You are currently browsing the tag archive for the 'hikmah' tag.

Tadi pagi saya bangun kesiangan. Alarm yang saya set untuk bangun sahur berbunyi lebih awal dari biasanya. Karena masih sementara waktu saya berniat melanjutkan tidur sebentar. Tapi ternyata saya bangun sudah azan subuh!
Saya biasanya makan sahur tak terlalu banyak (kayaknya berbukanya juga ding :-) ). Apalagi kalau waktu sahur telat dan sudah mepet, saya lebih mementingkan minum air putihnya.
Meski tidak makan sahur-pun saya merasa tidak ada yang berbeda jauh, artinya lapar dan hausnya juga tidak terlalu berbeda dibanding kalau sudah makan sahur.
Lagi pula, kita kuat beraktifitas sehari-hari pada hakikatnya kan juga bukan karena makan dan minumnya, tapi karena kehendak Allah. Makanan dan minuman hanya lantaran saj

Sewaktu berkesempatan ke negeri jiran Malaysia, saya dan serombongan dari beberapa negera sempat diajak berkunjung ke salah satu toko khas mereka, Toko Batik! Malaysia benar-benar ingin mengesankan bahwa batik merupakan budaya mereka dan nampaknya cukup serius menjualnya.
Saya lihat desain batik Malaysia ini biasa saja. Tapi dari sisi harga ya jangan tanya, apalagi kalau dibanding harga batik di Jogja atau Solo.
Saya lalu bertanya kepada teman dari Filipina apakah mau membeli batik di toko itu? Jawabannya tak saya duga. Dia mengatakan bahwa batik Indonesia jauh lebih bagus. “You draw it (batik) with mind”, katanya.
Saya cukup berbesar hati ternyata warga asing sebenarnya masih dapat melihat bahwa seni dan budaya tak bisa dengan mudah dicomot begitu saja.
Orang boleh saja mengambil kulit, merampas baju dan mengklaimnya menjadi miliknya, tapi jiwa dan ruh tak akan bisa dicontek.
Bagi bangsa Indonesia sendiri, kejadian semacam ini harusnya menjadi refleksi bahwa kita musti lebih menghargai kebudayaan kita sendiri. Kita ibarat keluarga miskin dengan rumah reyot padahal tanpa disadari harta kita bertebaran dirumah, di emperan bahkan di halaman belakang.
Orang lain dengan leluasa memungutinya, bahkan angin pun kalau mau dapat menerbangkannya dengan mudah.
Saya sependapat seperti yang diungkap Umar Kayyam, budaya adalah bukan produk jadi. Ia adalah jiwa yang bergelora dan dinamis meliputi akal budi dan upaya untuk kehidupan lebih sejahtera dan memanusia (human).
Malaysia bisa saja mematenkan desain batik atau memajang tari Pendet sebagai ikon. Tapi mereka tak akan pernah merasakan jiwa batik, tak pernah faham ruh memendet. Mereka hanya tahu bahwa budaya-budaya itu adalah produk yang marketable, yang layak jual.
Sementara bagi para pembatik dan pemendet, senada ucapan rekan saya dari Malaysia itu, mereka melakukan itu dengan hati dan jiwa.
batik motives Pertanyaannya adalah, apakah ruh dan jiwa budaya itu masih ada di dada kita? Tari Pendet masih jauh lebih beruntung nasibnya karena budaya menari masih menjadi bagian keseharian yang dilakukan anak-anak di sana dengan bangga. Namun bagi para pembatik dan ribuan pekerja budaya lainnya barangkali hanya segelintir saja yang masih menekuni warisan leluhur atau bahkan sekedar mengapresiasinya. Alih alih memahami dan mengamalkan filosofinya, menghargai produk budaya-nya saja kita masih kurang. Lihat saja, orang banyak lebih memilih menenteng Blackberry sebagai identitas budaya ketimbang memakai baju batik.

