Singkat atau panjang mungkin hanya persepsi. Begitupun ketika waktu menuju akhir 2013. Entah bagaimana setahun ini terasa begitu singkat, tiba-tiba saja sudah akhir Desember. Di sisi lain tahun 2013 seperti terasa amat panjang, penuh peristiwa, anugerah, cobaan dan mungkin menjadi tahun yang cukup melelahkan.

Tahun 2013 dimulai dengan segala pernik dan sukacita dengan lahirnya anak kedua kami, Kaysa, Desember 2012. Tentu saja dinamika dan segala kerepotan mendidik dan membesarkan anak pertama masih saja membuat saya terkagum-kagum dan geleng kepala, betapa setiap anak memiliki dunia dan karakter masing-masing. Kini kami mendapat amanah baru, anak kedua.

Selain pernik tentang keluarga dan hiruk pikuknya anak-anak, kami juga mulai membangun rumah. Satu demi satu batu-bata tersusun, kayu diangkat, pasir dan semen ditempel, dan genteng dipasang. Bapak-lah yang menjadi orang yang paling berjasa. Beliau rela demikian bersusah payah dari membersihkan tanah yang penuh perdu, tidur di bawah tenda, makan bersama tukang-tukang, sementara ibu menjadi juru masaknya. Tak ada yang lebih indah dari kenyataan bahwa ada sebuah cinta yang tumbuh dari orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia seperti itu. Saya selalu terenyuh sekaligus berbahagia jika mengingatnya. Saya mungkin saja bisa membayar orang untuk membuatkan bangunan, tapi apa yang dilakukan Bapak dan Ibu tidak mungkin akan mampu saya ganti dengan biaya berapapun. Mereka tak punya banyak uang untuk membantu saya, ibu saya bahkan pernah bilang bahwa sudah tak punya uang lagi, tapi peranannya justru melampaui dari sekedar uang dan harta. Saya sempat bilang ke istri saya bahwa sejelek apapun rumah itu jadinya itu adalah rumah yang terindah, bukan oleh karena bangunannya tapi oleh cinta yang membangunnya.

Namun, ketika awal tahun 2013, beberapa saat sebelum bangunan rumah benar-benar jadi, Bapak dipanggil oleh Sang Pencipta, di pangkuan saya. Bapak bahkan tidak sempat mengantar kami untuk pindah rumah yang sudah hampir jadi, sebuah monumen yang dibuatnya, beberapa bagian bahkan dibuat dengan tangannya sendiri.

Namun hidup harus terus berlanjut. Hari demi hari hampir diwarnai sesuatu yang baru, beruntun, terus menerus. Dari soal pekerjaan kantor, yang biasanya dibawa-bawa sampai rumah, dikerjakan sampai tengah malam atau hari-hari libur, sampai soal-soal keluarga, terutama, sekali lagi soal anak. Hampir setiap hari ada saja yang membuat takjub, heran, senang, tapi terkadang juga dongkol, sedih, semuanya berjalin berkelindan bercampur baur. Saking banyaknya hampir tak ada waktu untuk menulis atau bahkan mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi, setiap hari.

Tarik ulur antara pekerjaan kantor dan urusan membesarkan anak menjadi bagian yang tak habis-habisnya, meski terus terang kalau diminta memilih, saya akan memilih keluarga menjadi nomor satu.

Dan memang, tidak mudah menjadi orang tua, dan jika ingin belajar maka langkahnya mirip seperti belajar berenang, nyemplung-lah ke kolam dan belajarlah. Atau seperti belajar naik sepeda, genjotlah pedalnya dan belajarlah. Setidaknya saya ingin paling tidak seperti Bapak dan Ibu yang begitu total memberikan semua kepada kami, anak-anaknya, tanpa pamrih.

Kini, di tengah rintik maupun deras, hujan bisa saja dirasakan sebagai anugerah, bisa sebagai halangan, bahkan musibah. Namun, sejatinya apa yang tercurah dari langit adalah anugerah yang sudah diatur sedemikian rupa, ada yang menyenangkan hati atau mungkin membuat sedih bahkan luka. Semua sudah diatur untuk membuat kita lebih matang dan dewasa menjalani hidup dan pada gilirannya menyiapkan kehidupan ke depan yang lebih baik.

Bagaimanapun semua harus selalu disyukuri. Semoga 2013 yang super-duper padat dan melelahkan ini akan menjadi hikmah dan berbuah manis.
Selamat Tahun Baru 2014 dan selamat menikmati rinai hujan.

Bertepatan dengan hari pahlawan ijinkan saya sharing kisah ttg nenek,#pahlawan keluarga besar kami. Ini hari ke-4 nenek, atau kami biasa panggil Mbah, terbaring di RS,koma. Meski agak jauh,kemarin saya sempatkan menengok beliau. Usia Mbah mgkn sudah mencapai 100. biasanya sangat sehat dan bugar. Teman seusianya sdh habis belasan tahun lalu
Mbah memiliki 7 anak,2 meninggal. Mbah kakung meninggal saat bapak saya masih SD kelas 3. Bs dibilang Mbah adalah single parent

Hidup di desa terpencil,kering,miskin, kehidupan keluarga Mbah dilakoni dengan tidak mudah.Belum lagi konflik politik silih berganti. Dari masa Belanda,Jepang,DI/TII,PKI,dll. Mbah melalui itu semua. Dengan kondisi demikian,keluarga Mbah ditempa dgn keras namun justru itu menelorkan jiwa2 penuh dedikasi dan tanggungjawab. Meski hidup kekurangan,semua anak2 harus mengenyam pendidikan, itu prinsip keluarga Mbah. Meski tdk sekolah Mbah sendiri tidak buta huruf

Setiap hari Mbah membaca Quran dengan terjemahan Jawa pegon setiap usai sholat 5 waktu. Setiap hari. Kebiasaan ini dilakoni hampir semasa hidup,sampai kira2 1-2 tahun terakhir karena penglihatan Mbah mulai kabur. Mungkin krn itu pula Mbah secara pikiran masih jernih. Dan mgkn stlh tdk mampu mmbaca quran lg, ingatan dan pikiran mulai menurun

Saya membayangkan masa mudanya Mbah pastilah wanita yg kuat,tegar,decisive.Tercermin pd anak2nya. Sbg cucu, saya merasakan ikatan kasih sayang anak2 Mbah sangat dalam. Sekali lagi itu mgkn hikmah kerasnya hidup..Bbrp hari sblm meninggal, bpk sempat mengigau memanggil2 nama Mbah. Entah knp,mgkn mmg ikatan yg begitu kuat

Anak2 Mbah hampir semua jd guru,melanjutkan jejak mbah kakung. Dari 5 anak yg hidup sampai dewasa kini tinggal 3. Pakde meninggal 10an thn lalu. Bpk saya meninggal awal thn ini. Mbah sendiri tyt mlh dikaruniai usia lbh panjang. Mbah masih dpt menemui belasan cucu,buyut bahkan ‘canggah’ (istilah Jawa utk anak dari buyut)

Setiap lebaran hampir semua selalu menyambangi Mbah sebagai pepunden keluarga..Hari2 ini pun anak cucu bergantian menemani Mbah di RS, sebuah pengabdian dan kasih yg selalu terpatri.Semoga Tuhan memberikan semua yg terbaik kepada Mbah, sang #pahlawan keluarga kami.

Dan semoga Tuhan mengabulkan doa Mbah yg selalu diulang2 kepada kami. Doa Mbah bukan doa agar kaya raya atau lainnya..doa yg selalu saja diucapkan Mbah terus menerus, bahkan sejak saya bisa mengingat, adalah agar kami semua diberikan kekuatan iman..

Semoga Allah mengabulkan doamu Mbah, nenek kami,pahlawan kami..

(tulisan ini saya ambil dari akun twitter, saya tulis 10 November 20013 lalu. Sore ini, 12 Nopember 2013, saya memperoleh kabar bahwa nenek akhirnya dipanggil Sang Pencipta. Semoga khusnul khatimah)

affmbah

 

Mohon ijin sedikit sharing. sudah sekian bulan berlalu sejak bapak meninggalkan kami semua sejak saya sekolah di kota, jika saya berangkat atau pulang naik bis saya selalu diantar-jemput ke/dari terminal terdekat Dulu biasanya bapak sendiri yg antar-jemput, setiap akhir pekan. mengantar atau menunggu di terminal dulu belum ada HP sehingga agak sulit berkomunikasi. Bapak akan setia menunggu sabtu sore ketika bis datang

Entah kenapa tadi malam menjelang pagi saya bermimpi dijemput bapak. uniknya bapak menjemput naik sepeda (biasanya pakai motor) uniknya lagi saya duduk di depan, di stang, mirip seperti anak balita, dan menghadap belakang, shg dpt melihat wajah bapak. wajahnya teduh dengan senyum kecil seperti biasanya. lekat saya memandangnya. dalam mimpi saya awalnya tidak sadar jk bpk sdh tiada lama-lama saya sadar kalau bapak sudah tiada. tapi saya hanya diam, menunggu..

