You are currently browsing the category archive for the ‘Pendidikan’ category.

Berikut ini file presentasi tentang E-Learning dan Pembelajaran Abad 21 Best Practice e-training PPPPTK Matematika
Download File

Geogebra merupakan software matematika yang cukup menarik untuk membuat bentuk-bentuk geometri yang dinamis. Hasil kerja dari Geogebra yang kita buat dapat ditempel secara dinamis di blog yang mendukung applet. Kita cukup menempelkan (copy-paste ke blog) kode applet yang diperoleh dari file HTML hasil Export dari Geogebra.
Sayangnya blog wordpress.com tak mendukung kode applet/javascript. Salah satu solusinya adalah dengan kita dapat meng-export file hasil dari Geogebra ke dalam bentuk gambar PNG. Gambar ini dapat diupload ke blog seperti mengupload foto biasa. Tapi, karena bentuknya gambar statis maka konsekuensinya gambar tersebut tidak interaktif.
Contoh lembar kerja yang diekspor ke file PNG tampilannya adalah sbb:

Catatan: Blog yang mendukung javascript/applet contohnya adalah blogspot atau wordpress yang menginstal di hosting sendiri.

Suatu ketika saat saya baru pulang dari diklat di luar kota yang cukup lama, saya mendapati anak saya ternyata sudah bisa mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan beberapa isyarat, karena untuk mengekspresikan dengan kata-kata masih sulit dan belum begitu jelas. Waktu itu saya diberitahu istri saya bahwa beberapa hari sebelumnya anak saya terbentur tembok di bagian dahi. Setelah itu dia ternyata berusaha menceritakan kejadian itu dengan cara menepuk dahi dengan tangan. Kami lalu sadar bahwa dia ingin menjelaskan tentang rasa sakit. Dan untuk menjelaskan sakit di tempat lain pun, misalnya tangan atau kaki, dia akan menepuk atau menempelkan tangan di dahi. Juga ketika menonton film Pororo yang menjadi kesukaannya, ketika ada adegan Crong yang bersedih maka dia juga bertingkah serupa. Kami jadi tahu kalau dia sedang sedih atau merasa sakit di bagian tubuhnya. Sedangkan untuk mengekspresikan rasa senang dia akan tertawa dan menempelkan kedua tangan menutupi mulutnya. Kalau ditanya tentang sesuatu, misalnya: “Affan senang berenang nggak?”, dia akan berekspresi kalau senang. Saya suka senyum sendiri dengan tingkahnya itu mengingat kami ekspresi dan isyaratnya itu atas inisiatif dia sendiri dan tidak diajari atau disuruh menirukan.

Saya pernah membaca bahwa anak sangat perlu dilatih untuk mengekspresikan emosi atau pikiran.Kemampuan anak mengekspresikan isi hatinya di masa tumbuh kembang ikut membentuk kepribadiannya kelak. Ketika anak sedang berekspresi maka orangtua seharusnya memberikan respon sehingga dia tidak merasa terabaikan. Bayangkan kalau kita sedang curhat ke seseorang dan orang itu cuek saja. Anak juga demikian.
Untuk mengajarkan anak berekspresi bisa dengan foto atau kartu berisi bermacam ekspresi emosi, atau membacakan buku cerita dengan mempraktekkan karakternya.
Konon, anak yang terbiasa ekspresif secara positif umumnya akan lebih terampil pula mengelola emosi dan menenangkan diri kala dilanda kesedihan maupun kemarahan dan lebih mudah fokus perhatiannya pada suatu hal.

Menyajikan suatu materi dalam sebuah kelas sering mendapat kendala dan tantangan bermacam-macam. Salah satunya adalah adanya gap dari trainee/peserta didik dalam hal pengetahuan yang dimilikinya. Saya beberapa kali mendapati kelas yang demikian. Sangat sulit bagi saya menyajikan materi dengan audiens seperti itu, jika level terlalu rendah maka tentu yang telah menguasai materi akan cenderung tidak bersemangat, kalau terlalu tinggi maka peserta yang belum memiliki dasar cukup akan kesulitan. Lebih sulit lagi, dalam kasus saya ini, pesertanya berasal dari berbagai negara dan materi harus disampaikan dengan Bahasa Inggris. Bagi saya, komunikasi dalam Bahasa Inggris itupun sudah menjadi masalah sendiri (Bahasa Inggris saya masih kacau balau). Jadi, lengkap sudah.. :-D

Sebenarnya ada trik untuk ‘mengakali’ kondisi semacam ini. Misalnya dengan membagi peserta dalam kelompok yang anggotanya memiliki keterwakilan antara yang sudah berpengalaman dan yang belum, kemudian dipakai metode diskusi dll. Tapi, sekali lagi untuk kasus saya ini agak sulit, waktu yang ada sangat terbatas dan juga posisi duduk tidak begitu memungkinkan karena berada posisi duduk yang konvensional dan sudah tidak dapat dirubah-rubah lagi.

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu,” kata Khalil Ghibran. Ghibran menunjukkan kepada kita bahwa anak bukanlah miniatur atau robot yang kita ciptakan. Setiap anak adalah dirinya sendiri yang berbeda dengan diri kita. Dalam pendidikan yang sesungguhnya, mendidik anak bukan sekedar mentransfer ilmu, bukan menciptakan robot tapi membantu anak-anak menemukan dirinya sendiri. Mendidik anak sekarang tentu harus berbeda dengan zaman kita dulu. Generasi sekarang sudah sangat berbeda. Generasi kakek kita berbeda dengan generasi bapak kita. Generasi bapak kita berbeda dengan generasi kita dan berbeda dengan generasi anak kita. Di Barat, ada istilah untuk membedakan generasi-generasi ini. Ada generasi Baby boomers, generasi X, generasi Y dan Generasi Z.

