You are currently browsing the tag archive for the 'Humaniora' tag.
Sewaktu berkesempatan ke negeri jiran Malaysia, saya dan serombongan dari beberapa negera sempat diajak berkunjung ke salah satu toko khas mereka, Toko Batik! Malaysia benar-benar ingin mengesankan bahwa batik merupakan budaya mereka dan nampaknya cukup serius menjualnya.
Saya lihat desain batik Malaysia ini biasa saja. Tapi dari sisi harga ya jangan tanya, apalagi kalau dibanding harga batik di Jogja atau Solo.
Saya lalu bertanya kepada teman dari Filipina apakah mau membeli batik di toko itu? Jawabannya tak saya duga. Dia mengatakan bahwa batik Indonesia jauh lebih bagus. “You draw it (batik) with mind”, katanya.
Saya cukup berbesar hati ternyata warga asing sebenarnya masih dapat melihat bahwa seni dan budaya tak bisa dengan mudah dicomot begitu saja.
Orang boleh saja mengambil kulit, merampas baju dan mengklaimnya menjadi miliknya, tapi jiwa dan ruh tak akan bisa dicontek.
Bagi bangsa Indonesia sendiri, kejadian semacam ini harusnya menjadi refleksi bahwa kita musti lebih menghargai kebudayaan kita sendiri. Kita ibarat keluarga miskin dengan rumah reyot padahal tanpa disadari harta kita bertebaran dirumah, di emperan bahkan di halaman belakang.
Orang lain dengan leluasa memungutinya, bahkan angin pun kalau mau dapat menerbangkannya dengan mudah.
Saya sependapat seperti yang diungkap Umar Kayyam, budaya adalah bukan produk jadi. Ia adalah jiwa yang bergelora dan dinamis meliputi akal budi dan upaya untuk kehidupan lebih sejahtera dan memanusia (human).
Malaysia bisa saja mematenkan desain batik atau memajang tari Pendet sebagai ikon. Tapi mereka tak akan pernah merasakan jiwa batik, tak pernah faham ruh memendet. Mereka hanya tahu bahwa budaya-budaya itu adalah produk yang marketable, yang layak jual.
Sementara bagi para pembatik dan pemendet, senada ucapan rekan saya dari Malaysia itu, mereka melakukan itu dengan hati dan jiwa.
Pertanyaannya adalah, apakah ruh dan jiwa budaya itu masih ada di dada kita? Tari Pendet masih jauh lebih beruntung nasibnya karena budaya menari masih menjadi bagian keseharian yang dilakukan anak-anak di sana dengan bangga. Namun bagi para pembatik dan ribuan pekerja budaya lainnya barangkali hanya segelintir saja yang masih menekuni warisan leluhur atau bahkan sekedar mengapresiasinya. Alih alih memahami dan mengamalkan filosofinya, menghargai produk budaya-nya saja kita masih kurang. Lihat saja, orang banyak lebih memilih menenteng Blackberry sebagai identitas budaya ketimbang memakai baju batik.
Petang itu, Parjo buru-buru pergi ke masjid karena sholat berjamaah maghrib telah dimulai. Satu dua rakaat dia biasa tertinggal, masbuq. Telat, dan berdiri di baris paling belakang menjadikannya pemandangan yang cukup kontras. Ketika yang lain salam dan mengakhiri shalat, hia hampir selalu berdiri lagi meneruskan rakaat yang ketinggalan. Jamaah lain yang hampir semua selalu datang tepat waktu, segera setelah azan. Pun Parjo selalu menggunakan batik lusuh dan sarung berlubang di tengah jamaah lain yang memakai baju jubah, putih dan wangi. Nyaris semua seragam.
Kondisi ini ternyata membuat keresahan tersendiri bagi jamaah lain. Apalagi Parjo dikenal hanya ke masjid kalau waktu Maghrib dan Isya saja. Di tengah komunitas yang nyaris sempurna seragam, kehadiran Parjo menjadi sebuah gangguan kecil yang cukup mengganggu bagi kesempurnaan itu. Lalu, di suatu hari, Ustad masjid itu akhirnya menegur Parjo.
”Shalat adalah momen penting, harus didahulukan dari pekerjaan lain. Jika azan berkumandang, kita harus meninggalkan pekerjaan dunia dan menuju masjid secepatnya untuk shalat berjamaah. Jangan suka telat”, kata Pak Ustad yang masih cukup muda ini.
”Iya ustad”, kata Parjo lirih.
”Oya, satu lagi”, lanjut pak Ustad. ”Karena shalat adalah momen yang penting dan istimewa, maka kita juga harus menghormatinya dengan semestinya. Kalau sholat ya pakailah baju yang bagus, jangan pakai baju kumal. Shalat itu menghadap Allah langsung. Mau menghadap pak lurah saja kita malu pakai baju yang tidak bagus. Apalagi menghadap Allah. Pakailah baju yang baik, yang islami, yang wangi”.
”Iya, ustad”, Kata Parjo sambil menunduk. Ia sekolah SD pun tak lulus, tak mungkin apa yang diujarkan ustad yang konon gelar sarjana berderet ini salah. Parjo juga sadar betul kalau ia yang salah. Kesalahan yang sangat besar.
Besok lagi, Parjo tak pernah datang. Jamaah sholat kembali tenang. Tak ada lagi seorang jamaah yang suka telat. Tak ada lagi jamaah yang berbaju beda dan aneh. Semua sekarang shalat tepat waktu, berpakaian sempurna, putih bersih dan wangi.
Yang tidak pernah orang tahu adalah bahwa Paijo hanya seorang tukang bakso ojek. Sebelum subuh dia harus mempersiapkan dagangan sehingga tidak bisa shalat jamaah di masjid. Seharian dia berkeliling berjualan bakso ojek. Jika sempat, dia bekerja serabutan, apapun yang dapat dilakukan asalkan halal. Dia pulang sudah hampir maghrib. Buru-buru mandi dan bergegas ke masjid. Baju batik kumal dan sarung yang bolong di beberapa tempat adalah satu-satunya baju dan sarung terbaiknya. Ia tak mampu membeli baju lain yang lebih bagus.
Tak ada orang yang tahu hal ini. Bahkan mungkin tak ada jamaah masjid itu yang tahu, kalau ia bernama Parjo..
Saya seringkali prihatin ketika melihat banyak generasi anak-anak kita sudah “terjun” ke dunia jalanan. Lebih prihatin lagi banyak di antaranya yang sudah terbiasa menjadi peminta-minta. Padahal banyak juga yang bertubuh gemuk sehat berbaju bersih. Takutnya makin banyak anak-anak memiliki mentalitas pengemis sejak dini. Apalagi jika mereka sudah merasakan kalau mengemis ternyata mudah dan instan dalam mencari duit.
Beberapa waktu lalu saya agak terenyuh, di sebuah perempatan Sudirman Jogja saya melihat seorang anak gadis kecil, agak kurus, kulitnya hitam terbakar matahari, wajahnya menunjukkan betapa kerasnya hidup. Mulanya saya kira dia mengemis, ternyata dia berjualan koran! Di tengah anak-anak lain yang mungkin lebih suka meminta-minta, dia memilih berjualan koran. Hari berikutnya saya menemui seorang lagi anak kecil, yang juga tidak mengemis. Anak ini pun berjualan koran di depan Gramedia. Seorang anak kecil yang benar-benar ingusan (dalam arti sesungguhnya). Ia berjualan dengan duduk di dekat tangga, sambil sesekali mengintip, membaca koran dagangannya.