Sesampai di sebuah jembatan, sudah dekat dari rumah, bapak berhenti dan turun dari sepeda Beliau berkata (dlm bahasa jawa): sudah ya sampai disini saja ya? saya sontak menangis sejadi-jadinya saya langsung memeluk erat sekali sambil berkata: pak saya kangen.. saya tahu bahwa itu hanya mimpi dan akan segera berlalu begitu bangun jadi saya meluapkan rasa kangen itu dengan erat memeluk bapak meski saya sadar bahwa itu hanya dalam mimpi

Pelan-pelan bapak menghilang dan sambil menangis saya membacakan doa sebisanya saya tidak tahu apakah mimpi itu hanya halusinasi atau memang dunia ruh itu masih bisa ada hubungan dg dunia kita wallahu a’lam tapi saya bersyukur untuk masih dapat memeluk bapak, walau dalam mimpi, entah itu benar bapak atau hanya halusinasi semoga bapak disana diberikan ketenangan, dilapangkan, dan selalu dirahmati Allah, ditemani sahabat2nya: amal baiknya

Selamat pagi kawan, jangan sampai dunia fana membuatmu lupa untuk selalu mendoakan kedua orang tua..

Foto diambil dari sini

Doaku
Di tengah target pekerjaan yang menimbun, hari ini seperti benar-benar libur, nyaris tak ada progress, meski laptop seharian, bahkan sepertinya sejak semalam tidak mati, tapi nyaris tanpa mengerjakan apapun…
Oh, tidak, sejak semalam keluarga saya datang, entah sudah keberapa kian kali. Hanya untuk bersua, tak ada kepentingan lain. Tapi bagi saya, itu adalah kepentingan yang maha penting. Tak ada pembicaraan-pembicaraan serius, tapi berkumpul, phisically, adalah lebih bermakna dari segala diskusi atau keseriusan apapun. sejak dulu, bagi saya, momen berkumpul sepenuhnya adalah sebuah kemewahan, dan menjadi begitu sangat-sangat mewah sejak kepergian bapak. Waktu menjadi demikian berharganya sehingga hal hal lain seperti tidak terlalu penting, tak terkecuali pekerjaan atau lemburan.
Malam ini semua sudah pulang lagi, dan dengan bertepatan dengan malam Nishfu Sya\’ban doa saya semoga kami dipertemukan lagi, semoga dipertemukan dengan Ramadhan, semoga kelak dipertemukan dengan bapak, semuanya semoga dengan keadaan yang lebih baik.

Beberapa waktu lalu saya tiba-tiba tersentak ketika mengobrol ringan dengan bapak. Bukan soal topik yang dibicarakan, tapi saya tiba-tiba saja memperhatikan rambut bapak sudah hampir memutih semua, sudah jarang dan merontok. Saya seperti baru tersadar, bapak sudah tua. Begitupun kemudian ketika melihat ibu, sudah tidak sesehat dulu dan juga rambut memutih dan merontok. Dan tiba-tiba saja terfikir betapa banyak yang telah beliau berikan, kasih sayang yang mungkin nyaris tanpa batasnya. Sedang apa yang saya berikan kepada mereka tak akan pernah sebanding.

Kini bapak sudah tiada, kadang masih saja berurai airmata jika mengenangnya. Ibu sudah mulai sering sakit-sakitan, barangkali karena juga sering teringat bapak. Dan saya, masih saja dikejar perasaan risau tentang apa yang sudah saya berikan kepada mereka.

Berikut ini file presentasi tentang E-Learning dan Pembelajaran Abad 21 Best Practice e-training PPPPTK Matematika
Download File

Tidak mudah menjadi orang tua. Itu ungkapan yang mungkin sering kita dengar yang barangkali tak akan dapat benar-benar dipahami sampai kita mengalami sendiri, menjadi orang tua. Dan ini  berlaku juga bagi saya.
Dulu kita mungkin banyak hal yang tidak kita setujui dari orangtua kita. atau banyak keinginan yang tidak dapat atau tidak mau dipenuhi orang tua. Kita lalu merasa bahwa orangtua kita bukan yang terbaik atau penilaian lain. Itu masa lalu. Ketika kita berkeluarga, dan memiliki anak tentu baru berasa sulitnya menangani anak. Terlebih lagi kalau anak kita ini cukup cerdas dan kreatif. Saya dan istri sudah beberapa waktu ini cukup kewalahan menangani Affan, entah sejak mulai usia berapa saya lupa, selalu saja ada tingkah polahnya. Sudah tak terhitung berbagai barang menjadi korban eksperimennya, dari gelas piring sampai HP dan laptop. Beberapa waktu terakhir mulai mereda, tapi sejak kehadiran adiknya ternyata timbul lagi. Ada ada saja keinginannya yang polahnya yang menuntut kesabaran sangat tinggi. Untuk menghadapinya harus bukanhal yang mudah. Tak ada tindakan jitu yang benar-benar ampuh baik yang hagus sampai yang agak keras. Hukuman atau punishment tidak ada yang efektif.
Salah satu cara yang kadang manjur adalah tidak menanggapi sama sekali jika dia berulah. kadang lama-lama dia akan minta maaf sendiri. Tapi cara ini hanya untuk menyetop sesuatu yang dia minta. AKan lebih sulit jika kita ingin dia melakukan sesuatu, misalnya makan apalagi berangkat sekolah, tentu tak bisa dengan metode “pembiaran” tadi. Kali ini metode yang sejauh ini paling efektif adalah dengan negosiasi dan bargaining.

Ada banyak hal yang dapat dinegosiasikan sehingga ada cukup alasan yang masuk akal baginya. Ini sangat sulit dan perlu kreatifitas lebih. Affan punya ingatan yang cukup kuat dan cukup lihai untuk memanfaatkan informasi dalam negosiasi. Ada saja hal baru setiap pagi yang menjadi alasan untuk tidak berangkat sekolah atau aktifitas sebelumnya; bangun pagi, sarapan, mandi. Setiap pagi harus ada ide baru untuk menjawab atau membujuk. Dari yang paling gamblang, dijanjikan beli permen Yupi, sedikit ditakut-takuti, atau sampai ultimatum. Dan tak ada satu metode pun yang cespleng untuk membuatnya takluk. Jika ada pasar malam, dia ditawarin dulu lihat meski kita tahu kalau siang hari pasti tutup, itu dipakai membujuk, diajak dulu lewat loaksi, ternyata tutup baru ke sekolah. Besoknya dia alasan sekolah libur (hadeh) lalu saya bilang ya udah kita lihat ke sekolah apa libur apa tidak, kalau libur nanti kita pulang lagi. Tentu ia tak berkutik dan “terpaksa” berangkat, saya pun segera ajak naik motor sebelum dia punya ide lain. Dan ada 1001 hal lain yang kadang saya “kalah” dalam negosiasi. Seperti pagi ini, akhirnya saya tak ada lagi “amunisi” tersisa apalagi sudah mulai siang dan akan telat ngantor. Ya sudah saya berangkat kantor, mudah-mudahan ibunya berhasil membujuk.
Dan memang, tidak mudah menjadi orang tua..

Hidup dan waktu untuk menjalaninya barangkali memang sangat mahal. Beruntunglah kita yang dapat menjalani hidup dan memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya.  Siang itu, hanya beberapa saat saja, saya makan siang dengan Bapak, dan mengobrol ringan tentang beberapa hal. Sebelumnya Bapak masih mengimami shalat Dhuhur di masjid. Tak menyangka bahwa itu adalah waktu-waktu yang indah di hari terakhir beliau. Yang membuat saya agak menyesal adalah ketika Shalat Asar saya ketiduran dan tidak berangkat ke masjid sehingga melewatkan shalat Asar terakhir bersama Bapak, walau belakangan saya baru tahu kalau Asar itu Bapak meminta Paman saya untuk menggantikan menjadi imam.

