Sejak booming novel “Ayat-Ayat Cinta” yang disusul dengan booming filmnya, saya terus terang tidak terlalu mengikuti perkembangan. Sampai sekarang-pun saya belum pernah membaca novel AAC, padahal saya sudah diberitahu teman saya tentang novel ini sejak novel ini belum booming. Begitu pula dengan filmnya. Meski sebenarnya tinggal memutarnya saja (di komputer), sampai saat ini, saya kok gak ada greget untuk menontonnya dan hanya melihat sekilas.

Saya ingin menyoroti fenomena AAC ini yang nampaknya diikuti dengan film atau sinetron dengan tema serupa (ambil contoh sinetron Munajat Cinta yang katanya baru mau launching). Di tengah kelesuan sinema Indonesia, kehadiran sinema macam ini tentu cukup membuat kesegaran baru, tapi di sisi lain sinetron yang konon ber- “nuansa” islami macam ini menurut saya patut dicermati bahkan dikritisi.

Namun, sinema AAC, Munajat Cinta, atau sejenisnya, menurut saya tidak bisa begitu saja dianggap sebagai sinetron islami. Mengapa? Bagi saya, Islam mencakup banyak hal dan tidak sekedar formal ritual semata. Lepas dari sisi artistik dan kesusasteraan, ada beberapa bagaian dari sinema ini yang terasa kurang pas kalau dilihat dari sisi pemahaman agama. Misalnya mengenai relasi antar lawan jenis bukan muhrim. Bahkan di cuplikan sinetron Munajat Cinta saya sempat lihat adegan bopong-membopongnya juga, duhh. Meski katakanlah di film dikisahkan bahwa mereka adalah suami-istri, di dunia nyata kita semua tahu itu tidak demikian (saya tidak akan se-kritis ini bila aktor dan artis, di dunia nyata-nya memang resmi suami-istri).

Saya ingat waktu saya masih kecil ada film yang cukup heboh, judulnya Catatan Si Boy. Saya sempat membaca sebuah tulisan yang mengkhawatirkan terkait fenomena film tersebut. Film itu mencitrakan anak muda yang “gaul” tapi rajin sholat, di mobilnya bergantung tasbih, tapi anak muda ini juga getol sekali berpacaran, bahkan film ini lebih banyak menonjolkan sisi berpacaran dan hura-huranya. Di tulisan ini disinyalir bahwa generasi muda yang disebut sebagai “generasi Si Boy” nampaknya menjadi menggejala, generasi di mana mereka hidup dengan keduniawian tapi di lain tempat dengan menambah stempel atau label agama seolah olah kehidupan duniawi itu sudah impas dengan aktifitas keagamaan di lain tempat. (Saya pernah juga membaca kolom yang mengisahkan koruptor kelas kakap yang ketika pensiun lalu membangun masjid megah dan tiap hari wirid di masjid ini seolah berkata: ” Ya, dulu aku korupsi, tapi sekarang sudah tobat dan kubuatkan mesjid megah untuk Tuhan, jadi dosa korupsi itu sudah impas..”. Kebiasaan menyuap ternyata dibawanya juga ke ranah keagamaan, bahkan Tuhan-pun, dalam pikirannya, bisa disuap).

Dalam kaitan ini saya merasa gejala sinema “islami” macam AAC atau Munajat Cinta dsb (saya tekankan bahwa ini di sinema, lain soal ketika membicaarkan novel atau sastra) justru berdampak kurang baik bagi pemahaman keagamaan kita. Lihat saja, banyak aktor dan aktris yang kesehariaannya sangat berbeda dengan apa yang diperankannya di film atau sinetron. Banyak unsur keagamaan yang muncul di sana hanya dipakai sebagai sekedar pelengka atau stempel dengan substansi yang kosong melompong.
Kita seperti terjebak di ranah formalistis, ritual dan seringkali kosmetis. Saya khawatir sinema-sinema macam ini justru memberi andil yang negatif dan salah bagi pemahaman agama.
Salut pada sineas yang mampu membuat sinetron macam Para Pencari Tuhan-Dedy Mizwar dkk, yang tanpa banyak simbol-simbol formal tapi sarat dengan substansi.

About these ads