Ketika seusia dia, saya mungkin sehari-hari kerjaannya cuma bermain, tapi anak ingusan ini sudah berjuang menyambung hidup. Saya sempat beli Kompas (meski saya sebenarnya tidak terlalu butuh), hanya untuk sedikit “membantu” anak ini. Saya sempat bertanya apakah dia tidak sekolah? Ternyata dia bilang sekolah kelas 1 SD. Karena sekolah pulang jam 9, usai sekolah dia langsung berjualan koran.
Saya malu sendiri, betapa tak bersyukurnya saya. Seusia dia itu saya masih bisa menikmati masa bermain sepuasnya. Dan sampai sekarang di mana saya punya penghasilan yang mungkin tidak besar bagi orang lain, harusnya saya lebih banyak lagi bersyukur apalagi melihat anak sekecil itu harus berjuang mencari makan yang penghasilannya tentu tak seberapa besar, jauh di bawah saya.
Saya sangat salut juga dengan pilihan mereka, meski serba susah dengan him[itan ekonomi, mereka masih punya “keberanian” dan “kekuatan” besar untuk tidak meminta-minta, dan lebih memilih berjualan koran yang saya kira jauh lebih berat konsekuensi dan penghasilannya dibanding dengan mengemis (saya pernah baca kalau mengemis itu ternyata hasilnya cukup mencengangkan).
Saya hanya bisa berdoa dalam hati. Ya Allah, jagalah anak-anak ini, kuatkanlah tiap langkahnya, dan mudahkanlah jalannya di masa depan..
Saya pertama melihat Dewa (5 tahun) di sebuah wawancara di TV ONE. Waktu itu saya tidak sempat tahu namanya karena agak telat. Sewaktu diwawancara Kick Andy sayang sekali saya juga telat. Waktu di TV One dia ditanya siapa Presiden terpilih AS, dan dia tersenyum dan menjawab (diabntu alat bernama FC): Barack Obama.
Dewantara Soepardi adalah seorang anak yang mengalami cedera otak yang membuatnya tak mampu mengontrol tubuhnya secara normal. Untuk berkomunikasi dia harus menggunakan alat bernama FC (Facilitator Communication). Meski demikian Dewa adalah anak yang pintar. Bisa dibilang sangat pintar jika dibandingkan dengan anak seusianya. Dia juga anak yang bahagia, simak saja ucapannya:
Aku adalah seorang anak yang bahagia. Disisiku ada orangtua yang luar biasa. Cinta keluarga hidupkan semangatku. Bagai cerita pangeran di dunia mimpi. Dengan bahagia aku berkata hidupku punya arti.
Aku tahu kelemahanku tetapi aku tidak melihatnya seperti kelemahanku. Aku hidup di dunia bisa tertawa dan bisa menangis. Inilah bahagiaku.
Puisi-puisinya juga sanagt indah, (mungkin sebentar lagi akan terbit buku puisinya ini). Berikut ini sebagian puisinya.
Syukur Akan Nikmat
Kacamataku berbingkai cinta
Resah kurasa untuk galau
Pikir waktu kan mencari
Arti hidup manusia
Gambaran fakta kehidupan
Akan kisah anak adam
OH Tuhan…. yang pengasih
Kirimkan bahagia
Untuk kami yang melihat
Arti Cinta.
Ciptakan keindahan waktu di dunia
Alam adalah gambaran indah ciptaan Tuhan
Bunga adalah alasan melihat keindahan
Sinar Matahari adalah riasan dunia
Aliran sungai bagai hendak mencari jejak kehidupan.
Alangkah suci aura Mu
Pintu surga membawa suara hati Mu
Sambil hayati agamaMu
Lihat cahaya Mu
Laillahaillalah
http://www.femaleradio.com/2006/index.php?pg=2&nid=3095&ct=
http://www.metrotvnews.com/new/acara_detail.asp?id=99557
Dont talk to strangers, demikian sebuah kalimat yang sering kita lihat/dengar di film-film. Ini juga pelajaran yang dapat saya ambil dari pengalaman beberapa hari lalu. Ketika menunggu kereta yang masih 1 jam lebih, saya menunggu di sebuah masjid. Awalnya saya duduk saja dulu. Waktu itu saya lihat ada bapak-bapak yang tuna netra dituntun anaknya yang mungkin berusia 6 tahunan yang anaknya ini juga terlihat ada keterbelakangan mental. Bapak ini menuju tempat wudlu dan anaknya ke toilet. Setelah wudlu si bapak ini membantu memakaikan celana anaknya lalu ke masjid dan sholat. Saya iba sekali. Lalu saya wudlu dan bapak ini sudah selesai shalat dan hendak keluar masjid. Di saat itu saya memberi sedikit uang untuk si bapak.
Setelah saya sholat saya duduk di teras masjid. Tiba-tiba ada seserorang mendekati. Dari basa-basi orang ini bercerita panjang lebar. Ceritanya mengharubiru. Saya pun sempat terkesima. Lama dia bercerita kalau dia sudah tidak punya uang untuk pulang. Katanya dia sebenarnya mau menagambil mobil, uang cash sudah habis, ATM tidak terbawa dsb. Intinya dia mau pinjam uang untuk beli tiket kereta, sekitar 150 ribu. Untuk meyakinkan, dia bilang kalau ini di masjid dan gak mungkin dia bohong. Saya mikir juga. Disatu sisi kasihan juga, di sisi lain waspada juga jangan-janga dia menipu. Setelah agak lama saya minta maaf karena tidak bisa membantu. Lalu dia minta nomor HP saja, katanya untuk menyambung silaturahmi. Saya sudah mau kasih tapi saya pikir lagi bagaimana kalau nanti gimana-gimana dengan nomor HP ini. Saya lalu kasih saja nomor yang jarang digunakan. Saya kira sudah selesai sampai disitu.
Sehari kemudian ada seseorang menghubungi nomor tersebut. Mencurigakan. Lagipula bicaranya aneh-aneh. Katanya nomor itu menghubungi dia, katanya mengganggu keluarganya dsb. Saya mengambil benang merah dari ketemu seseorang di masjid hari sebelumnya. Saya lalu bilang dengan agak ketus kalau saya tidak ada urusan dengan orang itu. Saya juga jadi agak paranoid karena sebelumnya dia bertanya posisi dimana mau kemana, atau jangan-jangan dia membuntuti dsb. Saya pernah baca ada modus dimana orang yang sebenarnya tidak kenal lalu dituduh macam-macam, akhirnya ujung-ujunganya hanya untuk dimintai uang.
Saya lalu membayangkan bagaimana ketika bertemu orang di masjid kemarin yang kemungkinan besar adalah penipu itu lalu di hipnotis atau gendam. Padahal saya kan bawa motor, ATM. Saya bersyukur tidak terkira ternyata Allah memang Maha Melindungi, di saat kita mungkin lengah dan tanpa sadar, hanya Allah-lah yang menjaga. Tak hentinya saya bersyukur.
Terimakasih Ya Allah
(Pesan moralnya, berhati-hatilah ketika di tempat umum, apalagi kalau sendirian. Jangan mudah percaya orang asing. Jangan memberikan informasi pribadi secara detail (ini berlaku juga untuk dunia maya baik di blog atau Plurk) dan tentu saja jangan lepas dari berdoa dan berlindung diri kepada-Nya).
Saya pernah menulis tentang betapa sebenarnya kita ini cukup berboros dalam menggunakan air dalam berwudlu (dan tentu juga hal lain, namun disini saya lebih tekankan dalam soal wudlu). Saya kira ada banyak air yang terbuang saat kita berwudlu yang sebenarnya bahkan tak sampai menyentuh kulit. Bisa dibayangkan seberapa besar kita ikut andil dalam pemborosan ini. Padahal dalam agama kita dilarang berbuat boros termasuk dalam penggunaan air dalam berwudlu.