Tak ada yang menyangka bahwa kesempatan yang diberikan Allah untuk Bapak ternyata hanya sampai awal malam di hari itu. Ketika sore Bapak terjatuhsetelah mandi setelah sesaat pulang dari masjid, waktu itu bahkan tubuh beliau sudah kaku dan sudah tak bernafas lagi , Kami sangat kaget, cemas dan tentu saja panik. Saya dan keluarga menuntun membaca kalimah thayyibah meski Bapak sudah diam dan kaku. Tak dinyana satu satu nafas Bapak mulai muncul meski agak berat. Kemudian lisan sedikit demi sedikit mengucap “La ilaha illallah” dengan suara yang tidak jelas. Lama lama kalimah thayyibah yang diucapkan semakin jelas. Dan Bapak kembali sadar. Waktu itu kembali bapak merasakan nyeri di punggung yang beberapa hari sebelumnya sudah dirasakan menandakan bahwa kesadaran Bapak sudah pulih. Kami agak lega dan mencari anggota keluarga lain yang belum ada. Waktu itu adik saya belum pulang.

Tak disangka-sangka sepertinya kesadaran dan detik terakhir Bapak yang hanya beberapa jam itu memang diberikan Allah sebagai “bonus” bagi Bapak untuk berpamitan kepada kami. Tak ada yang menyangka Bapak pergi secepat itu, karena tidak sampai dua menit Bapak mencari ibu dan paman (yang saat itu tak ada disampingnya), Bapak telah tiada untuk selamanya, insyaallah dengan dimudahkan Allah. Saat itu dalam hati saya sempat meminta kepada Allah, jika saja ada anugerah rezeki dunia yang dijatahkan ke saya, jika boleh, untuk digantikan dengan kembalinya Bapak di antara kami. Walau setelah itu saya sadar, emas segunung-pun tak akan mampu membayar kehidupan walau hanya beberapa detik saja. Dan tentunya bonus waktu beberapa jam, sore itu sudah demikian berharganya untuk kami, ibu dan semua anak-anak,  berkesempatan mengantarkan Bapak pergi.

Semua hanya kepunyaan Allah semata, siapapun tak akan dapat menghalangi jika sang Pencipta memang menginginkan, tak juga tangis, jabatan dan kekayaan, semua tak ada artinya. Kepergian orang yang kita cintai pasti akan membuat sedih dan kehilangan besar, tapi yang tak kalah penting adalah menjaga cinta untuk keluarga dan orang-orang yang dicintai yang saat ini masih ada.

Entah bagaimana rasanya ketika banyak perasaan yang tercampur aduk ketika mengetahui salah satu orang yang kau cintai kemudian pergi, untuk selamanya. Hal itu yang saya alami. Kesedihan tak terkirakan tapi juga ada rasa bahagia, kehilangan yang besar tapi juga keiklhasan, entah apa lagi.
Baru beberapa jam dan beberapa menit sebelumnya saya berbincang dengan Bapak, dan dalam waktu yang tak terlalu lama kemudian ia pergi selamanya.

Ketika muda barangkali sebagian besar kita cukup angkuh untuk ingin hidup mandiri tanpa bantuan siapapun termasuk orang tua. Tapi semakin lama perasaan angkuh itu seperti sebuah kebodohan saja, setidaknya seperti yang saya alami. Bahkan ketika saya mulai hidup dari penghasilan sendiri, kuliah dengan biaya dari beasiswa, atau apapun hal lain yang harusnya membuat pembenaran akan keangkuhan bahwa kita dapat hidup mandiri. Semakin hari semakin saya merasakan bahwa saya tak bisa lepas dari bayangan bapak dan ibu saya. Ketika semakin “berumur” baru saya menyadari betapa besarnya kecintaan mereka. Banyak hal yang telah diberikan oleh mereka baik yang kasat mata (perhatian, materi, pelukan, dll) dan banyak hal lain yang tak pernah kita sadari, doa-doa yang selalu mereka panjatkan setiap waktu.

Bapak bagi saya adalah sosok penyayang. Bapak bukan tipe yang ingin dilayani dan tidak mau membebani orang lain, bahkan kami, anak-anaknya. Justru sebaliknya, bapak selalu berupaya melayani kami, ingin selalu membantu apapun kesulitan kami. Semakin sepuh bapak malah semakin berusaha membahagiakan kami, dengan segala upaya. Beliau habis-habisan membantu saya maupun kakak untuk membangun rumah yang ideal bagi kami, beliau sendiri tinggal di rumah kayu yang sejauh ingatan saya tak pernah berubah sejak saya lahir.
Karena bukan orang yang kaya, bapak tak memberikan banyak uang dan materi, tapi memberikan kami banyak cinta, hal yang kemudian saya sadari sebagai pemberian yang tak tergantikan oleh harta apapun. Semakin lama semakin besar cinta yang saya rasakan hingga hari-hari terakhirnya.
Dan entah kekuatan apa yang membawa saya pulang mendadak pagi itu, sekedar berbincang singkat adalah kesempatan yang Allah berikan bagi saya sehingga syukur tak terkira karenanya. Dan detik-detik terakhir ketika Bapak menghadap-Nya, tepat dihadapan saya yang hanya mampu berdoa dan mengusap keringat di dahi, pipi dan wajahnya sertqa menuntun membaca Asma Allah. Akhirnya Bapak kembali kepada Sang Pencipta dengan damai.

Bapak telah pergi selamanya namun cinta itu selalu lekat di hati kami semua. Hati ini mungkin menjadi terasa hampa dan kosong, tapi di sisi lain ada rasa ikhlas karena semua bukan milik kita. Tak hendak terus-terusan menangisi kepergiannya, karena itu tak akan berarti apapun. Yang saya berharap adalah Allah meringankan lisan dan hati kami untuk dapat mendoakan Bapak dan Ibu.
Dan sepanjang jalan ketika mengantar jenazah Bapak ke tempat peristirahatan terakhir, menyaksikan tubuh itu diturunkan ke liang lahat, ditutupi tanah, sedikit demi sedikit, kembali seperti mengingatkan sekali lagi bahwa Bapak benar-benar telah pergi selamanya. Lailahaillallah, Semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Sedih ketika ditinggalkan, tapi syukur dapat mengantar kepergiannya dengan damai, rasa menyesal karena selama ini belum banyak membahagiakan, dan beragam perasaan mengaduk-aduk. Namun kami sebagai anak sudah ikhlas melepas, sudah ridho bahwa sebagai seorang ayah telah menunaikan tugasnya lebih dari yang kami butuhkan. Tak banyak warisan harta tapi warisan cinta Bapak melebihi segalanya. Engkau mungkin tak akan tahu berapa besar engkau mencintai dan dicintai seseorang sampai kemudian ia meninggalkanmu.
“Hai jiwa yang tenang (muthmainah)! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai! Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku…”
(Al-Fajr: 27-30)

Berdoalah kepada-Ku niscaya akan aku ijabah (perkenankan) (QS 40:30)

Banyak diantara kita begitu mengagungkan apa yang kita miliki, apa yang kita bisa, apa yang kita kuasai. Kita mungkin memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membeli apa saja, memiliki otak pintar yang dapat menyelesaikan masalah apa saja, punya segalanya di dunia. Terkadang tanpa sadar bahwa sebenarnya kita cukup pongah bahwa apa yang ada di kita ini semuanya hanyalah karena belas kasih dari Allah. Kita kadang terlalu pongah bahwa seolah-olah dengan daya upaya sendirilah kita membangun kesuksesan, mampu mengumpulkan banyak harta karena keahlian dan kepintaran kita tanpa perlu bantuan orang lain bahkan kadang menyepelekan peran Tuhan dan malah “menuhankan” ikhtiar. Kita seringkali lupa berdoa karena sudah sedemikian percaya dirinya dengan ikhtiar.

Berdoa sesungguhnya bukan sekedar ‘meminta’ dimana kita mungkin akan merasa tidak perlu berdoa jika kita sudah merasa cukup. Misalnya kita sudah merasa kaya dan banyak uang sehingga kita tak perlu berdoa meminta rizki atau merasa sehat perkasa, mampu menjaga hidup yang higienis, rajin olahraga sehingga tak perlu berdoa untuk kesehatan. Doa sesungguhnya adalah menunjukkan bahwa kita adalah makhluk lemah tak berdaya meskipun secara fisik kita seolah-olah mampu berbuat apapun untuk mewujudkan keinginan. Doa bukanlah ikhtiar atau usaha agae keinginan terpenuhi. Ibarat mau mengambil buah di pohon, doa bukan upaya menggoyang dahan supaya buah jatuh, tapi memohon belas kasih pemilik pohon.

Doa ibarat tabungan, meski doa tak segera dikabulkan sebenarnya ia adalah tabungan untuk keperluan lain yang mungkin tidak kita perhitungkan sebelumnya. Ibarat anak kecil yang selalu minta jajan, keinginannya itu kalau selalu dipenuhi mungkin suatu ketika ia akan memiliki tabungan cukup untuk membeli sepeda, ketika saatnya tiba. Jika setiap saat ia membeli jajan maka ketika kebutuhan penting lain tiba-tiba ada di hadapan tabungannya sudah habis karena tidak dipersiapkan.

