Saya sedang membuat project kecil bersama yaitu mengumpulkan resource/sesumber menarik di internet terkait dengan materi keislaman, baik berupa software, ebook, MP3 dll yang dapat didownload gratis.

Jika Anda memiliki informasi mengenai link yang menarik silahkan ikut gabung dan dibagi di Fans Page Baitul Hikmah di Facebook sehingga orang lain juga akan mendapatkan manfaatnya. Silahkan untuk bergabung…

Apakah anda sedang mencari cara untuk bahagia? Tahukah Anda bahwa ada sekitar 45 juta pencarian di Google yang mencari frasa “how to be happy” setiap bulannya. Itu baru di Google, belum di mesin pencari lain dan belum frasa sejenis dan belum dalam bahasa lain. Jadi kalau Anda sedang mencari cara untuk bahagia Anda tidak sendirian.
Kita mungkin seringkali resah, galau, dan berfikir bahwa kita adalah orang paling menderita dan tidak berbahagia di seluruh dunia. Kita mencari-cari kebahagiaan itu dimana-mana. Sebagian mencarinya di harta benda, sebagian mencarinya di ketenaran, sebagian di kekuasaan, dll. Namun tahukah Anda bahwa kebahagiaan sebenarnya tergantung pada ukuran yang ada diri kita sendiri.
Ada orang yang sangat bahagia dengan cukup naik sepeda onta, sementara yang lain masih saja merasa kurang padahal sudah mengendarai mobil. Ada yang sudah sangat berbahagia ketika makan nasi putih dengan tempe dan sambal sementara yang lain masih terus berburu makanan-makanan enak dan mahal dan tak pernah terpuaskan.
Kalau Anda tak mau baju Anda kekecilan pilihan bagi Anda adalah membeli baju baru atau menjaga tubuh agar tidak kegemukan.

Apakah harimu selalu buruk? Tiap hari dijebak macet, dikejar deadline dan tanggungan pekerjaan, nonton tivi isinya hanya politisi membual dan sinetron yang tak karuan, baca koran penuh berita tak menyenangkan, buka Facebook dan twitter isinya timeline penuh status galau dan membosankan…
Tunggu dulu, hariku selalu baru, ketika si kecil ini berulah hampir tanpa bisa diprediksi. Dari nggak mau mandi pagi tapi kalau sudah kena air nggak mau keluar dari ember. Selalu mecuri kesempatan memecahkan gelas piring, menumpah nasi dan sayur, melempar HP dan remote control,mengobrak abrik kulkas dan menginjak-injak laptop, dan di ujung hari menyisakan rumah yang bak kapal pecah. Kemudian sekejap senyap karena kini dia sudah tenggelam dalam mimpinya…

Ya,selalu baru setiap hari, setiap malam…
Selamat tidur, Nak! Sampai ketemu besok di hari baru lagi ;-)

Dalam Al Quran dijelaskan bahwa orang yang bersedekah akan memperoleh balasan yang jauh berlipatganda banyak. Ibarat menanam biji benih yang lalu tumbuh menjadi 7 bulir yang setiap bulir berisi 100 biji. Sebagai orang beriman tentu kita yakin dengan janji Allah itu. Namun, dalam prakteknya saya kira kemudian ada yang menyikapi dengan kurang tepat, yaitu niat orang bersedekah.

Setiap hari setiap manusia memiliki kebutuhan untuk hidup; pangan, sandang, papan dan kebutuhan lain. Dalam memenuhi kebutuhan itu seringkali kita masih saja kekurangan, sifat dasar manusia. Dalam hitungan bisnis untuk memperoleh laba orang berusaha terlebih dahulu, mengeluarkan modal dengan harapan mendapat untung. Sudut pandang bisnis inilah yang kadang terbawa ketika kita bersedekah. Kita mengeluarkan harta untuk bersedekah dengan pengharapan laba, dianggap seperti modal. Kita bersedekah 10.000 berharap besok mendapat 100.000.

Menurut saya, sedekah adalah bentuk pengejawantahan sifat Rahman-Rahim Allah dan bentuk tanggung jawab kita terhadap sesama. Entah balasan itu langsung diterima dengan segera dan instan ataukah baru kita peroleh di akhirat adalah kehendak Allah semata. Jikasaja ada kisah orang bersedekah lalu menjadi kaya, atau rezekinya lancar itu juga hak Allah untuk memberinya rezeki. Pun jika ada orang bersedekah tapi setelah itu bisnisnya justru malah seret, usahanya lebih susah itupun juga rahasia Allah. Tidak semua balasan yang kita terima dari amal kita akan langsung kita dapat.

Untuk bersedekah hendaknya luruskan niat, jangan hanya karena hitung-hitungan ‘bisnis’ untuk ingin memperoleh lebih banyak harta lagi, tapi niat itu semata karena Allah. Jika balasan itu tak kita terima disini sekarang justru bulir-bulir imbalan akan jauh lebih berharga jika kita terima nanti, di akhirat kelak.

Bagi kawan-kawan yang tengah dirundung susah karena bisnis di dunia online sedang dalam masa sulit, jangan patah semangat!

Steve Jobs hampir menjadi seperti sebuah legenda di dunia IT. Lahir dari ibu biologis yang masih muda, belum menikah Steve Job lalu tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang mengadopsinya. Perjuangan hidupnya tak mudah mengingat orangtua adopsinya juga bukan orang berkecukupan bahkan untuk dia masuk ke universitas harus menghabiskan tabungan orangtuanya itu. Bahkan ketika kuliah pun ternyata dia harus mengambil keputusan besar, drop out, padahal untuk kuliah itu dia harus menghabiskan harta orangtuanya. Tapi memang itu sebuah keputusan besar yang terbaik. Karena DO Steve Jobs akhirnya mengambil kelas non reguler, yaitu kelas kaligrafi. Tapi inilah kemudian yang menjadi awal sejarah baru yang kemudian menjadi sangat fenomenal yaitu komputer Apple.
Ini adalah bagian dari pidato Comancement of Speech dari Steve Jobs di Stanford yang begitu memukau mengisahkan hidupnya (transkrip pidato ini dapat dibaca disini). Hal yang menjadi inspirasi dari seorang Steve Jobs ini menurut saya salah satunya adalah semangatnya untuk memberi perubahan kepada dunia. Apa yang dilakukan, karya yang dia hasilkan tak lagi hanya bertujuan mencari uang, tapi sebuah semangat untuk memberikan perubahan positif bagi dunia. Membuat apa yang tadinya tak mungkin menjadi nyata. Dari tangan Steve Jobs ini lah keluar perangkat-perangkat yang tak hanya sebagai produk yang memudahkan hidup, tapi juga karya seni yang indah dan elegan.

