV 1.658.484 orang (59,6%).
Khusus mengenai sertifikasi ini disampaikan Pak Dirjen bagaimana rumit dan sensitifnya masalah sertifikasi guru ini. Banyak sekali permasalahan seputar ini, misalnya banyaknya sertifikat aspal, pengisisan data yang tidak akurat, dsb.
Ada beberapa pesan untuk para guru dalam rangka sertifikasi ini, misalnya jangan terjebak untuk mencari sertifikat (seminar dsb) karena poinnya sangat kecil. Lebih baik guru banyak menulis karya. Beliau mencontohkan saat ini ada KTI Online yang bisa diikuti para guru (http://ktiguru.org). Selain itu banyak peserta diklat yang menanyakan kenapa yang bersangkutan sudah di-sertifiaksi tapi belum mendapat tunjangan profesi. Dalam kaitan ini Pak Dirjen menyarankan bagi guru yang mendapati masalah-masalah serupa untuk menghubungi Direktorat Profesi Pendidik Kompleks DEPDIKNAS JL. PINTU I, Senayan, GEDUNG D, Lantai 14, Telp 021-57974127., 021 -57974121 atau 021-57974122.
Sedangkan yang bermasalah dengan NUPTK dapat menghubungi LPMP setempat atau hotline 021-32490330.
Meski sesi cukup lancar, materi ini cukup membuat repot penanggung jawab diklat dan panitia karena jadwal harus menyesuaikan ulang dan serba mendadak. Berita ini sengaja saya posting semoga bermanfaat terutama bagi guru yang sedang mengurus sertifikasi.
Saya banyak menemukan beberapa perilaku yang sama dari beberapa diklat yang kebetulan saya bawakan materinya. Dari beberapa perilaku peserta saya bisa mengambil kesimpulan (yang mungkin subyektif) kalau budaya membaca kita sungguh sangat kurang dan cenderung takut berinisiatif. Beberapa kali dari peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat teknis dan terkadang pertanyaaan serupa sebenarnya sudah diajukan peserta lain. Karena saya mengajar materi teknis semisal membuat blog, saya pun membuat modul yang sudah saya rancang secara urut, langkah per langkah. Yang membuat saya heran adalah untuk mengerjakan langkah-langkah ini saya harus menuntun hampir secara personal. Saya seringkali menunjukkan modul di halaman ke sekian untuk langkah tertentu dan tinggal mengikuti, tapi kebanyakan tetap tidak mau membacanya dan lebih suka praktek mengikuti instruktur dan bertanya kalau ada kesulitan. Tidak jarang malah mereka mengikuti langkah yang dipraktekkan dan menulis langkah tersebut tanpa membuka modul. Waduh, padahal saya yakin di modul tersebut lebih detil bahkan disertai ilustrasinya. Kayaknya memang kultur (pendidikan) kita seperti itu.
Tak sengaja, waktu break istirahat beberapa instruktur senior ternyata memperbincangkan hal yang sama…
Kemarin saya ngobrol dengan teman saya perihal anak-anak yang akan mengikuti lomba macapat untuk tingkat SD. Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah kurangnya perangkat yang memadai pada saat pembinaan. Secara sekarang ini juga sulit mencari orang yang mampu nembang macapat ini.
Saya akhirnya coba carikan di internet siapa tahu ada banyak MP3-nya sehingga bisa dipakai belajar anak-anak. Saya sudah nemu beberapa di antaranya disini. Sebenarnya kalau dihayati bener-bener, tembang-tembang ini ternyata penuh nasehat berharga.
Sambil cari-cari MP3 yang lain, saya iseng mbuat ringtone dari salah satu lagu macapat ini. Saya buat dalam format amr. Kalau anda suka silahkan download ringtone macapat disini
Sejak hampir dua tahun yang lalu saya sudah beberapa kali mendengar akan adanya buku gratis yang akan disediakan pemerintah (Depdiknas) untuk mengatasi mahalnya buku pegangan siswa, kabar yang tentunya cukup menggembirakan. Saya juga mendengar sudah ada banyak buku yang “dibeli” oleh pemerintah untuk kemudian disebarluaskan dengan gratis. Namun, sudah berkali kali saya mencari informasi mengenai keberadaan buku-buku yang katanya bebas didownload ini, tapi tidak pernah menemukannya. Saya terus terang menjadi agak skeptis dengan program ini.
Hari sabtu kemarin saya tidak sengaja melihat iklan di TV tentang hal ini. Ada sebuah iklan dari Depdiknas menyebutkan bahwa sudah ada 49 judul buku yang telah dibeli pemerintah yang sekarang sudah dapat didownload secara gratis di situs http://bse.depdiknas.go.id. Saya kembali agak bersemangat. Namun ketika saya mencoba membuka web tersebut ternyata lambat sekali, bahkan sempat error. Saya lalu iseng membuka dari alamat ebook.depdiknas.go.id baru bisa terbuka. Selain lambat saya lihat beberapa jenjang masih belum lengkap.