Dalam beberapa referensi generasi ini diklasifikasikan berdasar tahun kelahiran. misalnya Pre Baby Boom (lahir pada 1945 dan sebelumnya), The Baby Boom (lahir antara 1946 – 1964), The Baby Bust (lahir antara 1965 – 1976) – Generasi X, – Generasi Y (lahir antara 1977 – 1997), – Generasi Z/Generation Net (lahir antara 1998 hingga kini). Namun saya lebih cenderung membedakan generasi berdasar perkembangan teknologi di masyarakat bersangkutan. Lebih khusus saya akan fokus di generasi Y. Kalau di Barat generasi Y ini lahir antara 1977-1997 (ada juga yang bilang antara 1980-2000), dalam konteks Indonesia saya lebih cenderung kepada generasi yang lahir 10 tahun lebih muda (dengan alasan bahwa kita ketinggalan dalam hal teknologi sekitar 10-15 tahun). Jadi generasi Y, atau disebut sebagai generasi milenium, menurut konteks Indonesia lahir pada tahun 1990an sampai sekitar 2010an. Dan kenapa saya fokus di generasi Y, karena ini generasi saat ini mulai tumbuh (usia sekolah awal) yang patut menjadi perhatian khusus kita (Generasi Z/platinum mungkin akan masih jauh lagi dan lebih kompleks untuk dibicarakan).

Generasi Y memiliki beberapa ciri-ciri khusus di antaranya :

  1. Percaya diri dan optimis. Lebih terbuka dan menerima perubahan.
  2. Tidak sabaran karena terbiasa dengan hal instan, tak mau rugi dan banyak menuntut (ini dampak dari kepercayaan diri yang tinggi).
  3. Family centric/lebih dekat pada keluarganya. Generasi sebelumnya anak-anak seringkali ditinggalkan orang tua bekerja, sedang pada generasi Y, orang tua banyak meluangkan waktu bersama keluarga.
  4. Suka inovasi.
  5. Memiliki semangat yang besar.
  6. Tidak menyukai jadwal yang ribet dan detail dan birokratis
  7. Anytime-anywhere. Dimanapun kapanpun dapat menghasilkan sesuatu (ide atau produk) tanpa peduli norma tempat dan waktu. Misalnya mengerjakan pekerjaan kantor menggunakan laptop+internet dari kafe atau di rumah sambil sarungan.
  8. Cara berkomunikasi. Lebih nyaman menggunakan media berbasis teknologi.
  9. Bagaimana mencari informasi atau belajar. Semua serba mudah dengan internet, guru tak lagi berposisi sebagai “tahu segalanya”. Semua yang ingin diketahui dapat dicari di Google.
  10. Ciri paling menonjol adalah mereka terbiasa hidup dengan teknologi canggih. Laptop, komputer, gadget adalah keseharian mereka sejak kecil.

Saya pernah mengunjungi daerah yang cukup terpencil di Sulawesi. Di sana susah untuk cari koneksi internet. Tapi guru di sana mengeluh kalau siswanya sudah pada kecanduan Facebook (pakai HP)! Saya justru balik bertanya, bukankah itu sebuah peluang. Kalau anak-anak sudah biasa Facebook dan mereka menggemarinya, apa salahnya guru memanfaatkan facebook sebagai media belajar? Ini contoh saja. Saya sangat yakin ketika nanti generasi ini sudah dewasa dan masuk dunia kerja, budaya kerja dan jenis pekerjaannya sudah akan berubah secara revolusioner. Nah, saat ini mereka masih di awal pendidikan, bukankah tanggungjawab kita mendidik mereka untuk siap dengan perubahan itu, untuk siap memasuki dunia kerja abad 21. Tanpa dibekali dasar yang cukup dan mendidik/mengajari mereka dengan cara pendidikan generasi kita, mereka pasti akan tergilas zaman. Dan sebaliknya. Jika kita mendidik dan menyiapkan mereka memasuki abad 21 dengan dasar dan cara yang benar, mereka pasti akan menjadi pemenang. Anda mungkin tidak percaya bahwa saat ini banyak orang bekerja sebagai blogger di dunia maya dengan penghasilan ribuan dolar. Bayangkan apa yang terjadi 10 tahun lagi ketika anak-anak kita sudah mulai masuk dunia kerja!

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu,” kata Khalil Ghibran. Ya, mereka adalah anak-anak zaman.

Peribahasa mengatakan “Malu bertanya sesat di jalan.” Orang kemudian menambahkan pelesetannya “banyak bertanya, memalukan.” Anak yang banyak bertanya bisa jadi merupakan indikasi bahwa si anak ini adalah cerdas, punya rasa ingin tahu yang tinggi, haus akan pengetahuan dan kreatif. Namun, ketika banyak orang yang menganggap banyak tanya itu tidak baik dan diam adalah emas maka fase pembentukan kreatifitas anak lalu mandeg atau terhambat. Ini kalau kasusnya terkait dengan anak.
Bagaimana jika yang banyak bertanya itu orang dewasa dan pertanyaan yang diajukan selalu yang tidak penting, diulang-ulang, atau sesuatu yang lumrahnya orang sudah tahu atau mudah dicari jawabannya. Ini baru mungkin pelesetan peribahasa itu ada benarnya. Saya bicara di konteks forum baik seminar, diklat, atau forum online macam milis, threaded forum, dll.

Orang bertanya bisa karena dia tidak tahu lalu ingin tahu, atau mengetes atau dia malas mencari jawaban sendiri. Kalau kita mau bertanya dan pertanyaan itu tak penting, atau sudah umum diketahui , atau sudah sering ditanyakan, cobalah menahan diri. Cari tahu dulu apakah pertanyaan itu penting dan cukup relevan, sudahkah kita mencoba mencari jawaban sendiri, ataukah pertanyaan serupa itu sudah pernah dilontarkan. Dalam forum orang dewasa saya merasakan ada semacam sindrom untuk berekspresi, baik bertanya atau berbagi. Dan seringkali agak ngelantur (saya kira ini salah satu dampak dari andragogi yang terlalu longgar). Banyak hal yang tidak relevan bisa muncul dan relatif menjadi agak mengganggu. Nah, jika Anda berlaku sebagai penanya tentu harus berhati-hati dalam memformulasikan pertanyaan atau mengukur relevansi pertanyaan dengan topik pembicaraan. Selain itu jangan bertanya dengan nada seolah-olah kita tak tahu apa-apa. Carilah kemungkinan jawaban pertanyaan anda di Google. Jika jawaban tak diketemukan atau kurang lengkap baru tanyakan pertanyaan itu beserta apa yang sudah anda ketahui tentang gambaran jawabannya. Ini menunjukkan bahwa anda sudah berusaha mencari jawaban dan bukan karena malas.