Dan ketika hari ini tersiar, kabar Steve Jobs meninggal masih saja menggemparkan meski sudah lama dia berjuang melawan kanker pankreas.  Dunia pantas kehilangan seorang inspirator abad ini. Sebuah perjalanan hidup seorang manusia yang panjang berliku dan akhirnya berhenti di satu titik.
Sebuah ungkapan dari Steve Jobs yang akan selalu terngiang:
“Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, akankah saya mengerjakan apa yang ingin saya lakukan hari ini ?”

RIP, Steve Jobs…

 

Doa orang teraniaya katanya adalah salah satu doa yang mustajab. Apakah anda pernah merasa di posisi teraniaya? Kalau pernah lalu apa yang menjadi doa anda?

Suatu ketika saya berada di pertigaan yang padat dan macet. Saya tiba-tiba terjebak di pertigaan itu, ketika hendak menyeberang ternyata di depan saya ada mobil yang menghalangi jalan saya padahal di sisi depan kanan berlawanan arah dengan saya ada mobil yang masuk dan sedikit terhalang motor saya. Mobilnya besar dan cukup mewah dan mahal. Saya berusaha maju untuk memberi jalan tapi tak bisa bergerak karena menunggu mobil di depan saya yang masih terhenti. Mungkin hanya hitungan beberapa detik saja harusnya untuk menunggu. Tapi pengendara mobil yang terhalang oleh saya itu nampaknya tak ada kesabaran. Dia memajukan mobilnya , saya kira saya terserempet, tapi ternyata dia berbuat itu dengan sengaja, dia memajukan mobilnya lagi, saya pun terjatuh meski tak sampai parah. Saya hanya mengumpati orang itu yang begitu sombong. Tapi hanya itu saja, saya tak berani memperkeruh suasana karena malas berurusan dengan hal tak penting macam itu, apalagi terus terang saya juga takut, pengendara mobil itu berbadan kekar tentu tak sebanding dengan saya yang kerempeng, dia orang kaya saya hanya orang miskin. Di titik itulah saya merasakan rasanya di posisi teraniaya, di posisi di mana orang berbuat semaunya dan dengan sombongya dan saya tak kuasa membalas kesewenangan itu.

Saya berfikir kalau saya orang yang baik mestinya memaafkan saja orang itu, tapi saya tak sesuci itu karena, jujur saja, memaafkan yang benar-benar dari lubuk hati bukan perkara gampang. Di sisi lain, dengan posisi teraniya, doa saya mungkin saja cukup makbul, saya bisa saja mendoakan yang buruk, tapi saya juga tak mau menjadi sejahat itu. Bukan sifat orang beriman yang suka mendoakan buruk. Saya lalu berfikir lagi dengan lebih simpel, bahwa Gusti Allah mboten sare (Tuhan tak pernah tidur). Entah motif apa orang itu berbuat seperti itu, itu biarlah urusan dia dengan Tuhan. Entah Tuhan mau membalasnya dengan apa sudah bukan lagi kewenangan saya, mau dibalas buruk, lebih buruk, atau justru dibalas kebaikan, sekali lagi itu urusan Tuhan. Dengan begitu saya menjadi merasa ringan dan menganggap kejadian itu sebagai angin lalu saja.

Apa yang saya alami barangkali tak ada apa-apanya dengan mungkin jutaan orang yang lebih teraniaya, tertekan, merasa dihina dilecehkan diinjak harga dirinya, baik psikologis, mental dan bahkan fisik dan tak mampu berbuat apa-apa. Saya lalu hanya berfikir bahwa saya harusnya juga lebih hati-hati bersikap, jangan-jangan saya juga pernah berbuat aniaya dengan orang lain, dan kita tak pernah tahu orang itu lalu mendoakan apa kepada kita. Doa itulah yang harusnya kita takutkan..
Semoga kita selalu dijauhkan dan dijaga dari perbuatan aniaya..

Selamat merayakan Idul Fitri bagi kawan-kawan sekalian, baik yang merayakannya duluan maupun belakangan. Ya, kali ini lebaran kembali berbeda. Saya pribadi sebenarnya tak terlalu merisaukan perbedaan lebaran apalagi perrbedaan ini sudah terjadi beberapa kali. Yang agak berbeda sekarang adalah gaungnya yang cukup membuat sedikit prihatin. Pada waktu-waktu lalu ketika lebaran berbeda secara umum tidak ada banyak masalah. Saya kira sebagian besar umat sudah mulai menyadari perlunya penghargaan atas perbedaan ini. Saya pun tak kaget ketika pemerintah memutuskan untuk “memundurkan” lebaran sehari dan ormas Muhammadiyah tetap pada pendirian semula. Tapi ketika mulai ada suara agak miring tentang perbedaan ini dan terkesan memojokkan Muhammadiyah karena berbeda sendiri dari ormas lain saya mulai agak risau. Bukan karena saya dibesarkan di Muhammadiyah tapi hendaknya upaya untuk mempersatukan umat dengan menyamakan lebaran hendaknya tak perlu dilakukan dengan konfrontatif. Apalagi preseden akan adanya perbedaan lebaran sudah jauh hari diketahui. Dalam hal ini tentu saja pemerintah-lah yang perlu mempertemukan perbedaan-perbedaan diantara ormas, namun bukan dengan pemaksaan penyeragaman, tapi dengna dialog dan pendekatan yang tentu saja tidak serta merta. Sebenarnya upaya semacam ini pernah dilakukan oleh Jusuf Kalla ketika menjadi Wapres. Waktu itu sudah ada komitmen dari NU-Muhammadiyah untuk berdialog secara berkesinambungan soal upaya penyatuan lebaran. Sayangnya upaya ini entah kenapa akhirnya putus di tengah jalan.