Saya mencoba mendownload beberapa buku, utamanya yang matematika. Baru dapat beberapa judul, itupun harus penuh kesabaran menunggu byte demi byte transfer data. Seharusnya pihak Depdiknas menyediakan server yang memadai untuk download ini. Saya membayangkan jika saya yang bandwith nya cukup besar saja masih kewalahan mendownload apalagi teman-teman lain yang bandwithnya kecil, ditambah lagi jika nanti lebih banyak lagi masyarakat yang akan mengakses situs ini.
Saat ini saya dan beberapa teman tengah mengumpulkan ebook-ebook ini. Semoga lebih banyak buku lagi yang dapat didownload dan nantinya dapat disebarluaskan ke lingkup yang lebih luas.
Heboh penemuan energi alternatif dari air nampaknya semakin ramai saja. Saya pribadi sebenarnya sudah agak sangsi dengan penemuan ini. Bahkan ketika penemuan ini konon akan dipamerkan di forum United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) Desember 2007 di Bali lalu. Saya tidak tahu apakah jadi atau tidak.
SBY sendiri tampaknya cukup antusias dengan Blue energy ini dan sudah menyiapkan lahan untuk pembangunan pabriknya di Cikeas.
Belakangan blue energy ini makin misterius karena teknologi yang digunakan masih simpang siur. Para ahli BPPT, UI dan UGM menyangsikan teknologi ini. Bahkan pihak UGM mengindikasikan tim ini adalah penipu
Lalu, kalau ini penipuan kenapa bisa SBY sampai tertipu? Kisah tipu-tipu yang yang mengelabuhi banyak orang sudah ada sejak Presiden sukarno. Sebut saja legenda Markonah (dengan ciri khas kacamata hitamnya) dan suaminya, Raja Idrus, yang mengaku raja (?) dari suku Anak Dalam yang sedang muhibbah dan konon sempat diterima Sukarno (tentang ini saya baca beritanya waktu saya SMP, tapi saya cari lagi di internet ternyata tidak ada). Ada juga kasus Cut Zahara Fona dengan bayi ajaibnya yang bisa mengaji di kandungan. Yang terbaru adalah penggalian situs Batu TUlis di Bogor. Baca beberapa kisah-kisah ini di detik.com
(dulu ada juga kasus tipu-tipu pendirian Universitas Madjapahit. Penipunya memakai gelar MA. Belakangan ketika disidang di pengadilan, dia menyatakan kalau MA itu bukan gelar akademis tapi singkatan Marto Atmojo
)
Mencermati berita-berita ini saya jadi berfikir kalau ini sangat mirip dengan hoax. Dan, lagi-lagi, saya lebih prihatin lagi jika dikaitkan dengan agama. Kasus Zahara Fona misalnya, dia berhasil menipu banyak ulama dan uamt (konon termasuk wakil presiden dan mentri agama). Kakanwil Kesehatan DKI waktu itu menyangsikan kebenaran beritanya karena mustahil bayi yang membuka mulutnya saja tidak bisa kok mampu mengaji. Hasilnya, DR. Herman diancam oleh orang-orang fanatik (mungkin dianggap kafir atau mengingkari kebesaran Tuhan? Baca posting saya beserta komentar-komentarnya di Fosil Jebal Barez ). Nyatanya bayi mengaji hanyalah isapan jempol dan ternyata suara yang keluar berasal dari tape recorder. Nah lo!!
Kembali ke Blue energy ini, di situsnya banyugeni.com, disebutkan pula bahwa ini adalah teknologi ini dihasilkan setelah mengkaji Al-Quran. Sekali lagi kita harus hati-hati. Bagaimana jika ternyata teknologi ini memang cuma tipu-tipu, meski dengan label ayat Quran segala.
Kita tentu menghargai upaya terobosan-terobosan dan penemuan oleh siapapun, apalagi oleh anak bangsa sendiri. Namun, hendaknya itu tidak lantas mengurangi daya kritis kita.
Saya terus terang tidak punya kapasitas ilmu untuk menilai validitas penemuan ini. Tapi saya berharap mudah mudahan blue energy ini memang bukan isapan jempol, dan jangan sampai ternyata cuma blur energy, alias energi yang tidak jelas
Beberapa waktu terakhir saya mencoba sebuah alat yang menurut saya cukup menarik yaitu mousepen (saya tidak tahu nama generiknya). Alat ini semacam pena beserta papan digunakan untuk menggantikan fungsi mouse. Dengan alat ini kita dapat menggunakan input mouse seperti biasa namun perangkatnya adalah pena sehingga persis jika kita menulis atau menggambar dengan pena biasa.
Beberapa software saya coba dengan alat ini, terutama yang software grafis seperti Photoshop, Corel Painter, dll. Dan ternyata, menggambar menggunakan alat ini lebih menarik dan menyenangkan… Saya juga mencoba menulis khat arab, ternyata hasilnya juga lumayan.