Saya seringkali dalam berbagai kesempatan selalu mencari referensi dari topik yang dibicarakan langsung di Google menggunakan HP. Mungkin sambil agak sembunyi-sembunyi karena di lingkungan kita “bermain” HP saat orang berbicara dianggap tak sopan kalo pegang HP. Tapi bagi saya itu tak masalah lha wong kita browsing di HP itu dalam rangka memperdalam apa yang dibicarakan dan bukan untuk chatting atau SMS-an. Googling juga cukup membantu kita mengkonstruksi puzzle permasalahan dan memberikan pemahaman yang lebih baik.

Kalau sudah demikian, nampaknya peribahasa di atas perlu ditambah lagi yaitu: “sebelum bertanya ke orang, tanya dulu ke Mbah Google”. Sebanyak apapun dan sebodoh apapun pertanyaan anda ke Mbah Google, tidak akan membuat kita tampak konyol dan memalukan.

I will use Google before asking dumb questions – Bart Simpson

Beberapa hari ini saya sibuk mengumpulkan dokuman untuk pengajuan angka kredit. Ternyata rumit dan melelahkan mengingat saya belum pernah mengajukan karena saya baru akan masuk ke fungsional (baru proses seleksi). Banyak sertifikat yang ternyata sudah hilang, banyak jam mengajar yang tak masuk hitungan karena tidak direkap dan diarsipkan dengan baik. Salah saya sendiri :-(

Namun bukan itu yang akan saya tulis, saya akan bicara tentang menjalankan tugas. Sebagai pegawai di lingkungan kediklatan saya tentu harus menjalankan tugas dalam rangka meningkatkan SDM pendidikan khususnya bagi guru. Mengajar bagi saya sudah menjadi satu panggilan, begitu juga dengan menulis (Keluarga saya adalah keluarga guru dari kakek buyut saya). Sudah jamak kalau dalam pembicaraan teman-teman yang di fungsional di kementerian manapun tentang poin (angka kredit) dan koin (honor). Profesionalitas seringkali terkait erat dengan penghargaan. Aktifitas di fungsional biasanya dihargai dengan poin dan koin, ada yang poin saja (koinnya kecil) dan sebaliknya atau duaduanya. Namun, bagi saya sendiri apa yang saya lakukan sedapat mungkin bukan karena faktor-faktor eksternal tersebut, tapi lebih kepada keinginan yang tumbuh dari hati, keinginan berbagi ilmu, keinginan membantu, keinginan agar semua menjadi lebih baik, semua ini termasuk saya sendiri, SDM pendidikan kita dan tentu bangsa ini.
Soal koin saya lebih nyaman jika saya secara finansial lebih mapan sehingga aktifitas mengajar atau kegiatan fungsional lain tak lagi menjadi ajang kejar setoran. Ada banyak jalan untuk mencapai kemapanan finansial (salah satunya menekuni bisnis online hehe). Bukankah lebih tenang kalau menagajar tanpa harus berhitung soal honor?

Saya pernah punya dosen yang begitu mengesankan dalam mengajar. Tak pernah bolong mengajar, materi yang diajarkan selalu menarik dan mencerahkan. Mengajar bagi beliau sudah menjadi kehidupannya. Secara finansial honor mengajar tak ada apa-apanya, dia memiliki belasan perusahaan. Cita-cita saya sih mudah-mudahan suatu saat akan mencapai financial freedom, tapi bukan dari pekerjaan akademis saya ini sehingga saya akan lebih fokus tanpa pamrih yang macam-macam.
Soal poin atau angka kredit, kenapa saya masih juga mengais-ngais dokumen lama untuk diajukan? Angka kredit tentu saja akan berpengaruh bagi kenaikan jabatan dan gaji, namun bukan itu yang menjadi perhatian utama saya. Angka kredit ibarat laporan dari kegiatan kita dan bagian dari profesionalitas dan bukan sekedar mengejar kenaikan tunjangan. (Apalagi kalau Anda tahu, tunjangan fungsional tidaklah besar).

Bagi saya, motivasi yang lebih besar dalam mengajar dan menulis menyebarkan ilmu dan kebaikan. Dan semakin ilmu tersebar makin bermanfaat bukan? Dan lebih dari itu mudah-mudahan ilmu bermanfaat itu menjadi amal jariyah yang diridhai tuhan, bukankah itu jauh lebih berharga dari  sekadar poin atau koin. :-)

Jika ditanya siapakah pembunuh kreatifitas anak yang paling bertanggung jawab? Bisa jadi jawabannya akan sangat mengagetkan. Mereka adalah orang tua dan guru. Kita nampaknya agak kurang beruntung dimana berada dan tumbuh di lingkungan yang kurang begitu memperhatikan tumbuh kembang psikologis anak. Sejak kecil banyak di antara kita dihadapkan pada dunia yang penuh larangan dan batasan. Anak yang banyak bertanya bagi banyak orang mungkin menjadi hal yang menjengkelkan bagi orang tua dan guru.

Rasa ingin tahu anak yang besar seiring perkembangan usianya menjadikan anak cenderung ‘usil’. Bukan hanya itu, setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri dan keunikan dalam belajar. Ada anak yang bertipe visual (senang dengan hal visual), auditori (senang dengan hal terhait suara) maupun kinestetis (senang bergerak). Jika Anda pernah membaca kisah Toto Chan tentu Anda akan sedikit banyak tahu tentang hal ini. Berapa banyak anak yang langsung terdiam seribu bahasa ketika banyak bertanya dan lalu divonis sebagai anak usil dan dibentak untuk duduk diam manis layaknya anak pintar Atau anak yang tak bisa diam berlama-lama di kelas, tak tahan melipat tangan di meja mendengarkan guru dengan baik, lalu dicap sebagai anak liar yang tak dapat dididik.