Kita untungnya tinggal di wilayah yang relatif kaya air, sehingga kita tak merasa berboros dalam menggunakannya. Bayangkan kalau kita di negri yang airnya minim, atau suatu ketika wilayah kita dilanda kekeringan.
Sebenarnya kita dapat mencoba untuk lebih hemat dalam penggunaan air wudlu, khususnya dalam “memanfaatkan” air secara maksimal. Jika ditilik dalam penggunaannya, bekas air wudlu sebenarnya relatif masih bersih. Air ini sebenarnya masih dapat digunakan untuk, misalnya menyentor WC, menyiram tanaman, atau mencuci kendaraan dsb.
Saya perhatikan, saat wudlu, kita ini kan sering membiarkan kran terbuka ketika kita mengambil air dengan tangan lalu membasuhkan ke muka, maka kran masih terbuka dan air akan terbuang cukup banyak. Biasanya air yang masih bersih ini dibuang begitu saja.
Beberapa pengalaman teman, dan saya juga mencobanya, air yang mengalir dari kran tadi dicoba untuk ditampung ke ember, juga misalnya sisa air waktu membasuh tangan. Tentu saja air bekas berkumur dan membasuh kaki tidak ditampung di ember ini tapi langsung di alirkan ke pembuangan. Lebih mudahnya jika kita pakai selang yang agak panjang sehingga kalau mau berkumur atau membasuh kaki selang bisa dibelokkan ke tempat lain supaya tak masuk ke ember.
Air di ember tadi bisa dimanfaatkan untuk membilas lantai kotor atau menyiram tanaman atau menyentor WC. Tidak terlalu kotor untuk itu kan? Ini tentu trik sederhana untuk rumahan. Bagaimana dengan desain yang lebih permanen (tempat wudlu masjid misalnya).
Saya membuat gambar desain sederhana yang masih sederhana untuk ini yang bisa dipakai pada skala yang lebih besar. Desain ini kuncinya terletak pada ujung kran (bisa ujung yang ditambahi perpanjangan) dan penampung air pembuangan.
Pada kran kita tambahkan semacam pipa berbentuk seperti huruf “Z” yang dapat diputar secara fleksibel. Sementara untuk penampung air sisa wudlu dibuat dua, satu penampungnan terletak di bawah yang langsung dialirkan ke pembuangan, satunya adalah penampung air yang masih relatif bersih, sebaiknya ditempatkan di tempat yang agak tinggi, yang airnya bisa dialirkan untuk penyentor WC atau yang lain. Posisi lebih tinggi juga dimaksudkan agar air dapat mengalir dengan lebih lancar
Ketika kita berkumur atau membasuh bagian tubuh yang “kotor”, termasuk kaki, maka kran dialirkan ke penampung bawah untuk dibuang. Ketika untuk membasuh tangan, muka dll, maka kran diputar agar mengarah ke penampung atas dan dialirkan ke tempat lain yang membutuhkan.
Penampungan air ini (atas dan bawah) dibuat memanjang sehingga akan menampung banyak kran. Salah satu kendalanya mungkin adalah orang yang berwudlu mungkin tidak tahu maksud dibuatnya model seperti ini sehingga sangat mungkin dia akan mengalirkan air ke penampung atas saja, atau ke bawah saja. Untuk itu perlu diberi semacam panduan di tempat wudlu tersebut.
Jika ini dipraktikkan di masjid-masjid besar saya yakin kita akan cukup banyak dalam menghemat penggunaan air. Desain ini hanya mereka-reka saja karena saya juga bukan ahlinya. Lain waktu mungkin saya akan coba buat yang lebih baik. Mari kita jaga dan lestarikan lingkungan.
Semoga bermanfaat.
Sewaktu ada tugas luar dinas di daerah di sebuah kabupaten di Jawa Timur, saya dan teman saya sempat berbincang agak lama dengan salah seorang pejabat di sana. Mulanya kami bicara seputar kegiatan kantor, sampai pejabat ini bilang kalau 3 bulan lagi sudah pensiun. Saya berpikir bapak ini dedikasinya besar, padahal sudah mau pensiun tapi masih memikirkan bagaimana menyiapkan dan menata pekerjaan yang nanti ditinggalkan agar bisa diteruskan dengan lebih mudah oleh penggantinya. Lalu teman saya bercerita bahwa bapaknya dulu ketika sudah pensiun lalu bertemu teman lamanya dan temennya bilang begini : “Wah, ternyata sudah pensiun to?” Dijawab bapak teman saya ini setengah bercanda, “Pensiun itu tidak mudah lho..”
Lalu diceritakan bapaknya tentang filosofi kelapa dan semangka. Katanya jangan seperti kelapa, yang dari awal tumbuh sudah di atas terus, pohonnya tinggi, susah mau mengambil buah, mengambil buahnya pun dengan dibanting di tanah, mengambil daging buahnya di pecah dulu, lalu diparut dan diperas. Kalau semangka, dari awal sudah dibawah, ibaratnya ditendang-tendang, tapi kalau sudah matang mengambil buahnya jadi mudah, terus mau makan diletakkan di meja, diiris pakai pisau yang bersih. Intinya kalau jadi orang jangan minder kalau memulai dari bawah, dari yang semula tidak dihargai tapi pada akhirnya ketika kita menunjukkan kesungguhan dan kebaikan maka orang akan menghargai sepenuhnya
(seperti semangka). Jangan seperti kelapa yang dari awal sudah selalu enak dan mudah, jangan-jangan nanti pada akhirnya malah dicemooh dan tidak dihargai orang. Begitu juga dengan profesi kita, mungkin kita memulai dari nol, tapi ketika pensiun kita menunjukkan kerja yang membanggakan. Jangan ketika dari awal sudah di posisi enak ternyata mau pensiun saja malah susah, tersandung masalah lah, atau post power syndrom lah, dan lain-lain.
Mendengar itu pejabat yang kami temui terdiam sesaat, lalu beliau mulai membuka ceritanya, dengan mata yang hampir berkaca-kaca. Beliau memulai cerita bahwa dulu ketika kecil hidupnya cukup susah. Orangtuanya hanyalah penjual tempe. Ketika ada kesempatan sekolah beliau meneruskan sampai tingkat SLTA. Sebenarnya dulu disuruh sekolah guru, karena ibunya ingin sekali anaknya menjadi guru. Namun, bukannya durhaka, karena merasa tidak cocok, diam-diam beliau tidak melanjutkan ke SPG seperti keinginan ibunya, tapi ke SMA umum karena memiliki cita-cita lain. Beliau bercita-cita menjadi tentara di Angkatan Udara. Katanya, beliau senang sekali kalau melihat gambar pesawat tempur dan ingin suatu saat menjadi pilotnya. Lulus SLTA beliau mendaftar di AKABRI. Semua ujian sudah dilalui dengan nilai memuaskan, dan dinominasikan di Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Namun, nasib berkata lain, beliau gagal dalam satu ujian, berenang!