Bill Gates akhirnya datang juga di Indonesia. Orang yang konon terkaya di dunia nomor 3 ini (dulu pernah menjadi terkaya nomor 1) akhirnya memilih Indonesia dari 5 kandidat negara yang dijadikan ajang Government Leader Forum (GLF). Semula Indonesia berada di urutan kelima negara yang akan dipilih untuk GLF di bawah Singapura, Korea, dan Vietnam.
Pada sesi Presidential Lecture, Bill tampil cukup impresif dengan pakaian batik. SBY yang semula berpakaian jas lengkap-pun akhirnya ganti kostum (nha si Bill yang orang bule aja menghargai budaya kita lho). Tokoh lain yang pernah tampil dengan batik misalnya Ronaldo dan Mandella.
Denger kuliah nya Bill Gate saya agak kedodoran, maklum kuping jawa
. Yang menarik bahwa Bill cukup perhatian dengan pendidikan. Software yang diperagakan terkait pendidikan-pun cukup menarik, tentang pembelajaran angkasa luar (astronomi). Dia sangat yakin dengan teknologi pendidikan dan kesejahteraan akan menjadi lebih baik.
Dalam wawancara dengan Kompas, Bill Gates menyinggung masalah perkembangan telekomunikasi khususnya ponsel.
hasil dari semua ini (perkembangan teknologi)adalah muncul berbagai perangkat komputasi dari berbagai jenis yang menjadi sangat bertenaga, murah, dan mudah dibawa-bawa. Sekarang, lanjut Gates, puluhan juta orang di negara-negara berkembang memiliki ponsel yang memiliki tenaga komputasi yang lebih bertenaga dibandingkan dengan komputer yang digunakan 30 tahun lalu.
”Di masa mendatang, bagi orang di Indonesia dan ekonomi berkembang lainnya, sebuah ponsel akan menyediakan akses internet dan kemampuan komputasi yang memungkinkan mereka mulai berpartisipasi dalam ekonomi global berbasis pengetahuan,” tulis Gates.
Masih menurut Kompas, Bill akan berhenti mengurus keseharian Microsoft akan memfokuskan pekerjaannya pada masalah kesehatan dan pendidikan global melalui Bill & Melinda Gates Foundation.
Di tengah kontroversi (bahkan caci maki) dominasi Microsoft di kancah bisnis software dunia, menurut saya, bagaimanapun Bill Gates memang orang hebat.
Update: PENGUMUMAN FINALIS LKG 2008 dapat dilihat disini
Setahun lalu saya memposting tentang Lomba Keberhasilan Guru (LKG) dalam pembelajaran Tahun 2007 dan ternyata cukup banyak feedback dari pembaca, kini Ditjen PMPTK Depdiknas juga menyelenggarakan lomba serupa untuk tahun 2008. Ketentuan dan syarat dapat dibaca lebih lanjut di link berikut
Sejak booming novel “Ayat-Ayat Cinta” yang disusul dengan booming filmnya, saya terus terang tidak terlalu mengikuti perkembangan. Sampai sekarang-pun saya belum pernah membaca novel AAC, padahal saya sudah diberitahu teman saya tentang novel ini sejak novel ini belum booming. Begitu pula dengan filmnya. Meski sebenarnya tinggal memutarnya saja (di komputer), sampai saat ini, saya kok gak ada greget untuk menontonnya dan hanya melihat sekilas.
Saya ingin menyoroti fenomena AAC ini yang nampaknya diikuti dengan film atau sinetron dengan tema serupa (ambil contoh sinetron Munajat Cinta yang katanya baru mau launching). Di tengah kelesuan sinema Indonesia, kehadiran sinema macam ini tentu cukup membuat kesegaran baru, tapi di sisi lain sinetron yang konon ber- “nuansa” islami macam ini menurut saya patut dicermati bahkan dikritisi.
Namun, sinema AAC, Munajat Cinta, atau sejenisnya, menurut saya tidak bisa begitu saja dianggap sebagai sinetron islami. Mengapa? Bagi saya, Islam mencakup banyak hal dan tidak sekedar formal ritual semata. Lepas dari sisi artistik dan kesusasteraan, ada beberapa bagaian dari sinema ini yang terasa kurang pas kalau dilihat dari sisi pemahaman agama. Misalnya mengenai relasi antar lawan jenis bukan muhrim. Bahkan di cuplikan sinetron Munajat Cinta saya sempat lihat adegan bopong-membopongnya juga, duhh. Meski katakanlah di film dikisahkan bahwa mereka adalah suami-istri, di dunia nyata kita semua tahu itu tidak demikian (saya tidak akan se-kritis ini bila aktor dan artis, di dunia nyata-nya memang resmi suami-istri).
