You are currently browsing the tag archive for the 'microblogging' tag.
Aktifitas blogging ternyata tak terbatas umur. Dari yang tua sampai bayi yang belum lahir. Kali ini ada sebuah produk perangkat yang dapat dipakai oleh janin dalam kandungan untuk mengirim ‘posting’ ke layanan microblog Twitter. Alat ini mendeteksi gerakan janin dan dan mengirimkan sinyal ke laptop atau PC untuk dikirim ke Twitter. Alat ini dipasang pada semacam ikat pinggang dan terkoneksi ke komputer memakai bluetooth.
Salah satu blogger cilik yang telah menggunakan alat ini adalah Tyler Aaron yang telah lahir 18 Januari lalu. Akun Twitter-nya dapat diakses di http://twitter.com/kickbee/
Tren microblogging membuat saya mencari-cari apakah ada themes dari WordPress yang mendukung tampilan microblogging. Setelah saya searching ternyata ada satu theme yang unik dank has microblog yaitu Prologue. Dan ternyata theme ini sudah disupport oleh WordPress.com, artinya kalau kita punya blog di WordPress.com kita dapat membuat blog kita itu tampil layaknya microblog. Kalau kita sedang login dan membuka blog tersebut maka di bagian atas tampilan blog akan muncul form yang memungkinkan kita untuk menuliskan posting singkat disitu, jadi kita tak perlu membuka dashboard-admin untuk menuliskan posting di blog tersebut.
Saya akhirnya mencoba bereksplorasi membuat satu blog khusus untuk ini, di http://angkring.wordpress.com. Angkring sendiri menjadi inspirasi bagi saya karena sejak lama menjadi ajang nongkrong dan ngobrol mengenai hal-hal ringan sampai yang berat-berat. Jadi blog ini sebenarnya juga dimaksudkan untuk saling berbagi, ngobrol tentang apapun. Jika berminat ikut ngangkring juga silahkan daftar di blog tersebut (dengan menyertakan email yang dipakai untuk daftar WordPress)
Melihat fenomena jejaring sosial akhir-akhir ini memang menarik. Ada segi positif, negatif ataupun sisi ”abu-abu” nya. Salah satu berita bagusnya, fenomena global menunjukkan bahwa akses ke jejaring sosial makin diminati dan disinyalir mulai menyaingi akses ke konten pornografi. Di Indonesia, salah satu layanan jejaring sosial yang baru ngetren dan cukup fenomenal adalah Plurk. Saya lihat ada beberapa hal kenapa Plurk diminati.
- Tidak seperti blog, untuk menulis posting di Plurk tidak perlu berfikir.
- Plurk tampil dengan timeline yang unik (berbasis Ajax). Saya sendiri lebih nyaman dengan versi mobile-nya.
- Plurk sangat interaktif dimana setiap thread dapat menjadi sebuah diskusi. Orang menyebutnya microforum.
Ketika beberapa saat saya mulai menggunakan Plurk saya mulai menemukan bahwa Plurk juga menampilkan sisi negatifnya:
- Plurk membuat pengguna sangat addiktif. Kita menjadi ketergantungan dan selalu tidak konsen bekerja karena selalu bertanya-tanya, ”apakah ada yang baru di Plurk?”
- Time wasting. Kita bisa setiap saat membuka Plurk hanya untuk melihat thread baru, mengecek respon teman terhadap thread kita atau merespon Plurk teman. Ini dapat mengganggu produktifitas, apalagi kebanyakan thread, menurut saya, tidak penting!.
- Karma, sistem rangking/skoring yang khas Plurk, menurut saya, tak ada manfaatnya selain untuk ”keren-kerenan”. Banyak diskusi yang sibuk bicara bagaimana meningkatkan Karma…
Dari awal saya tidak begitu peduli dengan karma saya. - Posting yang sangat instan membuat pengguna menjadi ”malas” untuk menulis yang lebih serius. Banyak thread di Plurk yang isinya relatif tidak penting atau cuma kata ”Selamat Pagi”, ”melapar” atau bahkan cuma emoticon.
- Ekspresi berlebihan bisa jadi berbahaya. Kebanyakan Plurker selalu mengupdate kondisi dan posisi. Jika informasi yang di-posting sangat detil bisa rawan terhadap kejahatan.
Melihat kondisi masyarakat kita yang memang malas menulis, kurang kerjaan (alias banyak waktu luang), suka dengan basa-basi, nampaknya menjadikan Plurk menjadi media yang klop!
Lalu, dengan melihat sisi negatifnya apakah kita yang terlanjur nge-Plurk perlu berhenti? meski saya awalnya getol mengenalkan Plurk ke teman-teman, saya pernah juga terfikir untuk itu ![]()
Namun saya pikir dan baca-baca referensi, Plurk masih ada baiknya, diantaranya
- Plurk menjadi pengisi waktu luang yang menarik.
- Plurk sangat efektif untuk mencari teman baru atau media relasi di antara teman. Tidak seperti blog, perlu berfikir ketika menulis atau komentar, di Plurk lebih bebas karena menulis atau komentar apapun tidak jadi masalah.
- Plurk dapat menjadi personal branding. Orang dapat menilai diri kita dari sini dan posting yang kita buat di Plurk. Jadi, sebaiknya ngePlurk-lah yang bernilai manfaat.
- Plurk dapat menjadi media marketing. Bayangkan jika kita punya produk yang kita jual, lalu kita publikasikan ke teman-teman di Plurk. Saya kira, pembeli cenderung lebih percaya dan lebih punya greget beli jika kenal dengan penjual (dalam hal ini kenal melalui Plurk). Bayangkan jika Anda seorang penulis dan banyak teman di Plurk, maka orang barangkali lebih tertarik beli buku itu karena merasa sebagai temannya
- Meski belum terbukti (ini hanya asumsi pribadi), Plurk dapat berpotensi meningkatkan trafik. Saya beberapa kali mendapat referer dari thread di Plurk dan beberapa kali mendapati hasil pencarian Google yang merujuk ke blog kita melalui thread di Plurk.
Ini pendapat pribadi saja. Saya sendiri memilih untuk tetap nge-plurk, meski frekuensinya cukup jauh berkurang
Dengan meluasnya wabah Plurk di pelosok dunia maya, internet ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para pengguna internet di seluruh dunia terutama bagi yang telah didiagnosa menderita kecanduan Plurk akut. Beberapa blogger diindikasikan telah menderita sindrom hanya menulis singkat dan sudah mulai kehilangan kemampuan untuk menulis blog dengan tulisan yang panjang..
Berikut ini beberapa tips bagi para pengguna Plurk
- Hindari kurangi plurking di tempat kerja terutama jika ada bos anda yang selalu memantau pekerjaan anda.
- Hindari kurangi plurking ketika ada pasangan
. (Namun jika pasangan anda memiliki tipe posesif, plurk mungkin bisa menjadi solusi
) - Bagi plurker yang menggunakan ponsel, sering-sering lah mengecek pulsa dan memperhatikan kesehatan jempol anda.
- Jangan sekali-kali plurking sambil mengemudi. Meski sampai saat ini belum ada kejadian serius di jalan raya akibat plurking, aktifitas plurking di jalan raya jelas-jelas merupakan tindakan berbahaya. Saya menyarankan kepada pihak berwenang untuk segera membuat peraturan untuk melarang aktifitas plurking selagi berkendara.
- Sesekali sambangi blog anda dan tulis posting yang agak panjang supaya anda tidak kehilangan kemampuan menulis yang lebih panjang.
- ….
apa lagi ya? Ada yang mau menambahkan?
















Recent Comments