“Biarkan kegelapan itu datang. Tak perlu lari tak perlu sembunyi, karena kita akan nyalakan cahaya”

Kata-kata ini saya tulis di buku yang saya kasih sebagai hadiah bagi anak teman saya. Saya sudah kepikiran untuk memberikan kado ulang tahun ini sudah agak lama dan dengan alasan khusus. Anak teman saya ini terlahir buta-tuli karena lahir prematur. Jarang-jarang saya menanyakan kabar anak teman saya ini karena saya tidak tega jika mendengar perkembangan pertumbuhannya. Dalam usia genap setahun tak banyak kemajuan yang signifikan. Tak bisa membayangkan bagaimana dunia anak ini, gelap dan sepi. Tak dapat membayangkan apa yang menjadi persepsinya ketika menghadapi dunia, mungkin hanya dapat merasakan sentuhan. Tak dapat membayangkan bagai mana bingungnya orangtuanya untuk membesarkan dan mendidiknya.
Buku yang saya beri sebagai kado ini juga saya pilihkan khusus, tentang biografi singkat Helen Keller. Membaca halaman demi halaman buku inipun saya seperti merasa tercekat di tenggorokan. Buku berjudul “Wanita Pembawa Cahaya” ini bercerita dengan dua tokoh wanita sebagai sentral, Hellen Keller yang buta-tuli dan Anne Sullivan, guru luar biasa yang mendedikasikan hidup untuk menemani dan membimbing Helen. Buku yang berkisah bagaimana anak buta-tuli akhirnya menjadi inspirator jutaan orang. Tak hanya pandai membaca, namun juga mampu menulis dan berpidato!
Kembali ke teman saya tadi, dalam obrolan singkat saya merasakan kegalauaan dan kebingungan mengingat di negara kita ini orang cacat masih menjadi semacam warga kelas dua. Saya teringat salah satu tetangga yang menderita tuna daksa, sejak kecil sudah bersekolah di sekolah reguler (bukan SLB) di kampung sampai tingkat SMP dan mampu berkomunikasi dengan tulisan. Saya tidak tahu apakah sekarang dia masih melanjutkan pendidikan- yang notabene pasti akan sangat penuh bullying yang mengerikan baginya. Ada pula tetangga yang lumpuh dan hanya bersekolah sampai kelas 3an SD, ada juga anak yang terlahir cacat di wajahnya dan karenanya mungkin dia (dan utamanya orangtuanya) tak punya nyali sama sekali untuk mengenyam bangku sekolah dan hanya bermain di sawah atau di kebun. Sampai sekarang saya masih saja sering berfikir bagaimana anak-anak seperti ini mendapatkan hidup seperti orang lain, penghargaan yang layak, dan pendidikan. Saya merutuki diri karena hanya mampu prihatin tanpa pernah berbuat apa-apa.
Seperti permintaan teman saya, nampaknya sejauh ini saya hanya mampu memberikan doa. Dan mungkin doalah yang menjadi energi utama untuk dapat menjalani semuanya. Waktu berpamitan teman saya berbisik untuk banyak bersyukur, betapa saya dapat menimang bayi yang lucu dan sehat, sebuah anugerah yang sangat luarbiasa jika dipandang dari sudut pandang teman saya ini.
Semoga bayi anugerah Tuhan ini mampu menjalani hidup dan selalu mendapatkan lindungan dan bimbingan Yang Maha Pemberi Hidup, orangtuanya juga mendapat kekuatan untuk berjuang. Dan semoga para keluarga dan orang tua dengan anak-anak lucu dan sehat selalu bersyukur dengan memberikan bimbingan dan didikan dalam membesarkan anak-anak ini untuk membentuk generasi beriman dan berkualitas.

Tak ada tokoh puncak Indonesia yang memiliki riwayat kontroversi sedemikian rupa selain Gus Dur. Saya yakin banyak di antara anda yang menyanjung-nyanjung ada pula dari anda yang mencercanya. Tokoh yang lahir di lingkungan Islam tradisional tapi justru kerapkali dianggap berfikiran sangat liberal.
Dan Gus Dur, kamu bersarung orang yang pernah masuk istana, orang kampung yang pernah menjadi RI-1 pemimpin puncak negri ini, yang juga pernah jadi pemimpin NU, yan pernah hobi main Band, pernah jadi komentator sepak bola, dan segudang “profesi” yang tak lazim termasuk menjadi salah satu pendiri Yayasan Simon Perez, Israel.

Saya lahir dan dibesarkan lingkungan Muhammadiyah di masa dua organisasi Islam besar, NU-Muhammadiyah masih dalam posisi berhadapan, penuh kecurigaan dan saling menjelekkan. Gus Dur sebagai ikon NU tentu saja tak lepas dari pandangan dan anggapan miring dari warga Muhammadiyah kala itu, saya juga. Ketika beranjak dewasa dan mulai membuka cakrawala, memiliki banyak teman dari berbagai latar belakang, saya mulai melihat setiap orang memiliki karakter, sifat dan latar belakang yang beragam dan tentu saja itu menjadikan setiap orang memiliki ciri khas kemanusiaannya.

Setelah mencermati profil seorang Gus Dur, saya ternyata menemukan banyak hal unik dan penuh keteladanan. Gus Dur adalah ketegasan yang tampil dengan kesederhanaan, prinsip kuat yang tertampak dalam candaan, membahasakan penindasan dengan humor, meyampaikan visi dengan gaya yang terkesan urakan. Gus Dur adalah tokoh yang menghargai perbedaan dan tanpa pernah takut untuk mempertahankan prinsip meski harus melawan arus dan cercaan.
Banyak hal yang dapat dipelajari dan dipetik dari buku hidup seorang Gus Dur. Entah anda menganggapnya sebagai pahlawan atau penghianat, Gus Dur adalah fenomena yang mungkin akan sangat jarang terjadi di republik ini lagi.
Selamat jalan Abdurrahman Wahid, seorang manusia yang kini telah menutup buku, membawa segala ide impian yang teguh diperjuangkan. Entah Anda menganggapnya sebagai wali atau perusak akidah, kewajiban setiap muslim-lah untuk mengingat hal yang baik dari seorang yang telah tiada.
Gus Dur mungkin buta mata-fisiknya, tapi mungkin dia hanya segelintir dari kita yang mampu “melihat” dengan jernih melalui mata hatinya. Gus Dur mungkin lumpuh kaki fisiknya, namun mungkin jauh lebih perkasa dari kita, perkasa mempertahankan prinsip dan keyakinan sampai ajal menjemput.
Semoga Allah memberikan tempat yang layak di sisi-Nya.

kita semua pasti pernah kehilangan. Dari kehilangan kecil maupun kehilangan yang sangat berharga, dari kehilangan uang sdikit, kehilangan HP sampai kehilanga orang yang kita cintai.