Saya ingat waktu saya masih kecil ada film yang cukup heboh, judulnya Catatan Si Boy. Saya sempat membaca sebuah tulisan yang mengkhawatirkan terkait fenomena film tersebut. Film itu mencitrakan anak muda yang “gaul” tapi rajin sholat, di mobilnya bergantung tasbih, tapi anak muda ini juga getol sekali berpacaran, bahkan film ini lebih banyak menonjolkan sisi berpacaran dan hura-huranya. Di tulisan ini disinyalir bahwa generasi muda yang disebut sebagai “generasi Si Boy” nampaknya menjadi menggejala, generasi di mana mereka hidup dengan keduniawian tapi di lain tempat dengan menambah stempel atau label agama seolah olah kehidupan duniawi itu sudah impas dengan aktifitas keagamaan di lain tempat. (Saya pernah juga membaca kolom yang mengisahkan koruptor kelas kakap yang ketika pensiun lalu membangun masjid megah dan tiap hari wirid di masjid ini seolah berkata: ” Ya, dulu aku korupsi, tapi sekarang sudah tobat dan kubuatkan mesjid megah untuk Tuhan, jadi dosa korupsi itu sudah impas..”. Kebiasaan menyuap ternyata dibawanya juga ke ranah keagamaan, bahkan Tuhan-pun, dalam pikirannya, bisa disuap).
Dalam kaitan ini saya merasa gejala sinema “islami” macam AAC atau Munajat Cinta dsb (saya tekankan bahwa ini di sinema, lain soal ketika membicaarkan novel atau sastra) justru berdampak kurang baik bagi pemahaman keagamaan kita. Lihat saja, banyak aktor dan aktris yang kesehariaannya sangat berbeda dengan apa yang diperankannya di film atau sinetron. Banyak unsur keagamaan yang muncul di sana hanya dipakai sebagai sekedar pelengka atau stempel dengan substansi yang kosong melompong.
Kita seperti terjebak di ranah formalistis, ritual dan seringkali kosmetis. Saya khawatir sinema-sinema macam ini justru memberi andil yang negatif dan salah bagi pemahaman agama.
Salut pada sineas yang mampu membuat sinetron macam Para Pencari Tuhan-Dedy Mizwar dkk, yang tanpa banyak simbol-simbol formal tapi sarat dengan substansi.
Membaca tulisan pak Arry tentang faktor kegagalan IT plan dan tulisan lain bernada skeptis di seputar rencana Jabar sebagai Provinsi Cyber 2012, saya jadi teringat dengan banyak program yang hampir sama di bidang pendidikan.
Saya akan mulai dengan dua faktor penyebab kegagalan IT Plan ketika dipraktekkan di lapangan. Menurut Pak Arry dua faktor tersebut adalah:
Pertama, Technocentric View; perancangan berorientasi pada teknologi, bukan pada bisnis. Seharusnya bisnis dijadikan acuan, teknologi dirancang mengikuti rencana bisnis ke masa depan.
Kedua, Fokus Bisnis Lemah; rencana bisnis ke depan akan dijadikan acuan perancangan, sehingga fokus bisnis yang lemah otomatis akan membuat IT plan akan lemah juga karena mengacu pada sesuatu yang tidak fokus.
Di dunia pendidikan agaknya terjadi juga ’sindrom’ serupa. Saya melihat dan merasakan banyak upaya-upaya pemanfaatan IT di dunia pendidikan masih berputar di technocentric view, bukan pada “bisnis” (mohon tidak diterjemahkan istilah bisnis ini sebagai komersialisasi lho), yaitu pendidikan itu sendiri. Bukannya saya tidak mendukung atau beroposisi pemanfaatan ICT di dunia pendidikan, saya sangat yakin dunia pendidikan ke depan mau tidak mau tidak akan bisa lepas dari teknologi. Masalahnya, banyak upaya-upaya “ICT untuk pendidikan dan pembelajaran” akhirnya hanya diterjemahkan dalam artian sangat sempit:proyek pengadaan alat dan infrastruktur dan sebangsanya. Sangat jarang program pemerintah yang benar-benar menyentuh aspek kependidikannya, saya istilahkan di sini sebagai kultur pendidikan dan pembelajarannya (mohon dikoreksi jika kurang tepat).
Membicarakan mana yang perlu didahulukan antara membangun infrastruktur dan kultur ini seperti berbicara tentang ayam dan telor (duluan mana sih ayam dan telor?
). Saya pernah diskusi agak panjang mengenai ini dengan seorang kawan. Kawan saya ini berargumen kalau digeber dengan infrastruktur yang besar-besaran maka kultur akan terbangun dengan sendirinya. Mungkin tidak semua dari proyek itu akan berhasil, ibarat mencari emas secara tradisional, dari berton-ton pasir yang diayak, nanti akan ketemu emasnya meski sedikit. Kawan saya lalu mempertanyakan misalnya tidak ada infrastruktur, bisakah saya, katakanlah mengajak guru di desa yang komputer saja tidak pernah pakai lalu diajak ke warnet memperkenalkan internet atau email dsb. Apakah kultur bisa dibangun dengan cara demikian?
bersambung

Sebagai lembaga yang bergerak di bidang diklat dan inovasi pendidikan utamanya untuk guru/pendidik, lembaga tempat saya juga melakukan beberapa pengembangan khususnya di bidang pendidikan matematika. Beberapa produk pengembangan yang khusus di matematika misalnya pengembangan alat peraga. Sedangkan yang terkait dengan teknologi informasi misalnya pengembangan software pembelajaran. Dalam hal ini saya lebih banyak berkecimpung di pengembangan mobile learning.
