You are currently browsing the tag archive for the ‘belajar parenting’ tag.

Suatu ketika saat saya baru pulang dari diklat di luar kota yang cukup lama, saya mendapati anak saya ternyata sudah bisa mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan beberapa isyarat, karena untuk mengekspresikan dengan kata-kata masih sulit dan belum begitu jelas. Waktu itu saya diberitahu istri saya bahwa beberapa hari sebelumnya anak saya terbentur tembok di bagian dahi. Setelah itu dia ternyata berusaha menceritakan kejadian itu dengan cara menepuk dahi dengan tangan. Kami lalu sadar bahwa dia ingin menjelaskan tentang rasa sakit. Dan untuk menjelaskan sakit di tempat lain pun, misalnya tangan atau kaki, dia akan menepuk atau menempelkan tangan di dahi. Juga ketika menonton film Pororo yang menjadi kesukaannya, ketika ada adegan Crong yang bersedih maka dia juga bertingkah serupa. Kami jadi tahu kalau dia sedang sedih atau merasa sakit di bagian tubuhnya. Sedangkan untuk mengekspresikan rasa senang dia akan tertawa dan menempelkan kedua tangan menutupi mulutnya. Kalau ditanya tentang sesuatu, misalnya: “Affan senang berenang nggak?”, dia akan berekspresi kalau senang. Saya suka senyum sendiri dengan tingkahnya itu mengingat kami ekspresi dan isyaratnya itu atas inisiatif dia sendiri dan tidak diajari atau disuruh menirukan.

Saya pernah membaca bahwa anak sangat perlu dilatih untuk mengekspresikan emosi atau pikiran.Kemampuan anak mengekspresikan isi hatinya di masa tumbuh kembang ikut membentuk kepribadiannya kelak. Ketika anak sedang berekspresi maka orangtua seharusnya memberikan respon sehingga dia tidak merasa terabaikan. Bayangkan kalau kita sedang curhat ke seseorang dan orang itu cuek saja. Anak juga demikian.
Untuk mengajarkan anak berekspresi bisa dengan foto atau kartu berisi bermacam ekspresi emosi, atau membacakan buku cerita dengan mempraktekkan karakternya.
Konon, anak yang terbiasa ekspresif secara positif umumnya akan lebih terampil pula mengelola emosi dan menenangkan diri kala dilanda kesedihan maupun kemarahan dan lebih mudah fokus perhatiannya pada suatu hal.

Jika ditanya siapakah pembunuh kreatifitas anak yang paling bertanggung jawab? Bisa jadi jawabannya akan sangat mengagetkan. Mereka adalah orang tua dan guru. Kita nampaknya agak kurang beruntung dimana berada dan tumbuh di lingkungan yang kurang begitu memperhatikan tumbuh kembang psikologis anak. Sejak kecil banyak di antara kita dihadapkan pada dunia yang penuh larangan dan batasan. Anak yang banyak bertanya bagi banyak orang mungkin menjadi hal yang menjengkelkan bagi orang tua dan guru.

Rasa ingin tahu anak yang besar seiring perkembangan usianya menjadikan anak cenderung ‘usil’. Bukan hanya itu, setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri dan keunikan dalam belajar. Ada anak yang bertipe visual (senang dengan hal visual), auditori (senang dengan hal terhait suara) maupun kinestetis (senang bergerak). Jika Anda pernah membaca kisah Toto Chan tentu Anda akan sedikit banyak tahu tentang hal ini. Berapa banyak anak yang langsung terdiam seribu bahasa ketika banyak bertanya dan lalu divonis sebagai anak usil dan dibentak untuk duduk diam manis layaknya anak pintar Atau anak yang tak bisa diam berlama-lama di kelas, tak tahan melipat tangan di meja mendengarkan guru dengan baik, lalu dicap sebagai anak liar yang tak dapat dididik.

