Waktu berbelanja perlengkapan bayi menjelang kelahiran anak saya, saya berkata setengah guyon dengan istri:”Indonesia ini apa tidak mampu mbuat apa-apa ya, bahkan sampai popok-pun produk impor semua!”
Tapi saya sebenarnya bukan guyon, ini adalah ungkapan kegerahan saya. Indonesia ini negara besar dengan kekayaan alam berlimpah, manusia yang kreatif dan cerdas, sejarah panjang perjuangan melawan kolonialisame penuh kepahlawanan. Namun kini, setelah setengah abad lebih, untuk urusan popok dan tusuk gigi saja kita hanya mampu menjadi konsumen. Apalagi dengan perangkah hi-tech macam komputer, HP, atau motor, mobil apalagi pesawat!
Yah, kegerahan yang akhirnya menjadi energi yang mendorong saya untuk tergerak menuju TPS dan mencontreng salah satu capres. Saya tahu, kemungkinan pilihan saya ini akan berbeda dengan pilihan mayoritas warga ini, dan sangat mungkin kalah telak, sebagaimana pilihan saya pada pilpres putaran pertama, 5 tahun lalu. Ketika masyarakat masih melihat sosok, lebih tersihir dengan pencitraan, saya tak terlalu berharap banyak seperti 5 tahun lalu.
Saya teringat ketika mulai memanasnya isu reformasi, pertengahan 90-an, sampai pemilu 97, semua anggota MPR bulat memilih pak Harto. jika saja waktu itu ada pilihan presiden langsung, saya yaqin pak Harto akan menang mutlak bahkan meski tanpa diintimidasi sekalipun. Saya ingat ketika banyak orang awam begitu benci dengan demonstrasi mengkritik pak Harto. Ya, segai orang awam tentu mereka tidak mengerti banyak seluk beluk politik. Semua hanya berubah ketika reformasi mendapat angin ketika ada krisis. Orang banyak baru tahu kondisi sebenarnya. Salah satu presiden hebat yang dipunyai negri ini-pun, Habibie, tak juga lepas dari citra yang kadung disandang sebagai orang orde baru. Sekiranya dipilih langsung, saya yakin Habibie mungkin hanya akan mendapat tak lebih 15 persen dukungan. Meski setelah sekian tahun kemudian orang merindukan kepemimpinan Habibie. Saya ingat betul wawancara Habibie ketika ditanya mengapa IPTN akhirnya kandas, yang dijawab karena tekanan hutang IMF.
Saya tak bermaksud menyamakan antara sekarang dan masa-masa yang lalu. Silahkan ditelaah dan direnungkan sendiri. Kini, Rakyat sudah menjatuhkan pilihan. Saya juga tak mau men-judge apakah rakyat Indonesia masih belum bisa memilih pemimpin karena pendapata saya bisa jadi sangat subjektif. Pilihan rakyat ini tentu saja harus dihormati sebagai pembelajaran kita berdemokrasi. Apakah tepat atau tidak pilihan kita itu, kita mungkin tak akan segera mendapat jawaban karena mungkin baru akan terjawab 5, 10 atau 20 tahun kedepan atau lebih. Atau mungkin jawabannya bukan sesederhana “tepat” atau “tidak tepat”.
Meski agak merasa masygul dengan pemilu ini, saya berharap dengan pilpres ini, dengan berbagai kampanye, iklan, jargon, dan semua informasi yang berseliweran ini menjadikan kita belajar, meski sepersekian pelajaran yang masuk di otak dan hati. Kita sedikit banyak tahu apa itu neolib, seberapa hutang kita, apa itu kemandirian dan harga diri bangsa, dan banyak lagi. Saya juga bersyukur tak ada kekerasan berarti selama pilpres ini. Ini tentu satu pelajaran penting juga.
Terakhir saya tak tahu apakah harus optimis atau pesimis, saya hanya berharap, tahun-tahun ke depan negri ini akan dibawa kepada kondisi yang lebih bermartabat dan lebih memiliki kemandirian, bukannya menjadikan Barat dan Amerika sebagai kiblat.

About these ads