Beberapa hari ini saya sibuk mengumpulkan dokuman untuk pengajuan angka kredit. Ternyata rumit dan melelahkan mengingat saya belum pernah mengajukan karena saya baru akan masuk ke fungsional (baru proses seleksi). Banyak sertifikat yang ternyata sudah hilang, banyak jam mengajar yang tak masuk hitungan karena tidak direkap dan diarsipkan dengan baik. Salah saya sendiri :-(

Namun bukan itu yang akan saya tulis, saya akan bicara tentang menjalankan tugas. Sebagai pegawai di lingkungan kediklatan saya tentu harus menjalankan tugas dalam rangka meningkatkan SDM pendidikan khususnya bagi guru. Mengajar bagi saya sudah menjadi satu panggilan, begitu juga dengan menulis (Keluarga saya adalah keluarga guru dari kakek buyut saya). Sudah jamak kalau dalam pembicaraan teman-teman yang di fungsional di kementerian manapun tentang poin (angka kredit) dan koin (honor). Profesionalitas seringkali terkait erat dengan penghargaan. Aktifitas di fungsional biasanya dihargai dengan poin dan koin, ada yang poin saja (koinnya kecil) dan sebaliknya atau duaduanya. Namun, bagi saya sendiri apa yang saya lakukan sedapat mungkin bukan karena faktor-faktor eksternal tersebut, tapi lebih kepada keinginan yang tumbuh dari hati, keinginan berbagi ilmu, keinginan membantu, keinginan agar semua menjadi lebih baik, semua ini termasuk saya sendiri, SDM pendidikan kita dan tentu bangsa ini.
Soal koin saya lebih nyaman jika saya secara finansial lebih mapan sehingga aktifitas mengajar atau kegiatan fungsional lain tak lagi menjadi ajang kejar setoran. Ada banyak jalan untuk mencapai kemapanan finansial (salah satunya menekuni bisnis online hehe). Bukankah lebih tenang kalau menagajar tanpa harus berhitung soal honor?

Saya pernah punya dosen yang begitu mengesankan dalam mengajar. Tak pernah bolong mengajar, materi yang diajarkan selalu menarik dan mencerahkan. Mengajar bagi beliau sudah menjadi kehidupannya. Secara finansial honor mengajar tak ada apa-apanya, dia memiliki belasan perusahaan. Cita-cita saya sih mudah-mudahan suatu saat akan mencapai financial freedom, tapi bukan dari pekerjaan akademis saya ini sehingga saya akan lebih fokus tanpa pamrih yang macam-macam.
Soal poin atau angka kredit, kenapa saya masih juga mengais-ngais dokumen lama untuk diajukan? Angka kredit tentu saja akan berpengaruh bagi kenaikan jabatan dan gaji, namun bukan itu yang menjadi perhatian utama saya. Angka kredit ibarat laporan dari kegiatan kita dan bagian dari profesionalitas dan bukan sekedar mengejar kenaikan tunjangan. (Apalagi kalau Anda tahu, tunjangan fungsional tidaklah besar).

Bagi saya, motivasi yang lebih besar dalam mengajar dan menulis menyebarkan ilmu dan kebaikan. Dan semakin ilmu tersebar makin bermanfaat bukan? Dan lebih dari itu mudah-mudahan ilmu bermanfaat itu menjadi amal jariyah yang diridhai tuhan, bukankah itu jauh lebih berharga dari  sekadar poin atau koin. :-)

About these ads