Sempat frustasi, beliau-pun akhirnya memulai hidup lagi, kali ini beliau memutuskan untuk menjadi kuli bangunan. Namun waktu itu beliau berprinsip kita boleh saja menjadi kuli, tapi jangan bermental kuli. Pekerjaan ini dilakoni sampai sekitar 9 bulan. Sambil menjadi kuli beliau melihat salah satu sekolah dan merasa kok sepertinya menyenagkan juga menjadi guru. Akhirnya beliau mendaftar menjadi guru honor di sekolah tersebut. Setelah beberapa waktu mengajar, akhirnya muncul kebosanan juga dan memutuskan untuk keluar. Namun, ketika belum sempat keluar, sekolah itu mengikuti turnamen yang diikuti sekolah-sekolah dan dinas pendidikan. Berbekal kemampuan di salah satu olahraga, yaitu bulu tangkis, beliau menang di cabang itu. Oleh orang dinas beliau lalu ditawari bekerja di dinas pendidikan. Akhirnya bapak ini bekerja di dinas meski serabutan mbantuan banyak pekerjaan. Karena pekerjaan bagus makin lama makin dipercaya sampai akhirnya diangkat PNS dan akhirnya belasan tahun kemudian dipercaya menjadi pejabat. Dengan jalan hidup yang tidak mudah seperti ini beliau mengaku justru lebih bisa melihat hikmah, juga bisa lebih bisa menghargai kerja dan perjuangan orang lain maupun berempati dengan kesulitan orang. Beliau mengaku tidak pernah dan tidak mau menerima sepeserpun ketika mengurusi banyak pekerjaan yang berhubungan dengan mutasi guru, pengangkatan kepala sekolah dan hal-hal lan yang sebenarnya berpotensi sebagai lahan basah. Bahkan sekedar amplop uang lelah dari kami karena telah membantu pekerjaan kami, langsung disarankan untuk diserahkan ke bawahan yang mengurusi langsung pekerjaannya, tanpa pernah menyentuh ataupun ingin tahu jumlah isi amplop tersebut.
Saya terkesan dan terharu, ternyata masih ada juga pejabat yang jujur dan penuh dedikasi seperti bapak ini. Dan ketika berpamitan saya mengucapkan terimakasih dan mendoakan semoga akhir jabatan beliau menjadi akhir yang khusnul khatimah dan bermanfaat bagi orang banyak.

Majalah Newsweek merilis apa yang disebutnya sebagai “50 Orang Paling Berkuasa di Dunia”. Berada di urutan pertama adalah Presiden terpilih Amerika, Barack Obama. Masuk dalam daftar 50 ini adalah, Raja Abdullah dan Ayatullah Khomaini. Yang menarik, ternyata ada juga nama Oprah Winfrey dan Shahrukh Khan. Berikut daftar lengkapnya
Saat mengakhiri kunjungan di Iraq, Bush sempat mendapat “hadiah” kecil, dilempar dua sepatu oleh seorang jurnalis.
Ada juga versi game online nya di http://www.t-enterprise.co.uk/flashgame/flashgames/bushbootcamp.swf
juga disini http://play.sockandawe.com/
Ada posting menarik tentang insiden ini dari pak Armien Langi, saya kutipkan sebagian komentar beliau di blognya:
Orang harus belajar dari Zaidi cara mengekspresikan kemarahan. Bukan dengan ledakan bom dengan korban orang tidak berdosa. Bukan dengan kemarahan membabi buta. Tapi kemarahan pada kelaliman dimana kita tidak beraya itu dibalas dengan tepat, tanpa kerusakan pada siapapun kecuali harga diri si tiran. Dengan lontaran sepatu.
Penghinaan kepada Nabi Muhammad kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh orang Indonesia dengan memanfaatkan teknologi, yaitu blog WordPress!!.
Sebuah blog yang dibuat dengan spirit kebencian terhadap Islam baru-baru ini memposting komik Nabi Muhammad (yang nampaknya dialihbahasakan dari komik asing).
Saya hanya sempat melihat beberapa komik dan benar-benar menunjukkan kebenciannya kepada Nabi. Saya sebenarnya tak terlalu bermasalah jika ada kritikan yang pedas sekalipun terhadap (pemahaman) agama asalkan didasari pengetahuan yang memadai dan fakta yang valid. Tapi blog ini nampaknya hanya benar-benar digerakkan kebencian…
Saya sempat komentar bahwa tak pernah saya mendapati ajaran islam dan sejarah dan pribadi Nabi seperti fitnah ini. setiap saat, setiap sholat kami diajari menyebut nama beliau dengan cinta. itupun tak seberapa dibanding cinta beliau bagi umat manusia. Fitnah ini begitu menghunjam, mencabik-cabik dan sangat menyakitkan. Setiap kata hujatan dan pelecehan itu terasa seperti menyerang saya pribadi.. merampok identitas keislaman saya dengan kejam.
Kepada umat Islam sebaiknya tidak terlalu reaktif. tidak perlu berucap dan bertindak yang tidak sesuai akhlak Islam. fitnah tak perlu dibalas fitnah apalagi dengan anarki (yang bukan termasuhk akhlak Nabi). Kemuliaan Nabi tak akan berkurang sedikitpun dengan fitnah keji macam ini. Tak perlu pula pemerintah bersikap berlebihan, seperti menutup WordPress di Indonesia misalnya, bisa gawat. Tidak perlu pula demo-demoan (toh siapa yang mau didemo? Si Matt WordPress?).
Kalau mau berpartisipasi menghentikan fitnah ini, silahkan akses ke http://wordpress.com/report-spam/ dan masukkan link blog tersebut (jika Anda sempat mengunjunginya) dan berikan informasi seperti :“this blog contains the great lies and potential conflict. please suspend the blog”
(maaf saya tak akan kasih link disini). Juga banyak banyaklah posting dan publikasi informasi yang benar tentang Islam dan Nabi Muhammad).
Semoga Allah membukakan hidayah bagi kita semua
Semoga sholawat tercurah pada Baginda Rasulullah
Update:
Blog lapotuak.wordpress.com sudah di-suspend oleh WordPress.com, namun masih ada satu blog lagi yang ikut mempublikasikan komik ini yang masih belum di-suspend. Blog ini masih online tapi diproteksi. Bahkan di index google kita masih bisa melihat sebagian kartun tsb. Blog ini berlokasi di kebohongandariislam.wordpress.com. Mari kita laporkan disini http://wordpress.com/report-spam/?url=kebohongandariislam.wordpress.com
oya, nampaknya beberapa komik yang dibuat kemungkinan terinspirasi dari situs http://www.islamreview.com/
Situs ini berada di luar negeri dan tentunya kita tak dapat berbuat banyak dengan situs-situs seperti ini karena mereka dibuat dan dihosting di luar yuridiksi kita ataupun diluar yuridiksi blog provider gratis macam wordpress atau blogger. Antisipasi paling ampuh tentu saja dengan mengimbangi posting-posting yang lebih berimbang tentang Islam dan Nabi Muhammad.
Pagi ini di TV One di acara Selamat Pagi Indonesia menghadirkan seorang tamu yang sangat istimewa, Dewa, seorang anak berusia 5 tahun. Anak ini menderita cedera otak, tidak mampu mengkordinasikan anggota tubuh dengan baik, bahkan tak bisa berbicara. Namun, dengan dibantu ibunya dia diwawancara presenter TV One mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan luar biasa. Untuk menjawab setiap pertanyaan dia memakai selembar kertas yang ada huruf-hurufnya. Lalu dia menggerakkan jarinya untuik menyentuh setiap huruf dan ibunya menerjemahkan apa yang dia ingin katakan.
Anak ini bahkan tahu berita terbaru misalnya krisis rupiah bahkan ketika ditanya mengapa dia tertarik rupiah yang merosot, dijawabnya bahwa kita terlalu bergantung dengan Amerika. Dia bahkan juga tahu ketika ditanya siapa presiden Amerika yang baru terpilih.
Di akhir sesi kemudian dibacakan puisi yang dibuatnya. Wooww
Subhanallah, mengharukan sekali untuk anak seusia itu dan menderita cedera otak yang cukup parah dapat melakukan hal hal tersebut..
Saya teringat ada salah satu tetangga saya (dulu adik kelas ketika sekolah di MI dan MTs Muhammadiyah) yang memiliki kekurangan, yaitu tuli dan karena itu pula dia menjadi bisu. Dia ikut sekolah di MI dan MTs seperti anak-anak lain (padahal sekolah kami adalah sekolah biasa, bukan SLB). Dia ternyata bisa mengikuti pelajaran sekolah, bahkan dapat berkomunikasi dengan teman-temannya dengan isyarat/menuliskan huruf-huruf di telapak tangan. Saya tidak tahu apakah dia masih melanjutkan sekolah.