Banyak sekali dunia pendidikan kita masih dalam paradigma lama dimana anak pintar dan baik adalah yang duduk diam manis, tak banyak membantah, tulisannya bagus dan rapi, dan anggapan lain yang barangkali tak sepenuhnya benar. Banyak anak-anak kita kehilangan keceriaan seperti waktu di TK. Hari pertama ketika anak masuk SD berbinar binar dengan seragam putih merah, tas baru, buku baru dan harapan bahwa sekolah lebih tinggi akan lebih menarik dan menyenangkan daripada di TK. Nyatanya, hanya dalam beberapa hari semua berubah total. Sekolah menjadi dunia monoton, tak ada kesenangan, tak ada menynti, tak ada bermain, tak ada mendongeng, yang ada adalah membaca dan menghitung yang serba rumit dan tak masuk akal, PR yang menumpuk, guru yang membosankan, dan seabrek peraturan dan larangan. Anak menjadi semakin pasif tak lagi berani bertanya dan menjadi seperti ‘robot’. Satu bentakan guru atau orangtua menyuruh untuk diam bisa jadi menjadi palu godam yang mematikan bagi tumbuhnya kreatifitas. Sayangnya banyak guru dan orang tua tak menyadarinya.

Saya pernah membantu mengajar anak SD di kampung. Cukup prihatin saya menghadapi anak-anak yang pasif, takut berpendapat, takut maju di depan kelas, padahal mereka duduk di kelas 5 dan 6. Setelah saya amati ternyata hal ini karena keseharian pembelajaran anak memang seperti itu. Padahal setelah saya coba lebih interaktif, anak dibiasakan maju di depan, mereka ternyata cepat sekali menyesuaikan diri. Rasa tidak percaya diri mereka ternyata tumbuh dengan cepat. Bukan itu saja, pada tugas mengarang yang saya beri perhatian khusus, banyak anak yang memiliki bakat menulis luar biasa yang selama ini tak pernah diasah. Bagi saya, murid harus dihargai sebagai seorang manusia, bukan sebagai anak kecil yang tak tahu apa-apa. Guru adalah motivator yang harus benar-benar mengerti kondisi anak didik. Dalam banyak hal guru harus rela ‘mengalah’ atau meyisihkan ego pribadi demi keberhasilan murid. Hal ini berlaku juga bagi para orangtua.
Terkadang Kita harus dapat melihat anak dari sudut pandang yang lain. Ada orang tua mungkin marah besar melihat coretan anak di dinding tembok. Tapi orang tua yang lain melihat coretan di dinding itu adalah karya seni luar biasa, sebuah masterpiece.

Saya baru saja turun dari kereta dan memutuskan duduk sejenak untuk istirahat dan minum. Di samping saya ada seorang anak kecil berjalan dengan riang, nampaknya baru saja membeli es teh di gelas plastik yang dibawanya. Entah karena kurang hati-hati atau kenapa es yang dibawanya terjatuh dan tumpah. Saya melihat kesedihan di wajahnya. Dari kejauhan ada seseorang yang ternyata ibunya setengah berteriak bertanya kenapa. Saya jadi khawatir anak ini yang sudah sedih kehilangan es bakal tambah sedih dimarahi ibunya.

Tapi ternyata saya salah, ibu itu hanya bilang agar gelas yang sempat dipungut si anak agar dibuang. Tak lama kemudian ayahnya datang dan bertanya kenapa. Setelah tahu apa yang terjadi dia hanya tersenyum,  menghampiri anaknya itu, mengusap kepalanya dan diajaknya membeli es lagi.

Saya respek dengan si ibu-bapak tadi. Bagi orang lain saya bayangkan mungkin saja anak tadi akan dimarahi habis-habisan karena uang saku yang baru saja dikasih menjadi sia-sia karena keteledoran. Bukan masalah uang atau segelas es tumpah, tapi kondisi psikis anak yang bakal terluka. Saya bayangkan jikasaja para orangtua memiliki sikap seperti ibu-bapak itu maka anak-anak kita akan tumbuh dengan psikologi yang lebih sehat.



aplikasi hp gratis

Aplikasi HP Gratis



About Me
.




download tutorial blog wordpress

mtmamim on facebook
mtmamim on wordpress
mtmamim on blogger
mtmamim on plurk
mtmamim on twitter
mtmamim on multiply
Email: muh_tamim@yahoo.com
My other blog: mtamim.com

Menu

 

Add to Google
Add to Technorati Favorites

YM!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 251 other followers