Beberapa software aplikasi pembelajaran mobile learning dapat didownload di http://m.p4tkmatematika.com.
Website ini berisi aplikasi Java yang dapat diinstal dan dijalankan pada HP/ponsel yang telah mendukung teknologi Java khususnya MIDP 2.0.
Pengembangan mobile learning ini masih bersifat BETA sehingga banyak kekurangan di sana-sini yang harus diperbaiki. Masukan dan saran dari para pengguna sangat kami harapkan demi kesempurnaan program ini. Silahkan berkunjung ke website mobile learning kami.
Meski gencar dituding sebagai biang di balik dibobolnya beberapa situs terkait UU-ITE, yang mana blogger dituding sebagai pelakunya (bahkan pihak kominfo mengatakan bahwa beberapa pasal di UU ITE ditujukan khusus untuk para blogger), nampaknya demam orang untuk nge-blog tidak surut. Dari hari ke hari jumlah blog semakin meningkat. Dan yang membuat saya senang adalah munculnya banyak blog yang bagus-bagus. Tidak kurang demam blog ini melanda beberapa dosen ITB. Ada beberapa dosen yang memang dari dulunya memang doyan ngeblog, ada beberapa yang start-up blog.
Bisa disebut di sini misalnya Pak Budi Rahardjo (rahard.wordpress.com), blogger kawakan dari elektro (yang menjadi inspirator saya untuk ngeblog). Blogger yang juga dari elektro bisa disebut di sini Pak Arry Akhmad Arman (kupalima.wordpress.com) Dimitri Mahayana (filsafatislam.net), Pak Armien Langi (azrl.wordpress.com), Pak Kusprasapta (kusprasapta.multiply.com/), Pak Waskita (waskita.wordpress.com).
Dari jurusan lain misalnya, Pak Oemar “Grandis” Bakrie (grandis.wordpress.com) Geofisika, Pak Taufikurahman (taufikurahman.wordpress.com) dari Biologi, Pak Bambang Setiabudi (bambangsb.blogspot.com) Arsitektur, Pak Khairul Ummah (khairulu.com) Penerbangan, Joko Sarwono (jokosarwono.wordpress.com) Teknik Fisika. Ada lagi “mantan” dosen ITB Tambang yang mulai ngeblog juga, Pak Gatot Hari Prijowirjanto, yang sekarang menjabat Direktur SEAMOLEC (dulu Direktur DIKMENJUR dan Ka Biro BPKLN DEPDIKNAS) alamat blognya di (gatothp2000.wordpress.com)
Kalo dilihat sekilas, kebanyakan dosen-blogger ITB ternyata dari elektro dan rata-rata menggunakan WordPress. Kalo dilihat tulisan-tulisannya cukup beragam dan menarik (meski masih beberapa yang baru start-up).
Wah makin seru aja blogosphere Indonesia…
Pagi ini saya buka Inbox email di akun Yahoo saya. Agak kaget ternyata ada email dari Yahoo dengan subjek Yahoo Warning!!! (Verify Your Account Now To Avoid Service Suspension..) yang menyatakan bahwa Yahoo sedang mem-verifikasi akun member-membernya karenan akan diadakan “pembersihan” terhadap akun yang tidak aktif. Di email ini dikatakan bahwa saya harus melakukan verifikasi berisi username, password, tanggal lahir, teritori/negara asal. Kalau dalam 24 jam tidak dilakukan verifikasi ini, maka akun akan ditutup! Hah!?!?!

Saya langsung teringat bahwa email saya yang saya pakai itu dulu membuatnya agak tergesa-gesa, jadi banyak form yang saya kosongkan, termasuk alamat. Bahkan di form Country masih saya biarkan berisi United States. Saya berfikir jangan-jangan gara-gara itu masalahnya.Saya kemudian segera (akan) membalas email untuk melakukan verifikasi dengan mengirimkan data yang diminta. Ketika menuliskan username dan password saya jadi kepikir, bagaimana jika email ini ternyata palsu. Bisa saja ini email SCAM!!! atau teknik phishing (kalau tidak salah, phising adalah tekniknya, dan emailnya sendiri disebut scam, mohon dikoreksi kalau salah)
Saya kutip dari Wikipedia mengenai Phising dan Scam:
In computing, phishing is an attempt to criminally and fraudulently acquire sensitive information, such as usernames, passwords and credit card details, by masquerading as a trustworthy entity in an electronic communication.