Dari semuanya pastilah kehilangan itu menjadi hal yang tidak menyenangkan dan bisa jadi membuat kita terpukul. Tak jarang kehilangan itu kemudian menjadi awal kehilangan lain dan akhirnya meruntuhkan segalanya. Ada pula dari kehilangan itu kta menjadi belajar untuk lebih baik sehingga kehilangan itu akhirnya mendapatkan ganti yang bisa jadi lebih baik lagi. Ada keluarga yang ketika ditinggal mati salah satu anggotanya justru mrmbuat kekeluargaan menjadi pecah berantakan karena kehilangan sosok pemersatu atau karena masalah warisan. Ada juga keluarga yang tadinya kurang harmonis, ketika ditinggalkan sosok yang dicintai akhirnya semua anggota keluarga mendapatkan hikmah karena belajar untuk saling mendukung satu dengan lainnya, dari semula tidak peduli menjadi saling lebih mencintai. Semua tentu akan sangat bergantung kepada bagaimana kita menyikapi kehilangan itu.
Ada yang menyalahkan diri sendiri karena kesalahan diri sendiri, ada pula yang malah menyalahkan takdir.

Kehilangan, seperti juga yang menimpa saya dan keluarga, sempat membuat shock dan tak tahu harus bersikap apa. Sampai akhirnya saya harus sadar bahwa kehilangan itu sudah di luar kekuasaan kami. Kami pun harus belajar meyakinkan diri bahwa jika ini karena salah dan dosa kami maka kami haruslah selalu istighfar memohon ampunan. Namun jika ini semua memang murni kehendak-Nya maka kami harus bisa ikhlas menerima semuanya karena Dia-lah pemilik semesta raya ini.

Kehilangan juga menyadarkan untuk selalu mensyukuri apa yang ada dan kita miliki saat ini, untuk menjaganya dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai kita baru menyadari ketika semua itu sudah tak ada di sisi kita lagi. Kehilangan salah satu keluarga yang dicintai justru hendaknya menjadi motivasi untuk lebih peduli dan lebih mencintai keluarga yang masih ada.

Dan perlu diingat bahwa sebesar apappun kehilangan kita, ada satu hal yang harus kita jaga jangan sampai ikut hilang, yaitu harapan. Harapan bahwa Allah akan memberikan semua hal yang terbaik kepada kita, bahwa kasih sayang-Nya jauh lebih besar dari kehilangan yang kita alami.

Bagi para pengguna twitter, tentu tak akan dapat lepas dari memantau status teman-temannya ataupun meng-update statusnya sendiri, kapanpun dimanapun. Berkat adanya teknologi seluler maka hal ini sangat dimungkinkan. Kita dapat mengakses twitter melalui ponsel dan membaca ataupun menulis update disana. Tak hanya menggunakan WAP/GPRS, sekarang mulai banyak layanan yang juga semakin beragam salah satunya akses Twitter dengan SMS.

Three adalah salah satu provider yang menyediakan layanan SMS Twitter. Saya hari ini mencoba layanan ini dan sengaja beli kartu SIM 3. Aktivasi kartu ini cukup mudah juga dalam penggunaan SMS Twitter-nya. Untuk mengaktifkan Twitter, alias login, cukup dengan mengirim SMS berisi REG dan dikirimkan ke nomor 21212. Setelah beberapa saat akan ada konfirmasi apakah login diterima atau tidak. Jika login sudah diterima, kita dapat melakukan aktifitas ber-twitter ria seperti biasa hanya saja medianya memakai SMS. Untuk mengirim tweet, tinggal dituliskan saja seperti SMS biasa dan dikirim ke 21212. Untuk mem-follow seseorang cukup diketikkan ON dan dikirim ke 21212.
Pengalaman menggunakan SMS Twitter dari 3 ini cukup memuaskan. Saya memposting via SMS dan dalam beberapa saat sudah tertampil di twitter. Begitu pula beberapa teman yang saya follow otomatis tweet-nya masuk ke HP saya.
Untuk biaya, saya baca-baca di internet kok berbeda-beda. Katanya SMS Twitter Three ini berbiaya Rp.50 setiap update, ada yang bilang Rp.250/hari. Kalau menerima tweet kita gak perlu bayar alias gratis. Pengalaman saya ternyata malah pulsa tak berkurang sama sekali baik saat mengirim atau menerima tweet.
Oya, kabarnya Three juga sudah mendukung fitur upload foto ke twitter via MMS (katanya berbiaya Rp.150/MMS). Namun ketika saya tanya ke CS-nya ternyata dia belum tahu. Kita tunggu saja berita lanjutannya.

Majalah Time secara reguler mengeluarkan daftar dengan kategori tertentu. Misalnya kategori orang berpengaruh,  atau daftar lainnya. Kini TIME mengeluarkan daftar 50 website terbaik versi mereka, yang terdiri dari beragam jenis web dari situs pencari, pertemanan, image sharing, dll. Barangkali banyak juga di antaranya mungkin anda belum pernah mendengar.

Baca Selengkapnya

Bisnis pendek-memendek URL nampaknya kian seru saja. Google dan Facebook dikabarkan akan melaunch situs pemendek URL nya. Situs URL shrinker milik Google akan beralamatdi goo.gl sedang punyanya Facebook ada di fb.me. Belum jelas layanan seperti apa yang bakal ditawarkan keduanya.

Turun gunungnya dua raksasa internet ini tak urung membuat bit.ly, layanan pemendek URL yang kini ngetop lantaran Twitter, harus pasang aksi. Hal ini mulai terlihat dengan ditambahkannya fitur custom URL di bit.ly. Jadi sekarang kita dapat menentukan kepanjangan URL di bit.ly misalnya bit.ly/nama. Nama dapat kita beri sesuka kita sehingga mudah diingat. Namun kita harus cepat sebelum keduluan orang lain.

Saya baru saja turun dari kereta dan memutuskan duduk sejenak untuk istirahat dan minum. Di samping saya ada seorang anak kecil berjalan dengan riang, nampaknya baru saja membeli es teh di gelas plastik yang dibawanya. Entah karena kurang hati-hati atau kenapa es yang dibawanya terjatuh dan tumpah. Saya melihat kesedihan di wajahnya. Dari kejauhan ada seseorang yang ternyata ibunya setengah berteriak bertanya kenapa. Saya jadi khawatir anak ini yang sudah sedih kehilangan es bakal tambah sedih dimarahi ibunya.

Tapi ternyata saya salah, ibu itu hanya bilang agar gelas yang sempat dipungut si anak agar dibuang. Tak lama kemudian ayahnya datang dan bertanya kenapa. Setelah tahu apa yang terjadi dia hanya tersenyum,  menghampiri anaknya itu, mengusap kepalanya dan diajaknya membeli es lagi.

Saya respek dengan si ibu-bapak tadi. Bagi orang lain saya bayangkan mungkin saja anak tadi akan dimarahi habis-habisan karena uang saku yang baru saja dikasih menjadi sia-sia karena keteledoran. Bukan masalah uang atau segelas es tumpah, tapi kondisi psikis anak yang bakal terluka. Saya bayangkan jikasaja para orangtua memiliki sikap seperti ibu-bapak itu maka anak-anak kita akan tumbuh dengan psikologi yang lebih sehat.

Tampilan luar tentu saja menjadi hal pertama yang menjadi impresi. Namun, kita harus hati-hati, karena tak selamanya tampilan luar akan selalu sama dengan dalamnya. Orang bisa saja bertampang keren, sopan dan baik, tapi bisa saja berhati buruk. Rasanya banyak sudah kasus penipuan yang korbannya tertipu oleh penampilan.