Banyak sekali dunia pendidikan kita masih dalam paradigma lama dimana anak pintar dan baik adalah yang duduk diam manis, tak banyak membantah, tulisannya bagus dan rapi, dan anggapan lain yang barangkali tak sepenuhnya benar. Banyak anak-anak kita kehilangan keceriaan seperti waktu di TK. Hari pertama ketika anak masuk SD berbinar binar dengan seragam putih merah, tas baru, buku baru dan harapan bahwa sekolah lebih tinggi akan lebih menarik dan menyenangkan daripada di TK. Nyatanya, hanya dalam beberapa hari semua berubah total. Sekolah menjadi dunia monoton, tak ada kesenangan, tak ada menynti, tak ada bermain, tak ada mendongeng, yang ada adalah membaca dan menghitung yang serba rumit dan tak masuk akal, PR yang menumpuk, guru yang membosankan, dan seabrek peraturan dan larangan. Anak menjadi semakin pasif tak lagi berani bertanya dan menjadi seperti ‘robot’. Satu bentakan guru atau orangtua menyuruh untuk diam bisa jadi menjadi palu godam yang mematikan bagi tumbuhnya kreatifitas. Sayangnya banyak guru dan orang tua tak menyadarinya.

Saya pernah membantu mengajar anak SD di kampung. Cukup prihatin saya menghadapi anak-anak yang pasif, takut berpendapat, takut maju di depan kelas, padahal mereka duduk di kelas 5 dan 6. Setelah saya amati ternyata hal ini karena keseharian pembelajaran anak memang seperti itu. Padahal setelah saya coba lebih interaktif, anak dibiasakan maju di depan, mereka ternyata cepat sekali menyesuaikan diri. Rasa tidak percaya diri mereka ternyata tumbuh dengan cepat. Bukan itu saja, pada tugas mengarang yang saya beri perhatian khusus, banyak anak yang memiliki bakat menulis luar biasa yang selama ini tak pernah diasah. Bagi saya, murid harus dihargai sebagai seorang manusia, bukan sebagai anak kecil yang tak tahu apa-apa. Guru adalah motivator yang harus benar-benar mengerti kondisi anak didik. Dalam banyak hal guru harus rela ‘mengalah’ atau meyisihkan ego pribadi demi keberhasilan murid. Hal ini berlaku juga bagi para orangtua.
Terkadang Kita harus dapat melihat anak dari sudut pandang yang lain. Ada orang tua mungkin marah besar melihat coretan anak di dinding tembok. Tapi orang tua yang lain melihat coretan di dinding itu adalah karya seni luar biasa, sebuah masterpiece.

Depdiknas melalui Dirjen DIKTI memberikan kesempatan bagi 20.000 lulusan SLTA untuk mendapatkan beasiswa kuliah di beberapa perguruan tinggi di Indonesia melalui Program BIDIK MISI 2010. Besarnya dana yang diterima adalah biaya hidup setiap penerima beasiswa adalah sebesar Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 700.000 (tujuh ratus ribu rupiah) per bulan tergantung pada indeks harga kemahalan daerah lokasi perguruan tinggi terpilih.
Sedangkan besarnya bantuan biaya pendidikan yang dialokasikan kepada setiap penerima beasiswa adalah sebesar Rp 800.000 (delapan ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 2.000.000 (dua juta rupiah) per semester.

Persyaratannya adalah sbb:
1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat yang dijadwalkan lulus pada tahun 2010;
2. Berprestasi dan orang tua/wali-nya kurang mampu secara ekonomi;
3. Calon penerima beasiswa mempunyai prestasi ditunjukkan dengan surat yang diketahui oleh Kepala Sekolah

Info selengkapnya dapat diakses di disini

Program 100 hari Departemen Pendidikan Nasional salah satunya adalah menyambungkan 17.500 sekolah di Indonesia ke internet. Dalam perkembangannya kini program in seperti dinyatakan oleh Mendiknas, M.Nuh telah melebihi target yang direncanakan. Belum genap 100 hari kini telah tersambungkan 18.358 titik sekolah yang sudah yang terkoneksi ke internet.(http://www.detikinet.com/read/2010/01/05/153309/1272097/328/18358-sekolah-tersambung-internet)

Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran saya selama ini. Dalam beberapa waktu terakhir kita telah banyak mendengar tentang pentingnya peranan ICT dalam dunia pendidikan. ICT menjadi media yang ampuh dalam menjembatani kesenjangan akses ke sumber-sumber informasi yang bermanfaat bagi pendidikan. Namun perlu diingat bahwa euforia pemanfaatan ICT ini harus disikapi secara berhati-hati. Saya menangkap kesan bahwa ICT telah cenderung dipakai sebagai jargon yang agak berlebihan. Perlu diingat bahwa ICT hanyalah perangkat/tools dan kita tak sepatutnya mendewa-dewakannya. Perangkat tak banyak berarti jika orang di belakangnya (man behind the gun) tak mampu memanfaatkan secara maksimal. Bagaimana jika seseorang di belakang meriam tempur akan menembak sasaran jika dia tak dapat menggunakannya? Perangkat internet, komputer atau perangkat teknologi lainnya hanyalah perangkat. Selama pengguna tak mampu menggunakan secara maksimal maka perangkat itu hanya akan menjadi onggokan. Pengadaan internet atau komputer adalah hal mudah tinggal buat anggarannya, pasang, selesai. Yang jauh lebih sulit adalah membudayakan pembelajaran ICT ini, seberapa banyak orang “belajar” dengan ICT dengan benar? bagaimana pemanfaatan ICT dengan benar? dan segudang pertanyaan yang sulit dijawab.
Saya teringat ketika seorang pakar berbicara tentang e-government, pemanfaatan ICT di pemerintahan. Ketika diterapkannya e-government diupayakan agar terjadi pengurangan biaya operasional dan peningkatan productifitas, low-cost high-productivity, yang dikhawatirkan sekarang terjadi justru sebaliknya, high-cost low-productivity karena kita dibebani kebutuhan pengadaan perangkat ICT dan disibukkan mengurusi pernik-pernik teknis.