Scam adalah berita elektronik dalam Internet yang membohongi dan bersifat menipu, sehingga pengirimnya akan mendapat manfaat dan keuntungan tertentu. Contoh scam yang sering kita jumpai adalah surat berantai, pengumuman lotere, pinjaman uang tanpa agunan, cara cepat menjadi kaya, dan lain lain. Dalam hal ini akibat dari berita scam ini bagi penerimanya akan lebih serius, jika dibandingkan dengan spam.
Dalam bahasa Inggris, scam ini diartikan juga sebagai confidence trick or confidence game, sehingga pada awalnya penerima berita merasa yakin dan tidak mencurigai bahwa hal ini merupakan bentuk penipuan.
Ya, scam adalah salah satu bentuk penipuan di mana biasanya calon korban (penerima email atau dalam bentuk lain semisal SMS) diiming-imingi hadiah atau uang dan sebagainya dengan dibarengi informasi yang meyakinkan. Misalnya kita diberitahu di email kalau ada seorang konglomerat di negara antah berantah dengan harta jutaan dolar yang mencari ahli waris dst, lalu kita dikatakan terpilih menjadi kandidatnya wah.. menggiurkan.. Lalu kita tertarik dst, lalu kita diminta menyebutkan rekening, PIN ATM, dst.. dan tahu sendiri kelanjutan cerita ini..
Kalau spam lebih banyak karena email yang masuk ke inbox kita itu sangat mengganggu, kalau scam ini bisa lebih fatal lagi jika kita termakan iming-imingnya (Jenis tipuan lain misalnya hoax, saya pernah tulis di Fosil ultra-raksasa di Jebal barez)
Oya, iming-iming ini biasanya juga bukan iming-iming yang menyenangkan, tapi juga yang mengkhawatirkan, seperti email saya tadi: kalau verifikasi tidak dilakukan dalam 24 jam ini, maka akun email akan ditutup selamanya… Secara psikologi, orang pasti akan segera melakukan “verifikasi”. Dan bagaimana kalau dalam email itu ternyata isinya penting? Lalu password kita diganti dan kita dikirim pesan kalau mau passwordnya direcover maka kita harus mengirim sejumlah uang.
Karena curiga, sebelum saya reply email tadi, maka saya akhirnya cari di Google tentang kebenaran email tadi. Setalah baca dari beberapa tempat (salah satunya disini), saya simpulkan kalau email ini memang scam (untung belum saya reply
)
Jadi, intinya berhati-hatilah jika ada email-email semacam ini, apalagi meminta data pribadi, PIN , password, dsb. Jangan segera ditanggapi, sebaiknya cari sumber yang lebih terpercaya.
Juga jangan mudah terpesona (jawa: nggumunan) kalau ada informasi-informasi yang menina-bobokkan..
Btw, kalau orang sono penyamarannya begitu rapi, di kita dengan penyamaran seadanya saja banyak yang ketipu, misalnya SMS berisi kita memenangkan hadiah mobil dari SIMPATI, padahal yang mengirim pakai nomor Mentari..
Semoga kita terhindar dari tipu-tipu semacam ini..
Setiap kali saya membawakan materi tentang blog, saya seringkali menekankan untuk menghidari menggunakan data diri yang nyata, terutama data yang detil (alamat, nomor HP, dst). Bukan berarti saya menganjurkan untuk menjadi ‘penipu’ (Baca: Blogger Tukang Tipu), tapi lebih kepada alasan keamanan (misalnya terkait dengan online predator, pencurian kartu kredit dll), mengingat kita tidak tahu benar, siapa yang ‘berhadapan’ dengan kita di dunia internet, bisa saja orang baik, orang jahat, atau siapapun (atau apapun, kucing barangkali? hehehe).
Meski Anda memutuskan untuk menyembunyikan diri, dengan memakai nama samaran-pun kita tetap bisa kok menulis banyak hal yang bermanfaat. “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan..” (kalimat ini dinisbatkan kepada Sy. Ali). Kalau saya sendiri, saya lebih enjoy menampakkan nama.
Tapi, ujung-ujungnya kembali kepada kita sendiri, apakah yang kita baca dari blog itu kita nilai tipuan ataukah ilmu, mutiara atau kotoran. Kalau setuju kita ambil, gak setuju ya gak usah dibaca, gitu aja kok repot.

Kembali ke masalah kucing (lho?), percaya nggak kalo kucing bisa menulis makalah ilmiah, bahkan diundang untuk mempresentasikannya di forum ilmiah bergengsi? Kalo gak percaya, baca posting pak Grandis ini: Kucing menulis makalah ilmiah.
Btw, Anda-pun gak bakal tahu siapa yang nulis posting ini, saya atau kucing… Hehehe
(Gambar diambil dari americanelephant.wordpress.com)
Minggu lalu di Kick Andy ditayangkan wawancara dengan tema mengangkat tuna netra. Ditampilkan beberapa tunanetra yang luar biasa yang meski dengan keterbatasan, mereka mampu survive dengan bakat dan kemauan kerasnya. Di acara itu ada pula ditayangkan semacam alat pembaca buku digital yang mampu membaca buku, tepatnya “menyuarakan” sehingga para tuna-netra dapat “membaca” buku melalui suara. Kalau tidak salah alat ini merupakan riset dari Pak Arry Akhmad Arman (ITB) yang disumbangkan ke Mitra Netra.