Di momen Idul Adha lalu kita juga bisa lihat bahwa penampilan luar tak selalu bagus di dalam. Beberapa hewan qurban yang nampaknya sehat, gemuk dan mulus ternyata dalamnya berpenyakit. Tak kurang sapi milik SBY yang spektakuler dengan berat sampai 1,3 ton, setelah disembelih ketahuan kalau ada cacing pita di hatinya. Begitupun dengan sapi milik beberapa petinggi POLRI, termasuk milik KAPOLRI, ternyata juga berpenyakit cacing di hatinya yang berbahaya kalau hati itu sampai dikonsumsi.

Saya tak akan mengaitkan kejadian ini dengan hal-hal lain lho… Piss..

Berita terkait:
Sapi SBY di Istiqlal Seberat 1,3 Ton

RCTI:Hati Sapi Kurban Presiden Terdapat Cacing

Sapi Kurban SBY Sakit Hati: Mengandung Cacing Berbahaya

Sapi Petinggi Mabes Polri Kandung Cacing Hati

Kebahagiaan sebenarnya bergantung akan sudut pandang kita terhadap sesuatu. Bayangkan jika anda menjadi seorang penjual makanan di pasar. Rumah Anda di gunung di kampung terpencil. Semalaman anda bekerja keras memasak dan menyiapkan dagangan. Pagi buta harus berangkat ke pasar cepat-cepat karena di kampung itu hanya ada satu mobil angkutan yang berangkat pagi-pagi sekali. Entah karena apa, waktu menyeberang di pematang sawah yang licin tiba-tiba anda terpeleset, jatuh terjerembab ke lumpur. Tubuh penuh tanah kotor, kaki terkilir bahkan semua dagangan sudah tenggelam bersatu dengan lumpur dan tak mungkin dijual lagi. Apa yang anda pikirkan tentang nasib hari itu? Apes, malapetaka, atau mungkin Anda akan menyalahkan pematang licin, pemilik sawah, istri atau anak yang rewel, atau merutuki kebodohan Anda sendiri, atau barangkali anda akan memarahi Tuhan.

Namun apa yang anda pikirkan ketika anda pagi itu akhirnya memilih pulang dan istirahat dan menyembuhkan kaki terkilir, tiba-tiba seorang tetangga tergopoh-gopoh datang membawa berita bahwa mobil satu-satunya yang membawa penumpang, yang biasa anda tumpangi, pagi itu mengalami kecelakaan, jatuh ke jurang dan tak ada penumpang yang selamat. Anda pasti akan melihat kejadian hari itu dengan sudut pandang yang jauh berbeda.

Ini cerita lain. Saya lahir dan dibesarkan di desa dari keluarga yang saya anggap biasa saja sebagaimana orang-orang kampung lain. Suatu ketika, ada beberapa teman, dalam waktu dan tempat berbeda yang kebetulan sempat mengenal keluarga saya. Beberapa teman ini berkata dengan sedih, betapa mereka “iri” dengan saya dengan keluarga yang menurut mereka sangat perhatian dan mengatakan betapa berbahagianya saya. Saya sendiri agak heran karena saya ini memang demikian, sikap keluarga saya ya demikian, artinya di mata saya tidak ada hal yang sangat spesial. Itu tentu dari saya memandang. Bagi kawan saya ini, yang mungkin keluarganya banyak masalah dan kurang hangat, akan memandang kehidupan biasa saya menjadi begitu berbeda dari yang saya lihat.

Jadi dalam memandang sesuatu jangan buru-buru menilai sesuatu dengan buruk. Bisa jadi sudut pandang kita-lah yang menjadikannya seperti itu. Jangan melihat sesuatu dengan negatif. Yakinlah bahwa ada sudut pandang yang positif untuk melihat semua itu dan akhirnya justru membuat kita bahagia dan bersyukur sekaligus malu kepada Tuhan karena telah berburuk sangka. Sudut pandang yang mungkin baru akan kita sadari di lain waktu, lain tempat atau mungkin kita sadari dengan melihatnya dari kacamata orang lain.

Sudah sekian lama kita mendengar kabar angin tentang adanya mafia di peradilan kita. Orang berduit dapat mengatur peradilan ataupun para penegaknya. Kabar angin ini bahkan seperti (maaf) kentut, tak terlihat tapi bau menyengat hidung. Ketika rekaman penyadapan Anggodo dibuka di Mahkamah Konstitusi saya dan mungkin seluruh warga bangsa ini terhenyak. Bau busuk itu sepertinya mulai terkuak. Siapapun yang masih punya nurani pasti terkoyak. Ketua MK, Pak Mahfud MD mengatakan, meski di sidang MK itu beberapa kali ada sedikit guyonan, beliau menyatakan bahwa dalam hatinya menangis melihat realita ini. Realita yang nyatanya tidak saja memprihatinkan tapi menjijikkan dan mengerikan terjadi di negara tercinta ini. Bagi saya, ini bukan masalah Bibit-Chandra, bukan! Bahkan jika Bibit-Chandra ternyata dinyatakan terbukti bersalah sekalipun. Ini adalah masalah nurani yang tercabik dengan kejam.
Semakin jauh kasus ini dibahas, semakin membuat kita sedih, prihatin, bingung, kesal, marah, jijik, atau perasaan yang campur aduk. KPK, Pori, LSM, TPF, DPR adalah kumpulan orang-orang pintar yang semoga saja mereka-mereka yang masih mengikuti nuraninya lah yang akan menang. Saya sendiri kalau ditanya mendukung siapa, saya akan tegas mendukung kata hati nurani.
Mengutip ayat Al-Quran (yang juga dikutip oleh M.Jasin dalam sumpahnya):
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya (rekayasa), dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. ” (Ali Imran: 54)
Semoga Allah menolong dan memenangkan para pejuang nurani.

Saya seringkali lebih suka membeli bensin eceran di pinggir jalan, meskipun bensin di kaki lima ini lebih mahal dari POM bensin dan kemungkinan bensin telah dioplos lebih besar. Bagi saya membeli bensin di eceran di kaki lima atau warung kecil lebih praktis, tak perlu banyak antri. Selain itu saya biasanya lebih bermaksud sedikit membantu para penjual ini. Kalau semua orang beli bensin di POM bensin lalu bagaimana nasib dagangan penjual skala kecil ini? Jadi selisih beberapa ratus rupiah bagi saya tak masalah, lagi pula bagi saya itu hanya bentuk apresiasi. Saya kadang juga membeli sesuatu yang sebenarnya tak saya perlukan, namun lebih bermaksud untuk mengapresiasi niat si penjual yang telah berupaya mencari rezeki.
Ketika kemarin saya memerlukan transportasi dari sebuah hotel ke stasiun, meski lebih nyaman dan lebih cepat naik taksi, saya lebih memilih naik becak meski mungkin lebih mahal atau tak senyaman taksi. Dan ketika di stasiun waktu menunggu kereta datang ada tukang semir sepatu yang menawarkan jasanya, maka saya dengan senang hati menyemirkan sepatu saya. Saya jauh lebih mengapresisasi perjuangan orang-orang ini daripada mereka yang meminta-minta atau mencuri, terlebih para pencuri sistemik berjas berdasi.