Begitupun dengan doa, ketika semua doa langsung dipenuhi barangkali kita malah sudah tak punya tabungan lagi, apalagi jika kita jarang berdoa. Jika Anda rajin berdoa untuk ditambah rizki dan ternyata tidak segera dipenuhi, barangkali saja doa itu akan diijabah lain waktu atau diganti dengan cara lain, misalnya harusnya Anda itu sakit keras dan akan butuh banyak biaya untuk berobat dan rizki yang harusnya kita terima ‘tunai’ diganti dengan badan yang sehat.

Jadi meski doa kadang tidak semuanya segera diijabah teruslah berdoa karena ijabah itu bisa jadi akan ada di lain waktu maupun lain wujudnya.

(Pada kesempatan ini saya mohon doa untuk Ayah saya yang sakit syaraf di tulang belakang sehingga kesulitan bangun dan agak terganggu penglihatan sehingga agak kesulitan sholat jamaah dan membaca Quran)

Kalau kamu merasa bahwa hidup itu penuh kesulitan dan beban barangkali kita harus memikirkan ulang. Banyak kesulitan, sakit, kesengsaraan sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah barangkali kita akan belajar untuk menjadi ikhlas. Mungkin terlalu klise kalau dibilang di luar sana banyak orang yang lebih menderita dan mereka baik-baik saja, tapi memang demikian adanya.

Suatu pagi di salah satu radio disiarkan kuliah subuh dibawakan AA Gym. Saya lupa pagi itu membahas apa, sampai pada sesi interaktif, seorang ibu minta doa karena punya masalah keluarga yang klasik. Penelepon kedua agak kurang jelas, sehingga AA Gym dengan sabar harus mengulang-ulang pertanyaan. Ternyata penelepon adalah seseorang dari satu kampung kecil jauh dari kota. Kalau tidak salah namanya Endun. Usianya 30an, lumpuh sejak kecil, hanya bisa duduk dan tak bisa apa-apa bahkan untuk sekedar ke kamar mandi. Kakaknya juga lumpuh, bahkan hanya bisa berbaring. Keduanya tak pernah sekolah karena kondisi fisik dan juga biaya. Endun sudah 50 kali lebih mencoba menelepon dan baru pagi itu bisa masuk.

Ketika ditanya bagaimana menjalani hidup ia hanya bilang ya bagaimana lagi, memang kondisi seperti itu. Tidak ada nada keluhan atau merasa paling menderita di seluruh dunia. Yang lebih membuat saya tersentuh ketika AA Gym meminta bicara dengan bapaknya. Bapaknya ini adalah buruh bangunan serabutan. Istrinya sudah meninggal. Si bapak harus mengurus dua anaknya setiap hari, dari urusan makan sampai urusan bersih-bersih (kedua anaknya tak mampu untuk buang air tanpa bantuan orang lain). Setelah itu ia kerja. Siang ia pulang, mengurus makan siang, membersihkan anak-anaknya lagi untuk sholat Dhuhur. Setelah itu melanjutkan kerja. Terus begitu setiap hari.

Dari suaranya bapak ini tercermin kesederhanaan luarbiasa. Ia tak bisa Bahasa Indonesia dan berbicara Bahasa Sunda. Betapa kehidupan sehari-hari yang berat dijalaninya puluhan tahun. Kedua anak lelaki yang mestinya menjadi tumpuan ketika masa tua ternyata malah sebaliknya, sampai masa tuanya ia mengurus kedua anaknya bak bayi saja. Apalagi setelah istrinya meninggal. Tapi ia menjalaninya dengan biasa saja. Sedih tentu saja. Tapi dari intonasi suara di telepon saja sungguh terpancar sebuah keikhlasan, tak ada penyesalan akan hidupnya atau menghiba untuk dikasihani. Hidup baginya adalah menjalani apa yang ada dihadapannya dengan ikhlas, biasa saja. Bapak ini mungkin tak pernah mengenal motivator, membaca buku penyemangat, belajar ilmu psikologi atau mengaji dari ustad terkenal, tapi ia ternyata mampu memaknai dan menjalani hidupnya dengan keikhlasan.

Kita yang banyak membaca buku atau mendengar pengajian tentu sudah sering dan hafal dengan bahasan tentang ikhlas, tapi pada tataran praktik mungkin kita kalah jauh dengan seorang bapak di pelosok desa di Sunda ini. Semoga Allah merahmati si bapak dan keluarganya.

Membuka mata, subuh 1 Januari 2013, di samping saya Affan (3,5 th) masih terlelap di sebelah, dalam kamar, Kaysa dan ibunya juga terlelap. Affan dan saya semalam begadang, bukannya merayakan malam tahun baru, tapi karena Affan sudah tidur sebelum magrib dan bangun lagi sekitar jam 8 dan tak mau tidur lagi sampai larut malam sampai sekitar tengah malam, karena saya sempat mendengar gaduh suara kembag api. Kaysa dan ibunya gantian bangun jam 2 dan tidur lagi ketika hampir subuh.

Jika dirasa ada semacam rasa capek dengan kehadiran anak, meski baru dua sekalipun. Tapi kehadiran anak adalah anugerah yang tak akan tergantikan harta benda apapun dimana kehadirannya saja, atau berada di dekatnya saja, atau sekilas melihat wajah dan senyumnya saja mampu menerbitkan sebuah kebahagiaan. Di sisi lain anak adalah amanah besar, Tuhan tentu tak sekedar memberi anugerah itu hanya untuk menyenangkan kami sebagai orang tua, tapi juga sekaligus membebankan amanah untuk membesarkan, mengasuh dan mendidik mereka untuk pada saatnya menjadi khalifah di muka bumi. Dan sekali lagi, ternyata itu bukan perkara mudah. Anak tumbuh sebagai manusia yang sangat unik, sebuah pribadi yang tak serta merta menjadi salinan dari orang tuanya. Orang tua benar-benar harus faham betul dengan karakteristik anak dan orang tua harus menerapkan, salah satunya adalah gaya parenting yang tepat.
Gaya parenting yang cukup banyak dianut adalah gaya otoriter. Orang tua menerapkan aturan yang ketat bahkan terlalu keras dengan alasan disiplin. Anak harus ikut apapun yang diinginkan orangtua, bahkan orangtua mengatur masa depan anak, harus jadi ini dan itu, dan seterusnya. Tak ada ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri. Biasanya anak ditakut-takuti dengan hal-hal yang sebenarnya tidak logis, hanya karena misalnya supaya anak tidak menangis. Gaya seperti ini dapat membuat anak yang keras, yang otoriter pula atau justru sebaliknya menjadi tertekan dan ketika si anak menjadi orang tua akan bersikap sebaliknya karena ia tak ingin pengalaman pahit selama tumbuh kembangnya dialami anak-anaknya, dan ini adalah gaya kedua. Gaya ini dikenal sebagi permisive parenting. Anak diberi keleluasaan yang besar bahkan terlalu besar, boleh berbuat apapun dan orang tua cenderung membiarkan. Alasannya bisa karena orang tua terlalu sibuk atau karena terlalu menyayangi sehingga cenderung memanjakan anak. Anak yang dibesarkan dengan gaya ini kemungkinan akan menjadi kurang tahan banting, karena biasa terbiasa dimanjakan atau terlalu \’liar\’ dan sulit dikendalikan.

Di tengah kedua gaya itu adalah authoritative parenting, dimana anak dibebaskan memilih pilihan-pilihannya tapi ditekankan konsekwensi dari pilihan yang diambil. Kebebasan dalam hal ini adalah kebebasan yang terkontrol, ibarat layang-layang, ia dapat terbang tinggi melayang kiri kanan tapi tak lepas dari benangnya. Gaya ini memang paling sulit diterapkan karena harus sangat fleksibel dan tepat dalam setiap keputusan, kadangkala bisa sangat longgar tapi kadang juga keras jika sudah berhadapan dengan prinsip. Anak kadang dibiarkan melakukan sesuatu dan mengalami konsekuensi sendiri, learning by doing. Tapi tentu saja tidak dilakukan untuk hal-hal berbahaya. Ketika kecil Affan sudah terlihat sebagai anak yang suka eksplorasi, dan biasanya saya tidak banyak melarang jika memang tidak berbahaya. Suatu ketika dia ingin makan cabe (ia belum tahu kalau cabe itu pedas). Saya bilang kalau cabe tidak enak. Tipikal Affan adalah tidak percaya dan ia nekat memakan cabe dan saya biarkan saja. Saya cuma menyiapkan air putih ketika dia teriak teriak minta air sambil menjulurkan lidah kepedasan. Ia belajar memilih dan konsekwensi dari pilihannya. Ini tentu tak berlaku untuk hal berbahaya, misalnya kalau naik motor dia suka pencet klakson, starter atau membelokkan arah motor dan tentu saja memegang gas. Yang terakhir ini sudah sekian kali saya hindari meski akhirnya kecolongan juga. Kemarin sore ketika mau keluar dengan motor dan sudah mau tancap gas kancing mantelnya lepas dan minta dibetulkan. Tak dinyana ketika saya fokus dengan mantelnya Affan memegang gas motor dan menarik dengan keras! Untungnya motor menabrak pot dan pagar. Semakin kaget Affan menarik gas dengan semakin kuat sehingga semakin menderu, untungnya motor mentok. Saya gemetaran tak dapat bayangkan seandainya posisi motor lurus ke depan. Alhamdulillah kami tidak apa-apa,tapi Affan belajar satu hal yang berharga tentang apayang disebut bahaya. Ini contoh kecil betapa menjadi orangtua dan memilih gaya pengasuhan anak bukan hal yang mudah. Menjadi orang tua yang baik adalah perjuangan.