Ada pula ditampilkan semacam software yang diinstal di komputer dan di HP yang dapat membantu tunanetra mengoperasikan komputer dan HP dengan panduan suara, meski masih dalam logat bahasa Inggris (saya jadi ingat punya teman di ITB yang sudah mengembangkan software pembaca SMS yang sudah menggunakan logat Indonesia).
Saya pernah juga membuat aplikasi HP di inhandlearning.com yang saya maksudkan untuk membantu tuna wicara dalam mempelajari bahasa isyarat. Sayangnya saya sendiri kurang tahu standar apa yang dipakai di Indonesia, saya ambilkan standar dari ASL (American Sign Language). Aplikasi ini berisi daftar alphabet dan padanannya dalam bahasa isyarat berupa gambar tangan, dari A sampai Z. Saya sebenarnya pengin mengembangkan dengan menambah fitur untuk “menerjemahkan” satu kalimat ke bahasa isyarat, jadi kita dapat memasukkan kalimat tertentu dan ketika kita klik maka akan tampil urutan abjad dalam bahasa isyarat.
Saya berharap aplikasi ini dapat memberi manfaat dan mohon disebarluaskan kepada kawan-kawan yang membutuhkan.
Aplikasi ini berbasis Java yang dapat diinstal pada HP yang mendukung Java MIDP 2.0. Dapat didownload di inhandlearning.com
Ini adalah artikel saya yang sempat dimuat di Majalah Mobile Guide (yang masih satu payung dengan Tabloid Pulsa). Saya pernah menuliskan berita singkatnya di sini. Berikut ini saya turunkan artikel lengkapnya. (Thks to Redaksi Mobile Guide, Tabloid Pulsa: Mas Donny dkk)

Pernah suatu kali ada sebuah iklan merek HP tertentu yang kurang lebih menceritakan seseorang yang pulang kemalaman dan ketinggalan bis. Tapi orang tersebut terlihat tidak terlalu risau dan sesaat kemudian mengeluarkan HP, memasang headset, memutar lagu dari HP tersebut dan pulang berjalan kaki sambil bersiul-siul dengan gembira. “I enjoy missing the last bus home…” dendangnya.. (terjemahannya: biarin aja ketinggalan bis, gue masih bisa jalan kaki sambil menikmati musik dari HP gue!).
Bayangkan jika situasinya agak lain. Seorang siswa yang biasanya rajin tiba-tiba, suatu hari, tidak dapat mengikuti sesi belajar karena sakit atau alasan penting lain. Namun, dia tidak terlalu risau. Siswa ini cukup mengambil HP, mengikuti pelajaran kelasnya melalui video streaming atau video-calling, mengunduh aplikasi pembelajaran yang telah disediakan dalam bentuk aplikasi Java, mengunduh rekaman sesi belajar dalam bentuk MP3 atau 3GP, mengikuti ulangan melalui WAP, dan aktifitas-aktifitas belajar lainnya. Mungkin terkesan futuristik, tapi hal ini sebenarnya telah dapat dilakukan karena teknologi yang ada sekarang ini sudah cukup memungkinkan. Saat ini perangkat HP telah banyak yang dilengkapi kemampuan untuk terkoneksi ke internet, kemampuan memainkan dan merekam audio dan vidio serta gambar/foto, dan kemampuan menjalankan software aplikasi seperti Java, Symbian, Flash dan lain-lain. Selain itu, berkembangnya teknologi 3G dan teknologi lanjutannya menjanjikan kemampuan transfer data yang lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik serta tarif yang semakin murah. Jadi, cerita di atas bukan sebuah angan-angan yang muluk-muluk.
Saat ini diperkirakan jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia telah mencapai lebih dari 50 juta orang. Sebagian dari jumlah pengguna ini adalah siswa, pendidik dan kalangan akademisi. Bahkan sebuah survei menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan telepon seluler di antara para siswa ternyata sangat tinggi. Telepon genggam yang dimiliki para siswa ini-pun konon rata-rata memiliki fitur-fitur yang sudah canggih. Dari kenyataan ini, timbul sebuah pertanyaan: Dapatkah kita mengembangkan model pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi seluler ini?