Beberapa waktu lalu saya membuat blog baru dengan domain dan hosting sendiri menggunakan engine/mesin WordPress. Setelah saya utak atik template dan mengisi posting saya berharap Google segera meng-index blog saya ini. Namun setelah sekian lama ternyata blog saya ini tak dikenal oleh search engine sama sekali. Padahal blog lain yang notabene gratisan malah sudah terindeks di Google. Hal ini membuat saya cukup pusing. Pasalnya selain telah mengisi konten, mem-bookmark di beberapa social bookmarking, mendaftarkan di Webmasters Tools maupun link building ternyata blog saya tetap tak tersentuh Google.
Selidik punya selidik, setelah 2 bulan lebih, saya menemukan akar masalahnya. Saya baru tahu ternyata WordPress versi baru seperti yang saya install, secara default mem-blok search engine. Hal ini berakibat konten yang ada di blog ini tidak akan diindeks Google. Blog saya yang saya buat sebelum Januari 2009 tak berpengaruh karena setting WordPress yang lama agar diindeks telah dibuka dan secara default sudah demikian. Untuk blog yang baru justru sebaliknya, secara default malah di blok. Jadi, jika Anda sedang atau telah membuat blog baru dengan mesin WordPress perhatikan setelan ini, yaitu di Menu Setting-Privacy. Pilih opsi kedua dimana blog akan diindeks search engine. Jangan sampai upaya yang sudah dilakukan tak membuahkan hasil karena Google tidak meng-indeks blog Anda, gara-gara masalah sepele ini.

kambing
Apa hubungan kambing dan zakat? Kambing memang salah satu harta yang wajib dizakati (zakat maal) jika telah memenuhi kriteria tertentu (nishab). Namun bukan itu yang akan saya bicarakan. Ini adalah soal zakat yang akhirnya diwujudkan menjadi kambing.

Ceritanya begini. Waktu saya mudik lebaran lalu, saya menyempatkan bertemu kawan-kawan di kampung membahas agenda kegiatan masyarakat yang saya sudah lama tidak ikuti karena saya sekarang jarang pulang kampung. Ada beberapa teman yang juga hanya pada kesempatan lebaran ini bisa menengok desa kelahiran jadi kami sempatkan waktu yang sempit untuk diskusi panjang lebar sampai larut malam.

Salah satu tema diskusi adalah soal zakat, khususnya zakat mal. Selama ini kami menjalankan organisasi pengumpul zakat mal, namanya Dompet Madani. Meski donator sangat sedikit, sementara orang-orang miskinnya lebih banyak, kami hanya berjalan seadanya saja. Kalau ada dana zakat masuk ya hampir bisa dipastikan akan segera habis untuk menyantuni para dhuafa. Saya pribadi lebih cenderung memberikan zakat atau sedekah di kampung karena walau jumlah sedikit bagi mereka sangatlah berarti. Kawan-kawan saya sering bercerita yang membuat kami terharu, betapa uang 20 ribu ketika diterimakan kepada mereka sambutannya sangat diluar dugaan. Bagi kita uang 20 ribu bisa habis untuk sekali makan, bagi mereka itu bisa untuk beberapa hari. Selain karena uang segitu bagi mereka sangat berarti juga ada rasa bahagia bahwa mereka yang terpinggir itu ternyata masih ada yang memberikan perhatian. Pernah pula suatu waktu kawan kami mendatangi seorang nenek yang cucunya masih sekolah. Nenek ini merasa agak ketakutan dikira cucunya bermasalah dan juga jarang ada tamu, padahal kami berniat memberikan baju seragam sekolah untuk cucunya itu.
Ya, meski “omset” kami sangat sedikit dan selalu segera habis kami tetap berjalan meski sering tersendat-sendat.

Kembali ke soal diskusi tadi, malam itu saya melontarkan ide untuk membuat dana zakat yang lebih produktif. Jadi sebaiknya zakat yang terkumpul tidak “dihabiskan” tapi diusahakan untuk diputar dan digunakan modal. Akhirnya setelah bergelut dengan argumentasi masing-masing maka disepakati bahwa model pengelolaan zakat akan diwujudkan dengan kambing. Kambing tersebut akan dipelihara oleh penerima zakat sebagai ternak gaduhan. Jika nanti kambing laku dijual setelah dipelihara maka penggaduh berhak mendapat 60% keuntungan. Sisa keuntungan akan dikembalikan ke Dompet Madani untuk dibelikan kambing lagi dan diputar lagi atau disumbang kepada penerima zakat lain dalam bentuk konsumtif. Pertimbangan kami kenapa masih memberikan santunan dalam bentuk konsumtif adalah penerima zakat banyak di antaranya sudah tak mampu secara produktif, misalnya lumpuh atau sudah jompo. Salah satu yang menjadi perhatian lain dari kami adalah penerima kambing tersebut. Kriteria penerima adalah mereka yang dari kalangan dhuafa dan masih produktif.
Saya tak mau wacana ini hanya sebatas ide saja. Jadi saya mengusulkan untuk segera diwujudkan entah bagaimana caranya agar zakat kambing ini secepatnya direalisasi (padahal Dompet Madani saat itu sudah minim). Akhirnya pada malam kedua saya dan teman-teman akhirnya sepakat menjadi “donatur” pertama dan segera mengumpulkan dana zakat dari kami sendiri sehingga terkumpul untuk membeli kambing 2 ekor.
Setelah saya kembali ke jogja, beberapa hari kemudian saya mendapat SMS bahwa kambing sudah dibelikan. Satu ekor kambing seharga sekitar Rp.560 ribuan. Alhamdulillah dana awal kami mencukupi. 2 kambing ini sudah didistribusikan. Kami akan lihat beberapa bulan lagi apakah ada hasil yang menggembirakan dari pengelolaan zakat ini.

Ini baru langkah-langkah awal kami untuk memberdayakan kaum dhuafa di kampung dengan sebisa kami. Saya sangat yakin bahwa potensi zakat ini sebenarnya jika dikelola secara benar akan memiliki pengaruh ekonomi yang sangat kuat bagi pengentasan kemiskinan. Selama ini pengelolaan zakat masih kurang inovatif selain banyak orang yang belum memahami tentang kewajiban zakat mal (misalnya banyak orang mengira bahwa zakat hanya zakat fitrah, padahal selain zakat fitrah juga ada zakat maal).

Saya jugs selalu menekankan kepada kawan-kawan untuk tetap semangat. Jika langkah ini gagal (lagi) ya kita buat lagi terobosan lain, sampai berhasil. Dan jangan banyak berharap dari uluran tangan dan partisipasi orang lain, kita harus mulai dari diri sendiri. Jika ada yang mau membantu dan berpartisipasi tentu kita bersyukur, tapi kalau tidak ada ya kita tetap jalan, sekuatnya karena Allah pasti akan membantu hamba-Nya…

Wallahu a’lam bisshawab. Semoga Allah meridhoi…

Bagi sebagian masyarakat kita, lebaran merupakan momen yang sangat istimewa. Bukan saja karena lebaran adalah puncak ritual perayaan kemenangan setelah ibadah puasa ramadhan, tapi lebaran telah menyatu menjadi tradisi yang penting. Lihat saja sekian banyak orang rela berdesakan di tengah kendaraan pengap, terjebak kemacetan panjang, naik motor penuh bawaan dalam jarak ratusan kilometer hanya untuk satu alasan, mudik.