Kiranya kita ini masih menganggap orang yang menderita cacat itu sebagai “tidak normal” dalam artian peran dan kemampuan pemikirannya. Nampaknya kita perlu merevisi ulang anggapan-anggapan semacam itu dan berupaya untuk menggali potensi-potensi yang mereka miliki.
Saya lupa kapan pertama kali membaca tentang Obama, ketika itu saya baca bahwa ternyata ada senator AS yang pernah tinggal di Indonesia. Dan ternyata di kemudian hari dia maju menjadi capres pada konvensi Partai Demokrat dan mengalahkan Hillary, dan kini melaju ke Pilpres dan memenangkan pemilu dengan telak atas Mc Cain. Ini juga mencatatkan sejarah baru di mana Obama menjadi Presiden AS pertama dari kalangan non-kulit putih. Pemilu ini nampaknya juga menjadi sorotan luas di Indonesia mungkin lebih karena romantisme bahwa Obama pernah tinggal di Indonesia. Tapi ternyata di AS sendiripun pemilu ini menjadi sorotan besar pula dan mencatatkan partisipasi masyarakat dalam mengikuti pemilu yang konon paling tinggi dalam sejarah AS.
Kemenangan ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kalangan kulit hitam, dan juga bagi masyarakat Indonesia. Namun, untuk kebijakan berkait dengan negara kita mungkin tidak akan banyak berpengaruh hanya karena Obama pernah hidup disini. Seperti sudah diketahui luas, kekuatan politik AS yang sesungguhnya bukan hanya pada presidennya, tapi ada kekuatan di balik layar yang dapat mengatur gerak langkah pemerintah, khususnya oleh lobi yahudi. Jadi, kebijakan mengenai Israel misalnya, tak akan banyak berubah seperti pernah diungkap Obama di depan lobi Yahudi di AS. Perlu diingat janji kampanye di AS tak seperti janji di Indonesia dimana politis bisa berjanji seenaknya dan pada kenyataannya tak seperti yang pernah diucapkan.
Btw, bagaimanapun Obama menjadi pilihan terbaik dari yang terburuk. Kita berharap dengan tampilnya wajah baru ini akan memberikan warna bagi dunia yang lebih baik.
KEMERDEKAAN SEJATI HADIR
DARI KEBERANIAN
MENGIKUTI KATA HATI..
Bicara plagiarisme dan pembajakan sepertinya tak habis-habisnya. Saya pernah menulis mengenai pembajakan beberapa blog yang dijadikan buku. Juga bagaimana saya tiba-tiba dihubungi orang yang katanya membeli CD saya yang saya sendiri tak pernah merasa menjualnya.
Bukan masalahnya saya atau teman-teman yang merasa korban plagiarisme ini gak ikhlas dengan hal-hal seperti ini, jika budaya kayak gini dibiarkan begitu saja maka akan merusak budaya ilmiah kita. Dan bicara soal budaya ilmiah, lebih menyesakkan lagi ternyata plagiarisme sudah menjangkiti lingkungan ilmiah juga. Haduhh.. Jika posting yang saya saya tulis dulu itu status plagiator nya adalah mahasiswa, ternyata ada juga plagiator yang berstatus dosen, dan yang jadi korban notabene juga sesama dosen, yaitu pak Romi.
Benar-benar memprihatinkan..
Saya punya banyak teman (meski tidak banyak sekali) dan saya selalu berusaha menjaga pertemanan itu apapun keadaannya. Bahkan banyak teman TK atau SD saya yang masih berhubungan hingga kini. Teman bagi saya seperti charger, ketika kita sedang drop, teman-lah yang menjadi sumber energi untuk terus survive. Saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini tanpa bantuan dan dukungan teman-teman saya. Saya-pun berusaha sebaliknya, berusaha berperan menjadi teman yang terbaik, meski tentu saja jauh dari sempurna. Walau Kadang kala hanya sekedar urun rembuk sepatah dua patah menyemangati atau menghibur. Saya sendiri sering merasa sepatah kata dari teman bisa menjadi motivasi yang berharga, bahkan meski orang yang memberi urun-rembuk tadi tidak merasa.
Namun, di kesempatan lain ada juga teman yang seperti menjadikan kita ini seperti “tempat sampah”.. Karena dia tertekan atau stres sementara mau melawan tidak berani akhirnya teman sendiri yang menjadi pelampiasan kekesalan (ya, beraninya dengan teman
). Saya kadang mengalami juga (baik jadi korban atau pelakunya. heehehe), meski setelah semua tercurahkan akhirnya minta maaf. Tapi itulah bunga-bunga persahabatan. Saya pikir, dengan kita menjadi tempat sampah tadi pun, kita telah membantu dia melepaskan tekanan bebannya.. dan bukankah itu gunanya teman..
Dan, mendengar tone SMS dari seorang teman, saya jadi ingat sebuah lagu lama That’s what friends are for. Videonya bisa dilihat disini.

And I never thought I’d feel this way
And as far as I’m concerned
I’m glad I got the chance to say
That I do believe I love you
And if I should ever go away
Well, then close your eyes and try to feel
The way we do today
And then if you can remember
Keep smilin’, keep shinin’
Knowin’ you can always count on me, for sure
That’s what friends are for
For good times and bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for
Well, you came and opened me
And now there’s so much more I see
And so by the way I thank you
Whoa, and then for the times when we’re apart
Well, then close your eyes and know
These words are comin’ from my heart
And then if you can remember, oh
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That’s what friends are for
In good times, in bad times
I’ll be on your side forever more
Oh, that’s what friends are for
Whoa… oh… oh… keep smilin’, keep shinin’
Knowin’ you can always count on me, for sure
That’s what friends are for
For good times and bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for
Keep smilin’, keep shinin’
Knowin’ you can always count on me, oh, for sure
‘Cause I tell you that’s what friends are for
For good times and for bad times
I’ll be on your side forever more
That’s what friends are for (That’s what friends are for)
On me, for sure
That’s what friends are for
Keep smilin’, keep shinin’
Ini adalah judul cerpen yang akan difilmkan. Saya sempat lihat beritanya di TV, nampaknya sinema ini cukup menarik. Menyorot spiritualitas di lingkungan keras kehidupan rakyat kelas bawah. Kisahnya kurang lebih menceritakan konsepsi seseorang tentang Tuhan. Saya belum bisa menulis banyak karena belum tahu detilnya (takut salah, tepatnya takut disalahfahami
). Saya kutipkan saja beritanya:
Film yang baru mulai syuting pada hari ini, secara garis besar menggambarkan kehidupan seorang buruh bongkar muat, Madrim, yang diperankan komedian Aming. Madrim berkali-kali mengancam Tuhan lantaran kecewa dengan kehidupan yang dijalaninya. Karena tak kunjung hidup berkecukupan, Istri Madrim, Leha (Titi Kamal), minggat meninggalkannya.
Untungnya, Madrim masih memiliki seorang sahabat, Kadir (Ramzi), yang setia menjadi tempat curahan keluh kesahnya. Namun, segudang nasehat Kadir tak dihiraukannya, hingga puncaknya Madrim pun mengancam Tuhan.
Kisah Madrim dengan keberadaannya yang hidup di kawasan kumuh ini, kata Hanung, adalah salah satu upaya dari cerita film ini untuk menggambarkan bahwa Tuhan ada di mana-mana. “Kita tidak bicara Tuhan ada di (Masjid) Istiqlal. Kita bicara Tuhan ada di masjid yang butut, di kios ayam atau di pasar. Kita bicara bahwa ada nafas-nafas Tuhan di tempat yang kumuh, bau, dan kotor,” papar Hanung.