Saya pribadi sebenarnya merasa bahwa soal penampakan hilal ini sebenarnya hal yang tak perlu dibesar-besarkan. Apalagi keyakinan bereda disertai dengan menyerang orang lain. Yang lebaran duluan menganggap yang lebaran belakangan sebagai berdosa karena berpuasa di hari raya, dan sebaliknya yang lebaran belakangan menganggap yang lebaran duluan berdosa karena puasanya kurang sehari. Tahun ini perbedaan makin riuh di ranah maya, khususnya di jejaring sosial. Dulu, di jaman Rasulullah, ketika mendung menutupi hilal maka puasa digenapkan menjadi 30. Saya yakin jika ternyata besoknya hilal terlihat dan ternyata sudah tanggal 2 syawal maka tak jadi persoalan. Allah tak akan membebankan dosa meski secara empirik harusnya puasa sudah berakhir sehari sebelumnya. Contoh lain diriwayatkan kesaksian seorang Badui yang melihat hilal-pun dapat diterima, meski dia bukan ahli astronomi. Ini menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran penentuan tanggal 1 Syawal bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Meski saya berharap ke depan ada kesepakatan untuk menentukan kriteria yang sama agar tidak ada lagi kontroversi seperti ini lagi. Dan sementara masih ada perbedaan lebaran mestinya yang selalu dikedepankan adalah adanya penghargaan atas perbedaan yang ada. Perbedaan ini juga bukan soal ormas belaka.

Dan, yang unik di lebaran ini, sewaktu berkunjung atau bertemu kawan hampir selalu perbincangan awal adalah pertanyaan “lebaran kapan?” Faktanya ini hanya jadi pembuka pembicaraan tak hendak kemudian menjadi ajang saling klaim kebenaran. Saya yakin bahwa Allah akan menerima ibadah dari hamba yang dengan niat ikhlas menjalankannya.

Mohon maaf lahir batin…

Kata yang keluar dari lisan ibarat panah yang lepas dari busur. Kadang kita tak mampu mengendalikan jika dia sudah melesat, dia bisa melukai bahkan membunuh, bahkan bisa jadi balik melesat menuju kita sendiri.

Anda mungkin tak bermaksud sungguh-sungguh, atau hanya iseng dan main-main saat mengeluarkan kata. Tapi dari yang sekedar iseng itu bisa menjadi masalah besar. Dengan kata orang bisa tersinggung, dan bila dia merasa harga diri sudah dilecehkan apapun bisa terjadi.

Kata bahkan mungkin tak hanya menyinggung, yang masuk telinga turun ke hati, kata bisa jadi lebih dari itu. Kata adalah doa yang orang bilang jika ada malaikat mengamini apa yang terucap, baik atau buruk, bisa saja menjadi kenyataan meski tadinya hanya berkelakar.

Saya punya teman yang memiliki pengalaman buruk soal ini. Suatu ketika kawan saya ini punya usaha yang berkembang sangat pesat. Keadaan seperti di atas angin, serba lancar dan mudah. Suatu ketika dia berucap bahwa selama ini jalannya begitu dilancarkan tuhan, jadi katanya, yangsaya kira tak sungguh-sungguh, sekarang dia menunggu cobaan Nya. Sungguh apa yang kemudian seperti antiklimaks. Cobaan demi cobaan datang berturutan, usahanya bubar, dikejar banyak oorang, bahkan sampai dia kemudian memulai lagi dari nol, menikah, dan cobaan terus saja tak henti sampai akhirnya dia pergi entah kemana…(mudah mudahan Allah memberinya jalan).

Jadi ingatlah, kata bukan sekedar kata, dia bisa jadi obat, bisa jadi senjata pembunuh. Kata adalah doa yang dapat suatu ketika terkabulkan. Maka jagalah setiap kata terucap, sedapat mungkin hanya kata kata yang baik dan bermanfaat yang senantiasa terucapkan di lisan atau tertulis dengan pena atau ketukan keyboard. Jagalah dia sebelum melesat tanpa kendali.

Membangun sesuatu yang belum pernah ada bukanlah sesuatu yang gampang. Membangun rumah, misalnya. Kita harus mampu membayangkan seperti apa rumah itu, berapa kamar, berapa lantai, pondasinya bagaimana, bahan bangunannya pakai apa, dsb. Kita memerlukan bayangan lalu dibuat sketsa dan desain, dihitung kebutuhan materialnya, dst. Tanpa mempunyai gambaran akan sesuatu yang akan dibangun maka rumah itu akan sulit terwujud dengan baik. Itulah visi.

Bicara lebih luas lagi, lebih dari 66 tahun yang lalu, para pendiri republik ini tak hanya membangun rumah ukuran petak kecil, tapi sebuah negara yang besar. Diperlukan visi negarawan yang benar-benar mampu memimpikan sebuah bangsa yang merdeka dengan jutaan kepala, ribuan pulau, luas yang jauh membentang. Saya selalu saja terkagum dengan perjuangan pemimpin-pemimpin visioner masa lalu, Sukarno, Hatta, Syahrir, dan banyak lagi di masa itu.

Namun sayang, seiring usia bangsa ini yang semakin menua justru banyak visi pendiri negara ini dibelokkan. Semakin lama justru makin memprihatinkan. Ketika masa kemerdekaan kita kaya akan pemimpin berkualitas, sekarang kita justru krisis, nyaris tak punya pemimpin yang punya clear vision ke depan. Kita berjalan sekenanya, tanpa panduan, tanpa arahan, sendiri-sendiri.

Di saat orang muda diharapkan menjadi pemegang estafet kepemimpinan baru yang lebih jernih dan segar, di saat sama generasi \\\’pemburu rente negara\\\’ dari kalangan muda malah makin merebak dan semakin vulgar. Jangankan meneruskan membangun \\\’rumah bangsa\\\’ yang dirintis susah payah, justru malah menggerogoti sendi dan fondasinya demi kepentingan perut.

Meski begitu, kita tak hendak untuk apatis. Jalan ke depan masih panjang. Di tengah tempaan masa yang berat ini harapannya akan lahir pemimpin yang tangguh, memiliki karakter, memiliki visi, dan benar benar seorang negarawan sejati. Mudah mudahan muncul dalam beberapa tahun ini, atau belasan tahun lagi, atau kita perlu lebih sabar lagi,.. Dirgahayu Republik Indonesia

Seringkali kita dengar anjuran para dai untuk selalu bersyukur atas segala nikmat, baik nikmat rezki, nikmat sehat, dan lainnya, dan yang harus paling disyukuri adalah nikmat hidayah. Hidayah Allah-lah yang menuntun kita untuk menegakkan sholat, menggerakkan kaki menuju masjid, melafalkan di lisan ayat Quran, dan banyak lagi amal perbuatan lain.