Bertemu orang tua dan sanak saudara menjadi motivasi orang rela menempuh kesulitan selama perjalanan. Bahkan bagi banyak orang, memandang wajah orangtua-nya saja adalah sebuah kebahagiaan luar biasa, apalagi setelah sekian jarak dan waktu telah memisahkan.
Mengarungi kehidupan yang kadang penuh onak duri ini kita kembali ingat bahwa perjuangan orangtua kita, pendahulu kita, mungkin jauh lebih berat. Saya sempat berbincang dengan banyak teman, ketika kini sudah punya keluarga sendiri, merasakan bagaimana mengurus anak, betapa itu semua mengingatkan kenapa dulu kita ini suka melawan orang tua.

Saya pernah membaca buku psikologi, ketika anak masih kecil balita, orangtua adalah figur yang paling sempurna. Ketika beranjak besar dan mengenal orang lain, kita mendapati bahwa ada orang lain yang lebih. Semakin dewasa kita mulai merasa tidak puas dan kecewa dengan orang tua karena keinginan kita banyak tak terpenuhi. Namun, seiring kedewasaan kita, seiring problematika kehidupan, apalagi setelah berkeluarga, buanyak hal yang membuat kita gamang, frustasi, nyaris patah, kita teringat orang tua. Kita lalu mulai berfikir orang tua kita sudah pernah melalui ini, ada baiknya coba mencari pertimbangan dan saran. Semakin lama kita menjadi semakin sadar, orang tua kita tak seperti yang kita bayangkan sebelumnya dimana kita telah merasa kecewa.

Kini, kita merindukan momen-momen untuk sekedar bersanding atau berbincang ringan dengan bapak ibu kita ibarat telaga pelepas dahaga di tengah kerontang kehidupan.
Di titik ini saya mulai menyadari psikologi orang mudik. Betapa ribuan kilo jalan ditempuh dalam terik dan debu hanya untuk sekedar meneguk melepas dahaga dengan memandang orang-orang yang dikasihi.

Semoga Allah meridhai dan melindungi orang tua kita dan mengampuni dosa-dosanya.

Selamat Idul Fitri

Ketika berjalan di tepi sebuah kolam, Nasrudin berjalan kurang hati-hati dan hampir terjatuh ke kolam.Seseorang yang tidak terlalu dikenalnya kebetulan berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat sehingga Nasrudin tak sampai jatuh tercebur. Peristiwa ini ternyata berbuntut panjang. Setiap kali bertemu Nasrudin orang yang menolongnya itu maka orang tersebut selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berterima kasih berulang-ulang sehingga Nasruddin mulai kesal juga.
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke dekat kolam tempat dia hampir jatuh kemarin. Kali ini tanpa basa-basi Nasrudin langsung melompat ke air.
“Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana dan jangan pernah mengungkit-ungkit peristiwa itu!”

Hari-hari dalam bulan ramadhan merupakan waktu yang sangat baik dalam bersedekah. Namun perlu diingat bahwa sedekah bukan hanya melakukan pemberian kepada orang lain saja, tapi juga harus disertai sikap hati yang ikhlas yakni niat yang tulus karena Allah dan niatan untuk membantu. Harta ibarat beban yang dipanggul di pundak kita, semakin banyak harta itu, semakin besar pula tanggung jawab kita nanti di akhirat. Semakin banyak disedekahkan semakin ringan beban kita bahkan harta yang disedekahkan justru menjadi pahala. Ibarat juga makanan di perut, semakin banyak harta semakin perut kita penuh. Semakin penuh dan tak dikeluarkan, maka akan busuk dan menjadi penyakit. Bayangkan sedekah seperti kita buang hajat, ketika sudah dikeluarkan lupakanlah dan tak usah disebut-sebut.
Sedekah yang diperlihatkan ke orang banyak atau selalu disebut-sebut justru akan membuat riya’ dan menyebabkan orang yang diberi sedekah menjadi sakit hati dan pada gilirannya amal sedekah itu hilang pahalanya. Kita mengira sudah banyak amal sedekah kita sedang kenyataannya amal itu seperti debu yang diguyur hujan lebat, tak bersisa apa-apa.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al- Baqarah:264)

Wallahu a’lam. Semoga Allah meridhai setiap sedekah dan amal kita.

Alhamdulillah setelah volume pertama dan kedua, kali ini saya meluncurkan Aplikasi Mobile Sepercik Hikmah Volume 3. Banyak sekali tanggapan dan masukan baik melalui email maupun SMS yang saya terima berkait aplikasi Sepercik Hikmah volume 1 dan 2. Umumnya memberi tanggapan yang di luar perkiraan saya sendiri.

Dulu saya menulis hanya untuk refleksi pribadi dan rekaman jejak supaya saya tidak lupa terhadap suatu peristiwa atau pemikiran. Namun rupanya bagi sebagian pembaca apa yang saya tulis ternyata cukup memberikan manfaat. Saya berbahagia sekali mendapatkan ratusan SMS yang masuk ke ponsel saya dari penjuru tanah air dan bahkan dari luar negeri. Setiap pesan masuk memberikan saya energi untuk berbuat lebih baik lagi. Mohon maaf sekiranya tidak semua SMS/email dapat saya balas, namun saya pastikan bahwa semua masukan dan doa sangatlah berarti bagi saya. Sebagian SMS yang masuk dan sempat saya transfer dapat dibaca di sepercikhikmah.wordpress.com.

Aplikasi Sepercik Hikmah 3 ini masih berupa kompilasi beberapa tulisan di blog saya ini, umumnya masih refleksi pribadi tentang pemahaman agama saya atau tentang keseharian. Saya mengingatkan bahwa ini bukan kumpulan fatwa yang harus Anda ikuti, Anda bebas berbeda pendapat dengan saya. Namun saya berusaha untuk memberikan pandangan saya secara obyektif dan rasional. Jika ada kritik atau masukan silahkan melayangkan kepada saya agar menjadi koreksi atau masukan bagi saya saya dengan senang hati akan menerima dan menelaahnya.

Aplikasi ini dapat dijalankan pada ponsel berbagai merk dan type yang mendukung Java. Silahkan menyebarluaskan aplikasi ini untuk kepentingan non komersial.