Pemanfaatan internet dekade terakhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Media internet tidak lagi hanya sekedar menjadi media berkomunikasi semata, namun juga sebagai bagian tak terpisahkan dari dunia bisnis, industri, pendidikan dan pergaulan sosial. Khusus mengenai jejaring pergaulan sosial atau pertemanan melalui dunia internet, atau dikenal dengan social network, pertumbuhannya cukup mencengangkan. Sebagai contoh, situs Facebook kini telah memiliki sekitar 200 juta pengguna dengan lebih 1,5 juta penggunanya ada di Indonesia. Tren pemanfaatan social network ini sebenarnya menjadi peluang yang cukup menarik untuk dimanfaatkan dalam dunia pendidikan sebagai salah satu media pembelajaran. Dalam rangka memanfaatkan peluang tersebut Saya dan teman-teman PPPPTK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Matematika mencoba mengadakan pelatihan bertema Pemanfaatan Online Social Network sebagai Media Pembelajaran untuk para siswa. Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 4 Mei sampai dengan 6 Mei 2009. Kegiatan ini diisi dengan pengenalan Social Network di Facebook, juga dibuat sebuah group di Facebook dengan nama Edufezt Facebook Group.

Selain itu juga dibentuk beberapa account Edufezt di bebereapa tempat yaitu di

http://twitter.com/edufezt

http://plurk.com/edufezt

http://edufezt.wordpress.com

Informasi lengkap silahkan akses ke http://edufezt.wordpress.com

Tabel periodik (periodic table) unsur kimia merupakan pegangan wajib bagi siswa dalam belajar kimia. Unsur-unsur dalam tabel tersebut diatur berdasarkan struktur elektronnya sehingga sifat kimia unsur-unsur tersebut berubah-ubah secara teratur sepanjang tabel. Setiap unsur didaftarkan berdasarkan nomor atom dan lambang unsurnya. Tabel periodik standar memberikan informasi dasar mengenai suatu unsur. Ada juga cara lain untuk menampilkan unsur-unsur kimia dengan memuat keterangan lebih atau dari persepektif yang berbeda (wikipedia).

Seringkali unsur dalam tabel periodik ini harus dihafalkan, utamanya berurut berdasar golongan tertentu, karena dalam setiap golongan memiliki elektron yang sama sehingga sifat-sifatnya juga mirip. Ada beberapa trik untuk menghafal tabel periodik unsur kimia ini, diantaranya dengan menggunakan jembatan keledai tabel periodik. Selain itu siswa juga kadang menempel tabel periodik di dinding kamar sehingga mudah dilihat sewaktu-waktu dan supaya lekat dalam ingatan.

Di internet ada beberapa poster tabel periodik yang dapat didownload dan dicetak. Desainnya bermacam-macam, dari yang standar sampai yang lucu-lucu. Berikut ini di antaranya (klik pada gambar untuk memperbesar):

2

Dari talkshow saya kemarin di Pameran Pelangi Teknologi Pendidikan di UNY, tentang mobile learning khususnya untuk matematika, pagi ini dimuat di Kompas (regional Jogja). Berikut ini klipingnya.

mobile-learning-kompas

Menghapus Mitos sebagai Mata Pelajaran yang Sulit
Kamis, 18 Desember 2008

YOGYAKARTA, KOMPAS – Pusat Pengkajian dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika mengenalkan media belajar Matematika lewat telepon seluler. Media pembelajaran Matematika bernama mathematic mobile learning ini diharapkan bisa menjadi sarana untuk menambah pengetahuan umum matematika secara murah dan praktis. Pengembang mathematic mobile learning (MML) Muhammad Tamimuddin H mengatakan MML telah diluncurkan pada awal tahun 2008.

Masyarakat bisa mengunduhnya secara gratis melalui situs m.p4tkmatematika.com. Proses pengunduhan ini bisa langsung melalui telepon seluler atau komputer kemudian ditransfer ke telepon seluler, katanya dalam Pameran Pendidikan 2008 di Universitas Negeri Yogyakarta, Rabu (17/12). Tamimuddin menyebutkan, selain praktis, aplikasi ini juga murah.

Untuk proses pengunduhan lewat telepon seluler, misalnya, hanya diperlukan biaya pulsa sekitar Rp 100 per materi. Terdapat belasan materi dalam aplikasi ini. Satu materi rata-rata berukuran 100 kilobyte dan dapat diunduh secara terpisah. Menurut Tamimuddin, ide pembuatan aplikasi MML ini berawal dari semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informatika.

Dengan menyediakan sarana belajar di dunia maya, diharapkan masyarakat yang saat ini banyak menggunakan internet pun tertarik untuk memperdalam ilmu. Setidaknya, media ini menjadi alternatif lain di dunia maya, kata staf Media Teknologi Informasi dan Komunikasi Pusat Pengkajian dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika tersebut.

Aplikasi ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan umum matematika kepada orang awam. Sejumlah materi yang tersedia itu, di antaranya adalah Teori Phytagoras, Fraktal, dan Trigonometri. Teks dan gambar Tamimuddin mengatakan tampilan dan feature yang terdapat dalam aplikasi ini sengaja dibuat dalam format yang sederhana, yaitu hanya berupa teks dan gambar tanpa animasi.

Tujuannya agar ukuran data kecil sehingga biaya pengunduhan bisa ditekan dan cakupan pengguna luas. Kalau dibuat dengan animasi dan aplikasi yang besar ukuran datanya, saya khawatir tidak semua telepon seluler bisa membukanya, tutur Tamimuddin. Ke depannya, tambah Tamimuddin, media belajar MML akan dikembangkan tidak hanya pengetahuan Matematika saja.

Namun, juga pada mata pelajaran lainnya. Programmer Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Universitas Negeri Yogyakarta Aam Abraham Siang mengatakan, media baru tersebut bisa meningkatkan minat belajar masyarakat. Hal ini karena media belajar baru itu mampu menghapus mitos bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan.

Apalagi, kalau materi dibawakan secara menghibur, ucapnya. Selain itu, media belajar MML ini sangat potensial untuk memancing rasa ingin tahu dari masyarakat. Dari rasa ingin tahu tersebut, mereka akan berusaha untuk mempelajari lebih banyak lagi. Menurut Aam, sudah waktunya dunia pendidikan di Indonesia menggunakan teknologi informatika dan komunikasi. Hal ini untuk memenuhi zaman yang semakin menuntut manusia semakin cepat dan praktis. (IRE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/18/10524849/belajar.matematika.lewat.ponsel

Update: Ternyata ada juga liputannya di Harian Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas

mobile-learning-bernas

Siang ini sekitar Pukul 14.00 saya insyaallah akan mengisi salah satu acara talkshow di Pameran Pendidikan di Auditorium UNY yang diselenggarakan oleh mahasiswa Tehnologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2005. Pameran ini sendiri tema Pelangi Tehnologi Pendidikan bertempat di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta, akan berlangsung 16 – 18 Desember 2008.