(GATRA)
Kalo yang penasaran, silahkan baca cerpennya berikut:
Kemarin saya ngobrol dengan teman saya perihal anak-anak yang akan mengikuti lomba macapat untuk tingkat SD. Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah kurangnya perangkat yang memadai pada saat pembinaan. Secara sekarang ini juga sulit mencari orang yang mampu nembang macapat ini.
Saya akhirnya coba carikan di internet siapa tahu ada banyak MP3-nya sehingga bisa dipakai belajar anak-anak. Saya sudah nemu beberapa di antaranya disini. Sebenarnya kalau dihayati bener-bener, tembang-tembang ini ternyata penuh nasehat berharga.
Sambil cari-cari MP3 yang lain, saya iseng mbuat ringtone dari salah satu lagu macapat ini. Saya buat dalam format amr. Kalau anda suka silahkan download ringtone macapat disini
Mission Imposible In Angklung- Sabuga ITB
Tradisi tidak harus identik dengan sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman. Angklung misalnya, menjadi menarik juga ketika orkestra angklung melantunkan lagu moderen semisal Mission Imposible. Di ITB, orkestra angklung ini hampir pasti selalu tampil di acara wisuda.
Masih sekitar UIN/IAIN, sewaktu kami pulang dari acara wisuda. Di jalan pertigaaan UIN macet. Padahal cuaca sangat panas dan gerah. Ternyata di tengah jalan itu ada demo menolak kenaikan BBM. Para demonstran ini membakar ban tepat di tengah jalan dan membuat lingkaran mengelilinginya. Praktis ruas jalan yang sedang ramai-ramainya itu macet. Sebagai pengguna jalan sebenarnya jengkel juga. Bagaimana tidak, cuaca sangat terik, sedang buru-buru, macet sampai panjang sekali. Saya yakin bukan hanya saya yang berang. Saya lihat ada seorang sopir sempat adu mulut akrena kesal. Bukannya mengabaikan aspirasi mereka (membela rakyat?), mungkin tujuannya baik, tapi cara-cara yang ditempuh ini sudah merugikan rakyat…
Melihat perkembangan aksi-aksi demonstrasi akhir-akhir ini justru membuat prihatin.
Sewaktu menghadiri wisuda di UIN Jogja minggu lalu saya sempat berkeliling. Seperti saya posting beberapa waktu lalu, saya pernah lama di lingkungan ini, dengan segala suka-dukanya. Tapi kondisi sekarang sangat lain. Saya tidak lagi menemukan gedung-gedung yang dulu, termasuk masjid yang kami di pernah bersembunyi ketika dikejar-kejar aparat. Suasana jalanan yang dulu teman-teman sering menyanyikan lagu Darah Juang
juga sudah beda. Gedung-gedung sekarang berganti menjadi gedung-gedung megah. Ada sedikit rasa kehilangan dimana saya agak sulit ketika mau ‘napak tilas’ masa lalu. Meski kondisi fisik gedung jauh lebih bagus. Saya sadar sedang tidak membutuhkan sesuatu yang bersifat material.
Saya jadi berfikir, benar juga ya ketika banyak bangunan bersejarah tempo doeleo yang diruntuhkan dan dibangun bangunan yang meskipun lebih mewah, tapi ruh-nya sudah menjadi lain. Itu seperti sedang menggusur sejarah. Sewaktu ada reuni SMA saya, ada seorang alumni, seorang mantan menteri yang dengan bersemangat bercerita kenangan masa lalu dan menunjukkan tempat-tempat di sekolah dimana dulu pernah menajdi bagian hidupnya. Untungnya bangunan sekolah saya ini masih seperti dulu, ada beberapa gedung dibangun, namun bangunan inti masih tidak banyak berubah. Prihatin juga kalau membaca-baca banyak ‘monumen’ sejarah harus digusur untuk kepentingan bisnis dll.
Sebagai personal ataupun komunitas, menurut saya, bagaimanapun kita ini ternyata memang membutuhkan sebuah pijakan dari masa lalu kita untuk menatap dan membangun masa depan.
Dua orang dosen ITB melaju menuju Pemilihan Walikota Bandung. Kebetulan keduanya adalah para blogger yang cukup aktif. Saya cukup tersanjung karena di blog beliau-beliau mencantumkan link blog saya sebagai link teman.
Yang pertama mendeklarasikan untuk menjadi calon independen adalah Pak Arry (http://kupalima.wordpress.com), dosen elektro, yang mendaftar menjadi Calon Wakil Walikota (berdampingan dengan Pak Syinar). Sedangkan Pak Taufikurahman (http://taufikurahman.wordpress.com), dosen SITH, menjadi calon Walikota Bandung dengan diusung oleh PKS (belum ada kepastian siapa yang menjadi calon wakilnya).
Selamat berjuang kepada kedua beliau ini.
Dan semoga ke depan, Bandung akan menjadi lebih baik lagi
(Meski saya bukan warga Bandung, kota ini telah menjadi bagian dari hidup saya. Love Bandung..)
Pada hari-hari itu kami ada semacam kegiatan rutin. Ketika pagi dan siangnya ada demonstrasi, maka sore dan malam harinya kami berkumpul menonton berita TV dan melihat siapa yang beruntung tersorot kamera
(karena kota lain belum marak demo, waktu itu demonstrasi di Jogja mendapat porsi liputan yang banyak). Waktu itu memang tiba-tiba saja banyak teman-teman yang wajahnya masuk TV atau koran.
Saya seringkali tidak jadi kuliah karena di jalan ikut demo. Slogan-slogan takbir, atau sholawatan menjadi semacam tradisi demo di sana. Selain itu ada juga lagu wajib bernada melo mahasiswa kala itu pasti hafal, judulnya Darah Juang.
Liriknya kurang lebih begini
Disini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Negeri kami subur Tuhan
Dinegeri Permai ini
Berjuta rakyat bersimpah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat
Bunda relakan darah juang kami
padaMu kami berjanji
Oya, sebenarnya pada waktu itu masih banyak pihak lho yang ragu-ragu atau masih alergi dengan demo dan tuntutannya. Beberapa TV misalnya, sempat mengeluarkan seruan untuk ‘mempercayakan kapal kepada nahkoda untuk menghadapi badai’. Salah seorang dosen saya pernah juga bilang tidak ada gunanya demonstrasi, katanya mending pacaran. Banyak pula masyarakat yang mengomel karena dengan demo kondisi jadi tidak aman dsb…
Soal masyarakat yang mendukung kepemimpinan pak Harto menurut saya memang karena kokohnya kekuasaan waktu itu. Saya kira pada SU MPR yang memilih Pak Harto sebagai presiden lagi pada kenyataannya juga didukung oleh sebagian besar rakyat. Hanya sebagian yang memang mengetahui kondisi sebenarnya yang menentang, itupun dibungkam habis. Jika saja waktu itu tidak dibarengi krisis ekonomi, demonstrasi mahasiswa kiranya hanya akan berakhir seperti akhir tahun 70-an.
