divide_resize.jpg

Suatu ketika saya memberikan ceramah singkat (kultum) di masjid di kampung saya. Waktu itu saya memberikan sedikit wacana untuk berfikir bagaimana mempersiapkan anak-anak sebagai generasi baru dalam menghadapi perubahan ke depan. Saya tidak bicara masalah internet, Web 2.0, atau apapun yang berbau hi-tech. Saya berusaha “menurunkan” level bahasa saya se-sederhana mungkin. Namun, sebagian besar audiens nggak nyambung dengan apa yang saya maksud. Saya berfikir, apakah ini yang disebut kesenjangan informasi. Audiens tidak memahami bahasa saya, saya-pun gagal menyampaikan apa yang saya maksudkan dengan bahasa yang tepat bagi mereka.

Jadi inget tulisan Om Taufik, katanya kalo di Iran strategi dakwah-nya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bisa memahami ilmu, sementara Ulama Indo memilih untuk menyederhanakan ilmu supaya bisa dijalankan masyarakat. Dua pilihan yang sama cerdasnya tapi juga sama sulitnya…

Menurut saya, ini bukan masalah siapa pintar atau bodoh (banyak di antara audien mungkin jauh lebih pintar dari saya), ini lebih kepada masalah siapa yang punya akses informasi, siapa yang lebih dulu tahu. Dan inilah realita sekarang. Saya sendiri yang bergelut di dunia IT ketika setiap browsing atau membaca blog, setiap kali itu pula saya selalu mendapati informasi baru dan merasa setiap saat itu pula sangat jauh tertinggal. Kesenjangan itu-pun akhirnya bukan saja masalah infrastruktur tapi ternyata juga paradigma, pola pikir, mentalitas. Kita akan semakin sulit ‘menyederhanakan ilmu’ untuk dapat dipahami orang kebanyakan. Karena jarak itu semakin jauh.
Saya berfikir bagaimana dengan orang-orang di kampung? Sebagian besar penduduk kita?

Kesenjangan informasi, di era sekarang, lebih banyak dipicu kesenjangan digital (faktanya, media informasi lebih banyak berbasis digital). Internet sebagai sebuah revolusi informasi digital hanya dinikmati sebagaian orang. Diperkirakan beberapa waktu ke depan penduduk dunia akan terbelah menjadi dua golongan besar, yang memiliki dan menguasai akses informasi dan yang tidak. Istilah kerennya nanti akan terjadi ‘apartheid informasi’, atau ‘apartheid komunikasi’. Karena informasi berkait erat dengan pendidikan, kesenjangan ini menurut saya akan juga akan berpengaruh besar bagi dunia pendidikan. Kalau dulu ‘umur’ sebuah karya ilmiah yang bisa menjadi rujukan akademis rata-rata 5-10 tahun, mungkin ke depan usia karya ilmiah bisa jadi kurang dari 1 tahun! (artinya sebuah penelitian bisa jadi sudah out of date dalam waktu setahun karena sudah banyak penelitian sejenis yang menghasilkan kesimpulan/hasil yang sama sekali baru).

Jadi dalam tahun-tahun ke depan, paradigma dan praktik pendidikan akan mengalami pergeseran spektakuler. Lalu, apakah kita siap? Siapkah anak didik kita? Siapkah guru-guru kita? Siapkah masyarakat kita?
Menurut saya, anak didik kita lah yang paling siap? Dan disuruh atau tidak, sebagian mereka sudah terjun ke sana. Tapi pertanyaan besarnya kemudian adalah, kalau anak-anak kita sudah siap dan sudah ‘terjun’ ke sana, siapa yang akan menjadi “guru”, yang menjadi guide mereka?Akankah mereka bereksperimen dengan di kegelapan dan mata tertutup di tengah dunia digital yang di mana kebaikan dan keburukan dengan mudah terpampang di depan hidung kita…
Dan kesenjangan itu-pun nampaknya akan semakin menganga lebar.

About these ads