Melewati 2012
Hujan tak henti di ujung tahun ini. Hari demi hari akhirnya datang dan berlalu.Bukan waktu

yang penting tapi bagaimana kita melaluinya. Ada harapan tersemai, ada yang tumbuh dan

pupus. Banyak hal terjadi, banyak hal dikerjakan.
Tahun ini kami membangun rumah meski tak tahu apakah cukup mampu menyelesaikan atau tidak.

Apalagi 2012 nampaknya menjadi tahun yang kurang baik bagi bisnis. Beberapa bulan di akhir

tak hanya penurunan drastis penghasilan, tapi akhirnya mendapat surat pemecatan dari Google,

tanpa tahu duduk perkaranya. :)

Namun yang melebihi semua kekecewaan, kehawatiran, kekurangan dan hal-hal tak disukai, tahun

ini hadir anak kedua kami, melangkapi kebahagiaan melebihi dari harta apapun.
Dan di tengah hangatnya keluarga, di tengah rintik di luar hanya dengan rasa syukur akhirnya

2012 terlalui, semoga tahun depan lebih baik.

Singapura terkenal sebagai negara kecil yang kaya dengan peringkat GDP perkapita urutan ke 5. Namun kekayaan tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. setidaknya itu tercermin dalam survei Gallup. Singapura tercatat sebagai negara paling rendah dalam tingkat kebahagiaan penduduknya yakni hanya 46%, masih di bawah Irak dan Afghanistan (50% dan 55%).

Dalam penelitian itu terungkap bahwa negara-negara paling bahagia justru di kawasan Amerika Latin. Padahal kawasan itu bukanlah kawasan negara kaya bahkan beberapa termasuk berbahaya, karena konflik atau perdagangan narkotika.

Indonesia sendiri menempati urutan 19 dengan 79% responden mengaku bahagia dan positif. Beberapa bulan lalu Indonesia malah menempati posisi teratas menurut IPSOSS Global.

Kalau Anda menjadi responden penelitian kebahagiaan ini, apa yang akan Anda jawab?

http://internasional.kompas.com/read/2012/12/23/11521788/Survei.Warga.Singapura.Paling.Tidak.Bahagia.di.Dunia

http://us.dunia.news.viva.co.id/news/read/292723-indonesia–negara-paling-bahagia-sedunia

Anugerah Terindah Kedua
Suatu ketika saya bermimpi, menimang bayi yang begitu putih bersih dan saking putihnya seakan-akan seperti bersinar. Entah firasat atau pertanda, beberapa waktu kemudian ternyata istri saya hamil anak kedua.

Dan pagi itu barangkali tak ada suara yang lebih indah dari suara tangis yang memecah. Meski bukan yang pertama, tangis bayi anak kami yang lahir pagi itu tetap saja membuncahkan segala macam perasaan. Amazing.
Agak di luar perkiraan, anak kedua kami lahir lebih cepat dari HPL. Kami baru saja direpotkan anak pertama kami yang terkena cacar air dan tiba-tiba ternyata adiknya mau lahir. Beruntung Affan cukup dewasa, tidak rewel dan bahkan langsung menawarkan diri untuk dititipkan ke kakak sepupunya. Ia bahkan memasukkan beberapa kebutuhannya sendiri ke tas dan ikut dengan budenya. Istri saya berangkat dengan kakak dan saya mengikuti dengan motor di belakang. Sempat terjadi insiden kecil ketika di jalan saya sempat kena tabrak mobil dari belakang. Beruntung saya tidak kena luka serius, hannya lebam sedikit di kaki.
Proses kelahiran sedikit lama, dan mengingat ketuban sudah pecah maka mau tidak mau saat kelahiran tidak lagi ditunda. Setelah beberapa saat tidak ada reaksi akhirnya diberikan induksi dengan infus. Menunggui semalaman, selain harap-harap cemas juga kantuk yang selalu menyerang. Keluarga orang-tua saya malam itu juga menyusul. Kakak yang bidan juga ikut menunggui sehingga saya sedikit lebih tenang.
Kecemasan, rasa sakit,capek, apapun yang kami alami dan dirasakan sebelum kelahiran akhirnya semua terbayarkan ketika anak kami lahir dengan selamat dan sehat dan dengan tangisnya yang memecah.
Dan kini, 7 hari setelah kelahiran anak kedua kami akhirnya kami berikan nama yang juga merupakan doa dari kami Kaysa Kirana, yang menjadi doa kami agar nanti menjadi anak cantik, elok dan cerdas yang menjadi cahaya penerang.
Dan semoga, Affan segera sembuh dan dapat segera bertemu adiknya yang sudah berbulan bulan ditunggu.
Tidak ada harta benda apapun yang lebih bernilai bagi kami melebihi anugerah hadirnya kedua buah hati dalam keluarga kami ini.

Jakarta 8 Desember 2012

Salah satu yang membuat saya risau dengan perkembangan teknologi informasi salah satunya adalah membanjirnya informasi dan kedewasaan kita dalam memilah dan memilih informasi. Ada salah satu analogi bagaimana kita mengkonsumsi informasi ini adalah seperti minum air dari air terjun yang deras. Kita mungkin melewatkan banyak air yang terbuang dan tidak terminum dan yang lebih parah adalah kita juga akan menelan mentah-mentah banyak air yang kita tak sempat dan tak mampu memilih (dan merasakan) mana air yang bersih atau tidak. Berbeda dengan ketika meminum seteguk air dari gelas di saat dahaga.
Saya pernah menulis tentang pentingnya memilih informasi dari sumber yang terpercaya, terutama jika dikaitkan dengan keimanan. Saya agak terkejut mengingat ternyata sebagian besar pembaca memahami maksud saya dengan keliru. Beberapa bahkan memberi komentar yang bernada menghujat dan di luar konteks yang saya bicarakan. Dan itu tak perlu saya tanggapi dengan serius. Sebagian pembaca lain memberi komentar yang kurang lebih adalah biarlah orang mendapat informasi yang salah dari sumber yang salah tapi informasi tersebut dapat memperkuat keimanan. Saya terus terang tak sepakat. Informasi yang terkait dengan keimanan justru harus berasal dari sumber yang benar-benar valid dan terpercaya. Dalam sejarah kita akan menemukan bagaimana upaya memperoleh validitas informasi tentang sunnah (ucapan dan perbuatan Rasulullah) misalnya, melahirkan ilmu-ilmu yang terkait dengan upaya menentukan suatu hadits apakah dalam kategori mutawatir atau shahih yang dapat menjadi pegangan ataukah hadits itu dhaif (lemah) atau bahkan tertolak (munkar). Kalau ada ulama hadits, setelah melalui tahapan kajian yang benar dan berpendapat bahwa suatu hadits dianggap sebagai palsu, tertolak dan tidak valid akan dengan serta merta dianggap kafir karena berpendapat demikian?
Dalam dunia dengan informasi yang membanjir seperti sekarang ini memilih informasi yang valid bukan perkara mudah. Setiap orang dapat dengan mudah membuat dan menyebarkan informasi dengan sangat mudah, terutama di ranah media sosial. Ada satu contoh kasus yang dapat kita renungkan. Beberapa waktu lalu ada salah satu figur publik yang mendukung salah satu calon di Pilkada kemudian menyebarkan informasi bahwa calon saingan tidak layak dipilih karena orang tuanya adalah non-muslim. Ingat, Saya tak berbicara soal pilkada-nya tapi dengan statemen “non-muslim” tersebut. Dalam Islam, menuduh muslim lain sebagai kafir adalah tuduhan sangat serius. (Tapi saya juga tak akan membahas hal ini). Setelah diklarifikasi dan ternyata informasi yang disebarkannya itu salah, figur publik tadi dengan nada berkelit mengatakan bahwa informasi yang didapatnya itu valid, yaitu sudah diperbincangkan luas di internet dan biasanya yang sudah beredar di internet itu adalah kebenaran. Saya cukup terhenyak bahwa statemen seperti itu dikeluarkan oleh seorang figur publik yang notabene ucapan-ucapannya akan berdampak luas.
Ada lagi informasi visual ditambah komentar dan berita yang beritanya juga beredar cukup luas yaitu tentang pembantaian Suku Rohingnya di Burma. Meskipun konflik di sana benar adanya tapi informasi yang beredar kadung salah dan memancing reaksi yang berlebihan. Beberapa foto yang menunjukkan pembantaian di Burma itu ternyata hanya rekayasa. Salah satu foto yang beredar adalah foto ketika beberapa pendeta Budha mengevakuasi korban bencana alam. Foto lain adalah foto tentang korban pesawat di salah satu negara di Afrika. Keduanya terlanjur beredar luas di internet dengan informasi provokatif sebagai sebuah pembantaian berlatar kebencian antar agama. Saya sekali lagi tak mengatakan bahwa peristiwa di Burma itu tidak ada, saya hanya menekankan kepada berita/foto yang tidak bertanggungjawab tersebut. Kebencian sudah terlanjur tersebar dari berita yang tidak valid.
Dua contoh tadi menurut saya perlu menjadi renungan kita apakah dengan informasi yang salah dari sumber yang salah akan memberi dampak yang baik? Atau akankah kita akan membiarkan orang lain dalam ketidaktahuan dengan berpikir bahwa itu baik bagi mereka dan dengan mengabaikan kerugian bagi orang lain (yang bisa jadi menjadi korban fitnah dari informasi yang tidak benar)?
(Lain kali insyaallah saya akan menulis tentang penyebaran informasi yang tidak benar yang pernah terjadi di masa Rasulullah dan sempat menimbulkan kekisruhan sampai akhirnya menjadi penyebab turunnya salah satu ayat Al Quran)