Dan ketika itu demo semakin massif dan penuh kekerasan dan meluas ke kota-kota lain. Beberapa titik yang sempat rutin menjadi ajang konfrontasi mahasiswa dan aparat terjadi di sekitar UGM, IAIN,Gejayan dan beberapa titk lain. Tak terhitung yang luka-luka, bahkan di Gejayan ada yang tewas. DI IAIN, kejadian yang cukup parah malah terjadi ketika demonstrasi yang dilakukan di Instiper di depan IAIN. Saya yang mau berangkat kuliah jadi tertahan, jadi saya ikut duduk nonton demo di gedung Ushuludin. Ternyata demo kampus tetangga itu ricuh. Mahasiswa IAIN jadi kena getahnya karena ikut diserbu. Kami lari tunggang langgang. Sebagian lari ke gedung kampus, atau rektorat. Tapi aparat tetap merangsek. Banyak yang tidak tahu apa-apa yang tiba-tiba dihajar. Ada teman-teman yang baru ngumpul di UKM main gitar dsb tiba-tiba didobrak aparat dan tanpa basa-basi dihajar habis. Saya lihat sepintas di belakang banyak yang diseret aparat. Saya lari sampai gang-gang kecil di Sapen, ternyata masih dikejar. Waktu itu kalau salah memilih jalan bisa malah ketemu aparat, maunya lari dari kejaran ternyata kadang di depan aparat lebih banyak lagi.
Ketika kondisi saya kira sudah agak reda saya sempat ke kampus IAIN lagi. Ternyata masih terjadi kejar-kejaran. Saya dan beberapa teman,sekitar 20an orang lari ke masjid. Di depan gerbang, sebuah panser water-canon berhenti dengan moncong mengarah ke kami.Kami berdiri di halaman dan serambi. Beberapa saat tidak ada gerakan apa-apa. Sepi tapi mencekam. Tiba-tiba ada seorang teman berteriak-teriak ketika dia melihat ternyata diam-diam sepasukan aparat menyerbu dari samping masjid, kami lari masuk ke dalam, berdesak-desakan di imaman masjid. Karena ketakutan kami tak henti-hentinya bertakbir. Ternyata aparat tidak peduli, mereka serentak menyerbu masuk ke masjid. Untungnya sebelum terjadi kekerasan, komandannya berteriak: “Berhenti, ini masjid..” Hanya dia yang melepas sepatu dan masuk masjid, aparat lain masih dengan sepatu dan lengkap dengan senjata lalu mundur di belakangnya. Lalu komandan ini duduk di tengah masjid dan meminta kami untuk membubarkan diri. Kami mau bubar setelah ada jaminan keamanan bahwa waktu pulang tidak akan ditangkap atau dipukuli.
Esoknya berita ini muncul di halaman depan sebuah koran: Aparat menyerbu masjid IAIN. Ada fotonya juga ketika aparat sedang berlari di tangga saat menyerbu masjid. (Sayangnya koran itu tidak saya simpan, jadi gak punya dokumentasi deh
).
Dari kejadian hari itu, beberapa teman kos sebelah pulang dengan tubuhnya ada cap rotan, cap sepatu, atau gigi tanggal
Hari-hari berikutnya banyak sekali bentrokan dan perusakan. Namun, Sri Sultan yang aktif turun ke beberapa titik panas menenangkan massa membuat Jogja tidak dilanda kerusuhan yang hebat. Di Solo misalnya, kerusuhan terjadi di mana-mana dengan korban yang banyak berjatuhan.
Demo yang makin marak dan penuh kekerasan akhirnya memaksa pak Harto membuka diri. Waktu itu mengundang beberapa tokoh semisal Kyai Alie Yafie, Cak Nur, Cak Nun, Gus Dur dll ke Istana Negara. Waktu itu kebetulan ada seorang teman yang ternyata ikut ke Istana, waktu itu mengantarkan seorang tokoh. Padahal beberapa hari sebelumnya dia kelihatan mampir di kos belakang dan malam harinya orasi di IAIN. Waktu orasi itu sempat menyebut nama lengkap Pak Harto tapi ditambah huruf “A” didepannya. Pas ditayangkan di TV, kami pun langsung mengenalinya.
Waktu itu ada yang nyeletuk dengan nada bercanda, “Wah gimana tuh, kemarin barusan bilang pak Harto A**, sekarang malah salaman dengan Pak Harto”..
Pada 20 Mei 1998 mahasiswa Jogja akhirnya sepakat mengadakan unjuk rasa damai yakni dengan Pisowanan Ageng di Keraton Yogyakarta. Peristiwa ini sangat mengharubiru bagi yang ikut kala itu. Bagaimana tidak, diperkirakan 1 juta mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan tumplek menyemut di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta mendukung reformasi dengan damai. Hampir tidak ada yang berkendaraan, semua berjalan kaki dari penjuru Jogja. Saya waktu itu ikut bersama rombongan mahasiswa IAIN (saya waktu itu masih terdaftar sebagai mahasiswa di IAIN). Kami berjalan kaki dari kampus melewati Jalan Solo lurus sampai Tugu, belok kiri melewati Mangkubumi dan Malioboro. Jalanan sangat padat, penuh dengan lautan manusia, sehingga mungkin perlu waktu 1 jam lebih untuk melewati Malioboro saja.
Di jalan-jalan, masyarakat sekitar menyambut dengan antusias, di jalanan itu kami disediakan makanan dan minuman yang berlimpah. Yang membanggakan, meski dengan skala sebesar itu, tak satupun ada insiden, sekecil apapun. Bandingkan dengan kota-kota lain, Solo atau Jakarta misalnya. Waktu itu Sri Sultan HB X mengeluarkan maklumat yang dikenal sebagai Maklumat Yogyakarta mendukung upaya reformasi. (Sayangnya, sekali lagi, saya tidak memiliki foto dokumentasi peristiwa in…)
Keesokan harinya pak Harto mundur dari jabatan presiden. (Saya agak telat tahu, karena paginya saya sedang mendaftar ke sebuah organisasi intra-kampus).
Sebuah harapan tersemai, yang ternyata seiring waktu, harapan itu masih utopia..
Setelah masa itu saya sudah tidak pernah lagi ikut-ikutan demonstrasi atau aksi-aksi massa. Toh dulu-pun saya juga bukannya penggerak atau aktor, cuma simpatisan. Ya, akhirnya lebih fokus ke menyelesaikan kuliah. Apalagi dengan usia yang semakin bertambah sepertinya bukan masanya lagi deh untuk demo-demoan atau kritik yang berlebihan (biar yang sekarang jadi mahasiswa yang melakukan). Mungkin yang kayak saya ini lebih baik untuk berusaha menjadi bagian dari pemecahan masalah ataupun kalo mengkritik ya yang konstruktif dan tidak perlu emosional..
Bravo 100 Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia…
Tak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan
Foto-foto: okusi.net
Kalau ingat hari-hari ini tapi dengan setback10 tahun lalu, kita pasti tak akan lepas dari gegap gempita reformasi. Hari-hari yang mungkin tak akan pernah terlupakan. Saya waktu itu memang tinggal dan wira-wiri di kawasan yang cukup ‘panas’ (IAIN dan UGM). Bahkan tahun-tahun sebelum ‘98 pun sudah terasa panasnya. Saya sejak waktu SMA kost di lingkungan mahasiswa, dengan berbagai latar aktifitas organisasi kemahasiswaan. Jadi, sejak SMA saya sudah cukup terbiasa wacana-wacana kontemporer waktu itu dan bagaimana kontrol pemerintah yang cukup keras. Waktu itu seingat saya ada majalah kampus yang menurunkan artikel tentang kekayaan Pak Harto, langsung dibredel (kebetulan ada teman saya yang menjadi redaksinya) dan disambut dengan demonstrasi (yang skalanya masih kecil, karena tema ini waktu itu kurang populer dan cukup beresiko). Selain itu ada juga demonstrasi besar menentang SDSB yang cukup sukses.
Ada lagi persitiwa yang sempat meletup ketika menjelang Pemilu 1997. Pada waktu kampanye, salah satu parpol cukup arogan memaksa massa untuk mengikuti slogan/simbol mereka, dulu dengan mengacungkan dua jari. Karena beberapa tidak mau akhirnya ada yang dikejar, dengan senjata tajam (waktu itu sudah biasa kalau kampanye sambil membawa parang atau pedang). Ada seorang mahasiswa yang dibacok, dan ada oknum yang mengejar sampai masjid di IAIN dan membubarkan jamaah sholat maghrib.
