Entah bagaimana rasanya ketika banyak perasaan yang tercampur aduk ketika mengetahui salah satu orang yang kau cintai kemudian pergi, untuk selamanya. Hal itu yang saya alami. Kesedihan tak terkirakan tapi juga ada rasa bahagia, kehilangan yang besar tapi juga keiklhasan, entah apa lagi.
Baru beberapa jam dan beberapa menit sebelumnya saya berbincang dengan Bapak, dan dalam waktu yang tak terlalu lama kemudian ia pergi selamanya.

Ketika muda barangkali sebagian besar kita cukup angkuh untuk ingin hidup mandiri tanpa bantuan siapapun termasuk orang tua. Tapi semakin lama perasaan angkuh itu seperti sebuah kebodohan saja, setidaknya seperti yang saya alami. Bahkan ketika saya mulai hidup dari penghasilan sendiri, kuliah dengan biaya dari beasiswa, atau apapun hal lain yang harusnya membuat pembenaran akan keangkuhan bahwa kita dapat hidup mandiri. Semakin hari semakin saya merasakan bahwa saya tak bisa lepas dari bayangan bapak dan ibu saya. Ketika semakin “berumur” baru saya menyadari betapa besarnya kecintaan mereka. Banyak hal yang telah diberikan oleh mereka baik yang kasat mata (perhatian, materi, pelukan, dll) dan banyak hal lain yang tak pernah kita sadari, doa-doa yang selalu mereka panjatkan setiap waktu.

Bapak bagi saya adalah sosok penyayang. Bapak bukan tipe yang ingin dilayani dan tidak mau membebani orang lain, bahkan kami, anak-anaknya. Justru sebaliknya, bapak selalu berupaya melayani kami, ingin selalu membantu apapun kesulitan kami. Semakin sepuh bapak malah semakin berusaha membahagiakan kami, dengan segala upaya. Beliau habis-habisan membantu saya maupun kakak untuk membangun rumah yang ideal bagi kami, beliau sendiri tinggal di rumah kayu yang sejauh ingatan saya tak pernah berubah sejak saya lahir.
Karena bukan orang yang kaya, bapak tak memberikan banyak uang dan materi, tapi memberikan kami banyak cinta, hal yang kemudian saya sadari sebagai pemberian yang tak tergantikan oleh harta apapun. Semakin lama semakin besar cinta yang saya rasakan hingga hari-hari terakhirnya.
Dan entah kekuatan apa yang membawa saya pulang mendadak pagi itu, sekedar berbincang singkat adalah kesempatan yang Allah berikan bagi saya sehingga syukur tak terkira karenanya. Dan detik-detik terakhir ketika Bapak menghadap-Nya, tepat dihadapan saya yang hanya mampu berdoa dan mengusap keringat di dahi, pipi dan wajahnya sertqa menuntun membaca Asma Allah. Akhirnya Bapak kembali kepada Sang Pencipta dengan damai.

Bapak telah pergi selamanya namun cinta itu selalu lekat di hati kami semua. Hati ini mungkin menjadi terasa hampa dan kosong, tapi di sisi lain ada rasa ikhlas karena semua bukan milik kita. Tak hendak terus-terusan menangisi kepergiannya, karena itu tak akan berarti apapun. Yang saya berharap adalah Allah meringankan lisan dan hati kami untuk dapat mendoakan Bapak dan Ibu.
Dan sepanjang jalan ketika mengantar jenazah Bapak ke tempat peristirahatan terakhir, menyaksikan tubuh itu diturunkan ke liang lahat, ditutupi tanah, sedikit demi sedikit, kembali seperti mengingatkan sekali lagi bahwa Bapak benar-benar telah pergi selamanya. Lailahaillallah, Semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Sedih ketika ditinggalkan, tapi syukur dapat mengantar kepergiannya dengan damai, rasa menyesal karena selama ini belum banyak membahagiakan, dan beragam perasaan mengaduk-aduk. Namun kami sebagai anak sudah ikhlas melepas, sudah ridho bahwa sebagai seorang ayah telah menunaikan tugasnya lebih dari yang kami butuhkan. Tak banyak warisan harta tapi warisan cinta Bapak melebihi segalanya. Engkau mungkin tak akan tahu berapa besar engkau mencintai dan dicintai seseorang sampai kemudian ia meninggalkanmu.
“Hai jiwa yang tenang (muthmainah)! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai! Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku…”
(Al-Fajr: 27-30)

About these ads