Hidayah adalah kehendak Allah untuk membuka hati kita, namun bukan kemudian kita santai-santai menunggu hidayah datang, tapi harus selalu berdoa untuk memperolehnya dan bahkan memperjuangkannya.

Dalam Surat Fatihan yang kita ulang-ulang tiap sholat, kita selalu bermohon untuk diberi hidayah, ditunjukkan ke jalan yang lurus. Tak berhenti di situ saja, dalam upaya memperoleh hidayah kita juga harus tak segan-segan menggali hikmah, terus belajar, terus berupaya agar dapat memperoleh hidayah, baik dengan amal mematuhi perintah Allah, menjauhi laranganNya, serta terus menggali ilmu untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Jaman dahulu, Ibrahim berjuang keras mencari tuhan baik dengan akal pikiran dan hati, dengan perenungan maupun mengamati alam. Kalau kita pernah mendengar kisah Ibrahim mungkin perjuangannya tak sesederhana kisah itu, bisa jadi jauh lebih dahsyat dan berat.

Kita sekarang harusnya lebih mudah untuk mengenal tuhan, karena apa? Kita sudah diberikan manual book petunjuk yang dapat kita baca dengan lebih mudah yaitu Al-Quran. Kita diberikan contoh pengejawantahan Quran dalam kehidupan yang dapat kita tauladani, yaitu Rasulullah Muhammad.

Tinggal kita sendiri yang mau atau tidak untuk berdoa dan berharap akan hidayah itu serta berjuang berikhtiar mendapatkannya.

Mulailah lagi dengan membaca Al Quran..

Berapa jarak antara kita dengan Allah? Dalam Quran dikatakan bahwa jaraknya dekat sekali. Sehingga setiap menyeruNya maka Allah akan menjawab.

Kadang mungkin ada orang yang merasa sudah jauh dari Allah, sudah banyak dosa, banyak meninggalkan ajaran agama. Saking jauhnya maka dia merasa tak ada tempat lagi untuk kembali.

Ada semacam mental block yang menghalanginya untuk kembali kepada Allah. Sikap mental macam ini sesungguhnya tidak tepat. Kita diajarkan untuk yakin bahwa Allah akan menerima taubat, akan mengijabah doa. Anggapan bahwa Allah tak lagi sudi menerima hambaNya yang ingin kembali justru menjadikan kita semakin jauh.

Kita harus senantiasa yakin bahwa Allah Maha Kasih, Maha Pengampun, Maha Bijak.. Kita harus selalu berbaik sangka, bahwa apapun yang diberikanNya kepada kita adalah yang terbaik. Hilangkan mental block yang akan menghalangi kita mendekat kepadaNya

Mental korup barangkali memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari koruptor. Karena sudah menjadi mental maka apapun mungkin sudah tak ada gunanya untuk menghalanginya berbuat korupsi. Gaji dan fasilitas yang dilipatgandaKan? Tak selalu mempan. Hukuman yang berat? Di kamus koruptor ini sudah ada dan disiapkan sogokan untuk penegak hukum. Mau dipenjara? Paling cuma sebentar dan formalitas. Bahkan ancaman dosa dan neraka? Bisa jadi dengan mental korupnya koruptor sudah menyiapkan ‘sogokan’ untuk tuhan juga. Taruhlah dia korupsi sekian milyar, lalu sebagian hasil korupsi itu dibuatkan mesjid mewah dan sedekah. Dia mengira dengan begitu dosa korupsinya terampuni.

Jangan heran kalau buron koruptor itu memiliki nama ‘islami’, di wawancara fasih menyebut salam, dan tertangkap di negri nun jauh di sana masih setia beribadah puasa..

Kita tak hendak menghakimi siapapun tentang ibadahnya diterima atau tidak, tapi minimal di mata kita kesalehan tak hanya diukur dari hal ritual tapi juga kesalehan sosial, serta kesalehan-kesalehan lain yang lebih nyata. Ibadah tak hanya ritual dan berhenti di masjid, justru di luar mesjid, di dunia nyata, ibadah kita akan diuji. mental kita yang sesungguhnya akan nampak disana.

Kita diciptakan oleh Allah swt tak lain adalah untuk beribadah kepadaNya. Ibadah tentu saja dapat bermacam-macam dari ibadah mahdhah yang telah ditentukan ritualnya sampai ibadah dalam arti luas yakni keseharian kita.
Ibadah bermakna menyembah juga bermakna pengabdian. Sebagai mahluk yang dicipatakan dan jika ingin memenuhi kehendak pencipta maka kita tentu harus mematuhi apa yang disuruh, menjauhi yang dilarang. Kalau ditanya ibadah kita untuk siapa, pasti jawabnya untuk Allah. Kalau ditanya ibadah kita untuk apa, maka coba tanya lagi ke hati kecil. Ibadah memang ada iming-iming pahala dan syurga. Ibadah tertentu ada keutamaan akan diperlancar rezeki. Sholat dan puasa dapat membuat fisik menjadi sehat dan sebagainya. Itu hanya hikmah ataupun fadhilah.

Tapi kalau tujuan ibadah kita hanya sebatas itu tentu saja esensinya masih belum mengena, apalagi tujuan-tujuan yang dicari masih bersifat duniawi; harta, pangkat, dll. Kita tentu melakukan sesuatu bukan karena iming-iming, seperti anak kecil yang diminta bantuan orangtuanya dan dijanjikan permen. Bagi anak yang cinta orang tuanya apa yang disuruh pasti dilakukan suka hati, bahkan meski tanpa imbalan apapun, semua dilakukan karena cinta. Ibadah yang sejati tentu tak berharap rezeki berlimpah, kedudukan tinggi, enteng jodoh, atau tujuan-tujuan kecil. Ibadah sejati dilakukan karena cinta, untuk membalas cinta, untuk mendapatkan keridhaan Allah semata.