Peristiwa ini seperti klimaks dari kejadian-kejadian serupa. Malam itu juga massa berkumpul di depan masjid IAIN, termasuk saya yang ingin tahu kejadian dan sebenarnya hanya mau makan malam. Semakin lama semakin banyak massa datang. satu-dua suara kekecewaan muncul dalam bentuk yel-yel
ketidak puasan terhadap arogansi salah satu parpol penguasa waktu itu. Bahkan kemudian, atribut parpol ybs yang ada disekitar lokasi dibakar (waktu itu tindakan semacam ini sangat berani dan sangat beresiko sekali). Tiba-tiba saya menyadari bahwa kampus sudah dikepung rapat oleh aparat keamanan. Suasana menjadi tak menentu. Di luar kampus terdengar tembakan berkali-kali (saya baru tahu kemudian, ternyata di luar kampus kejadiannya lebih parah). Sementara di dalam, massa juga semakin kalap, melempari aparat dengan batu. Saya pikir tinggal menunggu waktu saja kampus ini diserbu.
Semakin malam suasana semakin mencekam. Banyak kabar simpang-siur. Banyak teman yang mau pulang yang ketika keluar dari kampus langsung digebukin dan dilempar ke truk-truk aparat. Saya yang tadinya mau keluar kampus akhirnya balik lagi. Di luar, di kampung sekitar Papringan, Gowok dan sekitarnya razia lebih keras, banyak orang yang tidak tahu apa-apa akhirnya dihajr dan ditangkap. Misalnya ada seorang mahasiswa yang baru ke Jogja dari pulang kampung, dia baru makan di angkringan, tiba-tiba digebuki dan ditangkap. Untungnya di Sapen, tempat saya tinggal, tidak terlalu keras padahal kampung ini satu kompleks dengan IAIN. Sekitar pukul 12 datang Kapolres dan Pembantu Rektor (I atau III, saya lupa, dan terjadi negosiasi dengan massa. Terjadi kesepakatan sebagian massa akan membubarkan diri asal ada jaminan keamanan. Akhirnya Kapolres dan PR mengantarkan sebagian mahasiswa yang tinggal di Sapen dan Papringan. Saya yang tidak tahu ada kesepakatan itu ketinggalan. Waktu saya kejar ternyata sudah jauh di depan dan hampir tak kelihatan, tapi daripada suasana tidak menentu di kampus, saya tetap keluar.
Jalanan menuju Sapen penuh dengan barisan tentara berlapis lapis, penuh sekali, bahkan hanya menyisakan lorong sekitar 1/2 meter. Praktis saya berjalan di depan moncong-moncong bedil dan wajah garang. Dengkul saya sampai gemetaran.. Ternyata di belakang juga banyak tentara Kopasus (baret merah). Sampai di kos rasanya lega sekali meski di luar banyak suara lalu-lalang derap sepatu. (waktu itu hanya bisa mengikuti beritanya dari Radio BBC yang mengabarkan kalau situasi mencekam sampai subuh).
…
Setelah pemilu, situasi agak sedikit reda, namun ketika pemilu selesai dan Pak Harto dipilih lagi yang kemudian disusul dengan pembentukan kabinet yang cukup kental nepotisme-nya, suasana lambat laun menjadi panas lagi, apalagi dengan krisis ekonomi yang tiba-tiba menghantam. Seingat saya secara kota-kota lain masih adem-adem saja, di Jogja demo sudah kembali marak, makin massif dan lebih berani lagi untuk menuntut turunnya Pak Harto, tuntutan yang tak terbayangkan akan terjadi pada bulan-bulan sebelumnya (penolakan pemilihan Pak Harto pernah terjadi juga, misalnya tahun 1978 di ITB, namun akhirnya dapat dilibas).

bersambung…
Foto: okusi.net
Bill Gates akhirnya datang juga di Indonesia. Orang yang konon terkaya di dunia nomor 3 ini (dulu pernah menjadi terkaya nomor 1) akhirnya memilih Indonesia dari 5 kandidat negara yang dijadikan ajang Government Leader Forum (GLF). Semula Indonesia berada di urutan kelima negara yang akan dipilih untuk GLF di bawah Singapura, Korea, dan Vietnam.
Pada sesi Presidential Lecture, Bill tampil cukup impresif dengan pakaian batik. SBY yang semula berpakaian jas lengkap-pun akhirnya ganti kostum (nha si Bill yang orang bule aja menghargai budaya kita lho). Tokoh lain yang pernah tampil dengan batik misalnya Ronaldo dan Mandella.
Denger kuliah nya Bill Gate saya agak kedodoran, maklum kuping jawa
. Yang menarik bahwa Bill cukup perhatian dengan pendidikan. Software yang diperagakan terkait pendidikan-pun cukup menarik, tentang pembelajaran angkasa luar (astronomi). Dia sangat yakin dengan teknologi pendidikan dan kesejahteraan akan menjadi lebih baik.
Dalam wawancara dengan Kompas, Bill Gates menyinggung masalah perkembangan telekomunikasi khususnya ponsel.
hasil dari semua ini (perkembangan teknologi)adalah muncul berbagai perangkat komputasi dari berbagai jenis yang menjadi sangat bertenaga, murah, dan mudah dibawa-bawa. Sekarang, lanjut Gates, puluhan juta orang di negara-negara berkembang memiliki ponsel yang memiliki tenaga komputasi yang lebih bertenaga dibandingkan dengan komputer yang digunakan 30 tahun lalu.
”Di masa mendatang, bagi orang di Indonesia dan ekonomi berkembang lainnya, sebuah ponsel akan menyediakan akses internet dan kemampuan komputasi yang memungkinkan mereka mulai berpartisipasi dalam ekonomi global berbasis pengetahuan,” tulis Gates.
Masih menurut Kompas, Bill akan berhenti mengurus keseharian Microsoft akan memfokuskan pekerjaannya pada masalah kesehatan dan pendidikan global melalui Bill & Melinda Gates Foundation.
Di tengah kontroversi (bahkan caci maki) dominasi Microsoft di kancah bisnis software dunia, menurut saya, bagaimanapun Bill Gates memang orang hebat.
Membaca beberapa media hari-hari ini membuat prihatin juga. Betapa tidak, beberapa situs akhirnya diblok oleh ISP. Ada beberapa variasi memang. Setidaknya ada beberapa situs yang sudah dilibas oleh sebagian ISP; Youtube, MySpace, Metacafe, Rapidshare, Multiply, Liveleak dan Themoviefitna.com.
Ini mungkin belum berakhir, tidak ada yang dapat memastikan tidak akan ada lagi situs lain yang bakal menyusul untuk diblokir.
Seingat saya sejak dulu belum pernah ada blokir memblokir macam ini di Indonesia. Ini, menurut saya menjadi preseden kurang baik bagi perkembangan berdemokrasi internet kita. Ini juga memberi dampak yang kurang mengenakkan bagi pengguna (Baca:Online Demi Susu Anak Speedy Blokir 7 Situs, Ibu Rumah Tangga Menjerit!). Saya sendiri memasang video pembelajaran matematika yang saya embed ke website kantor. Sejak diblokirnya youtube, tak ada gambar apapun yang tertampil. Padahal saya sedang menyiapkan untuk meng-upload beberapa video lagi.
Saya cukup cemas juga jika akhirnya WordPress atau Blogspot ditutup. Bisa gulung tikar pula dagangan….




















Recent Comments