Saya akan membawakan materi mobile learning, khususnya tentang pengembangan Mathematics Mobile Learning oleh PPPPTK Matematika.

ayat kursiAplikasi islami (islamic mobile application) berbasis Java untuk handphone/ponsel yang berisi Ayat Kursi ini dengan bacaan audionya, beserta transliterasi, terjemahan Bahasa Indonesia, Terjemahan Bahasa Inggris.
Versi Java MIDP 2.0

Download Aplikasi Ayat Kursi

“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.s.,al-Baqarah:255)

Ayat Kursi merupakan sebutan untuk Ayat Al-Baqarah ayat ke 255. Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa ayat ini merupakan ayat teragung dari Kitabullah (HR. Muslim).

Keutamaan Ayat Kursi adalah:

a. Bahwa ayat Kursi merupakan ayat yang paling agung di dalam Kitabullah secara umum karena ia memuat banyak sekali asma-asma Allah dan sifat-sifat-Nya.

b. Kesempurnaan Qayyûm-Nya, Qudrat-Nya, keluasan kekuasaan dan keagungan-Nya sehingga hal ini mengajak kita untuk mentadabburi dan merenungkannya.

c. Bahwa tidak terselubung dan luput satupun yang tersembunyi di muka bumi ataupun di langit oleh Allah Ta’ala “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.” Hal ini mengandung konsekuensi keharusan seorang Muslim untuk menghayatinya di dalam seluruh kehidupannya.

d. Menetapkan adanya syafa’at dan bahwa ia tidak akan dapa diraih kecuali dengan beberapa persyaratan, diantaranya idzin dan ridla-Nya terhadap hal yang disyafa’ati, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (Silsilah Manâhij Dawrât al-‘Ulûm asy-Syar’iyyah – Fi`ah an-Nâsyi`ah)

Menurut Ibnu Athiyah, yang dimaksud dengan kursi, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, adalah makhluk Allah yang agung yang berada di antara Arsy Allah swt, sedangkan Arsy Allah tentunya lebih besar berbanding kursiNya. Perbandingan antara keduanya seperti yang dituturkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Abu Dzar, “Bukanlah kursi Allah yang berada di Arsy Allah itu melainkan hanya seperti sebuah lingkaran besi yang dilemparkan di salah satu penjuru bumi”.

Ayat al-Kursi merupakan satu-satunya ayat yang dalam redaksinya ditemukan tujuh belas kali kata yang menunjuk kepada Allah swt. Enam belas diantaranya terbaca dengan jelas dan satu tersirat. Perhatikanlah terjemahan di bawah ini:

“Allah (1) Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia (2) Yang Maha Hidup (3) Kekal, (Tuhan) Tuhan yang terus menerus mengurus (4) (makhluk-Nya). Dia (5) tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (6) apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah (7) tanpa izin-Nya (8). Allah (9) mengetahui
apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu Allah (10), melainkan apa yang dikehendaki-nya (11). Kursi (pengetahuan/kekuasaan)-Nya (12) meliputi langit dan bumi. Allah (13) tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah (14) Maha Tinggi (15)
lagi Maha Besar (16)

Dianjurkan membaca ayat Kursi seusai setiap shalat fardlu, ketika akan tidur dan dibaca di dalam rumah agar mendapat perlindungan Allah dan terhindar dari syaithan.

Saya telah membuat aplikasi Islami berbasis Java untuk handphone/ponsel yang berisi Ayat Kursi ini dengan bacaan audionya, beserta transliterasi, terjemahan Bahasa Indonesia, Terjemahan Bahasa Inggris.

Dikompilasi dari berbagai sumber:

http://bungakehidupan.wordpress.com/2008/11/15/tafsir-ayat-kursi-al-baqarah-255/

http://ibnutarmidzi.multiply.com/reviews/item/22

http://www.unhas.ac.id/~rhiza/arsip/tarbiyah2/tarb-98/tar-1014.htm

Di era global ini kita dituntut mampu menghadapi globalitas yang tak terelakkan, tak terkecuali dan utamanya bidang pendidikan. Saat ini  mulai bermunculan sekolah-sekolah berstandar internasional. Salah satu faktor penting dari pengajaran era global tentunya adalah bahasa.
Pagi ini waktu blogwalking dan mampir ke blog nya dewi saya menemukan satu link tentang cara mengucapkan berbagai lambang, simbol, dan persamaan tersebut dari situs Using English for Academic Purposes. Cukup bagus untuk referensi. Semoga bermanfaat.

DEPDIKNAS saat ini telah meluncurkan banyak buku pelajaran gratis yang dapat di-download dari situs BSE (Buku Sekolah Elektronik) di bse.depdiknas.go.id. Buku dapat di-download, digandakan maupun disebarluaskan secara bebas (untuk kepentingan non-komersial).
Saat ini buku/ ebook pelajaran Teknologi Informasi juga sudah dapat di download gratis (kerjasama dengan Depkominfo). Silahkan download ebook TIK dari situs telkomspeedy. Berikut beberapa link download ebook mata pelajaran TIK (untuk SMA)

TIK-SMA-Kelas10smt1.pdf 11M

TIK-SMA-Kelas10smt2.pdf 6.2M

TIK-SMA-Kelas11smt1.pdf 8.6M

TIK-SMA-Kelas11smt2.pdf 7.3M

TIK-SMA-Kelas12smt1.pdf 6.5M

TIK-SMA-Kelas12smt2.pdf 8.4M

Masalah data memang menjadi permasalahan serius di negri kita ini. Tidak ada data resmi yang dapat menjadi acuan yang valid, pun untuk data pendidikan. Beberapa kali saya membuat tulisan tentang pendidikan dan selalu terbentur kesulitan ketika mencari data pendidikan di Indonesia.