Mana lebih penting, proses atau hasil? Sebagian orang mungkin akan mementingkan hasil karena itulah yang terlihat nyata. Sebagian menganggap penting proses karena itu yang harus diusahakan, masalah hasilnya seperti apa yang penting sudah berusaha. Kenyataannya keduanya sama pentingnya, dan itu berlaku juga dalam ibadah.
Dalam ibadah kita tentu harus memperhatikan proses dengan rinci. Sholat misalnya, kita harus suci dulu, harus tahu dan sesuai syarat dan rukun, proses dan runtutan harus benar. Tapi, apakah itu saja cukup? Tentu tidak. Ibadah tidak berhenti di proses ritual yang kering. Sholat tak hanya membekas di dahi yang hitam tapi membekas di hati dan tercermin di perbuatan. Sholat harus mewujud ke dalam hasil menjadikan kita meningkat ke jenjang lebih mulia. Jadi proses itu penting tapi jangan sampai kita berkutat di sana terus menerus, kita harus terus mengevaluasi proses dan melangkah lebih maju lagi.
Dan hasil ibadah yang sesungguhnya hanya akan kita tahu setelah kita nanti bertemu Sang Pencipta, apakah amal ibadah kita diridhai atau hanya sia-sia..
Semoga Allah selalu meridhai..

Manusia tempatnya salah dan dosa. Tak seorangpun di dunia ini yang tak pernah satu kalipun melakukan kesalahan. Namun, kenyataan ini bukannya membuat kita lalu terus menerus melakukan kesalahan. Sebagai orang beriman maka apabila kita sadar telah berbuat salah maka kita harus kemudian bertaubat. Allah begitu sayangnya terhadap manusia sehingga jika kita bertaubat dan kembali ke jalanNya maka Allah-pun begitu gembira menerima kita. Lebih gembira dari seorang yang kehilangan unta di padang pasir panas yang lalu mendapati untanya kembali.
Ketika kita bertaubat dan menarik diri dari berbuat salah maka konsekwensi dari apa yang pernah kita lakukan tidak bisa hilang begitu saja. Apa yang telah kita perbuat, apakah itu baik atau buruk bakal mendapat konsekwensinya. Jadi kalau kita pernah berbuat salah maka konsekwensinya akan tetap ada meski kita telah berhenti berbuat salah yang kita kenal sebagai dosa. Agar kita tidak kemudian menanggung konsekwensi itu maka kita diperintahkan untuk beristighfar, memohon ampunan atas dosa-dosa kita.
Jadi jika menyadari berbuat kesalahan maka kita harus segera bertaubat dan meminta ampunan atas dosa, baik dengan diwujudkan dengan lisan atau dengan peraku dan perbuatan.
Allahumma astaghfiruka wa atuubu ilaika…

Salah satu dosa yang masuk dosa paling besar adalah dosa menyekutukan Allah atau syirik. Jaman dahulu syirik dapat diidentifikasi dengan mudah, orang menyembah berhala berupa patung,pohon atau benda lain. Sekarang kita sudah jarang menemui yang demikian. Namun bukan berarti syirik sudah tidak ada. Menyekutukan Allah tidak selalu nampak dalam keseharian, bisa jadi syirik, menggantungkan pertolongan, ada di jauh berada di lubuk hati manusia. Syirik bisa saja sangat samar, diibaratkan seperti semut hitam kecil merayap di batu hitam di malam yang gelap gulita, nyaris tanpa disadari.
Dalam dunia yang makin moderen seperti sekarang bisa jadi manusia bukan lagi menggantungkan kepada kekuatan keris atau benda keramat, tapi mungkin kepada yang lebih keren, uang, jabatan, partai, teknologi.. Jangan-jangan kita telah menggantungkan harapan dan pertolongan kepada semua itu, seperti atau melebihi ketergantungan dan bahkan menyepelakan kuasa Allah. Jangan heran kalau kita saksikan banyak koruptor memiliki nama yang ‘islami’, gemar sedekah dan membangun masjid, fasih mengucap salam ketika diwawancara TV. Ya, syirik sangat samar
Ya Allah lindungi kami dari segala yang dapat menyesatkan…

Berbicara tentang nikmat yang kita dapatkan setiap saat tentu tak ada habisnya. Jika dihitung hitung nikmat yang wajib disyukuri hampir tanpa batas. Sayangnya kita seringkali tidak menyadari. Sebut saja nikmat sehat. Ketika sakit datang baru kita rasakan bagaimana nikmatnya sehat yang sehari-hari jarang disyukuri.
Sekitar dua minggu sebelum ramadhan saya harus dinas luar kota. Tak disangka saya merasa kesehatan agak menurun. Sedianya saya akan melanjutkan di kegiatan lain setelah kegiatan pertama selesai. Tapi baru sehari melanjutkan kondisi tubuh semakin menurun. Saya pulang Jogja dulu untuk istirahat barang sehari. Ternyata sakit saya semakin menjadi-jadi sehingga malah harus ijin beberapa hari. Sampai hari-hari awal ramadhan masih belum sembuh benar. Saya bersyukur bahwa meski lumayan mengganggu aktifitas, sakit saya tidak termasuk yang parah benar, dan Alhamdulillah tidak begitu mengganggu ibadah ramadhan. Dua hari sebelum ramadhan tetangga saya yang juga pemilik rumah kontrakan yang saya tempati tiba-tiba muntah dan pingsan saat di kantor. Ternyata terserang stroke. Padahal hari-hari biasanya tidak ada tampak gejala apa-apa. Cobaan ini tentu bagi beliau dan keluarganya sungguh berat (semoga Allah memudahkan). Dibanding sakit saya tentu tak ada apa-apanya. Anda dan saya yang masih dikaruniai kesehatan dan kesempatan menemui ramadhan ini tentu harus banyak bersyukur. Meski seakan tak dirasakan, betapa nikmat sehat begitu berharganya. Sekedar -maaf- kita buang air kecil saja bisa jadi sebuah karunia tak terkira kalau anda pernah melihat bagaimana tersiksanya mereka yang terkena batu ginjal yang betapa sakitnya hanya untuk buang air kecil.
Tugas kita untuk selalu bersyukur atas nikmat ini dengan baik dengan dzikir maupun dengan upaya untuk menjaganya dengan gaya hidup sehat.