Beberapa hari lalu, saya dan istri sedang dalam perjalanan dari kantor. Saya berkendara tidak terlalu cepat. Di sebuah jalan kami berpapasan dengan anak kecil bersepeda menyeberang jalan, membawa seekor kucing. Melihat saya yang jalannya tidak terlalu cepat dia nyelonong menyeberang. Saya sedikit kaget tapi saya biarkan saja. Saya pikir kalau saya klakson dia malah kaget dan bisa jatuh. Tapi ternyata tidak tahu kenapa, anak kecil ini tiba-tiba nyelonong kebablasan sampai masuk selokan, mungkin karena dia ragu-ragu menyeberang. Saya sempat lihat dari kaca spion motor dia tidak bisa mengendalikan sepeda, kucingnya melompat, dan dia dan sepedanya terjungkal ke selokan. Saya berhenti dan khawatir juga karena selokan itu cukup tinggi dan sudah dibangun permanen dengan tembok kasar. Tubuh dan sepedanya tidak kelihatan saking tingginya dan lagi pulan saya sudah berjarak kira-kira 5 meter dari selokan itu. Kalau saja anak tadi terbentur tembok bisa jadi agak parah juga. Saya lalu memarkir motor dan bergegas ke anak tadi. Alhamdulillah, saya melihat kepalanya nongol, berarti dia tidak apa-apa, meski sudah basah kutup. Saya tanya apa ada yang sakit, dia bilang tidak apa-apa. Saya lalu membantu mengangkat sepedanya ke jalan.

Saya teringat waktu saya kecil, sekitar kelas 6 SD, saya pernah jatuh ke selokan bersama adik saya yang baru pulang saya jemput dari TK. Saya tidak apa-apa waktu itu, tapi adik saya wajahnya terbentur kayu atau sepeda sehingga memar dan cukup parah. Dari hidungnya sempat keluar darah kental. Kasihan sekali. Kami ditolong orang sekitar dan ada yang mengantarkan kami pulang. Saya tahu rasanya jatuh, tahu rasanya ditolong orang, jadi saya merasa pada kejadian serupa tentu saya sudah seharusnya saya juga gantian menolong. Kadang memang empati itu tumbuh ketika kita pernah mengalami dan merasakan hal serupa.


Ketika sholat di sebuah masjid di bilangan Malioboro, Jogja, saya mendapati seorang penjual buku yang menggelar dagangannya di serambi masjid. Mulanya saya tak terlalu memperhatikan, sampai waktu sholat tiba. Bapak penjual buku itu segera menuju ke ruang utama untuk berjamaah, semua dagangan ditinggalkan dan dibiarkan saja. Dan ternyata bapak ini seorang penyandang cacat. Dia menuju ruang utama dengan merangkak! Masyaallah!

Usai shalat jamaah saya keluar dan kebetulan lagi berada di belakang bapak tadi yang juga selesai sholat. Saya perhatikan bahkan dengan merangkak-pun terlihat betapa langkah demi langkah adalah perjuangan berat. Dalam jarak yang tak begitu jauh pun (sekitar 10-15 meter) bapak ini harus beristirahat sebentar di tangga masjid mengatur nafas yang terengah-engah. Detik berikutnya dia sudah merangkak lagi dan kembali di depan dagangannya.

Sungguh perjuangan yang tak terkira, bagaimana dia menghadapi keterbatasan tubuhnya, keterbatasan hidup dan ekonominya. Tak berkedok dengan kekurangannya untuk meminta-minta, tak putus asa atau malu untuk berusaha dan bekerja, namun tak juga lupa dengan Tuhan.

Ya Allah, jagalah bapak ini, mudahkan jalannya, rahmatilah hidupnya…

Link terkait:
Anak Ingusan Mencari Makan

Sepertinya sudah lama sekali tak melihat pelangi. Kemarin, waktu pulang kantor, kebetulan hujan rintik-rintik, dan matahari masih bersinar cukup terang. Di jalan, ketika melihat ke angkasa, ternyata terbentuk pelangi dengan indahnya. Mulanya terlihat seperempat lingkaran, setelah dilihat lagi ternyata di bagian lain menyambung menjadi setengah lingkaran. Biasan cahaya matahari oleh rintik hujan membentuk warna-warni, mejikuhibiniu. Sungguh indah karya Sang Pencipta ini, bersyukur juga saya masih diberi kesempatan menyaksikan warna-warni pertunjukan alam di angkasa ini.

Bersyukur pula bahwa sampai detik ini masih diberi kesempatan dan kekuatan menjalani hidup yang juga penuh warna-warni. Dan seharusnya kita melihat semua hal yang dikaruniakan kepada kita, kepada apa yang kita alami sekarang ini, entah itu sesuai keinginan kita atau bahkan sama sekali tak kita inginkan, seperti kita melihat warna pelangi itu. Semua sama indahnya, semua adalah karunia indah dari-Nya.


About Me
.



download tutorial blog wordpress

mtmamim on wordpress
mtmamim on blogger
mtmamim on plurk
mtmamim on facebook
mtmamim on twitter
mtmamim on multiply
Email: muh_tamim@yahoo.com
My other blog: mtamim.com

Twitter

 

Add to Google
Add to Technorati Favorites

YM!

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30