Download Sepercik Hikmah 3

Seberapa seringkah Anda mendengar wacana aturan Islam seputar jihad? Tentu waktu-waktu belakangan ini sangat sering, entah yang mengartikannya sebagai perang atau kekerasan atau jihad dalam artian makna fundamentalnya, kesungguhan. Anda tentu juga sering mendengar wacana agama atau fatwa tentang khilafah, poligami, pemilu, rokok, facebook, bunga bank, mengemis, dan lain-lain. Tapi pernahkah Anda mendengar fatwa mengenai ASI?
Bagi sebagian besar kita mungkin masih banyak yang kurang menyadari pentingnya ASI bagi perkembangan anak. Orang lebih suka memberi anak-anaknya susu sapi daripada minuman natural manusia, ASI. Meski belum ada survey tentang pemanfaatan ASI eksklusif di masyarakat, saya yakin sebagian besar bayi tumbuh tidak dengan ASI eksklusif. Sebagian murni mengkonsumsi susu formula atau ASI ditambah susu formula.
Kesadaran untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi ini ternyata bukan hanya di pihak ibu-ibu, tapi nampaknya juga oknum pihak rumah sakit yang dengan sengaja atau tidak justru menganjurkan untuk menggunakan susu formula, tentu terkait kepentingan bisnis. Ada cerita seorang teman yang setelah melahirkan ternyata diberi bingkisan dari sebuah rumah sakit berisi salah satu produk susu yang mahal. Konon kalau bayi sudah minum produk itu, maka dia tak akan mau minum produk lain, dan yang memprihatinkan tentunya adalah bayi tak lagi minat minum ASI. Produk susu formula mahal ini tentu adalah bagian partner dari rumah sakit yang bersangkutan. Saya pernah membaca bahwa di Afrika banyak kasus bayi yang kurang gizi akibat ibu-ibu tak mau memberikan ASI karena termakan iklan yang memperlihatkan bayi gemuk dan sehat di iklan susu formula. Asumsi masyarakat kita pula yang menganggap susu formula yang harganya selangit itu memiliki kandungan gizi yang lebih baik dari ASI, entah DHA, minyak ikan atau iming-iming menggiurkan lain.
Beruntung anak kami sampai saat ini masih bertahan dengan semangat ibunya yang tinggi untuk memberikan ASI eksklusif. Beruntung pula pada masa-masa sulit di awal kelahiran, pihak rumah sakit dan tenaga medis memberikan dukungan yang cukup membesarkan hati untuk memberikan ASI.
Saya tak akan berbicara lebih banyak tentang manfaat ASI di tulisan ini. Saya hanya ingin memberikan uneg-uneg saya pribadi sekaligus pertanyaan yang menggelitik saya. Seperti lazim diketahui, dalam Al-Quran jelas-jelas dinyatakan mengenai ASI ini meskipun cukup singkat.
Dalam Al-Quran disebutkan menyusui dalam jangka dua tahun.

Al baqarah 233: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.

(Baca juga Al Ahqaf 15)

Dalam kehidupan sehari-hari saya belum pernah mendengar adanya fatwa atau isu tentang ASI dalam wacana keagamaan. Seingat saya belum sekalipun saya mendengar. Padahal kita tahu bahwa ASI memiliki peran sangat vital dalam membentuk generasi penerus. Generasi yang akan melanjutkan perjuangan kita sekarang. Begitu pentingnya hal ini sehingga cukup membuat saya agak prihatin juga bahwa kalangan ulama kita nampaknya belum begitu memperhatikan. Suatu saat saya kira perlu dilakukan kajian mendalam tentang pemberian ASI terutama dilihat dari sudut agama dan kalau perlu dikeluarkan fatwa khusus tentang ASI ini.
Di banyak hal kita sering getol dengan hal-hal keagamaan yang sepele, tak jarang disertai dengan gontok-gontokan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Namun, untuk hal yang fundamental malah kadang terlewatkan. Wacana ASI dan pengaruhnya bagi perkembangan generasi ini salah satu ranah apes yang tak pernah tersentuh, entah karena ketidak tahuan atau ketakpedulian atau karena isu ini tak menarik dan tak marketable untuk diangkat.

Setiap orang ibarat kutub-kutub magnet, satu orang dengan orang lain memiliki kutub yang saling tarik atau saling tolak. Entah kenapa kadang kita bahkan dalam pandangan pertama bisa langsung menyukai atau sebaliknya, membenci seseorang. Seringkali kalau sudah tidak suka ke seseorang kita terkadang tidak rasional, apapun yang berkait dengan orang itu maka kita otomatis menolaknya, apapun omongannya kita tolak, apapun yang berkait dengannya kita langsung alergi.
Menurut saya, fenomena ini sebenarnya manusiawi sekali. Setiap orang memiliki chemistry-nya sendiri-sendiri yang bisa cocok atau bertolak dengan chemistry orang lain.
Masalahnya tentu akan panjang jika perasaan itu kemudian mempengaruhi lebih jauh ke kehidupan kita. Misalkan Anda tiba-tiba suka dengan seseorang, tahap ini mungkin masih dalam tahap wajar, tapi ketika orang tersebut sudah bersuami atau beristri dan kesukaan Anda tadi makin jauh menjadi obsesi untuk memiliki tentu ini akan jadi masalah besar. Sebaliknya jika Anda tidak suka seseorang dan menjadi benci tak ketulungan. Bayangkan jika orang yang Anda benci itu adalah orang yang sangat bijak, kata-katanya penuh hikmah dan manfaat, apakah Anda lalu begitu saja menolak apapun darinya hanya karena ketidaksukaan Anda?

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah 216).

Seperti Anda, saya pun pasti merasakan adanya magnet dari setiap orang, kecocokan atau penolakan. Seringkali dalam beberapa pertemuan awal saya seperti merasa ada ‘sesuatu’ yang membuat saya untuk tidak terlalu dekat dengan seseorang. Di kemudian hari ternyata ada beberapa teman yang dekat dengan orang itu yang akhirnya menghadapi masalah personal. Dulu, saya biasanya akan menghindar dengan orang yang saya rasakan ada aura penolakan dalam diri saya. Lambat laun saya merasakan bahwa hal ini dapat menumbuhkan kebencian, disadari atau tidak. Lama kelamaan saya berfikir kalau saya melakukan hal ini terus menerus bisa jadi tak hanya muncul kebencian itu, tapi lama kelamaan akan dapat menggerogoti jiwa saya.

Suatu ketika timbul dalam hati saya sebuah keinginan untuk menguapkan kebencian kepada orang lain. Ini tentu tak mudah, karena setiap kali perasaan semacam itu suatu saat akan muncul dengan sendirinya. Namun, saya biasanya mengingatkan diri sendiri untuk konsisten.
Kalaupun ada ketidak sukaan ke orang lain lebih dikarenakan perbuatan atau sikap yang kurang baik atau karena orang itu telah melanggar aturan, bukan alasan personal. Benci ke orang harus dengan alasan yang fundamental dan obyektif.
Tentu menggelikan jika kita membenci dan menilai orang sebagai tidak baik hanya karena ketidak sukaan kita akan gaya rambutnya. Tak cuma itu, ini tentu akan menguras energi juga bila kita menumpuknya terus menerus. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih urgen dilakukan selain membenci atau iri hati. Masih banyak cinta yang harus disebarkan di penjuru semesta ini. Biarkan kebencian karena hal-hal tak penting itu mampir sekilas saja dan biarkan dia segera menguap.