DAPODIK (data pokok pendidikan) merupakan sebuah upaya merintis pendataan di dunia pendidikan yang dirintis oleh Pak Gatot HP semasa di Dikmenjur/BPKLN Depdiknas. Upaya pendataan yang tidak mudah mengingat luasnya wilayah Indonesia dan terlanjur carut marutnya data pendidikan kita. DAPODIK berisi data sekolah, siswa dan tenaga pendidik yang dikelola secara integratif. Saat ini konon sudah jutaan data terkumpul di server DEPDIKNAS. Ketika membuka situs DAPODIK ini sempat terpikir juga mengenai data-data detil dari siswa maupun guru yang dapat diakses secara bebas. Namun, waktu itu saya mendengar sendiri dari pak Gatot bahwa data detil hanya akan di-online kan dalam waktu sementara saja dan nantinya hanya akan dapat diakses secara terbatas. Namun entah ada keteledoran atau karena masalah birokrasi data-data sensitif ini ‘terselip’ dan masih bisa diakses secara bebas (apalagi ketika Pak Gatot tak lagi di BPKLN sehingga sangat mungkin penerusnya menjadi ‘tidak nyambung’ dengan visi beliau).

Selengkapnya

Film Laskar Pelangi konon mulai tayang 25 September ini. Saya belum tahu kapan bisa nonton. Yang pasti ini film yang saya tunggu-tunggu. Saya sendiri termasuk anak yang tumbuh dan besar di lingkungan kampung yang relatif sederhana. Dulu sekolah saya juga sekolah Muhammadiyah yang sederhana, awalnya berdinding gedeg, papan, atau seng. Dulu kalau pelajaran sekolah seringakali mengintip keluar kelas karena dinding seng nya berlubang cukup besar, trus kalau ada orang yang kenal dan kebetulan lewat di jalan di luar seng itu suka menyapa :-)

Seringkali kalau saya mengajar anak-anak di kampung selalu menekankan untuk tidak minder karena apapun; ekonomi, sosial, sekolah yang jelek, dll. (minder ini seperti penyakit yang selalu menghinggapi kami, anak-anak kampung). Ya, meski sekarang sekolah-sekolah kami sudah lumayan bagus (setidaknya lebih baik dari jaman saya) tapi dari sisi fasilitas memang masih jauh dari ideal. Guru-gurunya pun sekarang guru honorer semua, dengan semua berlatar belakang pendidikan Sarjana Agama yang harus mengajar semua bidang studi, dari pelajaran agama (Fiqih, Quran-Hadits, Akhlak) sampai pelajaran “berat” seperti Matematika dan IPA. Fasilitas juga minim, kalau ngajar masih menggunakan kapur dengan papan tulis usang yang kalau ditulisi akan berderit-derit. Pemerintah sendiri sepertinya juga masih kurang perhatian dengan sekolah-sekolah swasta seperti sekolah Muhammadiyah di tempat kami ini…

Saya sendiri berharap nantinya dapat melihat anak-anak akan mendapat pendidikan yang cukup layak mengingat banyak potensi yang saya lihat di mereka ini masih banyak yang belum tergali dan dieksplorasi. Namun meski dengan keterbatasan itu semua saya juga selalu berharap nantinya akan lahir laskar-pelangi di setiap generasi, disetiap pelosok negeri ini…

menarilah dan terus tertawa
walau dunia takseindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia…

Bicara plagiarisme dan pembajakan sepertinya tak habis-habisnya. Saya pernah menulis mengenai pembajakan beberapa blog yang dijadikan buku. Juga bagaimana saya tiba-tiba dihubungi orang yang katanya membeli CD saya yang saya sendiri tak pernah merasa menjualnya.

Bukan masalahnya saya atau teman-teman yang merasa korban plagiarisme ini gak ikhlas dengan hal-hal seperti ini, jika budaya kayak gini dibiarkan begitu saja maka akan merusak budaya ilmiah kita. Dan bicara soal budaya ilmiah, lebih menyesakkan lagi ternyata plagiarisme sudah menjangkiti lingkungan ilmiah juga. Haduhh.. Jika posting yang saya saya tulis dulu itu status plagiator nya adalah mahasiswa, ternyata ada juga plagiator yang berstatus dosen, dan yang jadi korban notabene juga sesama dosen, yaitu pak Romi.

Benar-benar memprihatinkan..

Beberapa waktu lalu saya coba mendownload ebook (buku sekolah elektronik) DEPDIKNAS yang ternyata sulit sekali, lambat dan harus melalui prosedur mengisi formulir macam-macam. Setelah beberapa kali berusaha, saya dan teman-teman akhirnya dapat juga mendownload beberapa ebook (khususnya buku sekolah matematika). Rencananya kami akan kumpulkan semua ebook, dan kalau ada rejeki, kami akan berusaha mencetaknya untuk dijual murah (kalau bisa gratis). Mudah-mudahan ada dukungan.

Oya, bagi rekan-rekan yang kesulitan mendownload ebook BSE dari situs resminya, coba saja mendownload dari tempat lain. Khusus untuk matematika silahkan download dari p4tkmatematika.org/downloads atau bse.invir.com


Matematika Jenjang SD

Matematika Jenjang SMP

Matematika Jenjang SMA/SMK

Berita terkait:
Ibu-ibu protes ebook sekolah

Selama 2 minggu ini saya menjadi panitia (sekaligus salah satu pemateri) DIklat Guru SMP Lanjut Nasional. Hari kamis, 10 Juli kemarin ada yang sedikit lain dari diklat ini yaitu salah satu materi yang cukup menarik yaitu mengenai seputar kebijakan pemerintah mengenai PTK dan yang menajdi perhatian tak lain adalah sertifikasi guru. Yang lebih menarik lagi yang membawakan materi juga cukup istimewa, yaitu langsung oleh Dirjen PMPTK Depdiknas, Dr Baedhowi. Kayaknya jarang deh ada diklat kami yang materinya disampaikan pejabat Eselon I.