Semua bermula dari niat. Entah niat itu terbersit dalam sepersekian detik namun niat mendasari banyak hal. Dalam ibadah mahdhah, termasuk shalat dan puasa ramadhan, niat menjadi syarat agar ibadah diterima.

Suatu ketika saya naik bus kota Solo-Jogja dari rumah di kampung setelah mengantar anak saya yang ikut mbahnya. Beberapa saat setelah naik ada pengamen masuk. Saya terkadang memberi uang kadang juga tidak, ini tergantung juga dengan sikap pengamen itu sendiri. Ketika pengamen ini masuk dan mulai bernyanyi saya mendapati ternyata dia seorang ibu-ibu. Suaranya biasa saja tapi relatif sopan. Saya tiba-tiba membayangkan apakah ibu ini begitu membanting tulang untuk siapa, mungkin nanti sore dia pulang disambut anaknya yang masih kecil, menanti dibelikan sebungkus es, atau mungkin pulang menemui suaminya yang tergolek lumpuh tak berdaya? Tiba-tiba terbersit niat untuk memberi uang sekedarnya, bukan karena saya kasihan tapi karena penghargaan buat ibu ini untuk bekerja sekedar mengamen di bis.

Seandainya niat itu tak muncul, mungkin saya lebih memilih tutup telinga dan tidur, tapi niat yang hanya sepersekian detik itu menggerakkan hati, pikiran dan akhirnya tangan saya untuk merogoh kantong dan memberi selembar uang.

Demikian pentingnya sebuah niat sehingga kita diwajibkan untuk mengawali ibadah dengan niat yang benar bahwa kita melakukannya hanya untuk Allah. Bahkan para khatib sering mengingatkan untuk selalu memperbarui niat yang mungkin sudah agak ‘usang’ dan berdebu, meluruskan niat yang mungkin masih ada bengkok, memantapkan niat yang mungkin masih agak rapuh. Niat yang kadang sementara orang merasa perlu dilafalkan, niat yang perlu terus diulang sehingga meresap, mendarah daging.

Mari meniatkan segala aktifitas kehidupan untuk ibadah hanya bagi Allah semata.

(selama ramadhan ini saya insyaaallah meniatkan untuk menulis setiap hari di blog ini :-) )

Alhamdulillah setelah sekian lama akhirnya saya rilis juga seri Sepercik Hikmah yang ke 4. Aplikasi berisi beberapa artikel lepas dengan berbagai tema tentang kehidupan, religi, renungan esai singkat dan lainnya yang pernah saya tulis di blog ini.  Lepas dari segala kekurangan yang ada saya berharap tulisan ini dapat memberikan sedikit banyak manfaat bagi kita semua. Aplikasi ini berformat Java sehingga dapat berjalan di berbagai platform dan merk ponsel yang ada. Silahkan mengirimkan komentar atau masukan via SMS melalui aplikasi tersebut. Terimakasih

Untuk menginstal aplikasi ini silahkan akses link berikut (dapat diinstal via HP langsung atau file didownload lebih dahulu ke komputer kemudian dicopy/ditransfer ke HP):

Download Sepercik Hikmah 4

Untuk mencoba aplikasi ini secara online silahkan klik disini.

Download Aplikasi Sepercik Hikmah Versi Sebelumnya

Download Sepercik Hikmah 1
Download Sepercik Hikmah 2
Download Sepercik Hikmah 3

Mohon maaf atas segala khilaf dan salah. Selamat menyambut Ramadhan…

Kereta ternyata masih lama, masih sejam lebih. Ternyata jam yang jadwalnya harusnya berangkat kereta tidak ada. Sambil menunggu saya putar lagu di HP, untungnya headset tidak kelupaan dibawa.
Lagu pertama adalah Across The Universe-nya Beatles. Saya jadi terpikir orang-orang macam Beatles ini hebat betul. Kata-kata yang diramu, nada yang disusun, berdengung bergema menembus ruang waktu, bertebaran melalui udara, bermacam frekuensi, melalui berbagai media, di penjuru tempat, bersama angin dan hujan menempel di daun daun atau di atas ombak. Dan sampai disini, di telinga saya melalui headset ponsel, di sebuah stasiun kereta. Persis lirik lagunya Beatles ini: kata-kata memanggil-manggil bertebaran menembus semesta. Ya, magisnya kata-kata…

Entah kenapa suatu malam Affan rewel menangis tak karuan. Beberapa hari sebelumnya dia di rumah mbahnya beberapa hari. Saya berpikir apakah dia agak marah karena dia ditinggal di kampung dan tak ada orangtuanya yang menunggui. Tapi kalau melihat keseharian di rumah mbahnya affan tampak menikmati. Jadi sepertinya bukan itu masalahnya. Saya kebetulan saat membaca sebuah buku tak sengaja menemukan kemungkinan apa yang menjadi masalahnya. Istilahnya adalah terrible two, alias kekacauan tang dibuat saat anak usia sekitar 2 tahun. Salah satunya adalah membantah jika dilarang, suka melempar barang, suka marah, dan menangis tak karuan dll. Selain rewel tak karuan, gejala-gejala terrible two sebenarnya sudah terlihat agak lama, terutama soal lempar melempar. Entah berapa gelas piring yang jadi korban, juga remote TV, HP bahkan terakhir, laptop! Gejala melawan jika dilarang juga muncul sudah cukup lama. Pusing juga menghadapi kalau sudah begitu. Kalau dilarang malah menjadi-jadi, tapi apa ya tidak dilarang? Kalau beberapa hal kecil sih saya tak jadi masalah, semisal mencoret-coret tembok, tapi kalau sudah cukup mengkhawatirkan seperti menarik-narik tivi, membanting rice cooker, atau hal lain yang berbahaya ini cukup jadi masalah. Kadang dia nyadar sendiri kalau sudah merasakan akibatnya. Misalnya, tangannya pernah kena uap, atau ketika nekat makan cabe.