Setiap orang bahkan seyiap mahkluk di dunia ini semua telah ditentukan rezekinya. Kadang tanpa disangka-sangka rezeki datang, dan juga pergi, besar ataupun kecil. Sewaktu ramadhan kemarin, sehabis mengantar istri tugas, saya mampir di toko buku sambil menunggu buka puasa. Tanpa sadar waktu berjalan dan menjelang maghrib. Saya tentusaja jadi terburu-buru. Ternyata di toko disediakan makanan kecil dan minuman untuk berbuka. Dalam kondisi lapar dan haus seharian, seteguk air dan sepotong kurma adalah rezeki yang luarbiasa. Karena belum makan dan belum sholat maghrib maka saya lalu mampir di masjid di jalan yang menuju saya pulang. Lepas maghrib saya mau beranjak untuk mencari warung, tiba-tiba ada yang mendekati saya membawa sekotak nasi, yang merupakan menu buka puasa di masjid tadi. Sekali lagi rezeki datang tak diduga :)

Kemarin, ketika pulang kantor saya sengaja ingin mencari salah satu koran lokal. Artikel saya barusan dimuat dan saya belum punya korannya. Ketika mampir di salah satu penjual koran ternyata kiosnya itu tak ditunggui, beberapa orang disitu juga tak tahu penjual tadi kemana. Saya pikir ini orang apa nggak niat cari rejeki. Ya sudah, cari penjual lain yang niat cari rezeki. Saya lanjutkan jalan pulang karena saya tahu di deket rumah juga ada beberapa penjual koran. Namun sampai di rumah saya tak memperoleh koran tadi. Penjual koran yang saya datangi ternyata kehabisan stok, tidak ada yang saya cari. Hari hampir magrib, saya khawatir kalau tak dapat hari itu maka saya akan lebih sulit mencarinya lagi. Saya lalu mencari kios yang lebih besar, sedikit agak jauh dari rumah, ternyata kios tutup. Saya lalu melanjutkan lagi sampai jauh,dan tak dinyana motor saya membawa saya ke penjual koran yang tidak ditunggui tadi. Padahal jalan yang saya lalui tadi lewat jalan memutar. Dan ternyata ternyata penjualnya belum ada juga! padahal mungkin sudah setengah jam lebih. Saya menunggu dan  mencari-cari penjualnya beberapa saat. Tidak ada yang tahu. Saya mau nitip uangnya saja sama pedagang kakilima di sebelahnya. Lalu ada seorang bapak dengan anak kecil datang, saya kira mau beli koran juga. Dia ternyata bilang “mari pak, beli apa?” Ternyata dia penjualnya, sambil senyum-senyum tanpa dosa. Saya langsung membayar dan ngeloyor pulang sambil berpikir bahwa rejekinya bapak itu, harus lewat saya yang membeli korannya, entah harus dengan cara bagaimana.

“Aku tahu rizkiku tidak akan diambil orang, karena itulah aku tenang.”  Hasan Bashri

Makan barangkali adalah urusan hidup mati. Tidak makan bisa menjadi jalan kematian,Namun, makan berlebihan dan tak pandang ‘bulu’ juga bisa menjadi jalan yang sama: makanan menjadi racun.

Dan ‘makan’ dalam konteks lebih luas memiliki pemaknaan serupa, keserakahan. Orang bisa bersembunyi di balik topeng masing masing untuk menampakkan wajah santun, misalnya kita ingin kaya karena bercita cita membantu orang banyak, membangun rumah ibadah, mau kebaikan ini mau itu. Meski tak semua orang seperti itu, topeng yang dikenakan yang kadang tak disadari oleh si pemakai sendiri.
Seperti juga kita harus makan, orang harus mencukupi kebutuhan dasar untuk hidupnya, harus sejahtera dulu sebelum menyejahterakan orang lain. Tapi tidak kemudian menunggu menjadi super sejahtera lalu membantu orang. Tak perlu menunggu sampai punya mobil untuk memasukkan uang duapuluh ribu ke kotak amal. Kadang semakin ‘sejahtera’ seseorang justru semakin banyak berhitung untung rugi.

Mungkin kita harus belajar lebih filosofis makna dari kalimat yang diucapkan Nabi Muhammad, ‘Makanlah jika sudah lapar, dan berhentilah sebelum kenyang’

Sebentar lagi Ramadhan selesai. Anda boleh senang, sedih, pura-pura sedih atau biasa saja seperti bulan-bulan lain berlalu. Selama puasa banyak hal yang memaksa kita untuk menahan keinginan, terkungkung. Tapi bukankah ketika kita tanpa batasan justru menjadikan kita kacau. Kalau tidak dibatasi kita mungkin akan memakan apa saja yang dirasa dari makanan tradisional sampai  junk food, yang tak jarang sesungguhnya adalah racun. Dengan puasa kita harusnya belajar, menahan untuk tidak selalu tergoda memakan makanan, meski enak sekalipun. Perut bisa menjadi sarang penyakit, jika kita tidak selektif memilih apa yang masuk ke dalamnya, bisa penyakit fisik atau penyakit ruhani.

Itu baru soal makan. Ada banyak keinginan yang harusnya belajar untuk ditekan atau ditahan. Banyak sifat yang tidak baik yang timbul dari keinginan yang berlebihan. Keinginan berlebihan dapat terlahir menjadi perbuatan yang juga berlebihan. Puasa adalah latihan untuk menahan keiginan, bahkan meski apa yang kita inginkan ada di depan hidung kita.

Tapi banyak dari kita justru menyikapi puasa dengan hal lain; memburu berbagai makanan enak untuk dinikmati saat buka, memburu pakaian dengan model-model paling baru dan populer untuk menyambut lebaran, mengisi waktu menunggu buka dan sahur menonton tayangan-tayangan tivi yang kebanyakan berisi acara duniawi meski dibungkus “baju” religi. Bahkan dengan batasan-batasan itupun kita tak mampu memahami kenapa ada batasan, kenapa kita harus menahan diri. Batasan yang seringkali dimaknai secara formal.

Jika demikian, lalu apakah setelah puasa selesai kita kemudian merasa bebas, merdeka dari batasan-batasan?