Ketika teknologi informasi, khususnya internet, berkembang dengan pesat, dunia pendidikan mengembangkan model pembelajaran berbasis teknologi informasi yang kemudian dikenal sebagai e-learning (electronic learning). E-learning sendiri menjadi model pembelajaran yang sangat menantang karena seorang siswa akan dapat memanfaatkan mesin pintar komputer yang mampu menjalankan animasi, komputasi dan pemodelan yang canggih, mengakses materi pembelajaran yang sangat besar di internet, berkolaborasi dan berdiskusi dengan banyak orang dari seluruh pelosok dunia, dan cara-cara lain dalam belajar yang belum pernah ada pada paradigma pembelajaran sebelumnya. Namun, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, komputer dan koneksi internet masih menjadi barang mahal dan mewah sehingga e-learning di Indonesia masih terkesan lambat dan cukup sulit diadopsi. Kehadiran teknologi seluler menjanjikan adanya peluang yang cukup potensial bagi dikembangkannya model pembelajaran yang baru mengingat tingginya tingkat kepemilikan perangkat serta harga perangkat serta tarif yang semakin murah dan fitur yang semakin canggih. Namun, sejak booming pada dekade belakangan ini, pemanfaatan teknologi seluler masih sebatas berkomunikasi dan hiburan. Sampai saat ini masih sedikit adanya pengembangan dan penelitian yang difokuskan untuk memanfaatkan teknologi seluler ini sebagai sarana pendidikan.
Di beberapa negara, upaya pemanfaatan teknologi mobile dan seluler atau yang dikenal sebagai mobile learning (m-learning) telah mulai diteliti dan dilakukan. Meski upaya ini masih pada tahap awal yang belum cukup mapan (mature), m-learning menjanjikan beberapa harapan, meski dengan tanpa mengesampingkan aspek-aspek yang menjadi kekurangan dan keterbatasannya. Kelebihan utama dari m-learning adalah proses pembelajaran dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun dengan biaya yang relatif murah. Namun, perangkat seluler memiliki keterbatasan yang dapat menjadi kendala dalam pengembangan model pembelajaran. Layar HP memiliki ukuran yang relatif kecil sehingga kurang nyaman untuk digunakan dalam waktu yang relatif lama. Selain itu kemampuan prosesor yang masih jauh di bawah kemampuan prosesor komputer, keterbatasan kapasitas penyimpan, minimnya media input/output, dan catu daya yang terbatas menjadi kendala-kendala lain yang harus dipertimbangkan. Meski demikian, secara teknis, kendala-kendala di atas akan lambat laun teratasi dengan adanya penemuan-penemuan baru. Kendala keterbatasan layar misalnya, akan teratasi dengan adanya mini-projector atau kemampuan video-output ke TV atau perangkat lain, munculnya keyboard virtual, adanya baterei yang dapat diisi ulang dengan mudah (misalnya dengan baterai cair) dan banyak lagi inovasi-inovasi yang akan menjadi solusi dan jawaban dari kendala-kendala di atas.
Kendala pengembangan m-learning yang sesungguhnya terletak pada sisi pedagogis. Akan menjadi tantangan yang terbesar bagaimana mengembangkan sistem atau model pembelajaran mobile yang efektif serta memenuhi tujuan pembelajaran itu sendiri. Pengembangan ini harus mempertimbangkan lingkungan pembelajar mobile di mana mereka memiliki karakteristik tersendiri yang unik. Materi yang disuguhkan-pun tidak dengan serta merta memindahkan dari materi e-learning atau materi konvensional, tapi harus dirancang dan dibuat secara khusus. Selain itu salah satu hal yang mungkin akan menjadi perdebatan adalah apakah di lingkungan m-learning ini cukup layak untuk dilaksanakan ujian secara mobile.
Bagaimanapun, dengan kelebihan dan kekurangannya, pembelajaran dengan memanfaatkan perangkat mobile ini pasti akan tidak terhindarkan. Sudah seharusnya kita mempersiapkan diri sejak awal untuk mengantisipasi adanya gelombang baru ini sehingga nantinya kita tidak tergagap-gagap mengikuti perubahan yang semakin cepat. Para stakeholder pendidikan juga harus cepat tenggap dengan kecenderungan ini. Jangan sampai nantinya siswa-siswa dengan mudahnya mencontek melalui HP sementara gurunya bahkan tidak tahu jika semua materi pelajaran sudah dapat di akses melalui HP. Kabar baiknya, beberapa pihak mulai aware dengan perkembangan ini dan mudah-mudahan akan dapat mulai mengambil langkah-langkah positif.
Barangkali, pada waktu yang tidak terlalu lama lagi, siswa-siswa kita akan dapat belajar apapun, kapanpun dan dimanapun dengan mudah dan murah memanfaatkan perangkat dan teknologi seluler. Jangan heran pula ketika nanti ada iklan yang menggambarkan seorang siswa yang ketinggalan mengikuti pelajaran sekolah dan kemudian mengejar ketertinggalan belajarnya itu dengan memanfaatkan HP-nya.
Sambil tersenyum, siswa itu bilang: “I enjoy missing my class session.”
*) Penulis adalah programmer aplikasi mobile, praktisi pendidikan, staff DEPDIKNAS.
Informasi tentang penulis dapat diakses di http://mtamim.wordpress.com






















Recent Comments