Yang agak menggelikan adalah ketika mulai menengenal kata ‘apa’. Tak urung pertanyaan mengalir terus menerus sampai pusing kehabisan jawaban. Saya jadi teringat seperti lagu permainan yang biasa dinyanyikan waktu Pramuka, yaitu lagu ‘makan apa’. Yang paling membuat pussing adalah tentusaja kalau sudah menangis ngamuk dan tak jelas maunya, seperti waktu malam itu. Dikasih mainan dilempar, dikasih makanan ditumpahkan, pokoknya nggak ada yang membuatnya berhenti. Mamanya tampaknya sudah menyerah. Saya lalu mendekatinya mengajak ngobrol, saya memposisikan dan menghargainya seperti orang dewasa, menanyakan apa maunya. Juga saya bilang kalau membuang nasi, kasihan mbah yang sudah menanamdi sawah,membawakan jauh-jauh, tapi malah ditumpahin. Lama saya ajak ngobrol dan member pengertian. Lama-lama ternyata melunak juga. Tangisnya mereda dan mulai mengambil nasi, memakannya, lalu bilang enaaakk! Kuncinya memang ketenangan dan kesabaran.

Konon terrible two ini sebenarnya dipicu oleh rasa ingin tahu dan upayya alamiah untuk bereksplorasi yang justru akan menjadi fundamen perkembangan anak saat dewasa. Bahkan anak berkembang dengan cara yang luar biasa. Tidak saja dia melakukan apa yang diajarkan, anak dapat melakukan atau menyimpulkan hal-hal yang tak pernah diajarkan. Dan masa-masa terrible two ini tak hanyamenjadi masa uji kesabaran dan membuat pening kepala, tapi juga masa yang menakjubkan

 

Beberapa hari tidak bersama anak rasanya ada sesuatu yang hilang. Hampir seminggu anak saya, Affan, ikut mbahnya di kampong karena kemarin istri saya ada tugas luar sementara pengasuh anak saya sakit dan harus opname. Saya sendiri nggak tega waktu anak saya dijemput untuk diajak mbahnya, akhirnya saya ikut pulang dan paginya balik lagi. Saya tak ingat usia berapa saya pertama kali pergi untuk lebih dari sehari semalam tanpa orang tua, sementara anak saya belum sampai 2 tahun sudah “berani” tanpa kami. Ada semacam rasa bersalah karena kami harus meninggalkan anak karena alasan pekerjaan. Sebenarnya sudah beberapa kali kami meninggalkan anak, tapi paling hanya sehari atau dua hari, itupun masih di rumah kontrakan kami yang anak saya sudah terbiasa dan ada pengasuh yang sudah biasa sehari-hari bersama anak saya. Jikasaja kami bebas menerima atau menolak tugas tentu anak yang menjadi prioritas.

Beruntung anak saya ternyata tanpa kami malah lebih dewasa, jarang sekali menangis, tidur malam tidak banyak ribut, tak suka melempar barang, hanya makan yang relative lebih sedikit. Selebihnya dia menjadi anak manis bareng mbahnya, terutama yang penting ada mbah kakung disampingnya maka dia tidak banyak rewel. Mbahnya juga senang karena jarang-jarang cucunya bertandang agak lama. Affan juga tak banyak bertingkah tidak seperti jika ada orangtuanya.

Hari-hari ini Affan sudah kembali ke Jogja. Senang melihat tawa lebarnya ketika dari balik kaca mobil melihat kami yang kebetulan berpapasan di jalan. Tak tampak rasa sedih, marah atau ngambek di wajahnya karena kami taidak bersamanya sampai beberapa hari. Nampaknya Affan malah menikmati masa-masa di kampung seperti sedang piknik saja. Rasanya malah kami yang merasa begitu kehilangan dan kesepian.

Maafkan kami nak, mudah mudahan ini juga menjadi pengalaman bagimu untuk belajar mandiri.

Begitu tiba di Jogja langsung main air seperti tak ada bedanya dengan biasanya

ulang tahun

Hari masih terang, masih jam 4 lebih sedikit. Saya dan istri sengaja pulang agak cepat. Matahari rasanya begitu terang, mengingat kami biasanya pulang ketika hari sudah senja. Hari itu ada momen khusus, anak kami berulang tahun kedua. Agak spesial juga, mungkin tepatnya haru, karena sudah beberapa hari anak kami tengah di kampung, tanpa ada kami. Keadaan yang memang memaksa demikian, istri saya habis dinas luar kota dan pengasuh anak saya sakit. Karena hal itu pula kami memutuskan untuk mudik dalam rangka merayakan ulang tahun sederhana itu. Saya sendiri waktu kecil tak pernah ada acara ulang tahun. Istri saya sengaja membelikan sepotong lilin, beberapa potong kue dan saya membelikan hadiah.

Ternyata, meski dibela-belain dalam kondisi yang masih capek bolak-balik, godaannya ada saja. Beberapa KM kami berangkat motor mulai terasa ngadat. Beberapa KM berikutnya motor mogok total. Beruntung tak jauh dari situ ada bengkel kecil. Mas-mas di bengkel itu yang sedang mengoprek motor tua membantu memperbaiki motor saya. Ternyata salah satu baut karburator lepas dan bensin nya mengucur terus sampai mesinnya mogok. Setelah menunggu agak lama akhirnya motor jalan lagi. Hari sudah mulai malam, tapi kami memang sudah berniat untuk melanjutkan perjalanan untuk sebuah hari yang sangat penting itu. Sampai di rumah orangtua di kampung sudah wakyu isya. Dirumah ternyata Affan dan keponakan saya, Kiki hanya berdua, mbahnya sedang sholat isya di masjid. Seperti biasa, anak saya langsung ekspresif, tertawa-tawa sambil cari perhatian dengan membuang apa saja yang di meja (seperti biasa kalau ada ayah-ibunya).

Setelah mbah pulang dari masjid kami adakan pesta kecil Affan, hanya ada saya, istri saya, mbah kung, mbah ti. Affan dengan semangat meniup lilin dan tentu saja memakan lahap roti coklatnya. Setelah itu kado dibuka, saya belikan mobil-mobilan VW Kodok warna kuning. Lengkap sudah, roti coklat dan mobil-mobilan… J

Selamah ulang tahun ya, semoga keberkahan selalu tercurah di hidupmu.. Kami bangga denganmu, nak!