Berangkat tarawih ke mesjid terkadang menjadi hal yang merepotkan. Affan biasanya akan merengek minta ikut. Giliran sampai di masjid tak ayal sukanya membuat keributan atau berlarian kemana-mana, atau bermain di tangga yang cukup tinggi yang menuju lantai dua. Ya, meskipun perlu sejak dini mengenalkan agama termasuk ke masjid, tantangannya adalah ketika anak menjadi tak terkendali. Dan itu bukan satu dua kali. Setiap ke masjid akan menjadi perjuangan tersendiri. Tahun lalu bahkan Affan sempat merubuhkan pembatas jamaah putra-putri ketika shalat berlangsung. Untuk tidak menimpa siapapun karena pembatas yang rubuh berada di posisi belakang yang kosong. Masih banyak tingkahlaku lain yang seringkali sulit diprediksi.
Bagi saya pribadi kelakuan anak yang demikian sebenarnya menjadi tantangan orang tua untuk bertindak lebih arif dan tentusaja ekstra sabar. Namun, menghadapi tipe anak yang agak sulit dikendalikan juga tak semudah yang diomongkan. Kunci utama adalah menghadapinya dengan kepala dingin dan tidak ikut terbawa emosi. Meski sekali dua kali agak jengkel karena tingkahnya itu, saya pribadi berusaha keras untuk tidak secara verbal atau fisik memberikan respon yang berlebihan. Pernah sesekali misalnya dengan mencubit. Karena ketika mau tidur dia bermain smackdown meloncat dan menubruk perut saya, dan dilakukan berkali-kali. Nah, ketika mendekat saya sudah siap-siap mencubit. Ternyata itu malah membuatnya makin semangat. Cara fisik ternyata gagal total. Kadang dengan verbal, dengan kata “nggak boleh” yang bagi dia sudah seperti tidak ada maknanya.
Hal yang paling saya hindari adalah men-judge/menghakimi. Konon menyebut anak sebagai “nakal” ketika misalnya sedang jengkel karena anak sudah dinasehati, justru malah seperti sebuah dorongan kepada anak menjadi yang diomongkan tadi, ucapan menjadi doa. Dan menjaga ucapan kita ketika kondisi seperti itu juga tidak mudah. Saya teringat akan sebuah kisah dari tanah Arab. Suatu ketika seorang ibu memasak roti yang enak. Persis ketika roti sudah matang masih hangat dan baunya harum dan siap disantap, seorang anak kecil yang merupakan anak ibu tadi datang. Tiba-tiba anak ini mengambil pasir dan menaburkannya di roti hangat yang sudah dibuat oleh si ibu tadi. Si ibu tentu saja jengkel. Ibu tadi lalu berteriak “Pergi kamu, biar kamu menjadi Imam Haramain”. Sekian tahun kemudian si anak menjadi Imam Masjidil Haram. Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais.

Saya sendiri apabila mendapati kelakuan anak yang tak terduga itu selalu berpikir positif bahwa anak ini kreatif sekali. Mbahnya yang kadang merasakan betapa susahnya menghadapi si kecil selalu ‘mengeluh’-nya adalah “ini anak memang pintar” sampai-sampai membuat orang dewasa kewalahan. Dengan begitu kita sendiri juga tidak stres menghadapinya. Kadang apa yang diingini anak kita penuhi kadang juga kalau perlu, ditolak, meski dia akan menangis sekeras apapun. Sebagai pembelajaran baginya bahwa tidak semua keinginan itu dapat terpenuhi.
Namun, ketika saya sembunyi-sembunyi mau menghidupkan motor untuk berangkat tarawih, Affan ternyata tahu. Dia sudah di depan pintu menangis keras-keras. Melihatnya berkalung sajadah kecil, menggamit sarung dan memakai peci yang kebesaran itu saya tidak tega juga. Akhirnya saya ajak tarawih dan seperti biasa, ia membuat keributan di masjid lagi.

Saat ini saya tengah bereksperimen dengan aplikasi Android dan Java. Beberapa aplikasi yang sudah saya buat saya publikasikan di beberapa situs di internet. Seri aplikasi yang terakhir saya selesaikan adalah seri Sepercik Hikmah. Seri ini merupakan kumpulan beberapa tulisan lepas saya yang saya publikasikan di blog ini. Jika Anda berminat mencobanya silahkan download di mtamim.com/hikmah. Untuk versi Java sebenarnya sudah saya upload juga di beberapa tempat dan jumlah download-nya sudah cukup banyak. Yang terhitung baru adalah versi Android yang baru belakangan saya sempat pelajari

Masukan dan kritik membangun dari Anda sekalian akan sangat saya hargai. Selamat membaca

Dalam hidup kita pasti akan selalu menengok keluar dan kedalam diri kita, atau sebaliknya. Manusia senang membanding-bandingkan antara satu dengan lain, yang baik maupun yang buruk. Sifat sifat membandingkan itu kadang menimbulkan sifat tidak baik. Kalau ada orang berbuat jahat, barangkali akan kita nilai diri kita ‘lebih baik’ lalu sedikit banyak menjadi sombong. Kalau melihat orang lain senang, mendapat rezeki misalnya, kadang membuat kita tumbuh rasa iri.

Suatu ketika ada seorang bertanya kepada ustad: “Ustad, bagaimana saya mengatasi perasaan iri, orang tua saya lebih memperhatikan kakak-kakak saya, lebih mencukupi mereka. Tapi kenyataannya saya malah lebih mapan sementara kakak-kakak saya malah belum.”

Penanya ini sepertinya bertanya tapi sebenarnya jawabannya sudah ada dalam pertanyaannya itu sendiri. Penilaian dan pembandingan kita terhadap orang lain, yang menjadi sebab ke-iri-an kita seringkali sangat subjektif. Mungkin hampir semua anak akan menilai orangtuanya tidak adil sehingga menyebabkan iri terhadap saudaranya dan bahkan menjadi kebencian ke orang tua. Kita mungkin tak pernah tahu pertimbangan orangtua dalam menyikapi anak-anaknya karena jauh tersimpan di lubuk hati. Bisa saja anak yang satu dipandang lebih lemah sehingga lebih membutuhkan dukungan. Dalam kasus di atas justru malah terbukti kalau si penanya ternyata lebih mapan, lebih kuat menghadapi hidup. Dan jikalaupun benar orang tua memberikan kasih sayang atau perhatian yang berbeda bukankah hal itu tidak menjadi pembenar untuk benci? Kalau memang demikian anggaplah itu juga hak prerogatif orang tua yang harus dihormati. Bukankah jasa orangtua juga jauh lebih besar? Lagipula kalau diri kita lebih mapan bukankah tanggung jawab kita juga untuk membantu saudara kita yang masih kesulitan.

Iri hati hanya akan menggerogoti jiwa kita. Lihatlah sekeliling, tetangga, teman, dari hari ke hari ada saja yang berpotensi membuat iri. Gaji besar, mobil baru, rumah baru, seolah olah membuat kita semakin lama semakin kecil, tertinggal, lalu menjadi minder, rapuh, sakit hati, atau apapun yang membuat kita lebih menderita jika kita melihatnya dari sisi negatif. Kita seringkali lalu lari dari kenyataan. Keinginan untuk harta lebih, menyaingi kawan atau tetangga membuat apapun dilakukan.
Iri sebenarnya berasal dari persepsi dan sudut pandang kita sendiri. Kalau kita selalu berpikir dan bertindak positif maka insyaallah penyakit iri tak akan tumbuh. Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang kita peroleh bahkan ikut bersyukur dan ikut berbahagia dengan apa yang diperoleh teman, tetangga atau saudara, maka iri hati tak akan pernah terpikirkan.

Suatu ketika Rasulullah menunjukkan bahwa ada seorang shahabat yang disebutkan sebagai ahli syurga. Seorang shahabat lain, Abdullah bin Amr bin Ash menjadi penasaran. Ia lalu ‘membuntuti’ shahabat yang disebut sebagai calon penghuni syurga tadi, bahkan sampai ikut selama 3 hari 3 malam menginap dirumahnya karena ingin tahu amal apa yang diperbuat. Abdullah tak melihat ada amal yang istimewa, bahkan tak dilihatnya pula shahabat tadi bangun malam untuk sholat tahajud misalnya.

Saking penasaran Abdullah bertanya kepadanya;”Amal apakah gerangan yang kamu lakukan sampai kamu mencapai tingkatan itu, yang kami tidak mampu lakukan?”

Shahabat itu menjawab: ”Tidak ada amalan apa-apa yang istimewa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci dan iri dengki kepada salah seorang pun dari kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.

Ibadah, menurut makna leksikalnya adalah tunduk merendahkan diri, yakni tunduk dan patuh terhadap perintah Allah. Dalam kehidupan praktis sehari hari ibadah kemudian lebih dimaknai sempit sebagai seangkaian ritual. Meskipun tidak sepenuhnya salah, ibadah ritual sebenarnya hanya sebagian dari ibadah yang lebih luas. Kita seringkali memaknai ibadah hanya sekedar shalat, zakat, puasa, haji dan beberapa ibadah lain yang ada dalam fiqih. Padahal dalam ibadah ritual (mahdhah) pun sebenarnya terkandung banyak pesan untuk ibadah yang sifatnya sosial.