Pada bagian awal disampaikan beberapa keprihatinan tentang guru ini, seperti data survey di mana guru yang ternyata tidak banyak menjadi idola siswa (58%), masih kalah dengan orang tua (90%) bahkan teman sebaya (80%). Juga tingkat pendidikan guru di mana belum ada 50% guru berpendidikan S1/DIV (seperti disyaratkan UU Guru dan Dosen). Jumlah guru sekitar 2.783.321 orang, yang berpendidikan S1/D-IV & lebih tinggi 1.124.837 orang (40,4 %), yang belum berpendidikan S1/D-IV 1.658.484 orang (59,6%).

Khusus mengenai sertifikasi ini disampaikan Pak Dirjen bagaimana rumit dan sensitifnya masalah sertifikasi guru ini. Banyak sekali permasalahan seputar ini, misalnya banyaknya sertifikat aspal, pengisisan data yang tidak akurat, dsb.
Ada beberapa pesan untuk para guru dalam rangka sertifikasi ini, misalnya jangan terjebak untuk mencari sertifikat (seminar dsb) karena poinnya sangat kecil. Lebih baik guru banyak menulis karya. Beliau mencontohkan saat ini ada KTI Online yang bisa diikuti para guru (http://ktiguru.org). Selain itu banyak peserta diklat yang menanyakan kenapa yang bersangkutan sudah di-sertifiaksi tapi belum mendapat tunjangan profesi. Dalam kaitan ini Pak Dirjen menyarankan bagi guru yang mendapati masalah-masalah serupa untuk menghubungi Direktorat Profesi Pendidik Kompleks DEPDIKNAS JL. PINTU I, Senayan, GEDUNG D, Lantai 14, Telp 021-57974127., 021 -57974121 atau 021-57974122.
Sedangkan yang bermasalah dengan NUPTK dapat menghubungi LPMP setempat atau hotline 021-32490330.

Meski sesi cukup lancar, materi ini cukup membuat repot penanggung jawab diklat dan panitia karena jadwal harus menyesuaikan ulang dan serba mendadak. Berita ini sengaja saya posting semoga bermanfaat terutama bagi guru yang sedang mengurus sertifikasi.

Saya banyak menemukan beberapa perilaku yang sama dari beberapa diklat yang kebetulan saya bawakan materinya. Dari beberapa perilaku peserta saya bisa mengambil kesimpulan (yang mungkin subyektif) kalau budaya membaca kita sungguh sangat kurang dan cenderung takut berinisiatif. Beberapa kali dari peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat teknis dan terkadang pertanyaaan serupa sebenarnya sudah diajukan peserta lain.  Karena saya mengajar materi teknis semisal membuat blog, saya pun membuat modul yang sudah saya rancang secara urut, langkah per langkah. Yang membuat saya heran adalah untuk mengerjakan langkah-langkah ini saya harus menuntun hampir secara personal. Saya seringkali menunjukkan modul di halaman ke sekian untuk langkah tertentu dan tinggal mengikuti, tapi kebanyakan tetap tidak mau membacanya dan lebih suka praktek mengikuti instruktur dan bertanya kalau ada kesulitan. Tidak jarang malah mereka mengikuti langkah yang dipraktekkan dan menulis langkah tersebut tanpa membuka modul. Waduh, padahal saya yakin di modul tersebut lebih detil bahkan disertai ilustrasinya. Kayaknya memang kultur (pendidikan) kita seperti itu.

Tak sengaja, waktu break istirahat beberapa instruktur senior ternyata memperbincangkan hal yang sama…

Kemarin saya ngobrol dengan teman saya perihal anak-anak yang akan mengikuti lomba macapat untuk tingkat SD. Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah kurangnya perangkat yang memadai pada saat pembinaan. Secara sekarang ini juga sulit mencari orang yang mampu nembang macapat ini.

Saya akhirnya coba carikan di internet siapa tahu ada banyak MP3-nya sehingga bisa dipakai belajar anak-anak. Saya sudah nemu beberapa di antaranya disini. Sebenarnya kalau dihayati bener-bener, tembang-tembang ini ternyata penuh nasehat berharga.

Sambil cari-cari MP3 yang lain, saya iseng mbuat ringtone dari salah satu lagu macapat ini. Saya buat dalam format amr. Kalau anda suka silahkan download ringtone macapat disini

Sejak hampir dua tahun yang lalu saya sudah beberapa kali mendengar akan adanya buku gratis yang akan disediakan pemerintah (Depdiknas) untuk mengatasi mahalnya buku pegangan siswa, kabar yang tentunya cukup menggembirakan. Saya juga mendengar sudah ada banyak buku yang “dibeli” oleh pemerintah untuk kemudian disebarluaskan dengan gratis. Namun, sudah berkali kali saya mencari informasi mengenai keberadaan buku-buku yang katanya bebas didownload ini, tapi tidak pernah menemukannya. Saya terus terang menjadi agak skeptis dengan program ini.

Hari sabtu kemarin saya tidak sengaja melihat iklan di TV tentang hal ini. Ada sebuah iklan dari Depdiknas menyebutkan bahwa sudah ada 49 judul buku yang telah dibeli pemerintah yang sekarang sudah dapat didownload secara gratis di situs http://bse.depdiknas.go.id. Saya kembali agak bersemangat. Namun ketika saya mencoba membuka web tersebut ternyata lambat sekali, bahkan sempat error. Saya lalu iseng membuka dari alamat ebook.depdiknas.go.id baru bisa terbuka. Selain lambat saya lihat beberapa jenjang masih belum lengkap.
Saya mencoba mendownload beberapa buku, utamanya yang matematika. Baru dapat beberapa judul, itupun harus penuh kesabaran menunggu byte demi byte transfer data. Seharusnya pihak Depdiknas menyediakan server yang memadai untuk download ini. Saya membayangkan jika saya yang bandwith nya cukup besar saja masih kewalahan mendownload apalagi teman-teman lain yang bandwithnya kecil, ditambah lagi jika nanti lebih banyak lagi masyarakat yang akan mengakses situs ini.

Saat ini saya dan beberapa teman tengah mengumpulkan ebook-ebook ini. Semoga lebih banyak buku lagi yang dapat didownload dan nantinya dapat disebarluaskan ke lingkup yang lebih luas.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 265 other followers