Marah adalah manusiawi. Tak semua hal yang kita inginkan terpenuhi dan sebaliknya ada hal-hal yang tidak kita ingini yang ternyata terjadi dan hal ini kadang membuat kita marah. Masalahnya adalah ketika marah ada banyak hal buruk yang jadi pelampiasan. Ada yang bilang bahwa marah perlu dilampiaskan karena jika tidak maka malah membuat kita tertekan. Tapi ada juga yang mengatakan marah yang dilampiaskan dapat berakibat tidak baik dengan kesehatan karena akan meningkatkan hormon cortisol (hormon stres) dalam darah yang dapat merusak otak dan mempengaruhi beberapa organ. Bukan itu saja, hal yang sama terjadi pada orang yang dimarahi.
Saya bersyukur bukan tipe yang gampang terpancing untuk marah dan juga tidak terbiasa menyimpan kemarahan. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali saya pernah benar-benar merasa sangat marah. Meski demikian marah tentu tidak selamanya buruk, bahkan dalam beberapa konteks marah itu menjadi keharusan. Namun, kemarahan haruslah disalurkan secara positif dan bertujuan jelas, tidak hanya sekedar melampiaskan emosi.

Kebalikan dari luapan kemarahan adalah ungkapan kasih sayang. Jangan biarkan anak atau orang yang kita sayangi marah atau cemberut berlama-lama. Berikan sentuhan atau pelukan untuk menunjukkan kepedulian kita. Secara medis, ungkapan kasih sayang akan meningkatkan hormon Oksitosin dalam darah yang berfungsi berkebalikan dari hormon cortisol.

Jadi, jangan biasakan banyak marah, mending biasakan menebar kasih sayang :-)

Sekeras apakah kamu meneriakkan pekik takbirmu? Laksana halilintar memekakkan atau lirih, selirih angin pagi dingin yang menyeka embun dan dedaunan?

Kita mungkin sudah terbiasa berzikir, menyebut nama Tuhan dalam setiap kesempatan. Kita membaca bismillah, alhamdulillah, subhanallah, allahuakbar… Entah itu hanya di lisan atau (mudah-mudahan) adalah getaran dari hati. Terkadang lisan terucap dengan spontan, seolah kata yang tiba-tiba melompat. Namun, dalam beberapa kejadian, kita mungkin akan mendapati bahwa kalimat suci itu mengalir dari hati yang paling dalam.

Ketika Merapi meletus kemarin dulu, apa yang tampak di mata saya adalah sebuah kekuatan besar yang kita seakan menjadi sangat kecil. Tak terdengar pekik takbir yang keras untuk mengekspresikan perasaan betapa kecil manusia di banding gunung berapi, apalagi Sang Pencipta gunung berapi itu. Pengakuan kebesaran Tuhan justru tertanam di lubuk hati, diam-diam.
Kejadian lebih besar lagi adalah ketika gempa 2007 lalu. Hanya beberapa detik, tapi siapapun yang mengalami pasti tak akan lupa seumur-umur. Ketika detik bumi berguncang tak ada hal lain selain lari menyelamatkan diri. Sepertinya dunia akan kiamat. Tanah bergoncang seperti mau amblas. Kami hanya gemetaran berzikir lirih, Subhanallah dan ketika goncangan semakin keras kami hanya pasrah dan berzikir Allahu Akbar.. Bukan hanya lisan tapi dalam hati ada ketundukan luarbiasa, ada kepasrahan yang dalam, mengakui bahwa kita ini bukan apa-apa, mengakui bahwa keagunganNya meliputi apapun.
Meski melewati kejadian-kejadian itu, Saya bersyukur dapat merasakan zikir hati yang demikian dalam didalam hati, tak sekedar keluar dari lisan.

Jika melihat kejadian-kejadian sekarang, terus terang saya sangat sedih, tapi juga marah, malu, prihatin, semua campur aduk. Dulu pernah saya melihat tayangan di TV ada anak-anak TK mengadakan kegiatan semacam outbound, ketika selesai melompat atau menyelesaikan sesi fisik, setiap anak akan mengepalkan tangan dan berteriak Allahu Akbar. Saya merasa ada sesuatu yang mengganjal, entah apa. Tidak ada yang salah sih, tapi takbir itu seperti diajarkan kepada anak-anak sebagai semacam pekik kemenangan, ekspresi yang tentu tidak tepat jika kita melihat makna takbir itu sendiri.

Dan belakangan, lihatlah (di Youtube)  ketika pekik takbir itu menggema disana, tangan-tangan mengepal, lalu… pukulan kayu, lemparan batu, darah…

Apakah kita akan menyahut pekik-pekik suci itu dengan lebih keras? Ataukah kita hanya perlu mengucapnya dengan lirih dan syahdu, seperti angin pagi dingin yang penuh kasih menyeka embun dan dedaunan?

Kemarin sabtu saya datang menghadiri pertemuan silaturahim rekan kerja kantor. Acaranya ternyata terpotong sholat Dhuhur, jadi saya ke masjid bersama beberapa teman berjalan kaki. Di masjid itu ada beberapa kertas ditempel di beberapa tempat, isinya (lupa skrinsutnya):

Hati-hati banyak pencuri…

Teman saya bilang, “Wah, ini salah! Harusnya ‘ada pencuri’, bukan ‘banyak pencuri’.”

Singkat ceritanya, setelah sholat dan mau mengambil sandal, ternyata sandal saya raib. Bukan hanya sandal saya, ada 3 orang sekaligus yang kehilangan! Tiga-tiganya sandal baru. Saya jarang beli sandal baru, biasanya pakai sandal yang sudah butut. Karena sudah agak rusak, saya lalu dibelikan sandal baru oleh istri saya. Eh, ternyata apes, belum lama dipakai sudah hilang.
Jadilah kami bertelanjang kaki di aspal yang panas karena tak ada toko yang jual sandal di situ.

Kalau mau sandalnya aman dan tidak gampang hilang dicuri, sebaiknya mungkin meniru jejak tetangga teman saya, yaitu pakai sandal taliban. Pasti yang mau mencuri akan segan dan berpikir tujuh kali. Ini sandalnya:

Sandal yang TALI dan bodynya terbuat dari BAN… :-)



aplikasi hp gratis

Aplikasi HP Gratis



About Me
.




download tutorial blog wordpress

mtmamim on facebook
mtmamim on wordpress
mtmamim on blogger
mtmamim on plurk
mtmamim on twitter
mtmamim on multiply
Email: muh_tamim@yahoo.com
My other blog: mtamim.com

Menu

RSS My Blogs

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

 

Add to Google
Add to Technorati Favorites

YM!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 238 other followers