Tadi pagi saya bangun kesiangan. Alarm yang saya set untuk bangun sahur berbunyi lebih awal dari biasanya. Karena masih sementara waktu saya berniat melanjutkan tidur sebentar. Tapi ternyata saya bangun sudah azan subuh!
Saya biasanya makan sahur tak terlalu banyak (kayaknya berbukanya juga ding :-) ). Apalagi kalau waktu sahur telat dan sudah mepet, saya lebih mementingkan minum air putihnya.
Meski tidak makan sahur-pun saya merasa tidak ada yang berbeda jauh, artinya lapar dan hausnya juga tidak terlalu berbeda dibanding kalau sudah makan sahur.
Lagi pula, kita kuat beraktifitas sehari-hari pada hakikatnya kan juga bukan karena makan dan minumnya, tapi karena kehendak Allah. Makanan dan minuman hanya lantaran saj

Jikasaja kakek moyang saya sempat menulis, barangkali saya tak hanya mendengar kisahnya secara lisan dan sepotong-sepotong bahkan pasti banyak cerita yang tak pernah saya dengarkan sama sekali.
Sejak kecil saya bercita-cita menjadi penulis. Sayang saya tak berkesempatan mengembangkan kreatifitas kepenulisan saya. Banyak hal yang saya temui, saya angankan maupun semua tentang pengetahuan, persepsi, ide atau apapun yang menurut saya akan hilang lenyap jika tak dituliskan.
Godaan menulis saya yang terutama adalah saya tidak PD menuliskan sesuatu karena kalau tulisan itu dibaca lagi terkesan norak, kampungan dan jauh dari sebuah karya sastra tulis yang bagus.
Saya pernah mencoba menulis pengalaman atau diary, tapi rasanya norak sekali kalau dibaca. Tak ada yang saya simpan.

Suatu ketika saya kemudian menulis blog dan tentu saja membaca-baca blog orang lain. Awalnya motivasi saya hanya ingin menuliskan rekam jejak pribadi, alasannya sangat sepele, saya ini sangat pelupa. Dengan menuliskan pengalaman atau ide atau apapun tentang saya atau perspektif saya melihat dunia saya jadi punya rekaman kehidupan yang sewaktu-waktu dapat ditelusur lagi. Hal lain yang membuat saya lebih pede menulis di blog adalah kita fokus ke ide tulisan. Saya tidak akan terlalu berfikir dengan tata kata atau tata bahasa atau keindahan sastra. Saya hanya menuliskan apa yang ingin saya rekamkan ke abjad-abjad. Menulis dan menulis.

Banyak blog yang saya baca menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis, bukan saja inspirasi untuk mencari bahan tulisan, tapi juga gaya bahasa maupun perspektif orang, the man behind the blog-nya. Saya menikmati bagaimana kacamata orang lain melihat dan memahami dunia.
Salah satu kekuatan lain blog yang dulu tak saya sadari adalah sifatnya yang mendunia. Saya tak pernah membayangkan tulisan pribadi saya akan dibaca orang dari berbagai tempat. Ini juga membuka pengalaman baru dimana kita dapat bereaksi banyak orang. Banyak tulisan yang bagi saya hanya tulisan sepele yang tidak penting malah menginspirasi banyak orang, atau sebaliknya, tulisan yang saya buat serius ternyata tidak diminati.

Melalui menulis di blog pula saya jadi faham apa itu yang diistilahkan sebagai ekonomi kreatif atau ekonomi berbasis ide. Sebuah era baru dimana ide dan kreatifitas menjadi lahan komersial yang di waktu mendatang pasti akan booming.
Saya berkata demikian karena saya mulai mencoba online business, terutama berbasis blog ini dan ternyata sangat potensial. Salah satu alasan mengapa saya setia ngeblog dan tak pernah kepincut dengan media semacam Facebook.
Jadi sekarang, menulis (utamanya menulis blog) selain motif mengekspresikan diri dan sekedara hobi juga mulai meliriknya sebagai sebuah lahan bisnis yang menggiurkan. :-)

Sewaktu berkesempatan ke negeri jiran Malaysia, saya dan serombongan dari beberapa negera sempat diajak berkunjung ke salah satu toko khas mereka, Toko Batik! Malaysia benar-benar ingin mengesankan bahwa batik merupakan budaya mereka dan nampaknya cukup serius menjualnya.
Saya lihat desain batik Malaysia ini biasa saja. Tapi dari sisi harga ya jangan tanya, apalagi kalau dibanding harga batik di Jogja atau Solo.
Saya lalu bertanya kepada teman dari Filipina apakah mau membeli batik di toko itu? Jawabannya tak saya duga. Dia mengatakan bahwa batik Indonesia jauh lebih bagus. “You draw it (batik) with mind”, katanya.
Saya cukup berbesar hati ternyata warga asing sebenarnya masih dapat melihat bahwa seni dan budaya tak bisa dengan mudah dicomot begitu saja.
Orang boleh saja mengambil kulit, merampas baju dan mengklaimnya menjadi miliknya, tapi jiwa dan ruh tak akan bisa dicontek.
Bagi bangsa Indonesia sendiri, kejadian semacam ini harusnya menjadi refleksi bahwa kita musti lebih menghargai kebudayaan kita sendiri. Kita ibarat keluarga miskin dengan rumah reyot padahal tanpa disadari harta kita bertebaran dirumah, di emperan bahkan di halaman belakang.
Orang lain dengan leluasa memungutinya, bahkan angin pun kalau mau dapat menerbangkannya dengan mudah.
Saya sependapat seperti yang diungkap Umar Kayyam, budaya adalah bukan produk jadi. Ia adalah jiwa yang bergelora dan dinamis meliputi akal budi dan upaya untuk kehidupan lebih sejahtera dan memanusia (human).
Malaysia bisa saja mematenkan desain batik atau memajang tari Pendet sebagai ikon. Tapi mereka tak akan pernah merasakan jiwa batik, tak pernah faham ruh memendet. Mereka hanya tahu bahwa budaya-budaya itu adalah produk yang marketable, yang layak jual.
Sementara bagi para pembatik dan pemendet, senada ucapan rekan saya dari Malaysia itu, mereka melakukan itu dengan hati dan jiwa.
batik motives Pertanyaannya adalah, apakah ruh dan jiwa budaya itu masih ada di dada kita? Tari Pendet masih jauh lebih beruntung nasibnya karena budaya menari masih menjadi bagian keseharian yang dilakukan anak-anak di sana dengan bangga. Namun bagi para pembatik dan ribuan pekerja budaya lainnya barangkali hanya segelintir saja yang masih menekuni warisan leluhur atau bahkan sekedar mengapresiasinya. Alih alih memahami dan mengamalkan filosofinya, menghargai produk budaya-nya saja kita masih kurang. Lihat saja, orang banyak lebih memilih menenteng Blackberry sebagai identitas budaya ketimbang memakai baju batik.

Marhaban Ya Ramadhan

Insyaallah besok kita sudah memasuki bulan penuh barakah. Alhamdulillah kita diberi umur lagi untuk menikmati hari-hari penuh rahmat ini. Hari ini saya melayat di dua tempat, slah satunya adalah teman kantor yang meninggal. Mengingat usia yang menjadi misteri Tuhan kita tentu patut bersyukur masih diberi kesempatan. Semoga bulan ini kita dapat menjalankan ibadah dengan khusu’, semoga barakah dan keridlaan Allah selalu menyertai dan amal-amal kita diterima oleh-Nya.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan bathin.