Ibadah zakat misalnya, tak dipungkiri merupakan ibadah yang secara langsung memiliki peranan dalam membangun masyarakat serta menumbuhkan kepedulian kepada kaum tak mampu. Jika dikelola dengan manajemen yang baik ibadah zakat ini menjadi potensi besar dalam pengentasan kemiskinan. Dalam ibadah shalat-pun yang secara ritual sepertinya hanya berhubungan antara manusia dan pencipta-Nya, sesungguhnya banyak pesan-pesan sosialnya. Keutamaan shalat berjamaah misalnya, secara tak langsung menekankan perlunya persatuan, kekompakan, kepemimpinan dan lain-lain. Bahkan kalau kita merenungkan lebih lanjut kita memulai shalat dengan takbir mengagungkan Allah akan tetapi ditutup dengan doa keselamatan untuk kanan kiri dan sesama manusia. Dalam Surat Al Maun juga disebutkan keterkaitan shalat dengan kepedulian sesama, bahkan disebutkan orang yang shalat-pun bisa celaka karena lalai dalam shalat.

Kekurang-pahaman tentang pentingnya ibadah sosial ini kadang membuat kita kurang tepat memberi prioritas. Misalnya ada orang yang berulangkali naik haji, sementara tetangga kanan kirinya banyak yang hidup susah atau tak bisa sekolah. Haji dianggap lebih utama karena perintahnya jelas eksplisit dalam Quran dan Hadits sedangkan memberi beasiswa pendidikan tak tercantum sama sekali.

Bagi seorang muslim ibadah tak hanya sekedar hubungan dengan Allah (hablum minallah) tapi juga hubungan dengan sesama (hablum minannas). Kesalehan tak hanya saleh dalam ibadah ritual, tapi juga harus saleh secara sosial meskipun perintah kesalehan sosial ini seringkali tidak tersurat secara eksplisit dalam ajaran agama.

Janganlah tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah kamu lakukan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan kamu atau tidak” (Hasan Al Bashri).

Angka 500 mungkin bukan angka istimewa, bukan angka hoki atau angka keramat. Ya, hanya kebetulan saja. Tulisan ini, sesaat setelah tombol Publish berwarna biru, adalah tulisan yang ke 500 yang terbit di blog ini. Banyak? Sedikit? Entahlah. Sejak pertama kali menulis di blog ini saya tak pernah menghitungnya. Huruf demi huruf mengalir begitu saja. Kata demi kata bertebaran begitu saja. Waktu-waktu terlalui begitu saja.

Ada salah satu yang membuat saya tergerak untuk menulis. Kata Ali, ilmu itu bak binatang buruan yang kita tangkap, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Saya termasuk orang yang cukup pelupa. Saya seringkali menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, pikirkan, supaya itu semua tak lari begitu saja. Selain itu apa yang saya tulis juga dapat dibaca orang lain sehingga barangkali akan bermanfaat juga.

Saya sejak kecil senang menulis, meski tak terpupuk karena tidak tahu bagaimana memupuknya. Seperti pohon akhirnya dia hanya tumbuh sendiri, seadanya. Hasrat menulis ini mungkin karena saya juga senang membaca. Sayangnya masa kecil saya juga tak cukup memiliki bacaan yang cukup bagi saya. Ini membuat saya selalu ingin mengajarkan ke banyak anak-anak sekarang tentang dunia kepenulisan dengan segala manfaat dan sukadukanya. Dan ini pernah saya lakukan di kampung, meski kini berhenti. Dengan sedikit banyak bergelut di dunia maya saya tahu betul bahwa kemampuan menulis (dalam bahasa lebih luas adalah kemampuan berekspresi) adalah keahlian kunci yang sangat fundamental. Sayang di pendidikan sekarang tak banyak diperhatikan. Suatu ketika saya ingin membangun sebuah sekolah kepenulisan yang diintegrasikan dengan profesionalisme di dunia teknologi global seperti internet hehehe… Jujur saja, di dunia dengan persaingan keras seperti ini satu-satunya senjata yang dipunyai anak-anak kampung sederhana adalah pena. Dan pena yang tehubung ke dunia global adalah senjata yang keampuhannya menjadi berlipat-lipat seperti bom nuklir yang efeknya berantai-rantai..

Saya tak terlalu risau apakah tulisan-tulisan saya akan banyak dibaca atau dikomentari orang. Tentu saja saya senang jika ada feedback dari pembaca karena itu adalah salah satu “sumber energi” untuk menulis lagi, tapi itu bukan utama. Apalagi saya termasuk blogger penyendiri yang jarang berkunjung atau blogwalking. Hanya berkomentar jika perlu saja, itupun sangat jarang. Barangkali karena saya juga tak punya banyak waktu untuk itu. Jumlah kunjungan juga tak terlalu membuat risau, apakah sedikit atau banyak, naik atau turun. Biarkan saja begitu adanya. Tak peduli apakah tulisan-tulisan itu bisa menjadi uang atau hanya menjadi sampah digital, seperti naskah skripsi yang dibuat begadang sekian bulan dan tahun dan berakhir menjadi pembungkus nasi kucing di angkringan. Tapi setidaknya masih ada manfaatnya bukan?

Saya tak apa jika yang membaca tulisan saya segelintir saja, tapi harapan saya tulisan-tulisan ini dapat bertahan sampai bertahun ke depan, 10, 25, 50, 100 tahun atau entah sampai generasi kapan nanti, atau sampai teknologi internet tergusur oleh revolusi teknologi lain atau malah hilang karena katastropi atau invasi alien (lebay banget ya:D)

Dan lagi-lagi tulisan ke 500 ini bisa dianggap banyak atau sedikit, ada manfaatnya atau hanya kericau yang tak berujung. Dan sebelum kericau saya melebar kemana-mana dan kopi susu di meja kerja sudah hampir habis serta mempertimbangkan listrik yang dihimbau bapak presiden untuk dihemat maka saya segera saja klik tombol Publish dan menghabiskan sisa kopi susu.

Mei barangkali memiliki tema besar yaitu perubahan. Bukan karena saya lahir di bulan ini sehingga menjadi momentum untuk melakukan perubahan :) Mei belasan tahun lalu tak lepas dari perubahan berbangsa dan bernegara. Masih lekat di ingatan saya ketika jaman begitu otoriter, sehingga bahkan untuk menyebut sebuah nama saja harus berbisik-bisik, takut ada intel yang mendengar. Masih terbayang ketakutan dan dengkul gemetaran ketika tengah malam melewati jalanan lebar yang menjadi lorong sempit hanya setengah meter karena kiri kanan penuh dengan tentara, dengan moncong-moncong senapannya tepat dihadapan wajah atau ketika meringkuk sambil bertakbir ketakutan di imaman masjid karena polisi merangsek sampai masuk masjid menangkapi pendemo. Masih terngiang kawan-kawan berorasi di titik yang dikenal dengan sebutan Tangga Demokrasi, sambil bernyanyi lagu Darah Juang

Disini,
negeri kami.
Tempat padi terhampar luas,
samuderanya kaya raya.
Negeri kami subur, Tuan

Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka.
Anak buruh tak sekolah,
pemuda desa tak kerja.

Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar.
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat.
Padamu kami berjanji
tuk membebaskan rakyat

Ya, tapi itu dulu, masa muda ketika kita yang melihat ketidakberesan akhirnya bersuara, protes, menuntut, marah.. Dan kini apa yang dulu diimpikan pun ternyata masih jauh panggang dari api. Kini, di satu sisi jauh lebih baik dari dulu, tapi di sisi lain jauh lebih buruk. Kini, saya dan mungkin Anda yang dulu ikut turun ke jalan bukan lagi mahasiswa. Kini saya sudah bekerja dan memiliki tanggungjawab yang harus saya emban. Negara ini memang masih banyak salah urus. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Kini tentu bukan saatnya kita hanya bisa protes, mengumpat, berkoar-koar saja. Kita kini memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi diantara ruwetnya benang kusut persoalan ini. Dan solusi ini harus kita perjuangkan sedini mungkin, meski setapak demi setapak, dengan upaya dan kemampuan kita masing masing. Meski seidh melihat kondisi sekarang ini kita tentu kemudian tak harus menyerah. Masih banyak orang baik di negeri ini dan masih banyak orang yang perduli dengan masa depan bangsa ini, entah kapan dan bagaimana saya yakin suatu ketika semuanya akan jauh lebih baik lagi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 265 other followers