Hari ini dapat kiriman Debit Card dari Payoneer.com. Ternyata membuatnya juga tak begitu rumit. Saya membuat kartu ini dari TLA. Di TLA ada konfirmasi untuk pembayaran apakah dengan cek, paypal atau kartu kredit/debit. Biasanya saya pakai Paypal. Tapi karena punya saya belum verified saya akhirnya coma membuata kartu debit yang di-link/dierekomndasi TLA.
Kita hanya perlu mendaftar seperti biasa. Dalam beberapa minggu kartu Debit Payoneer akan dikirim ke tempat kita. Untuk mnengaktifkan kita harus login ke payoneer dan memasukkan security number (3 digit terakhir dari security number di bagian belakang kartu).
Saya rencananya akan menggunakan kartu ini khusus verifikasi Paypalsaja, karena biaya bulanan agak tinggi, sekitar 3 dolar.

Sekali lagi bangsa ini memperingati kemerdekaan. Setengah abad lebih usianya. Bagi kita yang tak pernah mengalami bagaimana rasanya dijajah tentu tak dapat begitu saja memahami kondisi betapa susahnya masa itu dimana makan nasi adalah sebuah kemewahan.

Kini, setengah abad lebih, kita mungkin sudah bukan hal aneh kalau makan nasi ayam setiap saat. Hidup jauh lebih berkecukupan, bahkan hal-hal yang mahal sewaktu saya kecil kini bisa didapat dengan lebih mudah.

Namun, setengah abad, waktu yang tak singkat sebagai bangsa untuk menjadi lebih baik. Jika diukur dari perkembangan negara lain, janganlah tengok Jepang yang dari hancur akibat perang namun kini menjadi raksasa ekonomi dunia, bandingkan saja dengan Singapura atau Malaysia.

Tahun 60-an Indonesia adalah negara yang bagi Malaysia adalah negara yang ditakuti. Peristiwa konfrontasi Indonesia-Malaysia tak pelak membuat negeri yang baru diberi kemerdekaan oleh Inggris ini hampir tak berani berkutik jikasaja tanpa perlindungan Inggris.

Tahun 70-an, ketika hubungan Indonesia-Malaysia mulai terbuka, banyak warga Malaysia berguru ke Indonesia, atau guru-guru terbaik kita direkrut Malaysia untuk mengajar disana. Kini, kondisi seakan terbalik. Kini, orang Malaysia yang barangkali tak mengenal sejarah masa lalu, menyebut kita sebagai Indon, sebuah istilah yang dalam kamus mereka mungkin lebih berarti sebagai bangsa TKI, bangsa babu, bangsa kuli…

“Eine Nation von Kuli und Kuli unter den Nationen”, “A nation of coolies and a coolie among nations” kata Bung Karno yang katanya mengutip kalimat ini dari bangsa penjajah kita dalam menganggap dan memperlakukan bangsa Indonesia.

Tragisnya, meski lebih setengah abad merdeka, “kutukan” sebagai bangsa kuli ini masih saja menghantui kita. Mental bangsa kuli ini nampaknya -diam-diam- masih saja menjadi bagian dari budaya kita.

Kita barangkali hanya naik tingkat sedikit, sekarang menjadi konsumen. Kita pelahap mentah-mentah produk-produk bahkan budaya asing, sedang budaya sendiri justru ditinggalkan. Lihat daja di supermarket, di toko-toko, sulit sekali mendapatkan barang buatan orang kita sendiri. Lihat saja perangkat teknologi terbaru, dari komputer, mobil, motor, ponsel bahkan popok bayi, berapa yang dibuat anak bangsa?

Akankah mental kuli ini akan menjadi bagian dari kultur kita selamanya? Hanya kita yang mampu menjawab.


Presiden dalam pidato kenegaraannya memproyeksikan bahwa 2025 Indonesia akan sejajar dengan negera-negara maju dunia. Kita tentu harus optimis dan memiliki target. Namun, rasanya sudah berulangkali kita sering mendengar orasi seperti ini.
Dulu, jaman orde baru ada istilah ‘tinggal landas’. Sebelum hal itu terjadi ternyata kita dihantam krisis, kita jatuh, nyaris kandas.
Lalu datang reformasi menjanjikan kehidupan lebih baik. Ada optimisme meruyak, kita akan segera bangkit, secara ekonomi dan politik, adanya kebebasan dan demokratisasi. Nyatanya sampai sekarang kita tak beranjak jauh.
Korupsi masih dan malah makin menggurita, hutang semakin menumpuk, harga semakin naik, bencana akibat kondisi alam dan manusia terjadi dimana-mana, moralitas bangsa mengalami degradasi yang semakin parah, terorisme tumbuh dan menjadi hantu setiap saat, kebebasan menjadi bumerang yang justru disalahartikan.
Presiden Sukarno pernah menyitir bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mulanya bangkit yang kemudian hancur lebur, bangkit lagi, hancur lagi, bangkit lagi… Menjadi bangsa yang kuat karena telah digembleng oleh jaman. Seperti Sisypus dalam legenda Yunani, jangan-jangan justru apa yang dikatakan Sukarno menjadi kenyataan, menjadi kutukan…
Sisyphus dikutuk mengangkat batu besar yang harus diangkat di tebing terjal, ketika sudah sampai puncak bukit, batu itu harus dijatuhkan lagi, begitu terus menerus sepanjang jaman.
Dulu, waktu diberitakan sebuah peristiwa tragis, kita tersentak. Hari ini ada kerusuhan di daerah A, besok ada bencana alam di daerah B, besoknya ada pendemi penyakit mematikan di daerah C dan tak habis-habisnya.
Ketika mendapati satu peristiwa besar yang tragis yang tak mengenakkan kita berharap itu yang terakhir, ternyata kita salah, sebentar kemudian ada yang lebih heboh lagi.
Jangan salah, besoknya ada lagi yang lebih memilukan, menjengkelkan, memiriskan. Tapi lalu menjadi angin lalu.
Kita setiap hari disuguhi berita yang semakin lama semakin membuat bebal. Kalau dulu, kriminalitas atau kerusuhan kecil dengan korban sedikit saja bisa menjadi berita heboh. Kini skala berita heboh mungkin sudah sangat tinggi.
Setiap kali bangsa ini jatuh terpuruk, kita memupuk harapan. Pemerintah mengatakan kita akan perbaiki semuanya, kita akan segera menyusul bangsa lain, kita akan menjadi ini dan itu. Namun, rezim terus berganti, kita tetap saja mendengar janji itu sebagai angin surga belaka.
Atau jangan-jangan kita malah menikmati menjadi Sishypus ini?
Sebagai rakyat biasa, saya hanya ingin mengajak, mulailah bangkit dari diri kita sendiri dan lingkungan. Biarlah penguasa dan politisi mau bicara apa saja. Mari membangun jatidiri kita sebagai bangsa bermartabat, membangun keluarga bermoral, membangun masyarakat bertanggung-jawab.


About Me
.



download tutorial blog wordpress

mtmamim on wordpress
mtmamim on blogger
mtmamim on plurk
mtmamim on facebook
mtmamim on twitter
mtmamim on multiply
Email: muh_tamim@yahoo.com
My other blog: mtamim.com

Twitter

 

Add to Google
Add to Technorati Favorites

YM!

 

January 2010
M T W T F S S
« Dec    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031